
Aku membuka tirai yang menutupi sebagian jendela kamar itu,
aku mencoba menghirup udara yang masuk. Berbeda sekali dengan udara di
apartemen milik mas Rendi, udara di sini begitu segar, tapi keadaan seperti ini
malah membuatku sesak, ingin sekali aku menangis tapi jika sampai air mataku
keluar, aku takut mereka menganggapku sangat lemah.
Merry kembali datang dengan membawa gaun pesta, gaun malam
yang anggun. Aku di sini hanya sebagai tawanan tapi aku di perlakukan seperti
tuan putri.
“Tuan Alex meminta anda untuk memakai ini nanti malam!” ucap
Merry sambil meletakkan baju itu di atas tempat tidur, aku hanya melihat dari
kejauhan tanpa tertarik untuk mendekat. Aku lebih memilih kembali menatap ke
luar jendela.
“Apa ada yang nona butuhkan lagi?” Tanya Merry lagi dean aku
masih sama, aku begitu malas untuk menjawabnya. Jika dia tahu apa yang aku
sangat butuhkan apa dia akan mengabulkannya? Aku menginginkan mas Rendi
suamiku, bukan orang yang bernama Alex itu.
“Kau tidak akan mampu memenuhi keinginanku!” ucapku ketus,
aku tahu dia tidak bersalah, ia hanya suruhan orang yang bernama Alex, tapi apa
dia tidak pernah merasakan bagaiman perasaan seseorang yang di pisahkan dengan
kekasihnya, belahan jiwanya.
Bukannya marah, tapi Merry malah berjalan mendekatiku, dia
seumuran dengan ibu Dewi, ah …, aku sampai lupa bagaimana kabar mereka, ayah
dan ibu, nenek Nani, apa mereka merindukanku? Apa mereka mencemaskan ku jika
tahu aku sedang di culik?
“Tuan Alex sebenarnya orang yang baik, mungkin anda harus
mengenalnya untuk tahu siapa dia!” ucapan Merry yang itu berhasil membuatku
menatapnya, omong kosong apa lagi ini, cukup bagiku mengenal suamiku, kenapa
aku harus mengenal orang asing itu juga?
“Apa Merry punya suami?” entah pertanyaan itu akan
menyinggungnya atau tidak, tapi aku begitu penasaran untuk mengetahui
jawabannya. Dan ternyata Merry menggelengkan kepalanya, matanya yang tegas
berubah menjadi sendu.
“Ada apa? Kenapa?”
“Ini bukan urusan nona Nadin!”
“Iya kau benar, ini memang bukan urusanku. Tapi apa kau tahu
bagaimana perasaanku, saat aku di pisahkan dari suamiku? Bagaimana terlukanya
aku saat bahkan aku tak mampu melihat wajah pria yang aku cintai? Kau trak akan
pernah tahu, karena kau tak punya suami, bahkan mungkin kau tidak pernah
mengerti yang namanya cinta!” aku begitu kesal hingga itu semua keluar dari
mulutku, bahkan aku tak mampu lagi membendung air mataku, rasa rindu ini
benar-benar sudah berhasil menyiksaku.
Aku tak peduli lagi dengan siapa sekarang aku bicara, yang
aku tahu aku ingin sekali menumpahkan semuanya, bahkan suaraku yang bercampur
dengan air mata terasa sangat memilukan, aku tak peduli.
“Pergilah …., pergi …!” bentak ku pada Merry, aku benar-benar
ingin sendiri saat ini. “Biarkan aku sendiri!”
Aku menjatuhkan tubuhku di lantai, tanganku mengepal menepuk
dadaku yang terasa sesak, air mata ini seperti tak mau berhenti turun, tangan
kiriku aku gunakan untuk menyangga tubuhku, aku meraung menumpahkan air mataku,
sudah satu minggu tanpa mas Rendi benar-benar akan membuatku gila.
Samar aku melihat Merry ikut duduk di depanku, mungkin ia
iba melihatku, wajah pucat dan sekitar mata yang mulai menghitam karena terlalu
banyak menangis di dalam kamar, diam tanpa bicara. Jelas aku terlihat begitu
kacau, walaupun aku mencoba tegar tapi tetap tidak bisa.
“Nona …!” Merry memegang tanganku.
“Pergi …!
“Aku tahu bagaimana perasaan nona, aku akan membantumu!”
Mendengar ucapan Merry, aku segera menghapus air mataku yang
menutupi mata, aku menatap Merry, aku hanya ingin bertanya apa benar yang aku
“Kenapa?”
“Karena aku juga mengalami hal yang sama seperti nona, aku
tidak mau nona mengalami hal yang sama denganku. Aku tidak bisa bertemu dengan
kekasihku, hingga ia menutup mata, aku menyesal karena dulu aku tidak mengikuti
kata hatiku, aku memilih menetap di sini supaya aku bisa mengenang kekasihku,
dia adalah papa dari tuan Alex, ada wajah kekasihku di dalam diri tuan Alex,
jika aku menatap tuan Alex aku seperti menatap kekasihku, jika saja dulu saya tidak
pergi, mungkin dia masih ada sampai sekarang!”
Aku tercengang, aku tak percaya dengan apa yang aku dengar.
Ternyata wanita tegar di depanku dengan segala kekuatannya menyimpan luka yang
besar dalam hatinya.
“Tapi nona, aku boleh memohon pada anda satu hal?”
“Apa?”
Aku rasa menerima permohonan dari Merry sedikit saja tidak
akan mengurangi besarnya bantuan yang akan ia berikan untuk bisa membebaskan ku
dari tempat ini.
“Biarkan Tuan Alex melakukan dua rencananya terlebih
dahulu.”
Dua rencana, rencana seperti napa yang Merry maksud, apa
rencana itu akan merugikan orang yang aku cintai jika itu berhubungan dengan
diriku?
“Rencana apa itu?” aku benar-benar tak tahan untuk tidak
bertanya, ini menyangkut diriku. Mana mungkin aku diam saja, mas Rendi? Apa
sekarang dia sedang baik-baik saja?
“Dua rencana itu tidak akan begitu berpengaruh terhadap
kehidupan pribadi kalian, ini hanya masalah perusahaan, tapi untuk yang ketiga,
aku juga tidak setuju jadi aku akan membantu nona Nadin untuk keluar dari
sini!”
“Baiklah …., jika rencana pertama dan ke dua kau tidak
memberitahuku, sekarang beritahu aku rencana ketiganya!” aku benar-benar
memaksa, jika urusan perusahaan mungkin aku tidak begitu tahu tapi jika itu
urusannya dengan kehidupan pribadi manamungkin aku bisa diam saja.
“Tuan Alex ingin menghancurkan Rendi dengan menjadikanmu
istrinya!” ucapannya yang satu ini benar-benar berhasil menbuat sok terapi
untukku, aku terduduk ke belakang, jantungku seperti di hantam ribuan pisau.
“Itu tidak mungkin!” aku benar-benar kehabisan kata-kata,
cintaku dengan mas Rendi akankah berakhir di tempat ini jika aku tak mampu
keluar darirumah ini.
“Untuk itu, aku akan membantumu! Berlakulah biasa saja, aku
akan mencari cara membawa nona keluar dari sini secepatnya! Malam ini tolong
temani tuan Alex makan malam!”
Setelah mengakhiri ucapannya, Merry beranjak dari duduknya
dan meninggalkan aku yang masih tertegun tak percaya, aku kembali menepuk
pipiku, aku merasakan sakit, itu berarti ini nyata, aku tidak sedang
berhalusinasi.
Malam ini benar tiba, aku memakai gaun yang telah ia
siapkan. Aku benar-benar merasa kesal dengan penampilanku sendiri, seharusnya
aku berdandan bukan untuk orang asing itu, aku berdandan untuk suamiku, mas
Rendi, aku benar-benar merindukanmu.
Ceklek
Tiba-tiba pintu di buka dari luar, aku bisa melihat bayangan
siapa yang dating dari cermin yang ada di depanku. Aku melihat Merry yang
berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegang gagang pintu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘