MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Apa aku mencobanya?



Mereka pun sudah berada di salah satu tempat duduk, dengan meja yang berbentuk lingkaran.


Dengan mengangkat tangannya saja, seorang waiters sudah datang menghampiri mereka dengan menunjukkan buku menu.


"Saya pesan ini, ini dan ini, minumnya ini dua porsi!"


"Baik pak!"


Setelah waiters itu pergi, Nadin segera melayangkan protesnya.


"Kenapa aku tidak di suruh memilih menu, kan aku juga pengen tahu ada menu apa saja di sini!"


"Sudah diam dan jangan protes!"


"Selalu deh, kalau di ajak bicara jawabnya selalu sama, memang aku harus pakek bahasa mata, atau hemmm, sebagai jawaban, atau pakek bahasa tubuh!"


"Kenapa sih cerewet sekali?"


"Sudah dari sananya aku itu cerewet, jangan memintaku untuk jadi pendiam sepertimu, itu tidak bagus, orang akan menganggap kalau aku itu sombong!"


"Jadi kau mengataiku sombong?"


"Bisa jadi seperti itu!"


"Aku tidak suka bicara hal-hal yang nggak penting saja, bicara seperlunya!"


"Tapi kata cinta itu penting, bilang kalau aku cinta sama kamu, aku cemburu kalau kamu dekat dengan pria lain, aku merindukanmu saat berada jauh darimu, itu semua kosa kata penting!"


"Jangan mengajariku!"


Saat Nadin hendak menimpali ucapan Rendi, ternyata kedahuluan para pelayan yang membawa berbagai menu makanan untuk mereka.


"Selamat menikmati tuan, nona ...!" ucap pelayan saat sudah meyelesaikan tugasnya, setelah Rendi mengangguk barulah pelayan-pelayan itu meninggalkan mereka.


Kenapa mereka hormat sekali sih dengan mas Rendi, seperti mas Rendi ini pemilik apartemen ini saja ....


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, cepat makan makananmu!"


Cehhhh ...., kau sudah seperti pembaca pikiran saja ....


"Aku cuma heran kenapa mereka bersikap begitu hormat seperti itu pada mas Rendi, itu aja!"


"Karena aku tidak banyak bicara, aku cukup...!"


"Ya aku tahu, cukup memetikan jari dan memerintah ini itu, melakukan semaunya, asal kau puas, iya kan?"


"Nah itu tahu, cepat makan dan jangan banyak bicara lagi!"


Walaupun dengan kesal, akhirnya Nadin melahap makanannya, ternyata semua makanan yang di pesan Rendi untuk Nadin adalah makanan-makanan kesukaan Nadin.


Sejak kapan dia tahu semua tentangku?


Setelah menyelesaikan makannya, mereka pun segera kembali ke atas. Mereka hanya bisa duduk berselonjor, Rendi melakukan beberapa komunikasi dengan mengandalkan telpon rumah, sepertinya ia tetap mengerahkan anak buahnya dengan segala tugas-tugasnya.


"Apa yang harus kita lakukan hari ini?" tanya Nadin yang terlihat bosan. Ia ikut duduk di samping Rendi.


"Ini semua gara-gara kamu!" ucap Rendi sambil memencet asal tombol remote tv itu, pria yang biasanya dengan segudang jadwal itu kini harus menghabiskan seharian di dalam rumah.


"Kenapa gara-gara aku?"


"Karena pasti ulah mu membuat Agra melakukan semua ini!"


"Kurang kerjaan banget aku!"


Mereka kembali hening, saling membuang muka, sendi dengan masih berpegang pada remote tv sedang Nadin dengan sebungkus Snack besar di tangannya.


"Heh ....!" mereka menghela nafas bersamaan dan saling menatap.


"Ada apa?" tanya Rendi dingin.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?!" ucap Nadin sambil mengedipkan matanya berkali-kali.


"Malas ...!"


aghh ...., sudah ku duga ....., rayu dia Nadin ...., rayu dia .....


"Ayolah pliss .....!" ucap Nadin sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan wajah di buat seimut mungkin.


"Hahhhh ....!" lagi-lagi Nadin harus menghela nafas dalam, bukan Nadin jika sekali saja menyerah.


Nadin pun meletakkan bungkus snacknya dan mendekat pada Rendi, membuat Rendi tertegun.


"A-apa yang mau kau lakukan?" tanya Rendi terlihat gugup.


Kenapa dia menatapku seperti itu, apa yang akan dia lakukan?


Randi semakin mendekat, dan mendekat, hingga membuat Rendi semakin terjebak di antara sandaran sofa dan Nadin, kini tubuh Nadin sudah berada di atas Rendi.



"Mau apa?" tanya Rendi yang tak bisa menyembunyikan detak jantungnya lagu.


Lucu sekali dia kalau sedang panik ....., wajah es mu memerah sekarang ....


"Mau jalan-jalan ...!" bisik Nadin si telinga Rendi sambil tersenyum menggoda.


Astaga ....., apa yang dia lakukan, dia benar-benar ingin membuat aku jantungan ya ....


Keringat dingin sudah terlihat di wajah Rendi, ingin tetap berusaha stay cool tapi ternyata tidak bisa, malah wajahnya tampak lucu.


"Baiklah ....., baiklah ...., kita jalan-jalan ...., sekarang turun dari atas tubuhku!"


Nadin langsung tersenyum senang, "Yes ...., yes ...., yes .....!" Nadin lupa dengan tangannya yang menjadi penyangga, ia malah bergerak-gerak di atas tubuh Rendi, membuat Rendi mendengus kesal.


"Jangan bergerak seperti itu, kau akan membangunkannya lagi!" ucap Rendi, karena sudah merasakan sesak di bawah sana karena gesekan dari tubuh Nadin.


Mata Nadin langsung membelalak, dan benar saja ia merasakan sesuatu yang keras di bawah perutnya.


"Ayo turun ....!" perintah Rendi lagi, dengan cepat Nadin beranjak dari tubuh Rendi.


"Aku ke kamar mandi dulu!" ucap Rendi sambil berlalu meninggalkan Nadin. Rendi cepat-cepat ke kamar mandi untuk membuat juniornya tidur kembali.


Selalu wajah Nadin yang menjadi fantasi gilanya, untuk melepaskan hasratnya.


Setelah menyelesaikan semuanya, Rendi hanya bisa duduk di kamar mandi dengan wajah melasnya.


"Sampai kapan aku harus menahannya seperti ini? Kenapa sama Nadin aku bisa bereaksi berlebihan seperti ini, di sentuh saja sudah membuatku berhayal."


"Apa aku coba sekarang saja ya, satu kali tidak akan membuatnya hamil kan?"


"Tapi kalau Sampek keterusan gimana?"


Tok tok tok


Pintu kamar mandi yang di ketuk membuat monolognya terhenti. Ia mendongak menatap daun pintu yang di ketuk itu.


"Mas ....., kenapa lama sekali di kamar mandinya?" ternyata Nadin di luar sana, Rendi memang sudah menghabiskan waktu setengah jam di kamar mandi.


"Jadi jalan-jalan kan?" teriak Nadin lagi. Bukan menjawab Rendi langsung berdiri menghampiri pintu, ia sedang malas untuk berdebat, karena masih pagi ia harus mandi Sampek tiga kali gara-gara ulah Nadin.


Ceklek


Nadin terkejut karena tiba-tiba pintu terbuka, membuat Nadin mundur satu langkah.


"Iya!" jawab Rendi saat sudah berada pintu yang terbuka.


"Kenapa lemas banget sih? mas Rendi mandi lagi?"


"Sudah jangan cerewet, aku ganti baju dulu, kita berangkat!"


"Baiklah ...., aku tunggu ya!"


"Iya ..., cepat keluar sana!" Rendi benar-benar tak berani menatap Nadin.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘**