
π·π·π·
Nadin yang sudah berhasil keluar dari tangga darurat segera menjatuhkan tubuhnya di lantai, tak peduli dengan orang yang akan melihatnya, yang ia tahu sekarang ia hanya ingin menangis sekencang-kencangnya untuk meredakan gejolak di dalam dadanya.
Dada rasanya begitu sesak dan sakit, air matanya tumpah. Nadin meraung tapi tak mengeluarkan suaranya, ia hanya sibuk memegangi dadanya.
Kemudian Nadin teringat sesuatu, ia pun segera mencari-cari ponselnya yang berada dalam tasnya yang berwarna silver itu dengan tali kecil panjang, yang tadi sempat terjatuh, ia melihat tas itu talinya putus. Ia merogoh ya dan mencari-cari benda pipih itu.
Dengan tangan gemetar dan mata yang blur akibat air matanya yang tak mau berhenti, ia pun mencari kontak seseorang, sesekali Nadin menyeka air matanya agar tidak menghalangi pandangannya, setelah menemukan kontak yang ia cari, Nadin pun segera melakukan panggilan.
"Hallo ...!" ucap Nadin gemetar saat telpon itu telah tersambung.
"Din ...., Kenapa dengan suaramu, kamu sedang menangis?"
Dan orang yang pertama di hubungi Nadin adalah dokter Frans.
"Iya dokter, tapi jangan pedulikan aku, sekarang bisakah dokter bantu aku!"
"Apa? Jangan panik seperti itu, katakan!"
"Pak dokter datang ke tangga darurat kantor, kak Davina terluka!"
"Davina? Apa yang dia lakukan padamu hah?"
"Aku tidak pa pa dok, tapi kak Davina, dia kenapa-kenapa, tolong cepat ke tangga darurat ya dok, aku mohon!"
"Baiklah ...., Tunggu ya!"
Nadin segera menutup panggilan telponnya, ia sudah merasa sedikit lega, setidaknya Davina akan segera di selamatkan.
Nadin memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya, air matanya belum sampai kering, tiba-tiba seseorang sudah datang menghampiri dirinya.
"Nadin!"
Nadin pun mengangkat wajahnya, melihat siapa yang datang.
"Pak Divta!"
Divta berjongkok di hadapannya. Ia mengamati wajah Nadin , ada bekas tamparan di pipi kiri Nadin. Nadin yang menyadarinya segera menunduk kembali, ia tidak mau Divta sampai tahu apa yang terjadi.
"Kamu kenapa?" Tanya Divta. Walaupun awalnya bukan itu yang ingin ia tanyakan saat bertemu Nadin, tapi melihat keadaan Nadin yang sangat kacau, membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Tidak pa pa pak, aku baik. Ya sudah aku ke ruangan ku dulu!" Ucap Nadin sambil beranjak dari duduknya, ia mengambil tasnya, tak peduli dengan talinya yang putus, masa bodo yang penting ia bisa menghindar dulu dari Divta.
Setelah berdiri, ia pun menunduk memberi hormat dan hendak meninggalkan Divta, tapi tangannya segera di genggam oleh Divta.
Membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik kembali ke arah Divta.
"Ada apa pak?" Tanya Nadin.
Bukannya menjawab pertanyaan Nadin, tangan Divta pun terulur Pelang ke arah dada Nadin, membuat Nadin terpaku.
Nadin lupa untuk mengancingkan bajunya yang terlepas hingga sedikit memperlihatkan bra Nadin, Divta hendak mengancingkan baju Nadin yang terlepas.
Bukkk
Belum sampai Divta berhasil mengancingkan baju Nadin,seseorang sudah lebih dulu memukulnya membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Jangan berani menyentuh istriku!" Teriak seseorang dengan penuh amarah.
"Rendi!" pekik Divta sambil memegangi pipinya yang kebas.
"Mas Rendi!" Nadin pun tak kalah terkejutnya.
Divta pun memegangi pipinya yang nyeri karena pukulan Rendi, ia mengusap-usap nya pelan.
"Jangan salah faham dulu Rend! Aku tadi melihat Nadin sedang menangis dengan pipi merah bekas tamparan, aku hanya ingin menenangkannya saja!"
Sebenarnya sangat berat mendengar jika Rendi mengakui jika Nadin adalah istrinya, tapi hatinya lebih sakit saat melihat Nadin seperti itu.
Rendi tak peduli dengan apa yang di katakan Divta, ia hanya ingin membawa istrinya itu jauh dari pria itu, Rendi pun segera menarik tangan Nadin, meninggalkan Divta.
Divta hanya bisa memukul udara, ia menunjukan kelapan tangannya ke udara meluapkan kekesalannya. Ingin rasanya memeluk Nadin dan menjadikan Sandara untuknya, tapi tidak bisa.
Divta pun menghubungi seseorang. Ia Ngin tahu sesuatu.
"Hallo!"
"Iya tuan!"
"Tentang apa tuan?"
"Tentang Nadin dan yang berani menyakitinya!"
"Baik tuan!"
Divta pun segera menutup sambungan telponnya, ia mengepalkan tangannya tak sabar ingin tahu apa yang terjadi dengan Nadin.
Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang yang aku cinta seperti itu, jangankan seujung kuku, saja patah aku akan mencarinya.
Tak berapa lama ia mendapatkan pesan dari orang yang baru saja ia hubungi.
//Saya mendapat berita jika, Bu Nadin baru saja bertengkar dengan kakak sambungnya yang bernama Davina, dan sekarang dqvina sedang terluka dan di rawat oleh dokter Frans//
Divta pun segera membalas pesan itu.
//Terimakasih infonya//
Divta kembali mengepalkan tangannya, ia begitu terlihat marah, hingga otot-otot pelipisnya saling berlomba ingin keluar.
Aku tidak akan melepaskan mu, Davina ....
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Sedangkan di lorong itu, Davina hanya bisa menangis hancur, ia benar-benar hancur. Ia meraung-raung, ia tidak mengerti kenapa bisa senekat itu, hanya demi egonya.
"Aku benar-benar ingin mati saja .....!" rancau Davina sambil memukul apapun yang ada di depannya.
"Dasar cewek gila ...!" Teriak dokter Frans, membuat Davina seketika mendongakkan kepalanya, melihat siapa orang yang datang.
Ternyata dokter Frans, ia menghampiri Davina dengan membawa kotak obat.
Davina menatap tajam pada dokter Frans, benar-benar bukan dia yang ia harapkan datang, musuh bebuyutannya itu.
"Kenapa kesini?" tanya Davina, tapi dokter Frans tak juga menjawab.
"Mau menertawakan ku ya?" Ucap Davina sambil menghapus air matanya.
"Iya kau benar!" Dokter Frans sudah mendekati Davina dan duduk di sampingnya.
"Siniin keningnya!" Ucap dokter Frans sambil hampir menyentuh kening Davina yang terluka.
"Nggak usah sentuh-sentuh ....!" ucap Davina dengan nada sinisnya.
"Keras kepala banget sih jadi orang!" Ucap dokter Frans , ia pun menarik paksa tubuh Davina agar lebih mudah mengobati luka Davina.
Dengan telaten dokter Frans merawat luka Davina, membuat hati Davina sedikit menghangat. Akhirnya Davina pasrah, ia membiarkan dokter Frans untuk mengobati lukanya. Tidak ada perlawanan lagi.
"Kenapa dokter baik banget sama aku?" tanya Davina saat dokter Frans selesai merawat lukanya.
"Nggak semua orang itu bisa kamu anggap jahat, kamu itu terlalu picik untuk mengakui bahwa orang-orang di sekitar kamu itu baik!"
"Aku hanya merasa dunia ini tak adil aja buat aku!"
"Tak ada yang tak adil, Dav. Tuhan itu sangat adil, janganlah menyalahkan orang lain karena sebuah kesalahan yang dirinya sendiri tidak bertanggung jawab atas semuanya.
Semua masalah pada dasarnya ada solusinya, tinggal bagaimana cara kita memahaminya saja! Kau hanya tidak bisa saja mensyukuri hidup!" ucap dokter Frans panjang lebar. Davina terdiam, ia mencerna ucapan dokter Frans.
Dokter Frans pun mengemas kotak obatnya,
"Aku pergi, jangan melakukan hal aneh-aneh lagi yang mungkin akan kamu sesali nanti!" Ucap dokter Frans setelah selesai mengemas kotak obatnya, ia kemudian beranjak meninggalkan Davina, tapi saat langkahnya sudah hampir mencapai pintu, langkahnya terhenti.
"Makasih ...., Makasih atas semuanya!" Teriak Davina, dokter pun hanya tersenyum pada wanita itu. Setidaknya senyum itu memberinya kekuatan.
πΊπΊπΊπΊ
**Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading πππππ**