
Satu minggu kini sudah berlalu, dan hari ini semua sedang sibuk
mempersiapkan acara empat bulanan kandungan Ara, Agra sengaja hanya mengundang
anak-anak panti dan tetangga rumahnya. Nadin pun ikut sibuk mempersiapkannya.
Ia tak mau diam saja, ia menyiapkan semua dekorasinya.
Banyak tamu yang datang, Nadin sibuk menyambut para tamu dan
mempersiapkan jamuan, ia tak mau membuat kakaknya terlalu capek.
Malam harinya di lanjutkan dengan pembukaan kafe dan perusahaan
baru milik Agra dan Ara mereka menamai usahanya dengan kafe A&A dan TwoA
Ads production sebagai usaha marketingnya.
Rendi sudah bersiap untuk datang ke tempatnya Agra. Ia memilih
mengajak dr. Frans untuk datang bersamaan.
“Lo keren bener, mau ketemu sama siapa?” tanya dr. Frans yang baru
saja keluar dari rumahnya, sedangkan rendi sudah berdiri bersandar di mobilnya
menunggu dr. Frans.
“Biasa aja.” Ucap Rendi singkat sambil membuka mobilnya dan segera
masuk. Dr. Frans pun mau tak mau segera mengikutinya.
“Lo nggak pakek sopir?” tanya dr. Frans.
“nggak.”
“Irit banget jawabnya, awas saja sampai lo tinggal gue di tengah
jalan lagi.’ Ancam dr. Frans.
“Asal lo nggak bawel aja.”
“Dasar lo ...”
Rendi pun segera melajukan mobilnya. Mereka menuju ke kafe Agra.
Setelah kejadian itu, hubungan Rendi dan Agra sudah lebih baik, tak ada lagi
salah paham.
Semampai di kafe. Rendi segera memarkirkan mobilnya. Tepat saat ia
turun dari mobil, Nadin keluar dari dalam kafe. Mata Nadin terpana pada
penampilan Rendi. ia terdiam di tempatnya.
“Hai nona cantik.” Sapa dr. Frans saat sudah berada di dekat Nadin.
Tapi Nadin masih terpaku menatap Rendi.
“Dia itu tidak akan sadar jika diliatin kayak gitu nona,liat aku
aja ...”
“Aah ..., enggak siap yang ngliatin.” Ucap Nadin saat sadar dari
lamunannya. Sedangkan Rendi tetap sama, seperti balok es yang tak akan pernah
mencair.
“Silahkan masuk dokter.” Nadin pun mempersilahkan dr. Frans untuk
masuk. Dan Nadin kembali melihat Rendi.
“Pak Rendi” ucap Nadin.
Ucap Nadin, tapi tetap saja tak berpengaruh pada Rendi, Rendi
berlalu begitu saja meninggalkan Nadin.
Dasar es batu ..., nggak bisa apa bilang, hai ..., atau hallo ...,
malam Nadin ..., nggak ada manis-manisnya ....
Gerutu Nadin.
“Jangan terlalu cuek ..., entar kalau dia berpindah ke lain hati,
nyesel baru tahu rasa lo.” Ucap dr. Frans sambil mengikuti Rendi.
“Lo jangan ngaco, siapa yang suka sama siapa.” Ucap Rendi tampa
menghentikan langkahnya.
“Gue bisa liat tatapan suka dari seseorang, Nadin itu sepertinya
suka sama lo.” Ucap dr. Frans, tapi tetap saja namanya Rendi, tak mau
menggubrisnya, ucapan dr. Frans seperti angin lalu.
Benarkah seperti itu, tapi kenapa saat ini Rendi jadi gelisah
mendengar ucapan dr. Frans.
***
Rendi dan dr. Frans di minta Agra untuk menemaninya menerima tamu.
Mereka sudah berdiri di depan pintu masuk.
“selamat malam ....” sapa seseorang yang sudah begitu Agra kenal,
ia bos Agra di kafe dulu, dia adalah Jerry
“hai bro ..., terimakasih sudah mau datang ..., silahkan masuk dan
nikmati hidangannya”
Agra begitu menghormati temannya itu yang kini jadi patner
bisnisnya
“ok aku masuk ya ...., oh iya bukankah ini Rendi ...” langkah Jerry
terhenti saat melintas di depan Rendi, dan seperti biasa Rendi hanya akan
tersenyum tipis nyaris tak terlihat
“kau ternyata tetap sama ya ..., kaku ...” ucap Jerry sambil
memukul bahu Rendi, membuat si pemilik bahu mengusapnya reflek
“kenalkan saya Frans, saya sahabatnya Agra dan Rendi, saya sering
melihat anda dulu tapi aku cukup sibuk untuk menyapa anda” ucap Frans
memperkenalkan diri dengan menyodorkan tangannya
“ya ... ya..., aku ingat, saat dulu aku pernah sesekali melihat
anda, salam kenal saya Jerry, dulu teman satu kelas di Itali dengan mereka
berdua”
“Kak Jerry ...”
Teriakan dari dalam membuat keempat pria itu menoleh ke sumber
suara, dia adalah Nadin. Nadin bergegas, mempercepat langkahnya, sedikit berlari,
ia menghampiri Jerry dan segera mendaratkan pelukan pada laki-laki itu.
“Kak ...,aku kangen.” Ucap Nadin saat berada di pelukan Jerry.
“Aku juga ...” ucap Jerry.
“Ayo kak masuk ..., aku akan menemani kakak ...”
“Baiklah ayo ...”
Nadin menggandeng tangan Jerry, mengajaknya masuk. Tapi tanpa Nadin
sadari, sedari tadi pria dingin itu menatapnya, ia menatap dengan sangat tajam.
Entah kenapa ada yang tidak terima di dalam sana.
Dasar cewek tak punya pendirian, sekali waktu dia bilang sayang,
kangen lagi...,dasar plin plan ...! Batin Rendi. entah kenapa dia tak terima.
Setelah reoni cukup panjang itu, Jerry pun akhirnya memutuskan
untuk masuk dan menikmati hidangan yang sudah di sediakan dan sesekali menggoda
Nadin dan berbincang ringan dengan Roy. Dari kejauhan Rendi terus saja
memperhatikan gerak gerik Nadin tanpa ia sadari. Sesekali Nadin dan Jerry tampak bersua foto.
“Iya kan ..., gimana sekarang rasanya? Sakit kan? Kamu nggak rela?”
goda dr. Frans saat menyadari arah pandangan Rendi sedari tadi. Rendi terus
meneguk minumannya tanpa menggubris ucapan dr. Frans.
“siapa yang nggak akan pindah ke lain hati jika lo cuek terus.”
“Diam ...,gue ke toilet ...” ucap Rendi dan segera meninggalkan dr.
Frans.
Rendi memilih menyusuri lorong , menghidar dari pemandangan yang
menurutnya menyesakan dadanya. Ia menikmati suasana malam di atas balkon sambil
meminum minumannya.
“Kenapa juga aku mikirin dia, dia itu Cuma anak kecil.” Gumam
Rendi. Setelah jarum jam menunjukan angka delapan kini waktunya acara di
mulai,agra segera naik ke atas panggung yang memang di sediakan untuk para
pengisi acara. Tapi Rendi masih tetap setia di tempatnya. Agra memberi
sambutannya, dan memperkenalkan dua usaha yang telah mereka rintis, untuk pertama
kalinya Agra memperkenalkan secara resmi Ara sebagai istrinya di depan media
Nadin yang menyadari tak melihat keberadaan Rendi, ia pun bertanya
pada dr. Frans.
“Pak Rendi kemana, pak dokter?” tanya Nadin.
“Katanya ke toilet, tapi nggak kembali-kembali, coba kamu cari deh,
aku takut dia berbuat yang enggak-enggak gara-gara patah hati.”
“Hah ..., patah hati? Pak Rendi punya pacar?”
“nggak sih, tapi ada yang membuat hatinya jungkir balik kayaknya,
ya udah sana cari dia, keburu lompat dari balkon ntar.”
“Baiklah ..., ya udah aku cari pak Rendi dulu ya.” Pamit Nadin, dr.
Frans pun hanya mengangguk dan tersenyum puas.
Nadin mencari-cari keberadaan Rendi, ia bertanya pada siapapun yang
di temuinya. Kemudian ada yang memberitahunya jika Rendi berada di balkom.
Nadin segera berlari menyusulnya, ia takut apa yang di katakan sama dr. Frans
benar-benar terjadi. Ia bergidik ngeri sendiri.
Nadin berlari menaiki balkon, saat sudah melihat Rendi baik-baik
saja barulah dia tenang.
“Hah hah hah .....” Nadin mengatur nafasnya. “Pak Rendi ...”
Merasa ada suara yang tak asing memanggilnya, Rendi pun menoleh ke
sumber suara.
“Kenapa kamu kesini?” tanya Rendi.
“Ya nyusulin pak Rendi lah.’ Ucap nadin sambil berjalan mendekat ke
Rendi.
“Bukankah enak ngobrol sama cowok asing itu, tertawa-tawa, bagai
dunia milik berdua saja.’ Ucap Rendi dingin.
“Pak Rendi cemburu ...?” tanya Nadin sambil memiringkan wajahnya,
mencoba menatap wajah Rendi, mencoba membaca ekspresi Rendi.
“Nggak, aku malah seneng.” Ucap Rendi.
“Seneng? Seneng kenapa?” tanya Nadin.
“Nggak bakalan ada yang menggangguku lagi.”
“Ihh ..., pak Rendi menyebalkan. Itu minuman apa pak? Boleh aku
mencobanya?” tanya Nadin penasaran dengan botol minuman yang di bawa Rendi.
rendi pun segera menjauhkan botolnya.
“Ini bukan buat anak kecil.”
“Siapa yang anak kecil? Aku sudah besar.”
“Orang besar, tidak pernah plin plan.” Ucap Rendi sambil meneguk
kembali minumannya. Nadin segera menyahut botol yang di bawa Rendi.
“Kembalikan ...” ucap Rendi dengan tatapan yang menghunus tajam.
“Nggak ..., jika pak Rendi terus meminumnya, aku juga akan
menbinumnya ...”
“Kembalikan ..., jangan aneh-aneh ..., itu bukan minuman yang baik
buat kamu.’
“Kalau nggak baik kenapa pak Rendi meminumnya.”
“Jangan bawel, cepetan kembalikan.”
“Enggak ..., kalau enggak, ya enggak ...”
Karena Nadin terus menolaknya dan malah menyembunyikan botol itu di
balik punggungnya, Rendi pun terus berusaha merebutnya.
“Ayo kembalikan ...!” ucap Rendi, mau tak mau Rendi pun mendekat ke
arah Nadin, mereka pun saling berebut, hingga tampa sadar, tubuh Nadin sudah
terkungkung oleh tubuh Rendi, mereka berpelukan. Mereka terdiam, nafas Rendi
menyentuh leher Nadin, tangan Rendi menggapai tangan Nadin yang berada di
punggung Nadin, membuat tangan itu melingkar sempurna di pinggang Nadin. Tubuh
nadin terhimpit tubuh Rendi dan juga pembatas balkon. Mereka terdiam, menikmati
kehangatan masing-masing.
***
"**Tetaplah berharap, meskipun terkadang harapan itu nampak kosong. Yakinlah dibalik hujan ada pelangi, begitu juga dengan harapan yang akan hadir disaat yang indah."
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Terimakasih
Happy reading 😘😘😘😘😘**