
Rendi begitu memanjakan Nadin, bibirnya mengabsen setiap inci tubuh Nadin, Bibirnya begitu lihai, ia membuat ciumannya begitu lembut dan berirama, ia menyusupkan tangannya, ke sela-sela kain yang menutup tubuh Nadin, memainkan tangannya di sana.
Saat mata Nadin sudah mulai meremang karena kenikmatan yang di berikan oleh Rendi, Rendi segera bengun menatap tubuh Nadin yang terkulai lemas, ia melepas kaosnya ke atas hingga membuat Nadin melihat dengan begitu jelas tubuh kekar suaminya tersebut. Tubuh yang selalu ia kagumi, setiap melihatnya Nadin benar-benar tak bisa mengalihkan pandangannya. Matanya menjadi terang kembali.
"Aku senang, kau melihatku seperti itu!" Rendi tersenyum. Nadin segera mengalihkan pandangannya, ia merasa malu karena ketahuan mengagumi tubuh suaminya.
Kenapa ia mengatakan hal itu sih, membuatku malu saja ....
Rendi kembali menghampiri tubuh Nadin, membuka ikatan tali baju Nadin, hanya dengan sekali tarik saja, baju itu akan segera terlepas, tapi dengan cepat Nadin menahan tangan Rendi.
"Kenapa? Apa kau belum siap?" tanya Rendi dengan nada yang sedikit memelas, pasalnya Mr. RJ nya sudah siap tempur, tapi Nadin menahannya lagi dan lagi.
"Apa harus di lepas semuanya?" tanya Nadin dengan wajah polosnya, bahkan ia tidak pernah membicarakan tubuhnya di lihat orang lain dan sekarang harus merelakannya, sungguh tidak adil.
"Kau benar-benar ya ...., ada-ada saja ....!" keluh Rendi, ia diam dan memperhatikan wajah Nadin, dan Nadin masih memegangi talinya agar tidak terlepas.
"Tidak pa pa kalau kau belum siap!" Ucap Rendi berat. Ia menjauh dari tubuh Nadin dan hendak berjalan ke kamar mandi.
"Aku siap!" teriak Nadin sambil membuka baju itu sendiri.
Masa bodoh lah ...., daripada si balok es ini marah .....
"Tidak pa pa, aku akan menunggunya sampai kau benar-benar siap, tidurlah ....!" Ucap Rendi yang tak juga menoleh pada Nadin. Ia kecewa, ia harus segera ke kamar mandi untuk melepas semuanya.
"Lihat aku, aku sudah membukanya! Aku hanya malu ...."
Ayo lihat kesini ....., ke sini .....
Nadin menutup matanya, berharap Rendi berbalik dam melihatnya.
"Kenapa malu, aku sudah pernah melihat sebagian tubuh-!" ucapan Rendi terhenti saat melihat apa yang di lakukan oleh Nadin, wanita itu benar-benar membuka bajunya sendiri.
"Tapi kan malu nggak tahu tempat!" gerutu Nadin dengan cemberut.
"Buat keputusan, lanjut atau lain kali? Aku tidak punya banyak waktu!" Rendi sedikit mempertegas ucapannya, ia benar-benar sudah tak sabar ingin segera memanjakan Mr. RJ nya. Apalagi melihat tubuh polos Nadin yang hanya tertutup oleh pakaian dalam dan jubah transparan yang sudah di bukanya.
"L-lanjut ....!." sebenarnya ucapan Nadin seperti angin segar yang berhembus, tapi Rendi harus benar-benar meyakinkan istrinya dulu, ia tidak mau berhenti di tengah jalan, itu pasti akan sangat menyakiti Mr. RJ nya. Rendi menatap Mr. RJ nya yang sudah seperti tower di balik celananya itu.
Sabar dulu ya ....., buat dia benar-benar yakin ....
"Jangan di paksakan, kita coba lain kali saja, kita istirahat saja ..." Rendi melupakan rencananya untuk ke kamar mandi, ia merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi Nadin. Sumpah demi apapun bukan itu yang ia rasakan, ia ingin sekali melakukannya, tapi ia juga tidak ingin Nadin marah lagi dan akan membencinya.
Kenapa dia keras kepala sekali ...., dasar balok es .....
Nadin menatap punggung Rendi dengan gemas. Ingin rasanya memukul dengan keras, tapi pasti akan membuatnya marah.
"Mas?" Nadin memanggil. namun, Rendi sama sekali tak menghiraukannya dan mencoba memejamkan kedua matanya.
"Mas, kita bisa lanjut!" Nadin menggoyangkan tubuh suaminya dengan kasar.
Rendi membuka matanya dan tersenyum, ia tidak bisa mengabaikan Nadin. Ternyata sikap dinginnya masih kalah dengan hasratnya, Rendi bangun dan menatap Nadin yang masih terduduk di atas tempat tidur itu, mereka saling berhadapan.
"Kau yang memaksanya, ingat itu!"
Aist ....., kenapa dia menjebakku, seolah-olah dia tidak menginginkannya saja .....
"Bagaimana? Kau benar mau melakukannya?" Rendi mengusap pipi Nadin dengan lembut dan menakupnya.
Baiklah ...., apapun yang kau katakan ....
"Iya ..... aku sudah yakin sekarang!" ucap Nadin mantap, walau dalam hati penuh keraguan.
"Mendekatkan ....!" perintah Rendi. Nadin hanya terdiam dengan bingung.
"Kenapa masih diam? Biar aku yakin kalau kau benar-benar mau, Ayo mendekat!" perintah Rendi. Nadin pun mendekatkan tubuhnya hingga kini tubuh mereka saling menempel satu sama lain.
"Ingat ya ini kamu yang minta, jangan sampai berhenti saat kita sudah mulai, kamu mengerti?"
"I-iya ...." ucap Nadin sambil mengangguk, Rendi mendekatkan wajahnya, ia kembali mencium dan ******* bibir Nadin, Nadin hanya bisa pasrah.
"Emm, mas ...., sakit." Nadin mendesis. Saat Mr. RJ sudah mulai mencari jalannya.
"Tahanlah sebentar" Rendi mencium kembali bibir Nadin agar mengurangi rasa sakit itu.
"Argh... " Nadin tiba tiba berteriak kesakitan saat Mr. RJ sudah benar-benar menemukan tempatnya.
"Maaf ...., Aku akan sedikit pelan ...!" Ucap Rendi sambil kembali mencium Nadin, "Pukul atau cakar aku jika kau merasakan sakit lagi!"
Rendi pun kembali melancarkan aksinya, sangat sulit menembusnya, karena mungkin ini yang pertama jadi butuh proses yang panjang untuk bisa sampai.
"Agrh ....!" Nadin kembali berteriak saat Mr. RJ sudah benar-benar berhasil masuk, Rendi menghentikan aksinya, Nadin mengeluarkan air matanya karena rasa sakit yang luar biasa.
"Maafkan aku!" Rendi mengusap air mata Nadin dan mencium di sudut mata Nadin.
" Pelan saja ya , mas ...!" Nadin kembali mendesis saat Mr. RJ sedikit bergerak.
"Sabar ya ...., Tunggu sebentar lagi, nanti lama-lama tidak akan sakit!" Ucap Rendi lagi menenangkan Nadin.
" Tapi ini sakit sekali mas ....!" keluh Nadin, ia terus mengeluh.
"Kau ini cerewet sekali!" Gumam Rendi lagi.
"Memang benar-benar sakit ...!" Nadin tak terima dengan gumaman Rendi.
"Aku tahu ....., diam dan nikmati saja!"
"Tapi kau benar-benar menyiksaku hari ini, aku kesakitan dan kau bilang suruh diam. Sungguh laki-laki maunya menang sendiri!"
"Kau ini banyak bicara sekali, diamlah sebentar biar cepat selesai ....." Rendi mulai melanjutkan niatnya kembali.
"Mas ....." Nadin mencengkeram tubuh dan lengan Rendi, menjadikan lengan Rendi sebagai pengangan yang kokoh, membuat Rendi sesekali meringis kesakitan.
"Kenapa kau suka sekali melukai tubuhku? Kau benar-benar ingin menyakitiku ya!" Rendi mendesis saat tangan Nadin mencengkeram dengan kuat tubuh Rendi.
"Maaf ...., Kau yang sudah menyakitiku, awas saja kalau kau sampai membuatku tidak bisa jalan!"
Nadin dan Rendi merasakan kenikmatan yang baru, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Sekarang mereka merasa memiliki satu sama lainnya. Hening, hanya suara deru nafas dan suara desahan kenikmatan yang mereka ciptakan malam itu, dan perdebatan-perdebatan kecil yang memberi warna. Dinginnya malam di kota Seoul, menguap berganti dengan hangatnya pergulatan mereka, peluh dan keringat menyatu membuat semuanya menjadi begitu sempurna.
Rendi melepaskan kenikmatan itu dan berkali kali menciumi Nadin yang sudah terlelap dan tak bertenaga. Entah sudah berapa kali Rendi melakukan pelepasannya, tenaganya benar-benar tak berkurang sedikitpun, sedangkan Nadin hanya bisa pasrah menerima perlakuan Rendi.
Happy Honeymoon Rendi dan Nadin
Setelah ini berarti MBOI season 2 sudah end ya, Karena di season ini hanya menceritakan tentang proses cairnya gunung es babang Rendi ya
Trus bedanya sama season 3 apa?
Bedanya di season 3 nanti bagaimana bucinnya si balok es,
tunggu mereka di season berikutnya. Aku kasih tanda end ya
Tapi Tetap sama seperti season 1 dan 2
seasonnya 3 di sini juga
setelah ini bukan cuma masalah Rendi dan Nadin, tapi ada kisah lain di baliknya
Jangan kaget kalau ada tanda end, nggak usah di unfavorit, karena lanjutnya masih di sini ....
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘