MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kue pertama Nadin



  . "Cinta merupakan sesuatu yang indah, ia laksana sebuah lukisan di awan, cerah membingkai ufuk senja."


****


   Satu minggu setelah kejadian Nadin


di patok ular, Rendi sudah tak bertemu lagi dengan Nadin. Ada hal yang hilang


dari diri Rendi, tapi apa, ia pun tidak menyadarinya.


Pagi ini Rendi sengaja datang ke rumah Agra, kali ini bukan untuk


bertemu dengan Ara tapi ingin menemui Agra. Ada yang harus ia tunjukkan sebelum


semuanya terlambat.


Rendi menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Agra. Sebelum ia


sempat pengetuk pintu, ternyata pintu sudah terbuka dari dalam. Agra membuka


pintunya dan meregangkan badannya menghirup udara pagi.


 “selamat pagi Gra ...” sapa


Rendi yang sudah berdiri di depan rumahnya.


Kedatangan Rendi kali ini untuk menyerahkan sebuah map yang berisi


bukti-bukti kejahatan Viona, ibu dari Divta. Istri pertama ayahnya.


Rendi tak berlama-lama di sama, karena masih banyak lagi yang harus


di kerjakan.  Ia berencana melanjutkan


pembicaraannya beberapa waktu lalu dengan Divta yang sempat tertunda karena


Nadin di gigit ular.


Rendi melajukan mobilnya menuju ke sebuah kafe, mereka merencanakan


pertemuan ke dua.


Terlihat Divta sudah duduk di salah satu kursi kafe. Di ruang VIP


supaya pembicaraan mereka tidak menjadi konsumsi publik. Siapa yang tidak kenal


Rendi, tangan kanan pemilik FinityGroup.


“Maaf lama menunggu.” Ucap Rendi saat sudah mencapai meja Divta.


“Duduklah ...!”


Rendi pun segera menggeser kursi, ia duduk berhadapan dengan Divta.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Divta.


“Kenapa kau begitu menginginkan merebut perusahaan?”


“Karena itu hak saya dan mama saya.”


“Jika kenyataannya tidak demikian, apa kau akan berubah pikiran?”


“Aku rasa semua sudah jelas, wanita itu sudah merebut semuanya dari


mama saya, dan Agra, dia sudah merebut ayah saya.”


“Agra masih menganggapmu sebagai abangmu, apa kau benar-benar tak


ingin memeperbaiki semua?”


“Semua sudah terlambat, jadi jangan temui saya lagi.” Ucap Divta


sembari berdiri dari duduknya, ia meninggalkan Rendi begitu saja.


Rendi mendesah kesal. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran


kursi.


“Dasar keras kepala.” Umpat Rendi. “Lalu langkah apa yang harus aku


lakukan selanjutnya?”


***


Di lain tempat, gadis itu sedang sibuk menyiapkan kejutan


aniversary pernikahan kakaknya. Nadin membuat kue untuk kakaknya. Ya walaupun tak pandai memasak, tapi hanya berbekal resep di yutub, Ia tak


membiarkan orang lain membatunya.


“Ayah bantu ya ...” Roy menawarkan diri untuk membatu putrinya itu. Ia khawatir kuenya tidak akan jadi di tangan putrinya itu.


“Emang ayah bisa ...?” tanya Nadin. Sambil mengaduk adonan kuenya.


“Jangan meremehkan ayah ya ..., gini-gini dulu ayah chef yang


handal.” Roy menyombongkan diri.


“Ayah ...., aku sungguh tak percaya ..., dari pada menggangguku


lebih baik sekarang ayah menyiapkan diri untuk bertemu putri kesayangan ayah .”


“Ayah mencintai kalian ...” ucap Roy sambil memeluk putri bungsunya


itu.


“A-yaaah ..., jangan menggangguku ...” Nadin kesal karena ayahnya


tak membiarkannya bekerja dengan baik.


“Baiklah ..., ayah akan ke toko dulu ..., panggil ayah jika sudah


matang ..., ayah tak sabar ingin mencicipi kue buatan putri bontot ayah ini


...”


Nadin pun segera mendorong ayahnya keluar dari dapur. Nadin pun


dengan telaten membuat kue, ia juga tidak mau di bantu oleh bi Ijah, pembantu


rumahnya. Ia menyuruh bi Ijah untuk memasak beberapa masakan kesukaan Ara.


Untuk pertama kalinya kakak perempuannya itu datang ke rumahnya


setelah menikah, setelah kesalah pahaman ayah dan kakaknya terselesaikan. Nadin


begitu bahagia karena ayahnya tak lagi marah pada kakaknya.


***


Hari sudah semakin siang. Nadin sudah menyelesaikan pekerjaannya,


dia menghias kue itu begitu indah.


“Bik ..., jagain kue ku ya ..., jangan biarkan ayah memakannya,


atau menoelnya ..., pokoknya jangan biarin ayah dekat-dekat dengan kue ku ...”


ucap Nadin kepada bi Ijah sebelum meninggalkan kuenya di meja makan.


“Iya mbak ....”


“Janji loh ya ...”


“Iya mbak janji ....”


Akhirnya Nadin pun dengan berat hati meninggalkan kuenya. Ia harus


segera mandi dan berganti baju. Ia tak mau jika kakaknya datang masih


berantakan.


“Nadin ...” teriak Roy memanggil putrinya yang tak juga keluar dari


kamar.


“Ini sudah jam dua nak ..., ayo cepetan turun .., kakakmu segera


datang ...” Roy memberi intruksi pada putrinya.


“Iya ayah ..., aku selesai ...” ucap Nadin setelah keluar dari


kamarnya.


di buka, Agra dan Ara berada di balik pintu itu.


“ayah ....” ucap Ara saat melihat ayahnya, Agra mengusap punggung


istrinya, meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja.


“Nadin ...” dan beralih menatap Nadin.


“masuklah nak ..., ayah merindukanmu ...” pria paruh baya itu


merentangkan kedua tangannya. Roy begitu senang bisa melihat putri sulungnya


lagi.


“ayahhhh ...”Ara pun berlari memeluk ayahnya, air matanya tak mampu


terbendung lagi . Nadin yang sedari tadi terdiam di sisi ayahnya hanya bisa


meneteskan air matanya haru.


“maafkan Ara yah ...” Ara berbicara sesenggukan.


Setelah berpeluk cukup lama, Roy pun  melepaskan pelukannya dan menyapa Agra yang


masih berdiri di depan pintu. Menantunya itu masih tak beranjak dari tempatnya.


“masuklah nak ..., terimakasih ...” ucap Roy pada menantunya.


Mereka pun segera masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di sofa yang berada di


ruang tamu.


“ayah sudah tahu semuanya, maafkan ayah karena tidak percaya sama


anak ayah ...” Roy mengelus lembut rambut Ara.


Ara menoleh pada Agra, berusaha mencari jawaban dari tatap Agra,


berharap suaminya bisa menjelaskan semuanya.


Hal ini terjadi beberapa minggu lalu, karena sering kali melihat


istrinya termenung setiap kali menatap foto ayahnya, membuatnya tak tega, tanpa


sepengetahuan Ara, Agra datang ke rumah ayah Ara, ia berniat menjelaskan


semuanya


Dan semenjak itu Agra sering datang ke rumah ayah Ara, hubungan


mereka membaik, tapi Agra tetap merahasiakannya, ia ingin memberikan surprize


kepada istrinya di waktu yang tepat.


***


“Nadin ke dalam dulu ya ..., sekarang sedih-sedihnya sudah dulu


..., aku mau ambil sesuatu.” Ucap Nadin sambil beranjak dari duduknya.


“Apa dek?” tanya Ara tak sabar.


“Ntar kakak juga tahu ...” Nadin pun segera berlalu meninggalkan


mereka. Nadin mengambil kue buatannya. Menyematkan sebuah lilin di atasnya. Dan


memantikkan korek api di ats lilin itu.


Nadin kembali ke ruang tamu dengan membawa kuenya.


“tarala ....., surprize ......, happy aniversary ....” Nadin keluar


dengan membawa sebuah kue yang dihias begitu indah dengan gambar foto


pernikahan ara dan agra.


“dek ...., makasih ...” Ara beranjak dari duduknya hendak memeluk


adik perempuannya itu. Tapi segera di tahan.


“stooooppppp” akhirnya tangan Ara hanya mengambang di udara setelah


Nadin berteriak.


“kenapa dek ...?” tanya Ara heran.  Ara menjatuhkan lagi tangannya.


“nanti kuenya jatuh, biar aku taruh dulu kuenya ...” Nadin pun


menaruh kue di atas meja .


“kakak ...., peluk aku ...” nadin pun merentangkan tangannya dan di


sambut oleh pelukan ara.


“sudah- sudah ...., ayo kita potong kue dulu ..., aku sudah lapar


.....”  Agra bicara sambil mengelus


perutnya bergaya benar-benar lapar dan mendapat tawa dari mereka bertiga


Pesta sederhana itu sungguh terasa indah buat Agra, kehangatan yang


dia dapat dari keluarga barunya ini tak pernah ia dapatkan dari keluarganya


sendiri semenjak ayahnya meninggal


Kenyamanan di dalam rumah musnah bersama kematian sang ayah, agra


begitu bahagia , hingga senyum tak pernah pudar dari bibirnya


“makasih ya sayang ...” bisik agra ke telinga Ara


“untuk apa bby?” tanya ara heran


“atas semua kebahagiaan ini” ara hanya bisa tersenyum bahagia dan


mengecup kilat pipi suaminya, agra yang mendapat ciuman begitu merasa bahagia


“harusnya aku yang terimakasih sama kamu bby”


“sayang ..., aku masih ada surprize lagi buat kamu ...” Agra


berbicara lantang, membuat ayah dan Nadin pun ikut tertuju kepada mereka


“apa ...?” tanya Ara


“Nadin yang akan membantu kamu di ruko”


“itu beneran ....?” Ara tak percaya dengan kejutan itu


“lalu gimana dengan kuliahnya? Aku nggak mau ya kalau sampai


kuliahnya terganggu”


“kakak ...., aku kan masuk kuliah Cuma beberapa jam, jadi


selebihnya aku bantu kakak” Nadin mencoba meyakinkan kakaknya. Ia akan membantu


kakaknya itu sebisanya.


“makasih ya dek, kakak tambah sayang deh ...”


“Aku juga ...” Nadin kembali memeluk kakaknya.


“Ini kue pertamanya aku kasih buat adekku tersayang ...” Ara


menyuapkan potongan kue pertamanya itu ke mulut Nadin.


***


Percayalah, jika dia memang cinta sejati kau, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus dilalui, dia tetap akan bersama kau kelak, suatu saat nanti." (Tere Liye)


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘**