MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Ada wanita lain



Lagi-lagi tangan Nadin berhasil di tarik oleh Rendi, membuat pukulan yang di lakukan Nadin terhenti.


"Diam dan dengarkan aku sekarang, kau sudah terlalu banyak bicara tadi!"


Kenapa dia selalu menatapku seperti itu, tatapannya selalu berhasil membuatku luluh ....


Ya Nadin lemah di depan pria dingin itu, kini Nadin hanya bisa diam dan menurut saja.


"Aku mengenal Viona karena dia dekat dengan Agra, dia pernah ada di hidup Agra. Jadi aku harus mengenalnya, begitu juga dengan Ara."


Rendi mendekatkan wajahnya, ia begitu tertarik dengan bibir Nadin jika sedang cemas seperti itu,


"Lalu kak Ara?"


Pertanyaan Nadin seketika membuat Rendi terdiam, ia diam di titik dua centi dari bibir Nadin. Rendi melepas tangan Nadin dan mengalihkan pandangannya dari Nadin. Ia memilih diam.


Nadin membenarkan duduknya, sejajar dengan duduk Rendi.


"Apa perasaan itu masih ada?" tanya Nadin, ia tidak ingin sebenarnya menanyakan hal ini, tapi memendamnya juga membuatnya sakit.


"Dari mana kau tahu?" tanya Rendi tanpa menatap Nadin.


"Aku pernah mendengar pembicaraan mas Rendi sama dokter Frans waktu itu di nikahannya kak Ara!"


"Dari mana belajar nguping?" tanya Rendi kesal tapi terkesan datar aja.


"Aku bukan nguping, aku hanya tidak sengaja mendengar!"


"Apa bedanya?"


"Ya jelas beda, dari pengucapannya saja beda!"


"Hehhh ....!" Rendi menghela nafasnya dalam, ia tidak bisa terus diam saja tanpa memberi penjelasan.


"Itu sudah lama, aku rasa itu bukan cinta, aku hanya sekedar kagum saja sama dia. Karena Ara termasuk wanita yang sabar, lembut dan dewasa!"


Dia segitunya mengagumi kak Ara ...., bikin aku iri saja, kapan aku bisa berada di tempat yang spesial untuk mas Rendi .....


"Kenapa malah diam?" tanya Rendi, gadis itu sangat berbeda, wajah cerianya menghilang untuk sesaat.


"Apa yang kau tahu tentang wanita?" tanya Nadin, ia mengesampingkan perasaannya, ia memilih kembali ke topik awal.


"Makhluk yang membingungkan!"


"Wanita bukan makhluk yang membingungkan, wanita hanya ingin di mengerti, tangisnya bukan karena ia lemah, tapi karena ia sudah tidak mampu menampungnya lagi, diamnya bukan karena dia marah, tapi diam karena penjelasannya malah akan membuat orang lain salah paham."


"Kata-kata sok bijak!" ucap Rendi sambil mengusap kepala Nadin dengan kasar, ia benar-benar gemas dengan ucapan Nadin yang sok bijak.


"Aku hanya berusaha memahami hatiku sendiri, sakit tahu rasanya di curigai!" ucap Nadin sambil memanyunkan bibirnya.


"Kau memang mencurigakan, makanya aku bertanya, jawab dengan jujur pertanyaanku jika masalahnya tidak ingin runyam!"


"Memang aku kurang jujur apa?"


"Ya jujur, dari mana kau tahu tentang benda itu?"


"Aku sudah menjawabnya, di internet aja seabrek kayak gituan, nggak perlu harus nglakuin yang aneh-aneh buat bisa tahu gituan, aku itu hidup di abad 21 ...., nggak ada yang nggak tahu sekarang!"


Benar juga apa yang dia katakan, kenapa saya bisa marah nggak jelas kayak gini? Gara-gara dia lagi ....


"Hallo ....., ada yang salah lagi ya dengan ucapanku?" tanya Nadin yang melihat Rendi bengong.


"Nggak, sudah aku mau istirahat!" ucap Rendi dan langsung saja meninggalkan Nadin ke kamar, sedangkan Nadin hanya bisa nyengir bebek.


"Jadi cuma gitu doang ....., hehhh ....., kenapa dia bisa semenyebalkan itu aihhhhh ....!" ucap Nadin gemes sendiri sambil meremas bantal sofa yang ada di depannya.


***


Nadin begitu kesal, ia memilih keluar dari apartemen, ia mengganti pakaiannya dengan celana jeans selutut dan kaos oblong, dengan pelan ia keluar dari kamar agar tidak membuat Rendi mengetahui kalau dia sedang keluar.


Rendi sibuk dengan berkas yang ada di depannya sehingga tidak menyadari jika Nadin keluar apartemen.


Nadin berkeliling seperti sudah lama sekali dia berdiam diri di dalam kamar, seperti burung yang sedang bersiap-siap untuk terbang, ia mengepalkan sayapnya.


"Aghh ...., akhirnya keluar juga dari penjara itu! Aku punya ide!"


Nadin menghampiri security yang sedang jaga.


"Sore pak!"


"Nona ...., bukankah nona istrinya pak Rendi, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya scurity.


"Boleh pinjam ponselnya nggak pak?"


"Boleh, nona ...., silahkan!" ucap security dengan sangat antusias sambil menyerahkan ponselnya.


"Terimakasih pak!"


Nadin pun segera mengambil ponsel itu dan melakukan panggilan, ia ternyata menghubungi sahabatnya, Dini. Ia meminta Dini untuk datang ke taman dekat apartemen Rendi.


Setelah mengembalikan ponselnya, ia segera menuju ke taman, dan benar saja tak berapa lama Dini datang.


"Hai Nad ....!" sapa Dini sambil memeluk Nadin. "Ah senang sekali lama nggak ketemu kamu kemana aja, padahal magangnya udah selesai kamu nggak balik-balik ke kampus!"


"Ponselmu juga susah banget di hubungi dari kemaren, ada apa dengan ponselmu?"


"Ponselku di sita sama kakak ipar!"


"Kok bisa?"


"Panjang ceritanya, nanti aku ceritain, sekarang pinjem dwitnya dong!"


"Pinjem dwit , buat apa?" tanya Dini heran, bukannya tak mau bantu tapi aneh aja Nadin pinjam dwit, nggak biasanya.


"Ada deh ....!"


"Berapa?"


"Seratus ribu!"


"Serius?"


"Kenapa?"


"Nanggung banget pijemnya, buat apa sih?"


"Ada deh ....!"


Akhirnya walaupun dengan penuh tanya Dini ngasih juga, ia ingin memberi dengan cuma-cuma, tapi ternyata Nadin menolaknya, ia janji bakal mengembalikan.


Setelah puas melepas rindu dengan sahabatnya itu, Nadin buru-buru kembali ke apartemen, tak lupa ia mampir ke mini market membeli sesuatu. Setelah selesai dengan urusannya, Nadin segera menuju apartemen.


"Dari mana aja?" ternyata Rendi sudah siap dengan tatapan dinginnya.


"Dari luar!" ucap Nadin yang merasa bersalah.


"Tau nggak aturannya jadi istri ? Nggak boleh keluar rumah tanpa ijin suami!"


Tumben ngerti ....


"Iya tahu!"


"Jangan di ulangi!" lagi-lagi Nadin mengangguk "Itu apa di tanganmu?"


"Tara ....!" ucap Nadin sambil menunjukkan kantong plastiknya yang berisi mie instan.


"Mie instan?"


"Kenapa wajahnya kayak gitu?"


"Itu bukan makanan sehat!"


"Tapi aku ingin mas mencobanya sekali-kali, karena aku bisa buatnya cuma mie instan!" Nadin tak peduli lagi dengan protesan dari Rendi, ia memilih berjalan melewatinya dan menuju ke dapur, dengan cepat ia memasak dua porsi mie instan.


Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya mie instan pun jadi, Nadin segera membawanya ke meja makan.


"Ayo mas makan!" ucap Nadin sambil menyerahkan sendok dan garpu pada Rendi.


Nadin memakannya, tapi Rendi hanya bisa melihatnya saja, ia tidak pernah mencoba sebelumnya.


"Ayo ....., makan!" ucap Nadin sambil menyuapkan satu sendok ke mulut Rendi.


Rendi mengunyahnya, lagi dan lagi, hingga mie nya sendiri habis.



"Gimana enak kan?"


Rendi pun mengangguk sambil menghabiskan mie nya.


"Tapi itu uangnya aku pinjam dari Dini!" ucapan Nadin seketika menghentikan kunyahan Rendi, ia terlihat sudah payah untuk menelannya. Rasanya mie yang enak itu jadi terasa sangat keras di tenggorokan sehingga butuh air putih untuk mendorongnya masuk.


"Kenapa pinjam?" tanya Rendi saat sudah berhasil menekan mie nya.


"Aku nggak punya uang!" ucap Nadin dengan polosnya.


"Kenapa tidak minta dari ku?"


"Memang boleh?"


"Kau itu sudah tanggung jawabku, semua kebutuhanmu aku yang akan memenuhinya, jangan macam-macam dengan minta pada ayahmu atau orang lain! Mengerti?"


"Iya mengerti ...., maaf!" Nadin benar-benar takut suaminya itu marah, tatapannya benar-benar menakutkan.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘