
sepanjang hari Ajun hanya sibuk menatap ponselnya saja. Entah ia percaya dengan ucapan Juna atau memang ia merindukan gadis yang selalu mengajarnya itu.
Kehidupannya berubah saat Dini hadir dalam hidupnya, dulu ia sangat dingin dan hanya tahu belajar dan pekerja, dan bekerja. Tapi saat Dini mulai mengusik hidupnya, tapi ampun gadis itu telah mengubah pemikirannya.
Dulu ia berpikir jika hidup sendiri itu lebih nyaman, ia tidak perlu di repotkan dengan berbagai hal termasuk menghidupi keluarga dan segala keribetannya.
Tapi saat ada Dini, ia merasa rumahnya menjadi hidup, di tempat kerjanya juga banyak hal-hal yang tidak terduga yang akan ia hadapi setiap hari gara-gara Dini.
Hingga malam hari saat ia pulang kerja, ia masih terus melihat unggah-unggahan foto Dini di sosial media pribadinya,
Sebenarnya ia sedang ingin mendengar suaranya, tapi ternyata ego nya lebih besar, ia merindukan tanpa ingin menelponnya lebih dulu.
"Dasar ....! suka sekali berfoto seperti itu!" gumam Ajun saat mengomentari foto Dini yang sedang mengacungkan kedua tangannya ke depan dengan senyum lebarnya.
"Kenapa dia tidak menghubungiku ....!" gumamnya Setelah menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, biasanya jam segini ia akan di buatkan makan malam oleh Dini, mereka akan makan malam bersama dan sesekali Dini dengan kata-kata ceplas-ceplos nya yang bisa bikin Ajun salah tingkah.
Kemudian Ajun teringat dengan perkataan Dini
"Cowok itu harus menghubungi lebih dulu, tidak ada cewek yang mau menghubungi lebih dulu karena harga diri cewek lebih besar! Jadi nanti jika kau merindukanku maka telpon aku lebih dulu okey ....!"
"Hehhhhh ....., kenapa cewek super ribet?" gumamnya lagi, ia tidak sadar jika dirinya ternyata lebih ribet ( Makanya bang kalau rindu itu ngomong, jangan di pendem aja ntar jadi bisul loh ....~ kata author)
Dengan begitu malas ia mengambil ponselnya kembali yang sempat ia letakkan di meja, kemudian ia kembali foto-foto itu, pengen banget rasanya menghubunginya, tangannya sudah tidak sabar untuk menekan tombol telpon. Tapi lagi-lagi logikanya melarang.
"Ah tidak ...., biar dia dulu yang telpon!" ucapnya yang hampir meletakkan ponselnya kembali dengan layar yang masih di penuhi wajah Dini, kemudian ia menangkap sesuatu yang aneh dalam foto itu.
Ajun kembali memperhatikan foto itu, Dini dan teman-temannya melakukan barbeque, ada seseorang yang seperti sedang mengawasi mereka jauh di belakang tapi masih terlihat jelas di foto.
Kemudian Ajun melihat jam yang tertera di foto itu, jamnya masih lima belas menit yang lalu. Ini adalah malam terakhir mereka di puncak dan besok pagi harus sudah pulang.
kemudian Ajun memperbesar layar ponselnya dan melihat dengan seksama orang yang sedang berdiri di depan pintu itu, ia mengamati dengan benar wajah orang yang ada di sana. Memastikan jika yang ia lihat benar.
Dengan cepat Ajun beranjak dan mengambil laptop yang ada di meja kecil tidka jauh dari tempatnya duduk dan kembali duduk di sofa meletakkan kembali laptop itu di atas meja dan menghidupkannya.
Ia sempat membuat Sketsa wajah orang-orang yang pernah menyerangnya. Ajun pun segera melihat file yang berisi tentang sketsa wajah orang-orang yang menyerangnya itu.
Ada lebih dari sepuluh sketsa wajah di sana, kemudian dia mendekatkan ponselnya pada layar laptop. Menyamakan seseorang yang berdiri di depan pintu itu berpenampilan seperti penjaga villa dengan seseorang yang tergambar di sketsa wajah orang-orang yang pernah menyerangnya, dan benar itu wajah yang sama.
Kemudian Ajun memastikannya dengan melihat foto-foto Dini yang lain, ia melihat Foto-foto Dini di villa atau di kebun teh, ia memastikan orang-orang yang tertangkap kamera di sana, dan benar saja, semua mirip dengan sketsa wajah yang ada di laptapnya.
"Ini artinya ...., apa yang di katakan Juna benar ....!" Ajun benar-benar terkejut.
Ia segera menutup laptopnya dan memakai jaketnya, tidak lupa Ajun juga menghubungi Dini tapi Dini tidak mengangkatnya.
Ajun juga segera menghubungi seseorang yang mungkin bisa menyusulnya ke puncak.
Ini sudah sangat malam sudah hampir jam 10 malam mungkin tidak akan ada yang bisa membantunya semalam ini.
Ajun pun mengendarai mobilnya sendiri menuju ke puncak, butuh waktu dua jam untuk sampai ke puncak Jadi kemungkinan dia sampai di sana sekitar pukul dua belas atau dua belas tiga puluh dini hari.
Dengan kecepatan lebih dari biasanya Ajun mengendarai mobilnya. Kemudian ia teringat pada selembar kertas yang ia letakkan di dasbor mobilnya, ia segera mengambilnya dan itu adalah nomor yang ditinggalkan oleh Juna.
"Apa aku harus menghubunginya?" gumam Ajun sedikit ragu, "Tapi tidak ada salahnya! Mungkin dia bisa membantu!"
Ajun pun segera menyimpan nomor itu ke dalam ponselnya dan segera melakukan panggilan.
Hingga beberapa kali tapi tidak di angkat seperti Juna sedang, walaupun berdering dia tidak mengangkatnya.
//Saya akan menyusul Dini, seperti nya ada sesuatu yang aneh dengan Villa itu, para penjaganya adalah orang-orang yang pernah menyerangku beberapa kali//
Ajun pun segera mengirimkan pesan itu kepada Juna, ia berharap Juna dengan cepat membaca pesan itu dan segera menyusulnya.
Ajun juga tidak lupa menghubungi beberapa temannya yang mungkin bisa membantu untuk penyergapan karena sepertinya mereka bukan hanya satu atau dua orang tapi banyak. Ia harus punya strategi yang bagus.
...****...
Di tempat lain ternyata Juna sedang melakukan piket malam dan bersama teman-temannya sedang melakukan latihan malam, ia sengaja meninggalkan ponselnya dan meletakkannya begitu saja di markas.
Temannya yang kebetulan sedang berjaga di markas mendengar ponsel yang berdering beberapa kali membuatnya ingin melihat siapa yang melakukan panggilan.
"Ini ponsel bang Juna!" ucapnya, "Tapi sudah mati!" gumamnya lagi.
Tidak berapa lama ponselnya berdering kembali, rekannya itu hampir mengangkatnya tapi ternyata lebih dulu terputus.
Di layar ponsel itu tertulis panggilan dari 'adikku yang cute'
"Mungkin ini dari rumah ada yang penting!"
Akhirnya rekannya itu pun segera berlari menuju tempat pelatihan ia mencari keberadaan Juna.
"Bang .... bang .....! Ada telepon!" panggilnya dengan berteriak dan melambai-lambai kan ponselnya agat Juna bisa melihatnya.
Juna yang kebetulan berada cukup jauh dari rekannya itu segera berlari menghampiri.
"Dari siapa?" tanyanya sambil berjalan mendekat.
"Sepertinya dari rumah penting karena teleponnya beberapa kali!" ucap rekannya itu.
"Terimakasih!" ucap Juna sambil meraih ponselnya.
Juna pun segera mengambil ponselnya dan benar saja itu adalah panggilan dari Ajun, panggilannya sudah sebanyak 10 kali.
Saat ia hendak melakukan panggilan ulang ia melihat ada sebuah pesan. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melakukan panggilan, ia memilih membaca pesan itu.
Juna begitu terkejut ketika membacanya ia segera bergegas melepas atribut latihannya dan berlari menuju ke markas yang mengambil sebuah jaket dan senjata.
"kamu mau ke mana?" tanya Mira yang kebetulan juga berjaga.
"Ada sesuatu yang darurat dalam 2 jam kedepan tetap stay dan stand by di markas jika sewaktu-waktu saya telepon segera angkat!"
"Siap!" ucap Mira sambil memberi hormat.
Juna pun segera menghampiri motornya yang lebih nyaman menggunakan motornya daripada menggunakan mobil ia segera menyusul Ajun dan Dini.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰