MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Aku tidak bisa berbagi



Rendi memberikan kecupan singkat di bibir Nadin. Dengan segera Rendi menjauhkan diri dari Nadin, ia segera berlalu meninggalkan Nadin yang masih terpaku di tempatnya. Ia tak percaya Rendi menciumnya.


"Ayo masuk ....!" ucap Rendi yang sudah berada di dalam mobil.


Astaga ....., apa aku sudah gila, apa yang aku lakukan?


Nadin pun tak mau menunggu terlalu lama, ia segera menyusul Rendi masuk ke dalam mobil.


Mobil pun kembali melaju memecah ramainya jalanan ibu kota di malam hari, kerlap kerlip lampu kota menggambarkan semeriah apa hati Nadin saat ini, inilah kebahagian di balik derita.


Mungkin benar jika apa yang kita anggap buruk belum tentu efeknya baik untuk kita.


Nadin mengalami hal buruk, tapi di balik kejadian buruk itu, karena kebaikan hatinya, walaupun hanya secuil setidaknya ia berhasil melelehkan gunung es besar di depannya, walaupun hanya 1% tapi itu jalan untuk 99% selanjutnya.


Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam mereka sampai di depan rumah Nadin.


"Turunlah ...!" perintah Rendi tanpa menatap Nadin.


"Terimakasih atas semuanya ...., pak...!" ucap Nadin.


"Hemmmm ..."


Masih aja irit sih ....


"Jasnya?" tanya Nadin saat menginyat bahwa jas Rendi ada di dirinya.


"Bawalah ...., untukmu .....!"


Nadin pun segera turun dari mobil, ia kembali menatap Rendi sebelum benar-benar meninggalkan pria itu.


"Selamat malam ....." ucap Nadin dengan senyum yang tak pernah memudar dari bibirnya.


Rendi hanya mengangguk dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Nadin.


Nadin dengan wajah yang berseri-seri segera masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti saat melihat ayahnya di ruang tamu.


"Assalamualaikum ayah ....!" sapa Nadin.


"Waalaikum salam ....., kenapa baru pulang ....? kakak kamu sudah pulang dati tadi, mampir kemana?" tanya Roy mengintrogasi. Nadin segera menundukkan wajahnya.


"Maaf yah ...., tadi aku ....!"


Belum sempat Nadin menjawabnya, Roy segera mencerca Nadin dengan pertanyaan lagi saat melohat jas yang melilit pinggang Nadin. Entah apa yang sudah di katakan oleh Davina hingga membuat Roy semarah itu pada Nadin.


"Lalu ...., itu jas siapa? Kenapa dengan rokmu?"


"Rok Nadin sobek, kak Davina yang sudah ....!"


Lagi-lagi Nadin belum sampai menyelesaikan ucapannya, ucapannya harus terpotong kembali saat Davina tiba-tiba datang di antara mereka.


"Iya ayah ...., Tadi rok Nadin sobek ...., eh bukannya nungguin aku, malah dia pergi duluan dengan kak Rendi ...., Davina kan belum tahu tempat ini ....!" ucap Davina mencoba memojokkan Nadin.


Apa yang kak Davina lakukan ....? Kenapa dia seakan ingin memojokkan aku ...?


"Apa kamu tidak kasihan sama kakak kamu ...., dia ini bari di sini, dan kau malah meninggalkannya di tempay asing, di pesta orang lagi ....!" ucap Roy menimpali.


"Tapi yah ...., semuai ini gar-" ucapan Nadin lagi-lagi segera di potong oleh Davina, sepertinya Davina sengaja melakukan itu agar Nadin tidak mengatakan yang sebenarnya pada ayahnya.


Jangan sampai Nadin bicara yang sebenarnya pada ayah Roy ....


"Untuk saja tadi ada dr. Frans yah ...., makanya Davina bisa pulang. Tapi tadi Nadin pulang duluan loh ...., kok sampek rumahnya belakangan ya .....?!" ucap Davina kembali berusaha memojokkan Nadin.


Astaga ...., aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran kak Davina ...., jahat sekali sih dia ....


"Kamu dari mana saja ....?" tanya Roy.


"Nadin jalan-jalan yah ...., Nadin capek yah, mau istirahat ....., selamat malam ....!"


Nadin pun segera berlalu meninggalakan Roy dan Davina, ia sungguh kesal dengan sikap Davina padanya.


"Nadin ....., Nadin ....., ayah belum selesai bicara ....!" teriak Roy. Tapi Nadin tak mau lagi berhenti, ia tetap melanjutkan langkahnya ke dalam kamar dan segera menutup kembali pintu kamarnya dengan keras.


Maafkan Nadin ayah ....,


Roy benar-benar marah hari ini dengan Nadin.


"Duduklah yah ....!" ucap Davina sambil menuntun Roy duduk kembali di atas sofa.


"Sudah ayah jangan pikirkan lagi ...., biar Davina yang bicara dengannya ....!"


"Terimakasih ya nak ...., bersabarlah dengan sikap adikmu itu, dia memang sangat manja ...."


"Iya ayah ...., Davina susul Nadin dulu ya ...., ayah jangan emosi ...!"


"Iya sayang .....!"


Davina meninggalkan Roy dengan senyum puasnya.


Mungkin kamu menang dalam hal Rendi ...., tapi aku satu poin lebih maju untuk mengambil hati ayah Roy .....


***


Nadin segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia begitu kesal hingga tidak mampu menahan emosinya.


"Baiklah ...., besok saat ayah sudah tidak marah, aku bisa minta maaf dan menjelaskan semuanya ...." gumam Nadin.


Nadin lalu teringat dengan jas yang sedang melilit pinggangnya, ia melepaskan jas itu dan segera memeluknya. Ingatannya kembali lagi pada kejadian beberapa hari lalu, rasa kesalnya seketika menguap, ia kembali tersenyum mengingat kejadian tadi. Pipinya merona merah, ia menyembunyikan wajahnya di dalam jas itu.


"Iiih ...., dia manis sekali ....., aku jadi malu ..."


Belum puas ia membayangkan kebersaannya dengan Rendi, tiba-tiba pintu kembali terbuka. Davina segera masuk. Nadin segera menatap Davina.


"Kak .....!"


"Iya .....?"


Nadin segera berdiri dari duduknya, ia menghampiri Davina yang dengan santainya melenggang dan duduk di depan meja rias. Davina menyisir rambut dengan santainya seperti tak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Kakak sengaja kan?" tanya Nadin.


"Apa sih dek, aku kan sudah bilang tidak sengaja. ...!" ucap Davina tanpa menatap Nadin yang berada di sampingnya.


"Kakak jangan bohong ....., aku tahu tadi kakak dengan sengaja menarik rok aku ...., apa tujuan kakak ...?"


"Kamu jangan nuduh aku kayak gitu ya ....!" jawab Davina dengan wajah kesalnya.


"Nadin nggak nuduh ...., Nadin bicara sesuai kenyataan, kenapa kakak tega sekali dengan Nadin, Nadin nggak pernah jahat loh sama kakak .....!"


"Kamu memang tak pernah jahat sama aku ...., tapi aku iri padamu, aku iri ...., kenapa hanya kamu yang bisa merasakan semua kasih sayang dari mereka, sedangkan aku ...., aku hanya anak yang terbuang, tak ada yang peduli sama aku ...., mereka meremehkanku .....!" ucap Davina dengan air mata yang menganak sungai di pipinya.


"Kak ....!" ucap Nadin sambil berusahan menenangkan Davina, ia hampir memegang bahu Davina, tapi segera di tepisnya.


"Aku tidak suka dikasihani ....!" bentak Davina.


"Kak ...., aku cuma ingin .....!"


"Aku tidak suka jika kamu dekat dengan kak Rendi ...., aku benci ....!"


Hah ...., apa aku tidak salah dengar ...., apa kak Davina juga suka dengan pak Rendi ?


"Kakak menyukai pak Rendi?"


"Iya ....., kamu puas .....!"


Hah ...., ini tidak mungkin .....


Nadin segera menyenderkan tubuhnya di dinding, kakinya serasa lemas. Ia tidak menyangka kakak sambungnya akan menyukai pria yang sama.


"Aku juga ingin mendapatkan kasih sayang orang-orang yang menyukaimu, menyayangimu ...., aku tidak mau jadi yang terabaikan ...., sudah cukup penderitaan yang aku alami selama ini ....!"


"Baiklah jika itu maunya kakak ...., Nadin akan ikuti tantangan kakak ...., mungkin aku bisa membagi kasih sayang ayah, atau siapapun tapi untuk pak Rendi, maaf ...., aku tidak bisa membiarkan kak Davina mengambilnya dariku ....!"


"Terserah kamu ....., aku tidak butuh persetujuan darimu untuk mendekati kak Rendi."


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘**