MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Hari pertama masuk kuliah (Davina)



     Hari ini hari pertama Davina kuliah


di Jakarta. Setelah beberapa hari yang lalu di daftarkan oleh Roy di kampus


yang sama dimana Nadin juga kuliah.


“Sayang ..., jangan lupa nanti tetap temani kakak kamu di kampus


ya, dia masih baru ...” ucap Dewi sambil menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.


Nadin pun terus tersenyum.


“Tentu, ibu ...” ucap Nadin sambil melahap makanannya. “Oh iya,


nenek mau apa? Biar aku belikan nanti sepulang kuliah.”


“Tidak sayang, nenek tidak ingin apa-apa, nenek Cuma ingin


cucu-cucu nenek kembali dengan selamat.”


“Nenek ..., kami tidak akan pergi berperang, tapi kami akan kuliah


nek, nenek ini ada-ada aja.”  Ucap Davina


menanggapi.


“Iya nenek, kakak benar ..., kami akan pulang dengan selamat ...”


Nadin menimpali.


“Sudah selesaikan makannya, dan segera berangkat. Nanti terlambat


...”


“Iya ayah ...” sahut Nadin dan Davina bersamaan.


***


Setelah obrolan hangat di pagi hari. Nadin dan Davina berangkat ke


kampus dengan naik angkot. Karena motornya belum di ambil, ia tidak tahu di


mana harus mengambilnya, yang ia tahu anak buah Rendi telah membawanya. Tapi di


bawa ke mana? Ah masa bodoh ia masih marah pada pria itu.


Sesampai di kampus mereka segera menuju ke kelas. Untung saja hari


ini bukan jadwal dosen Adrian, jadi Nadin tidak perlu berangkat lebih dulu.


“Hai ... Nad ...!” sapa Dini saat melihat Nadin masuk ke dalam


kelas. Tapi matanya terfokus pada orang yang ada di sebelah Nadin. “Dia siapa


Nad?”


“Kenalkan, dia kakakku, kak Davina.”


“kakakmu?” tanya Dini heran. Ya karena yang ia tahu, kakak Nadin


Cuma satu, Ara. Lalu yang ini kakak yang mana lagi?


Bukankah kakak Nadin, kak Ara, lalu dia siapa?


“Iya ..., nanti aku ceritakan padamu ...” ucap Nadin lalu mengajak


Davina dan Dini untuk duduk. Di tempat duduk Nadin menceritakan semuanya pada


sahabatnya itu.


Tak berapa lama, dosen pun datang dan menyampaikan materinya.


setelah perkuliahan selesai Nadin pun berencana untuk datang ke kafe kakaknya,


sudah satu minggu ini ia tidak tadang ke kafe karena harus menunggu toko


ayahnya.


“kak ..., aku harus ke kafe kak Ara, kakak pulang atau mau ikut


aku?” tanya Nadin saat sudah berjalan di pelataran kampus.


Tapi belum sempat Davina menjawabnya, tiba-tiba mata Nadin tertahan


pada seseorang yang menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswi, pria yang sedang


bersender di mobilnya, dengan kaca mata hitamnya. Tangannya ia masukkan di


kedua saku celananya.



“Pak Rendi ...” ucap Nadin, Davina pun menuju ke arah tatapan


Nadin. Davina tersenyum senang melihat siapa yang datang.


Nadin pun segera menghampiri Rendi yang masih diam di tempatnya.


Davina pun mengikuti langkah Nadin yang sedikit berlari.


“Pak Rendi kenapa ke sini? Pak Rendi mau cari perhatian sama semua


cewek-cewek di sini? Suka menjadi pusat perhatian? Jangan harap ya pak Rendi


bisa caper di sini, tidak akan saya ijinkan.” Ucap Nadin panjang lebar.


“Ckhhh.” Rendi berdecak


Rendi membuka kaca mata hitamnya, ia menatap Nadin dengan tatapan


dinginnya. Dengan mendecakkan lidahnya.


Dasar balok es ....


“Hai kak Rendi ...” Sapa Davina. Dan Rendi menanggapinya dengan


senyum samar nyaris tak terlihat.


“Apa kau lupa dengan motormu?” tanya Rendi.


“ya nggak lah pak, bagaimana dengan motorku, kau menyimpannya kan?”


tanya Nadin.


“Sudah ku buang.” Jawab Rendi malas.


“Jahat banget sih pak Rendi, itu motor kesayangan aku pak.” Ucap


Nadin yang sudah hampir menangis karena ucapan Rendi.


“Sudah jangan cengen, ayo ikut.” Ucap Rendi sambil mengitari


mobilnya menuju ke pintu sebelah.


Nadin hanpir saja membuka pintu mobil yang depan tapi lagi-lagi


Davina menahannya. Ia ingat dengan ucapan Davina kemarin. Akhirnya Nadin


mengalah, ia mengijinkan Davina untuk duduk di depan dengan Rendi. sedangkan


dia memilih duduk di belakang seorang diri.


Mata dingin Rendi sesekali menatap Nadin dari kaca depan, ada rasa


kecewa di sana. Nadin pun hanya bisa diam. Sedangkan Davina terus mengajak


Rendi berbicara, ia bercerita panjang lebar. Hati Nadin mencelus, entah kenap


ia menangkap sesuatu yang aneh pada sikap Davina pada Rendi.


Mereka akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Tapi bukan tempat ini


yang Nadin harapkan.


“Pak kenapa kita ke dealer?” tanya Nadin saat turun dari mobil.


“Makan ....” Ucap Rendi singkat.


Mulai deh ..., nyebelinnya ...


Rendi memasuki dealer motor, Nadin dan Davina hanya mengikutinya


dari belakang. Semua karyawan menyambut kedatangan Rendi. siapa yang tak kenal


tangan kanan pemilik FinityGroup.


“Beri aku motor yang sama persis seperti motor yang kemarin.’ Ucap


Rendi.


“Baik pak ..., mari ikut kami!” salah satu owner mengajak Rendi


menuju ke dalam. Di sana tampak motor yang sama berjejer ratusan.


“Waw ..., ini banyak sekali ..., ini motor siapa pak?” tanya Nadin


sambil mengitari motor yang berjejer rapi dengan merk yang sama dan warna yang


berdeda-beda.


semua tingkah Nadin selalu menarik perhatiannya. Rendi hanya terus menatap


Nadin, dan sesekali berbincang. Sedangkan Davina hanya terus mengikuti Nadin


dan sesekali mencuri pandang pada Rendi.


Setelah sedikit bernegosiasi dengan sepertinya manager tempat itu,


Rendi pun menghampiri Nadin dan Davina.


“Sudah memilih salah satu?” tanya Rendi tiba-tiba, tentu mengagetkan


Nadin.


“Hahhh ....”


“Aku anggap sudah ketemu pilihannya.”


“Apaan!???”


“Deals ...”


Rendi menepuk sekali tangannya, kemudian pria berjas hitam itu


segera menghampiri mereka.


“Antarkan motor ini ke alamat yang sudah sekertaris saya


tunjukkan.”


“Baik pak..”


“Ayo ..., keluar dari sini ...” ucap Rendi datar, ia kembali


mengenakan kaca mata hitamnya dan berjalan keluar, Nadin yang masih tidak paham


dengan ucapan Rendi, hanya bisa bingung dan terpaku. Sedangkan Davina sudah


lebih dulu menyusul Rendi, ia sudah berjalan beriringan dengan Rendi, tampak


dari belakang jika mereka sedang salih berbicara.


Mau tak mau Nadin pun menyusul mereka. Dan lagi-lagi ia harus duduk


di belakang, Davina sudah berada di samping Rendi. nadin hanya bisa pasrah.


Lain kali bawa supir napa sih ....., biar kak Davina bisa duduk dengan sopir ...


Nadin terus saja menggerutu, ia tidak suka melihat sikap Rendi pada


Davina yang lebih hangat.


“kalian tidak keberatan kan kalau kita mampir ke kantor dulu, ada


yang harus aku urus.” Ucap Rendi saat hendak melajukan mobilnya.


“Nggak pa pa, kak. Aku malah senang bisa jalan-jalan sama kak


Rendi, iya kan Nadin?” ucap Davina sambil melirik Nadin yang duduk di belakang


melalui kaca yang berada di depan. Lagi-lagi mata Nadin dan Rendi bertemu di


sana.


“Terserah kalian saja ...” ucap Nadin ketus, harusnya ia bisa dekat


dengan Rendi kali ini. Tapi nyatanya apa ia hanya seperti obat nyamuk di antara


dua sejoli di depannya. Hatinya sakit melihat kedekatan Davina dengan Rendi. ia


iri melihat sikap Rendi pada Davina.


Kini Nadin hanya bisa pasrah. Ia cukup tahu sekarang posisinya di


mana, Rendi bahkan tak pernah memandangnya, ia hanya memandangnya sebagai anak


ingusan.


Memang lebih cocok jika di pasangkan dengan Davina, usia mereka tidak


terpaut jauh, Davina berusia dua puluh empat tahun, hanya terpaut enam tahun


dari usia Rendi. sedangkan Nadin, cukup jauh, usia mereka terpaut sepuluh tahun.


Mungkin itu yang menjadi pertimbangan Rendi.


Rendi segera melajukan mobilnya. Rendi menghubungkan ponselnya


dengan earphone dan segera melakukan panggilan pada sekertarisnya.


“Vina ..., bagaimana sudah beres?”


“Sudah pak, oh iya dr. Frans juga menunggu anda.”


“lima belas menit lagi saya akan tiba, persiapkan semuanya.”


“Baik pak ...”


Panggilan telpon pun segera di putus oleh Rendi, ia kembali


konsentrasi pada jalanan. Setelah lima belas menit, akhirnya mereka sampai di


depan gedung perkantoran.


“kalian ikutlah masuk ...” ucap Rendi yang sedang melepas sabuk


pengaman dan membuka pintu mobil. Davina sudah mengikuti Rendi terlebih dulu.


Sedangkan Nadin masih mendengus kesal, ia merasa tak di anggap, keberadaannya


serasa tidak ada.


Nadin dan davina menunggu di lobi, tak banyak yang bisa mereka


obrolkan. Nadin lah yang selalu mendominasi obrolan mereka dengan


kecerewetannya.


“kak ..., sebentar lagi kita magang lo...’


“oh ya ...?”


“tapi sayangnya kita nggak bisa milih tempat magang yang kita mau, tempat


magang di rekomendasikan oleh kampus, kira-kira kita bisa dalam satu tempat


nggak ya kak?”


“Hemmm.”


Setelah menunggu satu jam, akhirnya Rendi keluar dari lift bersama


seseorang yang sangat di kenalnya.


“pak Dokter ...” ucap Nadin.


“hai Nadin ..., hai Davina ....” sapa dr. Frans.


“hai dok ....” jawab Davina dan Nadin bersamaan.


“kita makan siang bareng ya ...” ucap dr. Frans.


“Mau banget ...,aku sudah sangat lapar ..., kenapa tidak ada yang


menawariku dari tadi?” ucap Nadin sumringah sambil menatap Rendi sinis.


“Ya udah ayo ...” ajak dr. Frans. Dr. Frans pun segera menggandeng


tangan Nadin, ia berjalan mendahului Rendi dan Davina.


“Tenang saja adek kecil ..., ikuti saja trik bang Frans ...” ucap


dr. Frans sambil mengerlingkan matanya pada Nadin.


“Maksud dokter ...?” tanya Nadin yang tak paham dengan ucapan dr.


Frans.


“Kita buat permainan, buat si kulkas itu kelimpungan ...” bisik dr.


Frans, sehingga jika di lihat dari belakang tampak seperti dr. Frans sedang


mencium pipi Nadin.


“Ok ..., aku setuju.” Ucap Nadin dengan senyum menyeringai, ia


mengangkat kedua jempolnya.


**BERSAMBUNG


JANGAN lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya


Kasih Vote juga ya yang banyak.....


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**