MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kekesalan Nadin



“Kalian tetaplah di luar …, biar aku bawa bajunya ke dalam


sendiri!” ucap Rendi pada anak buahnya, ia masih memakai kaos lusuh yang sama,


karena ia meninggalkan semua kemeja dan jasnya di Jakarta, saat ia harus kembali


menjadi Rendi maka ia harus kembali memakai pakaian kebesarannya.


“Baik pak!”


Atas perintah Rendi, anak buahnya tetap berjaga di luar,


anak buah Rendi pun juga sudah mengganti penampilannya,. Banyak tetangga yang


lalu lalang hanya saling berbisik dan bertanya. Ada apa sebenarnya, dan siapa


yang ia lihat, ada mobil dan orang-orang berjas hitam seperti pakaian resmi.


“kenapa ada mobilnya di rumahnya mas Endra?”


“Iya …, ada apa ya, jadi penasaran …!”


“Itu yang satu sepertinya adiknya mas Endra, kenapa sekarang


penampilannya jadi seperti itu?”


“Mungkin adiknya mas Endra sudah kerja di kota!”


Mereka saling mempertanyakan apa yang sedang terjadi, karena


rumah Rendi tepat di pinggir jalan, jadi akan banyak orang yang lewat di sana.


Anak buah Rendi hanya bisa tersenyum pada mereka.


Rendi menghampiri Nadin yang masih di dalam kamar, Nadin


melilit tubuhnya dengan selimut yang tidak tebal itu, barang-barang di rumah


itu juga terbilang sederhana, tak ada selimut tebal atau karus yang empuk,


hanya ada dipan dan spon sebagai alas tidur dan selimut tipis khas orang desa.


“Kenapa lama sekali sih mas, aku keburu dingin?” keluh Nadin


saat melihat suaminya memasuki kamar. Rendi menyerahkan baju itu pada Nadin.


“Salahkan anak buah ku, memang aku yang mengambilnya dari kota!”


“Anak buah mas Rendi?” Tanya Nadin tak percaya, ia melihat


baju itu lengkap dengan bra dan ****** *****. Rendi mengangguk.


“Ini …?” Nadin menenteng celana dalan itu dan menunjukkannya


pada Rendi.


“Iya …, kenapa? Apa kebesaran?” pertanyaan Rendi seketika


membuat Nadin melotot tak percaya.


“Mas …., aku malu …, bagaimana dia bisa tahu ukuran ku?”


wajah Nadin memerah karena malu.


Dasar …, pria dingin …., pengen banget aku jambak rambut


klimisnya itu ….


“Sudah mas keluar saja …, kau benar-benar membuat mood pagiku


rusak …!” ucap Nadin sambil mendorong Rendi keluar, dan dengan keras ia menutup


pintu membuat Rendi terkejut.


Brakkkk


“Memang apa lagi yang salah ….? Dasar wanita sulit di


mengerti!” gerutu Rendi, anak buah Rendi yang mendengar suara keras itu segera


masuk dan memastikan tidak terjadi sesuatu di dalam, tapi ternyata keputusannya untuk masuk adalah sebuah kesalahan.


“Ada apa pak? Apa ada masalah?” Tanya anak buahnya dengan


sigap. Rendi mendongakkan kepalanya menatap tajam pada anak buahnya itu.


“Kenapa kau masuk?Merasa atasannya itu tidak senang dengan kedatangannya, ia pun memilih untuk segera kabur dari tempatnya.


“Maaf pak, saya akan keluar!”


Setelah memikirkan sesuatu akhirnya Rendi menghentikan langkah anak buahnya untuk keluar.


“Tunggu!”


Anak buahnya menghentikan langkahnya. Sebenarnya Rendi ragu


untuk bertanya, tapi jika tidak, Nadin akan terus mendiamkannya.


“Memang apa yang salah dengan pakaian dalam itu, kenapa dia


marah padaku?” Tanya Rendi dengan polosnya. “Maksudku …, kau kan punya istri!”


Anak buahnya itu benar-benar tak menyangka jika atasannya


itu akan menanyakan hal seperti itu, mau tertawa taku dosa, dan yang lebih


takut lagi jika sampai dipecat.


“Itu …, karena pak Rendi menceritakan itu pada saya!”


“Menceritakan apa?”


“Ukurannya!” rasanya anak buahnya ingin sekali


menenggelamkan wajahnya ke dasar sumur saja dari pada mengetakan hal itu, dan


sayangnya atasannya itu begitu polos.


Rendi masih terlihat bingung, ukuran apa yang di maksud anak


buahnya itu. Ia baru ingat jika ia menceritakan detail ukuran istrinya itu pada


pria lain, mungkin ia marah karena hal itu.


Bodoh ….., aku yang salah …, kenapa aku bisa sebodoh ini …


“Kau jangan berani-beraninya membayangkan itu ….!” Rendi


Memang bos mah bebas ….


“Sudah sana keluar …!”


“Baik pak!”


Setelah anak buahnya keluar lagi, Rendi pun kembali


menghampiri pintu yang masih tertutup itu.


Tuk tuk tuk


Rendi mengetuk pintunya.


“Nad …, maafkan aku …, aku boleh masuk ya, aku juga harus


ganti baju. Bajuku di dalam!”


Pintu pun terbuka, tapi bukan Nadin yang keluar, hanya baju


Rendi yang keluar tepat mengenai dada Rendi,


“Pakai di luar saja …!” ucap Nadin, dan kembali menutup


pintunya.


Rendi hanya bisa memandangi pintu yang kembali tertutup dan


baju yang ada dalam dekapannya.


“Beraninya dia, awas saja nanti di Jakarta, aku tidak akan


mengampunimu ….!” Gerutu Rendi, akhirnya ia memilih mengganti bajunya di kamar


sebelah.


Setelah semuanya sudah siap, Rendi menyerahkan rumah itu


kembali pada penjaganya. Orang itu adalah orang yang dulu bekerja di rumah


Salman sebagai tukang kebun, setelah merasa sudah tidak sanggup bekerja lagi


dan memilih berhenti, karena dedikasinya yang sangat besar dengan


pekerjaannya, Salman menghadiahi mereka sebuah rumah dan ladang kebetulan


tempat itu dekat dengan villa milik Alex.


“Maaf ya pak , karena sudah menyusahkan bapak dan istri


bapak!”


“Tidak mas Rendi, kami yang seharusnya berterimakasih karena


kebaikan mas Rendi dan tuan sehingga kami bisa hidup bahagia di sini!”


“Kami akan pamit, jaga diri kalian. Nanti jika ada waktu


kami akan mengunjungi kalian!”


“Hati-hati di jalan mas Rendi, dan selamat atas


pernikahannya, semoga kalian bahagia!”


“terimakasih …!”


Pasangan suami istri itu mengantar mereka sampai ke depan


rumah, selama Rendi tinggal di rumah itu mereka tinggal di rumah kerabat.


Saat mereka keluar dari rumah itu, banyak tetangga yang


berkerumun, mereka mengira ada sesuatu yang terjadi, di desa memeng berbeda


dengan di kota, jika di kota tetangga jarang yang mau tahu dengan keadaan


tetangganya jika tidak benar-benar mengenalnya, sedangkan di desa, mereka akan


lebih peduli dengan tetangga, bahkan jika itu tetangga baru.


“Mas Endra!” sapa salah satu dari mereka, mereka heran


dengan dengan penampilan Rendi yang berubah. Awalnya adiknya, maksudnya anak


buah Rendi dan sekarang Rendi sendiri.


Rendi berjalan mendekati kerumunan tetangganya, ia juga


menggandeng nadin bersamanya.


“kenalkan, nama saya Narendra Rendiansyah. Kalian bisa


memanggilku dengan Endra atau Rendi dan ini istri saya Nadin. Kami sebenarnya


sedang ada urusan di desa ini, karena sekarang urusan kami sudah selesai, kami


mohon pamit!”


“Mas Endra ini sebenarnya mau kemana dan kenapa


penampilannya berubah?”


“saya akan kembali ke Jakarta, ini penampilan saya


sehari-hari di Jakarta!”


“Jadi mas Endra ini sebenarnya orang kantoran ya, bukan


petani seperti kami?” mendengar pertanyaan itu, Rendi hanya tersenyum.


“Kami permisi!”


Seperti biasa anak buahnya membukakan pintu mobil untuk


Rendi dan Nadin, mereka melambaikan tangannya sebelum mobil benar-benar


berjalan meninggalkan pekarangan rumah itu.


Bersambung


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘