MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 16 (Seorang tentara)



Nadin menunggu di ruang tamu. Sungguh ia berpikir sama dengan para reader sih, kurang kerjaan banget, bikin kesel sendiri.


Tapi pak Tama tinggal sendiri, tidak biasanya ia kedatangan tamu, apa mungkin pak Tama sakit. Itulah yang mendasari kenapa Nadin begitu kepo. Memang sih mereka bertetangga baru lima bulan ini, tapi pak Tama tipe tetangga yang baik, walau kadang marah-marah gara-gara Ajun suka sekali melarang Nadin dekat-dekat dengan orang asing.


Memang sih Ajun itu sama posesifnya dengan suaminya. Kadang Nadin suka berpikir seandainya saja Rendi punya saudara mungkin sebangsa Ajun.


"Nadin?" tiba-tiba suara pak Tama menggema di ruangan besar itu, wajahnya menyeramkan sih tapi sebenarnya hatinya lembut. Apa lagi jika melihat kumisnya yang tebal, siapapun pasti akan berpikir sepuluh kali untuk mendekati orang itu.


"Ada apa sepagi ini di rumah saya?" tanya pak Tama dengan wajah tegasnya. Nadin pun segera berdiri dari duduknya, "Apa suamimu tidak meminta bodyguard mu itu untuk mengawasi mu?"


Nadin hanya tersenyum kikuk, jika tahu mungkin Ajun akan menyusulnya, ah untung aku bebas dari pengawasan, batin Nadin.


"Maaf om, tapi tadi aku ketemu sama seseorang yang katanya rumahnya di sini, jadi aku kira om Tama pindah, atau mungkin om Tama sakit, makanya Nadin ke sini!"


"Hah ....., kau ini. Telingaku pengang dengar kamu ngoceh kayak gitu!" keluh pak Tama mendengarkan bicara Nadin yang bahkan tidak ada titik dan komanya, kayak gerbong kereta.


"Maaf om!"


"Baiklah ...., duduklah lagi, kasihan akan kamu di buat berdiri terus!"


Nadin pun akhirnya kembali duduk, begitu pun dengan pak Tama.


"Bi ....!" pak Tama memanggil kembali asisten rumah tangganya.


"Iya tuan!"


"Buatkan teh jahe hangat untuk Nadin!"


"Baik tuan!"


Asisten rumah tangga itu pun kembali masuk ke dalam, Nadin bertanya-tanya, aku tidak minta minuman, kenapa dibuatkan teh jahe, batin Nadin. Nadin hanya bisa mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang seumuran dengan ayahnya itu.


Tak berapa lama bibi itu pun kembali dengan membawa dua gelas teh, yang satu hanya teh biasa sedangkan satunya terlihat ada geprekan jahe di dalamnya.


"Minum teh jahe itu, itu akan mengurangi rasa mual di pagi hari!" ucap pak Tama sambil menyeruput tehnya sendiri.


"Dari mana om tahu kalau aku sering mual?"


"Om ini pernah muda!"


Nadin hampir saja tersedak saat mendengar ucapan pak Tama, kadang memang pikirannya terlalu jauh dan cenderung tidak masuk akal, "Maksudnya om pernah hamil?"


"Hehhh dasar anak muda, kalau orang tua ngomong itu mbok ya jangan di pedhot!"


"Ngomong apaan sih om?" Nadin yang bukan orang jawa jelas tidak terlalu mengerti dengan ucapan pak Tama yang campuran jawa itu.


"Mana mungkin om hamil, yang hamil itu istri om, hamil anak om, dulu om yang sering buatkan teh jahe hangat seperti itu, itu resep turun temurun dari kampung!"


Iiihhhhh ...., ngomongnya om Tama persis pak Raden ....


"Assalamualaikum!" tiba-tiba seseorang memberi salam membuat mereka menghentikan perbincangan.


"Waalaikum salam!"


"Wo alah kamu Jun!"


Dia pria sok kenal tadi .....


"Pak ...., kenapa mbak cantik ini di rumah bapak?"


"Bocahe penasaran sama kamu ....!"


"Penasaran kenapa pak?"


"Dia kira kamu itu penyusup, mau nyulik bapak!"


Arjuna pun ikut bergabung dengan mereka, Nadin hanya tercengang mendengar percakapan mereka yang medok itu.


"Jadi mas Juna ini, anaknya om Tama?" tanya Nadin sambil menunjuk pria tinggi dengan potongan cepol itu.


"Iya mbak ...., kenalkan nama saya Arjuna, putra bapak Tama tetangganya mbak Nadin!"


Nggak perlu selengkap itu juga kali, udah kenal juga tadi ....


"Kenapa selama ini nggak pernah liat mas Juna ya?"


"Ohhhh ....., memang mas Juna kerjanya apa?"


"Tentara angkatan darat!"


"Wow ....., keren!" ucap Nadin sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Mereka pun akhirnya saling bertukar cerita, lebih tepatnya pak Tama yang terus saja menceritakan putranya itu. Sampai Nadin sadar sudah terlalu lama ia meninggalkan Elan.


"Ya sudah om, sudah siang, Elan pasti nyariin, Nadin pulang dulu ya, terimakasih atas teh jahe hangatnya!"


Nadin pun segera beranjak meninggalkan ayah dan anak itu, Arjuna terus saja memperhatikan kepergian Nadin, sepertinya pak Tama mengerti arah tatapan putranya itu.


Pak Tama segera berdiri dan menepuk pundak putranya, "Jangan terlalu lama melihatkan, dia sudah punya suami dan saru orang putra, dia juga sedang mengandung!"


"Pantas saja!"


"Pantas saja kenapa?"


"Bapak memberinya teh jahe hangat!"


"Bapak kira apa .....!"


"Ya sudah pak, Juna mandi dulu!" Juna pun juga meninggalkan pak Tama, ia memang sudah ke rumah pak RT tapi belum mandi.


***


Nadin segera berjalan ke rumahnya, terlihat sekali Ajun langsung menyambutnya dengan wajah panik.


"Bu Nadin ...., bu Nadin dari mana saja?" tanya Ajun segera, ia sudah terlanjut mengerahkan pasukannya untuk mencari keberadaan Nadin, Nadin pergi tanpa membawa ponselnya.


"Kenapa?" Nadin malah bingung melihat reaksi Ajun yang berlebih seperti itu.


"Saya hampir saja menghubungi pak Rendi bu!"


"Hahhh ....., jangan aneh-aneh ya, aku cuma baru saja main ke rumah om Tama, tahu kan rumah depan itu, yang punya mangga muda. Aku kira dia sakit atau kemana jadi aku mengunjunginya!"


"Lain kali jika mau pergi, bu Nadin bisa memberitahu saya bu!"


"Buat apa? Aku perginya nggak lama!"


"Saya harus melaporkan semua kegiatan yang di lakukan bu Nadin selama pak Rendi tidak ada!"


Gawat nih kalau sampai mas Rendi tahu aku berkenalan sama pria .....


"Nggak usah lah Jun, nggak penting juga! Ya udah aku masuk dulu. Elan pasti sudah menungguku!"


Nadin tidak mau berdebat terlalu lama dengan Ajun, pasti sebentar lagi Ajun bakal mencari tahu secara langsung ke tempat yang di tunjuk oleh Nadin.


***


Setelah melakukan perjalanan dengan pesawat selama satu jam akhirnya Rendi sampai juga di Surabaya, karena Rendi punya rumah di Surabaya, akhirnya Rendi mengajak Agra untuk menginap di rumah nya saja. Ia sudah menyuruh seseorang untuk membersihkan rumah itu dan mengirimkan asisten rumah tangah yang bertugas membersihkan rumah dan juga pakaian kotor.


Rumah itu adalah rumah yang berada tepat di rumah yang pernah di tinggali oleh Nadin dulu, tetangga Aisyah.


"Ini rumah mu Rend?" tanya Agra sambil mengamati rumah itu, memang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk di tinggali.


"Iya ....., memang sempit tapi cukup dekat dengan fasilitas umum!"


"Depan itu rumah yang pernah di tinggali Nadin?" tanya Agra lagi, walaupun tidak pernah datang ke tempat itu sebelumnya tapi Agra sudah bisa menduganya.


Yang kangen sama mas Rendi, aku kasih visualnya ya



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘❤️