
Jakarta
Setelah Davina meninggal dunia, kini tanggung jawab Divia tetap menjadi tanggung jawab Rendi, kini Rendi sudah tidak lagi tinggal
di apartemen, ia membeli sebuah rumah.
Sebenarnya rumah itu ia beli untuk Nadin
sebelum mereka berangkat bulam madu, tapi belum sampai mereka menempati rumah
itu, Nadin sudah lebih dulu pergi.
Kehadiran Divia, celoteh kecilnya setiap pulang kerja selalu menyambutnya, setidaknya bisa menjadi hiburan dalam hidup Rendi dan sedikit mengurangi kesepiannya karena menunggu Nadin kembali, ia tetap berharap suatu saat Nadin akan kembali dan bisa memaafkannya.
“Nak Rendi …, sudah mau berangkat kerja sekarang?”
Tanya bu Dewi yang baru saja keluar dari dapur dengan menggendong Divia dan sebotol susu di tangannya, sepertinya susu itu sengaja ia buat untuk Divia.
“Iya bu, ada pekerjaan penting hari ini, maaf ya
hari ini tidak bisa membatu ibu merawat Divia!”
“Tidak pa pa, kamu berangkat saja biar Divia bersama ibu!”
Rendi menghampiri bayi kecil yang sudah mulai belajar merangkak itu, ia mengecuo kening Divia.
"Ya ya ya ,na na ma ....!" anak itu terus saja berceloteh.
“Sayang …, jangan buat nenek kesal ya, putri cantik ayah!” ucap Rendi sambil mengelus pipi gempil Divia, anak itu sekarang sudah
berusia tujuh bulan sudah mulai aktif bergerak.
Adikmu sekarang apa dia sudah lahir ke dunia ya, ayah merindukanmu sayang …
“Nak ada apa?” Tanya bu Dewi saat melihat Rendi melamun kembali tanpa memindahkan tangannya dari pipi Divia.
“Tidak bu, hanya …!”
“Kau pasti ingat sama Nadin, ibu juga merindukan anak itu, bagaimana kabarnya, apa dia sudah melahirkan ya, kalau menurut
jadwalnya mungkin bulan ini Nadin melahirkan!”
“Aku berangkat bu!”
Ingatan bagaimana Davina melahirkan, membuat Rendi
begitu khawatir. Bagaimana kalau itu juga terjadi pada Nadin, membayangkan saja
sudah berhasil membuat hatinya hancur, kehilangan Nadin adalah hal terberat
dalam hidupnya. Ia rela apapun untuk bisa mendapatkan Nadin kembali.
Rendi masuk ke dalam mobilnya dan seperti biasa Ajun
sudah berada di sana.
“Apa sudah ada kabar, sudah bisa melacak keberadaan istriku?”
“Maaf pak. Kami belum berhasil. Sepertinya ibu Nadin ada yang sengaja menyembunyikannya, atau di backup oleh seseorang dan sepertinya yang menyembunyikannya adalah
orang yang pernah berhubungan dengan kita sehingga ia bisa mempelajari trik
kita!”
“Siapa yang kamu maksud?”
“Apa mungkin pak Alex ada di balik semua ini?”
“Itu tidak mungkin Ajun, Alex sudah mengakui kesalahannya!”
“Hari ini pak Alex juga ada dalam rapat ini pak.
Mungkin pak Rendi bisa mencoba bertanya padanya!”
“Baiklah, nanti aku coba bertanya padanya!”
Mereka hari ini ada rapat besar mengenai calon
pemenang tender salah satu proyek yang ada di Surabaya. Proyek ini akan
berlangsung lama dan besar jadi para pemegang modal akan memilih beberapa
perusahaan terbaik sebagai penyelenggaranya dan perusahaan Rendi serta Alex
,menjadi tim dalam proyek ini.
Ini untuk pertama kalinya setelah masa kuliah mereka
akan di pertemukan lagi sebagai partner, dua orang dengan kemampuannya yang luar
biasa memang sudah lama di lirik oleh perusahaan-perusahaan besar untuk
menjalankan proyek bersama, dan sekaranglah waktunya.
Akhirnya mereka sampai juga di tempat yang akan
menjadi tempat terjadinya kesepakatan besar. Di sinilah Rendi dan Alex akan
bertemu.
“Lama tak bertemu!” sapa Rendi sambil mengulurkan
tangannya untuk menjabat tangan Alex yang ternyata juga baru datang.
“Baik, bahkan sangat baik …!” jawab Alex dengan
senyum arogannya. Alex menyambut tangan Rendi.
Mereka pun akhirnya duduk di tempat yang di
sediakan, dan kebetulan duduk mereka berhadapan, Rendi menahan diri untuk
bertanya cukup lama hingga rapat itu tak juga berakhir.
“Semoga kerja sama ini berjalan lancer, sampai
bertemu di Surabaya!” pemimpin rapat akhirnya menutup rapatnya juga, sudah tiga
jam mereka duduk untuk saling mengajukan usul dan pertanyaan, memperbaiki
program yang belum sempurna.
Satu per satu peserta rapat keluar meninggalkan
ruangan. Rendi menunggu hingga pria arogan itu berdiri dari duduknya.
‘Maaf pak Alex, bisa kita bicara sebentar!” Rendi dengan bahasa formalnya menghentikan langkah Alex, Alex yang baru berdiri mengurungkan niatnya untuk
meninggalkan ruangan.
Alex menoleh pada pria dingin itu. “Ada yang ingin anda bicarakan?”
terlihat sedikit kurus dengan bulu di wajahnya di biarkan tumbuh.
“Pribadi?”
“Iya!”
“Tapi sepertinya kita sudah tidak punya alasan
pribadi yang ingin di bicarakan!”
“Ada, ini mengenai …!”
Belum sempat Rendi menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ponsel Alex berdering, Alex meminta Rendi menghentikan bicaranya
dengan memberi isyarat dengan tangannya.
Alex mengerutkan keningnya saat melihat nomor tak di kenal melakukan panggilan masuk. Walaupun begitu Alex tetap mengangkatnya,
mungkin ada sesuatu yang penting.
“Hallo …!”
“Assalamualaikum, tuan Alex!” suara lembut itu sudah
langsung bisa Alex kenali, itu suara Aisyah.
Dari mana anak ini mendapatkan nomornya …?
“Iya ada apa?”
“Maaf tuan Alex saya sudah mengganggu, tapi ini
penting!”
“Ada apa cepat katakan!”
“Kak Nadin!”
Mendengar nama Nadin, seketika mata Alex langsung tertuju pada pria dingin yang terlihat menyedihkan di depannya itu.
Dia tidak boleh tahu jika Nadin sedang ada bersamaku ....
“Hallo …!” karena tak segera mendapatkan jawaban,
membuat Aisyah kembali memastikan kalau Alex masih di tempatnya.
“Iya, ada apa dengannya?’ Alex tidak ingin
menyebutkan nama Nadin di depan suaminya itu.
“kak Nadin sepertinya mau melahirkan!”
“melahirkan?”
“Iya kak, kak Nadin kesakitan!”
“Baiklah …, jangan panik …, segera bawa ke rumah sakit terdekat dan aku akan segera datang dalam waktu satu jam!”
Alex menutup sambungan telponnya dan dengan cepat
memasukkannya ke saku jasnya.
“Maaf aku harus pergi!’
“Siapa yang melahirkan?” Rendi ternyata ikut
penasaran, pasti rasanya akan sangat bahagia jika bisa mendampingi istrinya
melahirkan.
“Heh …, e …, istriku, ya istriku akan melahirkan
sekarang!”
“kalau begitu jangan menunda lagi, temani istrimu
melahirkan, kau sungguh beruntung bisa menemaninya!”
“Iya!”
Alex meninggalkan Rendi sendiri, Rendi hanya bisa
diam merenungi kesendiriannya.
Sungguh beruntung Alex …, apa sekarang Nadin juga sudah melahirkan …
Tapi tunggu, sejak kapan Alex menikah? Tak ada berita yang menyatakan dia sudah menikah
“Astaga kenapa juga ini perutku …!” Rendi merasakan perut dan pinggangnya seperti mau patah.
Ajun yang baru masuk segera Menghampiri Rendi yang sepertinya sedang menahan sakit sambil memegangi pinggangnya.
“Bapak tidak apa pa?”
“Nggak tahu, tiba-tiba saja pinggangku rasanya sakit sekali…!” keringat dingin sudah menjalar ke seluruh tubuh Rendi, rasanya seperti di tusuk ribuan jarum perut dan pinggangnya.
“Apa perlu kita ke rumah sakit, pak?” tanya Ajun. Rendi segera menggelengkan kepalanya.
“Antar aku ke tempat Frans saja!”
“Baik pak!”
Ajun dengan sigap memapah atasannya itu hingga ke dalam mobil.
Bukan hal yang aneh jika istri yang melahirkan, tapi
suami ikut merasakan sakitnya. Sepertinya itu yang juga terjadi pada Rendi saat
ini, saat nadin istrinya akan melahirkan, Rendi lah yang ikut merasakan
sakitnya. Ajun membawa Rendi ke tempat praktek dr. Frans.
“Ada apa Jun?” Tanya dr. Frans saat melihat Ajun memapah Rendi, Rendi terlihat begitu kesakitan.
“Tidak tahu dok, tapi tiba-tiba pak Rendi merasakan kesakitan!”
“Tidurkan dia di sana, biar aku periksa!”
“Baik dok!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘