MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 49 (Juna)



Dini segera mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri dan melahapnya.


“Kenapa seharian tidak menghubungiku?” tanya Dini di


sela-sela makannya.


Ajun menghentikan makannya dan mendongakkan kepalanya menatap Dini. Gadis kuncir kuda itu juga tampak menghentikan kunyahannya dan ingin tahu apa yang akan di katakan oleh pria di depannya itu.


“Memang perlu ya?” tanya Ajun sambil menghentikan kunyahannya.


Mendengar pertanyaan Ajun yang terkesan tidak peka itu membuat Dini kesal.


“Iiiisssttttt ….., kau ini benar-benar tidak tahu caranya memperhatikan seorang gadis!” gerutu Dini sambil kembali melanjutkan kunyahannya.


“Buat apa?” tanya Ajun yang malah tampak bingung.


“Sudah lupakan, makan saja yang banyak!” Ucap Dini sambil menambahkan makanan di piring Ajun begitu banyak, Ajun hanya bisa melihat piringnya tanpa berniat menghentikan apa yang di lakukan Dini.


Dia benar-benar tidak peka…, Batin Dini kesal.


Ajun terpaksa memakan makanan yang ada di piringnya karena Dini akan sangat marah jika ia menyisakan makanannya.


Kenapa dia marah …?Memang perutku kontainer bisa muat makanan begitu banyak ....


***


Pagi ini seperti biasa, sebelum ke kantor ia pasti akan ke rumah Rendi terlebih dulu untuk menunjukkan beberapa jadwal yang sudah


dia atur semalam.


Ada beberapa jadwal meeting yang harus di hadiri oleh Rendi. Apa lagi saat ini, timnya terpilih menjadi salah satu tim pengawal keamanan negara.


Kekuatan dan kecerdasan di utamakan untuk menjadi tim Rendi. Bukan cuma itu, beberapa perusahaan besar juga merekrut anak buah Rendi untuk melakukan pengamanan.


“Selamat pagi pak Rendi!” sapa Ajun yang sudah berada di samping mobil Rendi.


Rendi yang baru keluar dari rumah bersama Nadin dan Elan.


“Selamat pagi bu Nadin!” Sapa Ajun lagi.


“Pagi ajun!”


Ajun segera membukakan pintu mobil untuk Rendi. Rendi kembali menatap istrinya itu.


“Sayang, aku akan berangkat dulu!” ucap Rendi sambil mengusap pipi Nadin dan bergantian dengan Elan.


"Jaga bunda dan adik ....!" ucap Rendi saat mengecup pipi Elan.


“Hati-hati ya, mas ....!”


“Jaga anak kita baik-baik!”


Nadin mengangguk, Rendi tidak lupa meninggalkan kecupan di kening Nadin dan Elan.


“hermmm!”


Setelah berpamitan, Rendi pun segera masuk ke dalam mobil, Ajun Pun menyusul masuk dan duduk di samping sopir.


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah Rendi, terlihat dari kaca spion jika wanita hamil itu masih melambaikan tangannya hingga mobil menghilang di balik tikungan jalan.


"Bagaimana dengan tanganmu, Ajun?"


"Sudah lebih baik, pak!"


"Baguslah ....!"


Rendi kembali sibuk dengan tabnya.


"Hari ini jadwal pak Rendi cukup padat, apa perlu ada yang di undur besok?" tanya Ajun sambil mengirimkan jadwal hari ini ke ponsel Rendi.


Setelah memeriksa semua jadwalnya Rendi kembali mendongakkan kepalanya, menatap Ajun.


"Tidak perlu, masih bisa di atasi!"


"Baik pak!"


“Sudah mencari tahu tentang pak Tama, atau pria muda yang berada di rumahnya?”


“belum pak, tapi akan segera saya cari tahu!”


“baiklah …!”


Akhirnya mobil pun sampai di depan gedung yang sekarang menjadi gedung pribadi milik perusahaan Rendi.


Ajun pun mengantar Rendi hingga ke ruangannya.


"Sekarang kamu boleh pergi, segera selidiki semuanya!"


"Baik pak, saya permisi!"


kantor.


Selain melatih secara langsung beberapa ana buah yang di rekrut untuk jadi pengawal pribadi, ajun juga sering mendapatkan tugas untuk melakukan penyelidikan.


Tapi kali ini ia memilih ruang pribadinya untuk melakukan pelacakan data.


Ajun memeriksa data pribadi milik pak Tama,


"Kenapa seperti ini!?" gumam Ajun saat melihat data yang jelas-jelas berbeda dengan yang ia lihat saat ini.


Ajun menemukan kejanggalan di sana. Pak tama ternyata tidak memiliki seorang putra, ia hanya memiliki seorang putri, itupun sudah meninggal semenjak kecil.


Setelah putri dan istrinya meninggal, pak Tama memilih mengundurkan diri dari jabatannya dan tinggal di Jakarta.


"Lalu siapa Juna? Kenapa dia tinggal bersama pak Tama?"


Ajun terus menyimpulkan sendiri segala kemungkinannya.


Sore ini, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Ajun pun memutuskan untuk menanyakan langsung pada pak Tama.


Menurutnya memang pria itu cukup misterius, apalagi jika melihat wajah galaknya, bagaimana pun dia tetap saja butuh nyali yang besar untuk menemuinya.


Ajun pun memutuskan untuk pergi ke rumah pak Tama sebelum kembali ke apartemen nya.


Ting tong ting tong


Ajun sudah berdiri di depan pintu rumah yang berhadap-hadapan dengan rumah Rendi.


Ceklek


Pintu terbuka dan menampakkan pria dengan kumis tebal yang muncul dari balik pintu itu.


“Selamat sore pak Tama!”


Tampak sekali pak Tama sedang berpikir keras, ia sering melihat pria di depannya tapi tidak pernah melihat pria itu mampir di rumahnya, lalu kenapa saat ini berdiri di depan rumahnya. Kecuali saat itu, saat Nadin sedang ngidam buah mangga muda.


“sore!” jawab pak Tama singkat.


“Apa kita bisa bicara sebentar?” tanya Ajun lagi.


"Masuklah ....!"


Pak Tama mengajak Ajun masuk dan duduk di ruang tamu yang cukup besar itu. Sayang sekali rumah sebesar itu jika hanya di tinggali satu orang saja, mungkin saja Juna memang bukan anak kandungnya tapi pak Tama mengangkatnya menjadi anaknya untuk menemani di rumah yang sebesar itu.


“Duduklah …!” perintah pak Tama setelah melihat Ajun masih berdiri dan sibuk mengamati rumahnya.


Akhirnya Ajun pun duduk begitu juga dengan pak Tama.


“Apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Pak Tama sambil terus memperhatikan wajah Ajun. Memang ada yang aneh, atau sesuatu yang membuat pak Tama ingin terus mengamati wajahnya.


Sebelum sempat Ajun bertanya, tiba-tiba Juna datang dan menghampiri mereka.


"Bapak ...., aku pulang!"


Langkah Juna terhenti saat melihat ada Ajun bersama bapaknya.


“Ajun …!”


Juna pun ikut duduk bersama mereka.


“Sudah lama?” tanya Juna. Bukannya menjawab Ajun malah memilih berdiri dari duduknya.


“maaf tuan Tama, sebaiknya kita bicara lain waktu, saya permisi!” ucap Ajun lalu berlalu begitu saja.


Juna yang melihat hal itu segera menyusul Ajun dan memanggilnya kembali.


“Ajun!”


Panggilan Juna berhasil membuat Ajun berhenti dan kembali menoleh pada Juna.


“Siapa orang-orang yang menyerang mu?” Tanya Juna, karena sudah beberapa kali ini Ajun di serang.


“Bukan urusan anda! Saya permisi!” ucap Ajun dingin dan pergi begitu saja. Juna tidak berniat untuk memanggilnya kembali, ia hanya terus menatap kepergian Ajun.


"Dia sangat keras kepala!?" gumamnya sambil terus menatap kepergian Ajun dan menghilang di balik pagar tinggi itu.


...Aku bukan siapa-siapa, tapi aku siap menjadi siapapun karena mu. Bukan aku terlalu cinta buta tapi karena aku menghargai yang namanya pengorbanan~MBOI...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰