MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Pertemuan tak terduga



Setelah pertemuannya dengan Rendi, Alex sangat terluka. Bagaimana ia bisa hidup jauh dengan Nadin dan baby El, mereka sudah


seperti bagian terbesar dalam hidupnya, dan ada syarat untuk bisa menemuinya.


Bagaimana bisa ia menikah sedangkan menemukan wanita yang di cintai saja selalu


gagal.


Cintanya selalu berlabuh di tempat yang salah. Alex menatap punggung pria dingin itu dengan mata nanar, rasanya ingin sekali


berteriak dan mengatakan jika ini tidak adil, saat seseorang dengan mudah bisa


mendapatkan cintanya, kenapa dengannya? Kenapa begitu sulit?


“Aku harus melakukan apa?” gumam Alex sambil mengusap rambutnya kasar. Ia masih terus terduduk di tempatnya, memandangi


jalanan dengan lalu lalang kendaraan yang saling berebut, udara malam semakin


terasa menusuk kulit, dingin dan menyakitkan saat ia hanya sendiri tanpa siapa pun


di sisinya, semuanya telah pergi, orang-orang yang di cintai nya, pergi tanpa


memberi ampun padanya. Keangkuhannya tak mampu menahan mereka untuk tetap tinggal.


“Tuan!” sapa seseorang yang sedari tiga jam tadi telah setia menunggunya di samping mobil itu akhirnya mendekatinya, melihat


karyawan kafe hendak menutup kafenya pria itu bersiap untuk mendekati tuannya


dan menunduk hormat di depannya, menyadarkan lamunan tuannya yang sedari tadi tidak beralih dari menatap petangnya jalan raya.


“Tuan …, kita harus segera pulang, kafe ini mau


tutup!” ucap pria itu dengan sedikit ragu.


“Baik!”


Alex berdiri dari duduknya dan meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan, entah sudah habis berapa gelas kopi selama ia


duduk, tapi uang itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semuanya.


Alex segera masuk ke dalam mobilnya, ia duduk di belakang dengan sopir yang duduk di balik kemudi, sopir yang dengan setia


menunggunya tadi.  Mobil mulai melaju,


memecah keheningan tengah malam. Ini adalah hari berat untuk pria itu, rasanya


separuh nyawanya telah hilang, segala pencapaiannya seakan tak berarti lagi.


Banyak pertanyaan sedang melayang-layang di


benaknya, ia berpikir jika kebahagiaan itu ada, di mana dan dengan siapa?


Cittttttt


Tiba-tiba mobil mengerem mendadak membuat tubuh Alex sedikit terpental, ia terpaksa menghentikan lamunannya. Rasanya Ia begitu kesal pada sopirnya.


“Ada apa?” tanya Alex dengan nada kesalnya.


“Maaf tuan, tapi gadis itu menyeberang mendadak!”


Seorang gadis berhijab sedang berdiri di depan


mobilknya dengan menutup wajahnya. Alex hanya bisa mendengus kesal, ia pun


segera membuka pintu mobilnya saat melihat gadis itu tak juga beranjak dari


depan mobilnya, sepertinya dia begitu ketakutan.


Alex menarik lengan gadis itu, hingga membuat


wajahnya terlihat, pemilik wajah teduh dan mata sendu itu menatapnya dengan


penuh rasa ragu.


“Apa kau sudah tidak ingin hidup lagi dengan


menabrakkan tubuhmu ke depan mobilku!” teriak Alex geram.


“Tu-tuan Alex!” gadis itu sedikit demi sedikit mulai membuka matanya setelah mengenali suara itu.


“Aisyah!”


Walaupun tidak terlalu mengenali wajah gadis itu tapi ia begitu mengenali suaranya. Dia adalah gadis yang beberapa kali ia temui


bersama Nadin dan baby El.


“kenapa malam-malam berkeliaran di jalan?” tanya Alex sambil melepaskan genggaman tangannya, mengingat beberapa kesempatan gadis itu selalu tidak suka tangannya di pegang seperti itu.


“Tadi hanya …, aku pulang kerja!” jawab gadis itu dengan terus menunduk.


“Semalam ini?” tanya Alex tak percaya.


“Saya dapat sift malam!” jawab gadis itu dengan masih tertunduk.


“Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu pulang!”


“Tidak usah, terimakasih …, biar saya pulang


sendiri!”


akan memaksamu masuk!”


Akhirnya Aisyah tidak punya pilihan lain selain


mengikuti kemauan pria arogan itu. Alex membukakan pintu mobil untuk Aisyah,


dan ia pun berniat untuk ikut masuk duduk di samping gadis itu, tapi sepertinya


gadis itu keberatan.


“Tuan!”


“Iya?”


“Bisakah tuan duduk di depan saja?”


Mendengar permintaan gadis itu, Alex hanya bisa mendengus tapi ia juga tak mampu menolak, sepertinya duduk berdekatan dengan


Alex membuatnya tidak nyaman. Akhirnya alex mengurungkan niatnya untuk duduk di


samping Aisyah, ia kembali keluar dan masuk dan duduk di depan di samping


kemudi.


Setelah semuanya masuk, sang sopir pun segera menjalankan mobilnya tanpa menunggu perintah.


Sesekali Alex menatap gadis itu yang masih tertunduk dengan memilin ujung jilbabnya yang menjuntai hingga ke perut, mobil berhenti di perempatan jalan saat lampu lalu lintas itu menyala merah.


"Kita kemana dulu tuan?" tanya sopir Alex.


“Antar dia dulu!” ucap Alex sambil mengamati gadis yang sedari tadi tertunduk melalui kaca depan.


Gadis yang aneh …..


“Hemmm ….!” Alex berusaha mencuri perhatian gadis yang sedari tadi tertunduk dan memilin hijabnya yang menjuntai panjang hingga


ke perut. Tapi sepertinya dehemannya tidak berpengaruh pada gadis itu.


“Kau!” panggil Alex, ternyata hal itu berhasil


membuat gadis itu mendongakkan kepalanya.


“Iya?”


“Lebih baik kamu berhenti kerja saja!”


“Hah?”


Apa-apaan


tuan Alex ini …, kenapa tiba-tiba nyuruh berhenti kerja …., astagfirullah …..


“Tidak baik pulang malam untuk anak perempuan!”


Gadis itu hanya terdiam, ia cukup mengerti dengan


resiko bekerja pulang malam, tapi bukan urusan Alex juga, lagi pula dia punya


tanggungan membayar biaya kuliahnya. Merasa tidak ada tanggapan dari gadis itu,


Alex pun menyerah, bukan urusannya juga.


Terserah


lah bukan urusanku juga, ngapain aku mikirin dia …., nggak penting juga ….


Akhirnya Alex menurunkan gadis yang bernama Aisyah


itu tepat di depan rumahnya, tapi mata pria itu lagi-lagi fokus pada rumah yang


hanya berjarak satu rumah dengan rumah gadis itu, lampuntya sudah padam,


sepertinya pemilik rumah sudah tidur.


“Tuan, terimakasih atas tumpangannya!” gadis yang


bernama aisyah itu turun dari mobil, tapi sebelum menutup pintu mobil, Aisyah


menghentikan langkahnya.


“Assalamualaikum!” kata sakral yang selalu gadis itu ucapkan setiap kali bertemu atau berpisah. Walaupun tak akan mendapatkan


jawaban atas salamnya, tapi gadis itu tetap dengan pendiriannya dengan


memberikan salam.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘