MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bertemu dengan Divta



.


Setelah semuanya sudah merasa baik-baik saja, keluarga pun meninggalkan rumah Rendi dan Nadin. Kini tinggal mereka bertiga di


rumah itu.


Rendi setelah mengantar semua keluarga ke depan, ia pun segera kembali


masuk menghampiri Nadin yang sedang membereskan mainan anak-anak. Baby El sudah tertidur pulas semenjak tadi.


Rendi segera menghampiri istrinya itu dan seperti biasa memeluknya dari belakang.


“Mas Rendi…, lepas …!” ucap Nadin kesal karena selalu di kejutkan oleh suaminya itu.


“Kalau aku tidak mau melepasnya bagaimana?” ucap Rendi malah semakin mempererat pelukannya dan menyusupkan wajahnya di tengkuk Nadin.


Nadin pun akhirnya menyerah, ia membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia mau. Lagi pula ia juga merindukan pria dingin itu.


Sudah cukup lama hatinya kering dan kini sudah mulai semi kembali.


Sentuhan dari suaminya membuatnya melupakan segalanya, melupakan kalau dia pernah begitu marah dan ingin melepaskannya.


Cemburu dan cinta adalah dua hal yang memang tak pernah bisa di pisahkan,


begitu juga dengan jujur dan percaya.


Mereka sudah berada di balik selimut yang sama, menikmati kehangatan tubuh dalam dekapan satu sama lain, membiarkan cinta itu


kembali mengalir dalam setiap aliran darah dan denyut nadi, membiarkan setiap


nafas bersatu dalam alunan cinta yang indah.


“Boleh aku meminta satu hal lagi mas?” Tanya Nadin yang masih menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


“Apapun!”


“Biarkan aku menemui pak Divta!”


Rendi mengecupi ujung kepala Nadin, mempererat pelukannya seakan-akan ia tidak akan membiarkan wanita yang telah menjadi


istrinya itu lepas kembali.


“Buat apa?”


“Ada yang ingin aku tanyakan padanya!”


“Baiklah …, tapi biar aku temani!”


“Tidak …, aku akan menemuinya sendiri!”


“Apa kau yakin?”


“Iya …!”


“Baiklah …., aku besok akan mengantarmu!”


Pagi ini Nadin suah bersiap-siap, ia menitipkan baby El di rumah ayah Salman, ayah Salman begitu bersemangat saat Rendi


menghubunginya, pagi-pagi sekali ia langsung mengambil baby El dan membawanya


ke rumahnya.


Rendi mengantar Nadin ke rumah Divta pagi-pagi sekali supaya tidak keduluan Divta berangkat kerja.


“Nanti nggak usah di jemput mas pulangnya, aku akan menemui Dini setelah ini!”


“Baiklah …., hatri-hati. Hubungi aku jika ada


sesuatu!” ucap Rendi sambil mengecup kening Nadin.


“Pasti!”


Setelah mobil Rendi menghilang di ujung jalan, Nadin pun berbalik menatap pagar tinggi itu dengan penjaga berada di pos penjagaan.


Rumah itru tidak kalah besarnya dengan rumah nyonya Ratih.


“Apa pak Divtanya ada?” Tanya Nadin pada penjaga itu.


“Apa anda aja janji?” Tanya penjaga dengan perawakan besar itu.


“Katakan saja jika Nadin ingin bertemu dengannya!”


“Baik!”


Penjaga itu sepertinya melakukan panggilan, Nadin menunggunya di depan gerbang dengan menyenderkan punggungnya di sana. Tak


berapa lama penjaga pun kembali menghampiri Nadin dengan sedikit berlari.


“Anda di persilahkan masuk nona!”  sikap penjaga itu berubah sekarang tidak


secuek tadi. Penjaga itu membukakan gerbang dan mempersilahkan Nadin masuk.


Nadin pun memasuki rumah besar itu, Divta


menyambutnya dengan sangat senang.


“Nadin …., bagaimana kabarmu? Maaf aku kemarin tidak bisa ikut menyambutmu!”


“Duduklah dulu ….!” Divta meminta Nadin untuk duduk, Nadin pun duduk di salah satu sofa besar itu. Divta meminta salah satu


pelayannya untuk mengambilkan minum untuk Nadin. Nadin masih asik memperhatikan


rumah itu, besar dan mewah.


“Minumlah …!”


Setelah mengucapkan terimakasih, nadin pun segera meneguk minumannya dan kembali meletakkan gelasnya ke atas meja, sedari tadi


Divta terus memperhatikannya, tatapan itu masih sama seperti dulu, tatapan


mendamba.


“Pak Divta aku tahu semuanya!” ucap Nadin setelah berada dalam diam yang cukup lama.


“Iya aku tahu, tapi kau hanya tahu setengah dari


kebenarannya saja!”


“Maksudnya?”


“Kebenaran yang kau ketahui bahwa aku mencintaimu, tapi aku mempunyai seorang putri dari wanita yang aku benci!”


“Iya …, lalu?”


Divta menghela nafasnya, ia mendekat pada Nadin. Memegang tangannya membuat Nadin tersentak, tapi melihat tatapan sendu dari


Divta ia tidak mampu untuk menarik tangannya, ia merelakan tangannya untuk pria


itu.


“Di dunia ini ada orang yang di lahirkan untuk


bahagia tapi ada juga yang di lahirkan untuk membahagiakan orang lain, dan


mungkin aku yang ke dua ….!”


“Kau pasti berfikir aku pria yang sangat brengsek, aku tidak punya hati. Aku mencampakkan wanita yang sedang hamil anakku, hingga wanita itu mempertaruhkan nyawanya untuk bisa menghadirkan putriku ke dunia. Kamu berfikir aku begitu kejam …, aku jahat …., aku tidak punya hati …!”


“Taukah kau apa yang membuat aku melakukan semua itu, karena aku sangat mencintaimu, aku ingin melihatmu bahagia …, walaupun aku


tahu caraku salah …!”


“Bisakah kau memaafkanku atas kesalahanku ini, bisakah kau memaafkan aku karena aku terlalu mencintaimu?”


Nadin menghelan nafasnya yang terdengar begitu berat, rasanya tenggorokannya begitu sakit, ada yang mengganjaln di sana. Ia


tidak pernah menyangka jika pria di depannya itu sangat mencintainya dan


mencintainya dengan cara yang salah.


“Bisakah kau melapaskan cintamu? Melepaskan semuanya


dan kembali dengan kehidupan barumu yang lebih indah! Aku tidak tahu apa aku


bisa memaafkanmu atas semua ini karena aku sendiri tidak tahu apa aku bisa


memaafkan diriku sendiri atas semua ini! Secara tidak langsung, akulah di balik


semua kerumitan dan kesalah pahaman ini!”


“Aku sudah melakukannya, aku dan putriku!”


Suara celotehan anak kecil muncul dari balik tirai besar itu, ia mengintik di balik tirai itu. Nadin berbalik menatap gadis kecil


itu, cantik dan manis. Nadin berjalan menghampirinya, gadis kecil itu tersenyum


pada Nadin.


“Siapa nama kamu ?’ tanya nadin dengan bengan lembut, gadis kecil yang baru belajar bicara itu pun berusaha mengeja namanya.


“I-a ….!”


Nadin mengelus rambut bergelombang gadis kecil itu, tangannya beralih ke pipi lembutnya menakupnya di sana.


“Maafkan unty ya sayang …., unty tidak bersamamu saat kau di lahirkan!”


Nadin memeluk tubuh mungil gadis kecil itu. Ia


memilih untuk berdamai dengan hatinya dan memaafkan segalanya. Membuatkan ayah


dan anak itu bahagia dengan kehidupannya tanpa menyimpan rasa bersalah.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘