
Dini pun melepas gendongan tangan Ajun dan segera mengambil kemeja yang sudah berada di atas tempat tidur dan perlahan mengenakannya di tubuh Ajun.
Kalau dari belakang masih mending, ia nggak harus melihat wajah tampan Ajun, pas waktu ngancingin kemejanya adalah hal yang terberat buat Dini.
"Yang bener dong kancinginnya!" protes Ajun karena Dini mengancingkan nya tanpa menatap Ajun, ia memilih menoleh ke samping, bukan apa cuma takut khilaf aja liat roti sobeknya berasa pengen pegang.
"Iya ...., ini juga udah bener!"
"Kamu mengancingkannya dengan kancing yang salah!" ucap Ajun dan benar saja, seharusnya kancing berada di urutan pertama di masukkan ke urutan ke dua.
"Masak sih?"
"Makanya lihat ke depan!"
Dia benar-benar nggak peka ya ....., batin Dini. dengan terpaksa Dini pun beralih menatap Ajun dan membuka kembali kancingannya.
"Kenapa? Kalau lihat aku takut jatuh cinta ya?" tanya Ajun membuat Dini semakin kesal aja.
"Nggak!" ucap Dini ketus sambil terus fokus pada kemeja Ajun dan tidak mau mendongakkan kepalanya ke atas.
"Kalau nggak lihat wajah aku!" ucap Ajun lagi dengan nada bicara yang dingin tanpa ekspresi itu.
"Eh kamu nggak tahu ya, kalau berduaan gini, laki-laki sama perempuan yang ke tiga setan. Bahaya kalau sampek ada setan yang lewat!" cerocos Dini tanpa berani menatap Ajun.
"Kalau lewat kayak gini?!" tanya Ajun sambil menggunakan tangan sebelah kirinya meraih tangan tubuh Dini, lengan itu melingkar sempurna di pinggang Dini, hingga tidak ada jarak di antara mereka.
Dini yang begitu terkejut, segera mendongakkan kepalanya menatap wajah pria kardus itu.
"Apaan sih kardus? Lepas ....!" ucap Dini. Melihat wajah panik Dini membuat Ajun tersenyum puas karena berhasil mengerjai gadis kuncir kuda itu.
"Gitu aja takut, katanya sudah dewasa!" ucap Ajun setelah melepaskan tubuh Dini.
"Jahat banget sih ngerjain orang!" ucap Dini sambil berlalu meninggalkan Ajun dan menutup pintunya begitu keras.
Brrrakkkk
"Celanaku belum kepakek!" teriak Ajun yang baru memakai kemejanya.
"Bodo amet, pakek sendiri!" teriak Dini dari luar, sepertinya Dini butuh waktu untuk menormalkan jantungnya kembali.
"Trus aku pakeknya bagaimana lagi!" gumam Ajun sambil menatap celananya yang masih teronggok di atas tempat tidur.
***
Mereka pun sudah berada di basement apartemen bersiap untuk berangkat.
"Jadi kamu harus ngantar aku sampai di rumah pak Rendi!" ucap Ajun sambil menyerahkan kontak mobilnya.
"Setiap hari?"
"Ya setiap haris sampai tanganku sembuh!"
"Bagus dong berarti ....!" ucap Dini dengan senyum merekah di bibir mungilnya.
Aku bisa ketemu sama mas Juna tanpa harus cari-cari alasan dong ......, batin Dini.
Tiba-tiba saja telunjuk Ajun mendarat di kening Dini hingga kepala Dini terdorong ke belakang.
Kini tubuh Dini sudah terperangkap di antara mobil dan tubuh Ajun.
"Jangan mikir macam-macam ya!" ucap Ajun.
"Nggak ...., aku hanya berusaha berpikir positif aja di balik semua cobaan yang aku hadapi!"
"Nggak ada ketemu sama pria itu!" ucap Ajun lagi membuat Dini mengerutkan keningnya.
"Singkirkan tanganmu dari keningku! nggak jelas banget!" ucap Dini.
Ajun pun menyingkirkan tangannya dari kening Dini setelah menyadari ucapannya sendiri.
***
Mereka pun akhirnya sampai juga di depan rumah Rendi, saat Dini akan turun Ajun segera mencegahnya dengan menarik kunciran Dini.
"Aduhhhh ....., apaan sih?!" gerutu Dini sambil kembali duduk di tempatnya.
"Mau ke mana?" tanya Ajun.
"Ya mau turun lah ...!"
"Ya enggak!"
"Kalau enggak, langsung pergi dan bawa mobilku, nanti pulangnya nggak usah jemput! Langsung pulang ke apartemen!" ucap Ajun dan dia pun turun dari mobilnya kemudian menutup kembali pintu mobilnya dan meminta Dini untuk segera meninggalkan rumah sahabatnya itu.
"Ihhhh ....., gila aja! Aku udah kayak selingkuhan nya aja yang takut ketahuan istrinya!" gerutu Dini sambil mengemudi mobil Ajun menuju ke tempat kerjanya.
Setelah melakukan perjalanan selama lima belas menit akhirnya sampai juga di kafe milik orang tuanya itu.
"Waahhhh, mobil baru ya mbak?" tanya security setelah melihat Dini turun.
"Bukan, milik temen!"
"Bagus banget mobilnya!"
"Ya gara-gara mobil ini aku jadi art!" ucap nya begitu kesal sambil menendang kap mobil itu.
"Aughhhh ....., aughhhh ....!" keluh Dini sambil memegangi kakinya yang sakit.
"Sakit mbak?" tanya security itu.
"Iya lah sakit ....!" jawab Dini ketus.
"Sudah tahu keras masih juga di tendang, mbak mbak ....! Emang mbak Dini ada-ada aja!" ucap security itu sambil menggelengkan kepalanya meninggalkan Dini yang kesakitan.
"Gini nih, kelamaan jadi tukang cuci piring, jari di remehin sama anak buah!" gerutu Dini sambil berjalan pincang masuk ke dalam.
"Pagi mbak Dini!" Sapa seorang waiters.
"Pagi, Mei!"
"Kemarin mbak Dini di cariin ibu loh!" ucap waiters bernama Mei itu.
"Iya tahu!"
"Kenapa mbak kakinya?" tanya Mei lagi saat melihat Dini jalan pincang.
"Di gepok macam tadi!" ucap Dini sambil berlalu begitu saja, ia harus segera mengganti bajunya.
"Emang macam bisa gepok, bukannya macam itu gigi ya! Apa mungkin kakinya mbak Dini di gigit macam?!" gumam Mei setelah Dini berlalu.
***
Kini Dini sibuk dengan semua pekerjaannya, dalam sela-sela waktu senggangnya ia akan mengerjakan tugas kuliahnya.
Tidak ada yang berbeda dengan yang di lakukan karyawan lainnya, Dini pun juga melakukan yang sama. Melayani pelanggan.
"Dini ...., kamu kerja di sini?" tanya seseorang membuat Dini yang sedang sibuk mengelap meja segera mendongakkan kepalanya.
"Mas Juna!" ucap Dini, ia segera tersenyum rasa lelahnya karena bekerja seharian segera hilang saat melihat wajah ganteng Arjuna.
Tapi Senyumnya segera surut saat melihat wajah cantik wanita yang berada di samping pria itu. Mengerti arah tatapan Dini, Juna pun segera memperkenalkan wanita yang ada di sampingnya itu.
"Oh iya ...., kenalkan dia Mira, teman saya!"
"Hai mbak Mira!" Dini mengulurkan tangannya pada wanita itu, dan wanita itu tersenyum menyambut tangan Dini.
"Ya udah mas Juna duduk dulu, mau pesan apa biar Dini buatin!"
Setelah Juna dan temannya itu memesan minuman dan camilan, Dini segera membuatkannya dan mengantarnya kembali ke meja mereka.
"Nggak ikut gabung aja Din?" tanya Juna.
"Iya loh ...., pasti asik ada kamu juga!" Mira ikut bicara.
"Nggak usah deh, aku kerja dulu ya! Selamat menikmati!"
Dini pun meninggalkan mereka kembali. tapi ia terus mengawasi mereka dari balik meja untuk meracik minuman.
Sesekali ia meremas kain lapnya saat melihat Juna dan wanita itu terlihat begitu akrab, saling tertawa dan sesekali Juna mengusap pundak wanita itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰