
🌷🌷🌷🌷🌷
Nadin yang di tinggal Rendi, hanya bisa duduk dan menunggu, ia serasa memakai dress, baju Rendi di pakai Nadin menjadi sangat besar, walaupun hanya sampai sebatas paha atas.
Nadin terlihat seksi dengan kemeja putih Rendi, rambutnya yang ia ikat asal, membuatnya bertambah sensual, wajah alami tanpa make up itu terlihat begitu berseri.
Nadin menuju ke balkon kamar Rendi, balkon itu langsung terhubung dengan taman belakang, begitu indah dan luas. Walaupun malam hari, pantulan dari kolam renang memberikan pemandangan yang tak kalah indah di banding siang hari dengan lampu-lampu taman yang menghiasi sekitar kolam renang.
"Indah banget ...., Jadi pengen berlama-lama di sini ....!" Nadin meregangkan tangannya, menikmati hembusan angin malam yang cukup dingin menyusup ke sela-sela kulitnya.
Tok tok tok
"Maaf nona kami mengantarkan makan malam!"
Ucap seseorang di luar bersamaan dengan suara pintu di ketuk.
Nadin menoleh dan segera berjalan mendekati pintu. Ia sedikit was-was untuk membukanya, mengingat penampilannya kini begitu seksi, ia tidak mengenakan dalaman sama sekali, hanya kemeja kedodoran itu yang melekat di badannya.
Nadin membuka pintunya itu perlahan tapi ia hanya mengeluarkan sebagian kepalanya.
"Taruh di meja situ saja ya, nanti biar aku ambil!" Ucap Nadin sambil matanya menunjuk ke sebuah meja kecil yang ada di depan kamar mereka.
"Baik nona!" Ucap pelayan itu, saat nampan itu hampir saja mendarat di meja, tiba-tiba Rendi datang dan mengambilnya kembali.
"Biar saya saja yang membawanya masuk!" Ucap Rendi.
"Baik tuan!" ucap pelayan itu sambil menunduk.
Rendi pun segera masuk dan menutup kembali pintu itu. Nadin sudah mundur beberapa langkah.
"Kenapa makanannya di bawa kesini mas?" tanya Nadin yang sudah mengikuti langkah Rendi.
"Ayah yang menyuruh!" Ucap Rendi sambil meletakkan nampan itu di atas meja.
Bukankah paman mengajak makan malam ....?
"Bagaimana dengan makan malamnya?" tanya Nadin lagi.
"Nggak jadi!" ucap Rendi dengan dinginnya. Rendi hanya terus menatap takjub pada wanita di depannya, sungguh indah ciptaan tuhan ini.
"Kok nggak jadi mas?" lagi-lagi Nadin selalu mengganggu dengan pertanyaan yang menurut Rendi tidak penting, karena sekarang yang terpenting adalah bisa terus menatap istri cantiknya itu.
"Sudah deh, jangan mulai. Bisa nggak jangan banyak tanya!" ucap Rendi, ia segera duduk di sofa.
"Iya ...!" Nadin pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar tidak banyak bicara lagi. Nadin pun segera menghampiri makanan itu, ia sudah sangat lapar, melihat makanan yang banyak membuatnya bertambah lapar ingin segera memakannya.
Aku lapar sekali ....
Nadin memegangi perutnya yang sudah ingin di isi.
"Lapar banget ya?" Tanya Rendi yang sudah lebih dulu duduk di depan makanan itu.
"Iya!" jawab Nadine ambil menganggukkan kepalanya.
"Sini!" Ucap Rendi sambil menunjuk panguannya. Nadin yang tak mengerti hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Duduk di sini!" Perintah Rendi lagi sambil menunjuk pangkuannya.
"Di situ?" Tanya Nadin ragu sambil menunjuk pangkuan Rendi. Rendi pun mengangguk, dengan ragu-ragu Nadin melangkah mendekat.
Srrkkk
"Aaaaa ....!" Nadin benar-benar terkejut, detak jantungnya lagi-lagi terpacu seperti sedang lari maraton.
"Sekarang suapi aku!" Perintah Rendi lagi saat Nadin sudah berada di atas pangkuannya.
"Kenapa harus di suapi?" Tanya Nadin dengan wajah polosnya membuat Nadin bertambah imut.
"Kenapa setiap di perintah suaminya selalu banyak bertanya?" keluh Rendi, ia begitu senang bisa mengerjai istrinya itu.
"Maaf!" Nadin pun tak mau membuat suaminya itu bertambah marah, ia segera mengambil sendok dan menyendok makanan di di depannya dan menyuapkannya pada mulut Rendi, Rendi mengunyahnya sekali dua kali dan menelannya.
"Kenapa rasanya gambar sekali!" Rendi tampak memberikan penilaian pada rasa masakan itu.
"Masak sih? Biar aku coba!" Nadin yang merasa penasaran dengan makanan yang ada di depannya tertarik untuk mencoba.
Kelihatannya saja begitu enak, masak sih nggak enak .....
Ia pun menyendok lagi dan sekarang memakannya sendiri. Nadin mengunyah pelan, kemudian kunyahan itu di percepat dan menelannya. "Enak kok mas, enak banget malah!"
"Masak sih?"
"Iya, enak banget!" Lagi-lagi Nadin menyuapkan makanan ke mulutnya dan menelannya.
"Coba kamu makan lagi!" Perintah Rendi. Nadin pun kembali memasukkan makanan itu ke mulutnya tapi Rendi segera meraih tengkuk Nadin dan menempelkan bibirnya, dan dengan cepat makanan yang ada di dalam mulut Nadin berpindah ke dalam mulutnya.
"Emmm ...., Sekarang baru enak!" Ucap Rendi sambil mengunyah makanannya.
Nadin hanya bisa bengong tak percaya dengan yang di lakukan suaminya, pria dingin itu bisa melakukan hal itu, benar-benar seperti mimpi. Nadin menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Kenapa?" tanya Rendi.
"Mas ...., Itu sisa Nadin!" Ucap Nadin sambil neralih memukul dada Rendi.
"Jangan banyak bicara, sekarang lakukan lagi, aku ingin makanan yang dari mulutmu, rasanya lebih enak!" untuk pertama kalinya si dingin itu banyak bicara.
"Nggak mau!" tolak Nadin, mana mungkin ia menyuapkan makanan untuk suaminya dari mulutnya, menurutnya itu benar-benar menjijikkan.
"Harus mau! Kalau tidak aku akan memakanmu sekarang juga!" ancam Rendi sambil mendekap tubuh Nadin hingga Nadin begitu susah untuk bergerak, apalagi ia sudah merasakan di bawah sana begitu keras, sepertinya RJ sudah mulai bangun.
Kenapa sekarang jadi aku yang di kerjai sih ....
Nadin tak punya pilihan lain, walaupun ia juga menginginkannya, tapi ia merasa belum benar-benar siap. Rasanya canggung mengakui kalau dia menginginkan hal yang sama.
"Baiklah ...!" Akhirnya Nadin menyuapkan makanan untuk rendi dari mulutnya hingga makanan di nampan itu benar-benar habis.
"Ini benar-benar makanan paling enak yang pernah aku makan!" ucap Rendi saat semua makanan itu sudah berpindah ke dalam perutnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘**