
Hari ini akhir pekan, Nadin berencana akan datang ke kafe kakaknya
lebih awal. Tapi ayahnya melarang karena ayahnya ingin ikut, ia ingin memberi
ucapan selamat pada putri sulungnya atas kehamilannya.
“Ya udah, kalau ayah ingin ikut, kita berangkat sekarang saja yah.”
Ucap Nadin.
“Nggak mungkin, sayang. Ini hari sabtu, ayah harus menunggu barang
baru datang.”
“Yah ..., aku harus seharian gabut di rumah aja nih....”
“Ya ..., kamu bisa jalan dulu kemana gitu, sambil nunggu ayah.”
“Malas ..., Nadin mau nonton Drakor aja deh ...”
“Ya udah sana ..., jangan ngrecokin pekerjaan ayah, nanti kalau
sudah siap ayah panggil.”
“OK ....!”
Nadin pun kembali masuk ke dalam kamar, ia sudah menyiapkan
berbagai cemilan. Nadin memposisikan diri, tengkurap di kamar sambil nonton
Drakor. Tapi baru menonton setengah permainan. Ayahnya sudah memanggilnya lagi.
Nadin pun keluar kamar dengan malas.
“Ada apa ayah? Sudah selesai pekerjaannya?” ucap Nadin malas sambil
keluar dari kamar. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang sedang
duduk di samping ayahnya.
“Kak Dio...?”
“Hai Nad ...” sapa Dio.
“Kok kak Dio di sini?” tanya Nadin.
“Kemarin kan kita sudah janji, mau jalan-jalan akhir pekan ini.”
Ucap Dio santai. “Saya sekalian mau ijin sama om Roy, mau ngajak Nadin
jalan-jalan.”
“Om sih terserah Nadin nya bagaimana.”
“Tapi kan kita mau ke rumah kak Ara, yah ...” ucap Nadin.
“Kayaknya agak sorena ke rumah kakak kamu, katanya pengirimannya
terjadi keterlambatan.” Ucap Roy.
Ayah ..., kenapa nggak bisa di ajak kompromi sih .... Batin Nadin.
“Ya udah, aku siap-siap dulu ya kak.”
“Iya ....!”
Nadin pun dengan terus menggerutu ia bersiap-siap.
“Ayah benar-benar nggak bisa di ajak kompromi, apa ayah tidak tahu
jika aku malas keluar dengan kak Dio ..., entah kenapa sekarang aku tidak suka
sama dia? Menyebalkan.”
Nadin pun berdadan apa adanya, ia bahkan malas walau hanya sekedar
memoleskan bedak di wajahnya.
Nadin kembali keluar dari dalam kamar setelah lima belas menit.
“Ayo kak, aku sudah siap ...”
“Ayo ..., saya permisi dulu ya om ...”
“Iya ..., hati-hati di jalan.” Ucap Roy.
Nadin dan Dio pun berangkat, mereka berboncengan sepeda motor.
“Pakai helmnya, Nad ...” ucap Dio sambil menyerahkan helm di
tangannya. Nadin pun dengan segera mengembil helm itu dan mengenakannya
sendiri, ia tak mau sampai keduluan Dio yang mengenakannya.
Dio mulai menyalakan mesinnya, motornya pun melaju memecah ramainya
jalanan ibu kota. Dio mengajak Nadin kesebuah kafe terbuka. Sebuah kafe cantik
yang di kelilingi beraneka macam tanaman hijau dengan suasana sejuk layaknya di
kebun. Kafe yang tersembunyi di tengah-tengah kepadatan ibu kota, kafe ini
sangat tepat sebagai tempat singgah bagi para pencari ketenangan.
Di sana menyajikan olahan berbagai kopi dengan cita rasa unik. Kopi
dengan perpaduan kopi, cola dan jeruk limau. Cita rasa segar sekaligus
menggigit dengan sedikit jejak pahit kopi espresso sangat cocok dinikmati saat
hari sedang panas-panasnya. Dan jika lebih suka kopicreamy, akan di manjakan
dengan campuran kopi, susu dan kayu manis.
“Ini indah sekali kak tenpatnya ...” ucap Nadin saat sampai di
dalam kafe.
“Kamu suka?” tanya Dio, dan Nadin pun hanya mengangguk.
“Syukurlah kalau kamu suka. Oh iya kamu mau minum apa?”
“Aku kopi creami saja, kak.”
“Baiklah ...” Dio pun memesankan dua cangkir kopi untuk mereka.
Mereka menikmati kopi sambil menikmati pemandangan bunga yang
menyejukkan.
“Nadin ...” ucap dio saat mereka kembali hening.
“Hemmm?” tanya Nadin tanpa mengalihkan pandangannya pada
bunga-bunga yang berjejer indah di depannya.
“Apakah tidak ada kesempatan untukku?” tanya Dio sambil meraih
tangan Nadin. Seketika Nadin terperangah, ia tidak menyangka jika Dio akan
bertanya seperti itu.
“Maksud kakak?”
“Aku sangat mencintaimu, aku tahu aku salah karena telah
memanfaatkan kakakmu, tapi aku tidak bisa menutupi perasaanku, bahwa aku sangat
mencintaimu.”
Nadin terdiam mendengar ucapan Dio, ia bingung harus menjawab apa
dan bagaimana.
“Kak aku harus ke toilet ...” Nadin buru-buru berdiri tanpa melihat
situasi di sekitarnya, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang dengan
secangkir kopi di tangannya. Kopi panas itu mengenai kaki Nadin.
“Aduh ..., panas .. panas ..., kakiku panas ....” ucap Nadin sambil
mengibaskan kakinya yang seperti terbakar.
“kau tidak pa pa?” tanya pria itu begitupun dengan Dio. Pria yang
menabraknya itu segera menggendong Nadin dan mendudukkannya di salah satu
kursi.
Pria itu dengan cekatan melepas sandal Nadin, menyiram kaki Nadin
dengan air mineral dan menganbil sapu
tangannya lalu membalutkannya di kaki Nadin.
“Kau sudah lebih baik?” tanya pria itu setelah selesai. Ia menatap
Nadin. “Kau ...?”
“Hahh ..., kau lagi?” nadin begitu terkejut saat melihat wajah pria
yang sama yang sudah ia temui dua kali dan ini untuk ketiga kalinya. Dia Divta.
“Sebenarnya apa sih masalahnya dengan kakimu, kenapa setiap kali
bertemu denganmu selalu berurusan dengan kakimu?”
“Jangan salahkan kakiku, kau yang menumpahkan kopi panasmu ke
kakiku.” Ucap Nadin tak mau kalah.
“Kalian saling kenal?” tanya Dio.
“NGGAK!!!” jawab Nadin dan Divta bersamaan.
“Baguslah ...” ucap Dio lega. Ia pikir ia kan mendapat saingan yang
kuat jika sampai Nnadin mengenal pria tampan di depannya itu. Di lihat dari
kaya. “Bagaimana kakimu?”
“Sudah nggak pa pa?’ jawab Nadin. Divta tampak mengamati Dio.
Dia pria yang berbeda lagi, sebenarnya siapa gadis ini? ...., Batin Divta.
Lalu meninggalkan nadin dan Dio begitu saja.
“Sebaiknya kita pulang saja kak, ayah pasti sudah menungguku.” Ucap
Nadin sambil mengenakan kembali sendalnya tanpa melepaskan sapu tangan yang
melilit kakinya.
“Baiklah ...., aku bayar dulu minuman kita ya.”
“Iya ...”
Setelah pulang, Nadin pun segera mengajak ayahnya untuk berangkat
ke rumah Ara, agar Dio tak berlama-lama berada di rumahnya. Kejadian hari ini
sudah menguras tenaganya.
Nadin sudah bersiap-siap kembali, kali ini Roy yang mengemudikan
motornya. Setelah menempuh perjalanan setengah jam akhirnya mereka sampai juga
di kafe Agra dan Ara.
“Ayah tunggu di sini, biar
Nadin aja yang panggil kak Ara.” Ucap Nadin pada ayahnya.
“Baiklah ..., ayah tunggu di sini ...”
“Siap ayah ...” Nadin pun segera berlari menaiki tangga. Ia tanpa
permisi segera membuka pintu lanyai atas yang tertutup.
“kakak ....” teriakan Nadin segera mengalihkan perhatian Ara dan
Agra, Nadin sudah berdiri di ambang pintu.
“ups ....., maaf ..., salah waktu ....” Nadin segera menutup
mulutnya yang salah tempat dan waktu untuk masuk. Ya saat itu mereka sedang
berciuman.
“Nadin .....” Ara melepaskan tangan Agra dari pinggangnya dan
mendekati Nadin.
Agra hanya mendengus kesal karena acara mesra-mesranya bersama
istrinya harus tertunda gara-gara ulah adik iparnya yang suka nyablak tak tau
tempat.
“Ayah ke sini kak ...” ucap Nadin sambil memandangi Agra yang
terlihat kesal sambil mengatupkan kedua tangan memohon maaf pada kakak iparnya.
“benarkah ..., mana dek ...” Ara begitu senang mendengar Ayahnya
datang, sehingga membuat mood Agra kembali lagi.
“dimana?” Agra mendekati adik iparnya dan mengusap rambut Nadin
gemas. “Hati-hati kalau masuk kamar orang.” Agra memperingatkan adik iparnya
itu.
‘tuh di luar ..., iya ..., aku akan lebih hati-hati ...” Nadin tersenyum
sambil menunjuk ke bawah, ke lantai satu yang sekarang sudah di ubah menjadi
kafe.
Mereka bertiga pun segera menghampiri ayah mereka. Roy datang untuk
memberikan selamat atas kehamilan putrinya.
Mereka pun akhirnya menghabiskan waktu sorenya dengan mengobrol
santai dan bercanda bersama, rasanya sudah sangat lama obrolan seerti ini
tidak lagi mereka rasakan sebagai satu keluarga yang utuh.
Roy juga menceritakan asal muasal gen kembar yang di miliki Ara, ya
dari perbincangan itu, kini terkuak jika Roy sebenarnya memiliki saudara
kembar yang terpisah sejak kecil.
Mereka juga membicarakan akan diadakannya acara empat bulanan,
sekalian syukuran pembukaan kafe dan perusahaan Agra yang baru.
Ara dan Nadin sudah tak lagi bergabung dengan mereka, karena Ara
mengajak Nadin membuat makanan untuk makan malam mereka.
Mereka sudah berpindah ke halaman depan sambil menikmati lalu
lalang jalanan yang sudah di penuhi oleh lampu kota yang terlihat begitu indah,
apa lagi suasana taman begitu ramai dengan pengunjung untuk menikmati malam
minggu mereka bersama keluarga .
Malam semakin larut, mereka meneruskan obrolan mereka di meja
makan,menikmati makan malam yang sungguh hangat sebagai keluarga yang utuh.
Setelah selesai makan malam,
Roy dan Nadin pun berpamitan untuk pulang, walaupun Agra dan Ara meminta mereka
untuk menginap tapi Roy tetap keras kepala. Ia tetap memaksakan untuk pulang.
Mereka berboncengan sepeda motor, dengan Roy sebagai pengendaranya
dan Nadin di bonceng.
“Sudah lama sekali ya yah, kita tak seperti ini.” Ucap Nadin.
“Begini bagaimana?’
“Nadin di bonceng ayah seperti ini. Ini menyenangkan sekali.”
“Ayah juga senang, mungkin nanti jika kamu juga menikah, ayah akan
sangat kesepian ...”
“Ayah ....” ucap Nadin sambil mengeratkan pegangannya di pinggang
ayahnya, ia memeluk ayahnya dengan erat.
“Mau es krim ...?” tanya Roy.
“Mau ...!!!”
Akhirnya mereka menghabiskan sisa malam mereka dengan menikmati es
krim di pinggir jalan berdua, bak sepasang kekasih. Nadin menyandarkan
kepalanya di pundak ayahnya sambil menikmati es krimnya.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Pengemudinya
membuka kaca mobilnya. Nadin bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil itu,
pria itu menatapnya dengan tatapan yang aneh. Pria yang sama yang menumpakkan kopi
ke kakinya tadi siang.
“bukankah itu, pria yang tadi?” gumam Nadin.
“Siapa sayang?” tanya Roy.
“Ah ..., bukan, sepertinya Nadin salah liat ...”
Ya pria dalam mobil itu adalah Divta. Divta segera menutup kaca
mobilnya kembali dan melajukan kembali mobilnya.
“Dasar gadis panggilan, sekarang dia jalan sama om-om yang lebih
pantas jadi ayahnya. Dia memanggil sayang pada gadis itu ...” Gerutu Divta di
sepanjang jalan.
Ya munghkin kesalah pahaman itu yang membuat mereka saling
mengenal.
“Ayah ..., sudah malam, kita pulang ya ...”
“Baiklah sayang ...”
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Nadin di buat
penasaran dengan pria yang melihatnya dari dalam mobil, kenapa dia? Tapi
entahlah, Nadin mencoba mengabaikannya.
***
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Matur suwuun 🙏🙏🙏🙏🙏