MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 32 (Dini)



"Dini ...., Dini ...., Dini ....!" om Tama melafalkannya beberapa kali seperti mencoba menghafalnya, "Baiklah, karena cari dua-duanya jadi aku panggilkan putra om yang paling ganteng dulu biar di petikkan mangga mudanya!"


"Makasih banyak om ....!"


Om Tama pun masuk kembali ke dalam rumah dan meninggalkan Dini yang masih di teras.


Tak berapa lama, seorang pria muda keluar dari dalam rumah dengan senyum maskulinnya. Sepertinya pria itu baru saja berolah raga terlihat dari kaos tanpa lengan yang di kenakan nya dan celana olah raganya.


Keringat yang masih menghiasi otot lengannya yang saling menonjol membuat Dini tidak mampu mengedipkan matanya.


Sayang banget kayak gini kalau di lewatkan ...., dia perfect banget ....., sudah tampan, mapan lagi .....


"Din .....! Dini ....!"


panggilan Juna berhasil membuat Dini sadar jika dia sekarang sedang di depan pria yang di kagumi itu.


"Eh ..., mas Juna!"


"Kata bapak, kamu cari aku ya?"


"Iya ...!" eh enggak ...., maksudnya itu..., anu ...!"


Dini .... fokus Dini ...., bikin malu aja sih ....., mulut di jaga ...., mulut .....! Nggak singkron banget sama otak ....


"Anu apa?" tanya Juna begitu lembut membuat Dini tambah meleleh lagi. Juna mendekatkan wajahnya pada Dini membuat Dini kalang kabut aja, pesonanya itu bikin jantung Dini dag dig dug.


"Anu itu mas Juna ....!" ucap Dini dengan sedikit memundurkan wajahnya, takut khilaf sih sebenernya, ngarep banget di cium.


"Mangga ....!" ucap Dini tiba-tiba sambil menunjuk pohon mangga, ia pun segera berlalu meninggalkan Juna yang masih dalam posisi yang sama.


Juna pun akhirnya mengikuti langkah lincah Dini menuju ke pohon mangga.


"Jadi ceritanya gini mas Juna, Nadin itu lagi ngidam, ngidamnya mangga muda miliknya om Tama!" ucap Dini panjang lebar sabil berusaha keras menghindari tatapan Juna, ia benar-benar nggak bisa beranjak dari tempat itu gara-gara terlalu terpesona.


"Oh ...., lalu?" tanya Juna sambil tersenyum mengawasi tingkah Dini.


"Ya karena Dini nggak bisa manjat sendiri, ada baiknya kalau mas Juna yang petikin buat aku!"


"Baiklah kalau gitu, tunggu di bawah! Biar aku yang manjat!"


Juna pun menggerak-gerakkan otot tangannya sebelum memulai memanjat, Dini menunggu di bawah sambil terus mengagumi bagaimana kekarnya otot-otot pria itu.


"Butuh berapa banyak buah?" tanya Juna setelah berada di atas pohon.


"Satu ..., eh dua cukup deh kayaknya!"


"Baiklah ..., dua ya ...!"


***


Kini Juna sudah mengantar Dini sampai di depan pagar dan menyerahkan mangga muda yang ia masukkan ke dalam kantong plastik.


"Makasih ya mas Juna mangganya!"


"Sama-sama ...!"


Tepat saat yang sama, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Nadin.


Ajun keluar dari dalam mobil itu dan menatap ke arah Juna dan Dini. Dini menatap sinis pada Ajun.


"Ya udah ..., Dini masuk dulu ya mas ...!" ucap Dini begitu masih pada Juna.


Dini segera meninggalkan Juna dan melewati Ajun begitu saja.


Tapi ternyata Ajun mengikutinya di belakang.


"Lama sekali sih cari mangganya Din?" tanya Nadin yang sudah menunggunya di depan pintu, lalu melihat yang ada di belakang Dini.


"Loh Ajun, kok bisa barengan sama Dini?"


"Tadi tidak sengaja bertemu di depan, bu!" jawab Ajun saat Dini hendak menjawab tapi langsung di dahului oleh Ajun.


"Ajun ...!" panggil Nadin lagi saat Ajun hendak meninggalkan mereka.


Ajun pun segera menghentikan langkahnya.


"Iya, bu?"


"Kenapa dengan tanganmu?"


Dini sedari tadi tidak menyadari jika tangan kiri pria itu di balut perban coklat dan di tahan di depan dadanya sedangkan tangan kananya juga di balut tapi hanya sebatas pergelangannya saja.


"terpeleset, Bu!" ucapnya tapi arah tatapannya tertuju pada Dini.


Terpeleset ....., bukankah tadi malam baik-baik saja ...?"


"Kapan?"


Semalam ......


Dini Jadi terpaksa mengingat kembali bagaimana kejadian mereka terjatuh semalam, ia mengingatnya, ada tangan Ajun di bawah tubuhnya, itu kenapa dia tidak begitu sakit padahal jatuhnya lumayan keras.


Kemudian ia mengingat kembali saat Ajun menarik tangannya, Ajun terlihat sekali jika sedang menahan sakit.


Atau jangan-jangan .....


***


Setelah dari rumah Nadin, Dini memilih menuju ke perpustakaan kota, ia mencari literasi untuk bahan disertasinya mumpung bolos kerja.


ting


Sebuah notif pesan masuk dari ponselnya, Dini meninggalkan sejenak buku bacaannya, ia menoleh pada ponselnya yang ia letakkan di atas meja.


"Mama ....!" pekik Dini, tidak biasanya mamanya mengirimnya pesan di jam-jam ia kerja.


Dini segera membuka pesan itu,


//Dini ...., mama ke kafe, tapi kamu nggak ada? Ada apa? Kamu kemana?//


"Istttt ....., mama ini!"


Dini pun segera mengetikkan balasan.


//Dini nggak kerja ma hari ini, Dini juga nggak pa pa, lagi pengen libur aja//


Tak berapa lama mendapat balasan lagi dari mamanya.


//Tapi mama samperin ke rumah, kamu juga nggak ada?//


"Tumben banget mama sampek nyamperin ke rumah segala, ada apa ya?"


//Ada yang penting banget ya pengen di omongin sama Dini?//


Dini tidak sabar menunggu jawaban dari mamanya itu, jadi begitu penasaran.


//Kalau ada waktu, pulang dulu ya, kita makan malam sama mama sama papa dan yang papa kamu pengen omongin//


"Serius amet ...., nggak biasanya?!"


Sebenarnya ia juga sangat penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan mama dan papanya, tapi ia juga ingin memastikan sesuatu tentang Ajun.


Dini pun segera mengetikkan pesan balasan untuknya.


//Maaf ma ..., kayaknya malam ini nggak bisa deh, lain waktu ya, janji .....✌️//


Saat melihat jarum jas sudah menunjuk ke angka setengah lima, Dini segera mengemasi barang-barang nya dan mengembalikan buku yang sempat ia pinjam.


***


Kini motor Dini sudah terparkir di basement apartemen Ajun. Ia dengan sedikit berlari menyusuri lobby dan berhenti tepat di depan pintu lift.


Sambil menunggu pintu lift terbuka ia sengaja memainkan ponselnya.


"Sudah terbuka!" suara seseorang mengagetkannya, dia sudah berada di samping Dini dan melangkah masuk ke dalam lift.


Dini pun dengan cepat mengikuti langkah lebar pria itu dan berdiri tepat di samping pria itu hingga pintu lift kembali tertutup.


Dini kembali menatap pria itu dengan tangan kanan yang masih di gendong di depan dadanya, "Ajun?"


"Hemmmm!" ucap Ajun tanpa menoleh kepada Dini, ia tetap menatap ke depan.


"Itu nggak kepleset kan? itu karena jatuh semalem kan? Karena ketimpa tubuhku kan?"


Ajun segera menatap Dini dan mendekatkan wajahnya hingga Dini memundurkan langkahnya.


Kini punggung Dini sudah membentur dinding lift dan di depannya Ajun begitu dekat, bahkan sangat dekat.


Ampun ...., si kardus kenapa ganteng banget sih ...., jadi deg degan gini rasanya ....., pengen pingsan .....


"Kalau tahu yang bertanggung jawab atas cidera ini kamu, berarti harus tanggung jawab!" ucap Ajun dengan begitu dekat hingga nafas Ajun menyapu wajah Dini.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰