MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kecemasan Rendi



🌷🌷🌷🌷


Suasana pagi di Korea sangat berbeda dengan di Indonesia. Rendi sudah siap dengan menikmati secangkir kopi sambil menikmati wajah lelap istrinya di atas tempat tidur itu.


wanita itu benar-benar tidak terganggu dengan cahaya matahari yang menyusup ke dalam kamar, bahkan Rendi sudah membuka gorden nya. Tapi sepertinya nadin benar-benar tak terganggu.


"Apa dia akan benar-benar menghabiskan waktu seharian di atas tempat tidur!" Gumam Rendi, ia terus tersenyum ia masih mengingat setiap detik pergelutan mereka semalam, bahkan rasa perih di punggung, pundak dan dadanya masih terasa.


Rendi sudah dari tempat Agra juga, ia benar-benar masih bekerja keras walaupun di tempat yang seharusnya ia hanya beristirahat dan menikmati harinya dengan pasangan. Rendi meletakkan cangkrinya, ia mendekati istrinya yang tertutup selimut hingga lehernya itu.


"Bangun ....!" Ucap Rendi sambil menciumi wajah Nadin, membuat Nadin mulai menggeliatkan tubuhnya.


"Ayo bangun sudah siang!" Nadin tak juga bangun, membuat rendi terpaksa membuka selimut Nadin, tapi tetap saja wanita itu tak mau bangun.


"Jangan ganggu aku!" Gumam Nadin sambil enggan membuka matanya. Tapi Rendi malah yang terkejut, di seprai putih itu ia melihat ada noda merah banyak.


"Nadin ...., Bangunlah ...., Kenapa ada darah!" Ucap Rendi panik.


Nadin yang malas untuk membuka mata, ia pun ikut terkejut.


"Darah ...., Tapi aku tidak sedang datang bulan!" Ucap Nadin yang mulai duduk dan menggulung tubuhnya dengan selimut. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur dan melihat darah itu.


"Kau yakin ....?" Tanya Rendi lagi. "Apa ada yang sakit?" Rendi memeriksa tubuh Nadin.


"Sakit ...., Tapi mana mungkin melakukan itu berdarah, apa mungkin setiap melakukan itu, aku akan berdarah!"


Rendi memegang darah itu, noda darah itu jelas saja sudah mengering. Rendi kembali berfikir, kenapa ada darah. Ia pun segera mengambil ponselnya dan mencari tahu di internet tentang darah yang keluar saat melakukan hubungan suami istri.


"Mas ...., Apa ketemu jawabanya?" Nadin juga begitu penasaran.


"Kenapa artikel-artikel ini semakin membuatku takut?" gumam Rendi sambil menatap layar ponselnya.


"Mas Rendi salah tulis kali mas, coba tanya sama kak Agra aja mas!"


Mana mungkin aku tanya sama dia, dia pasti akan menertawaiku ...., Tapi kalau di biarkan, aku takut ini berbahaya ....


"Baiklah ...., Tunggu di sini, aku akan ke sana!"


Tapi walaupun menyangkal ternyata Rendi tetap pergi juga, ia tidak suka memendam masalah tanpa jawaban seperti ini.


🌺🌺🌺


Rendi pun segera menuju ke tempat Agra, saat ini mereka sedang menikmati waktu untuk melihat pantai karena resort mereka cukup dekat dengan pantai.


"Ada apa lagi kembali ke sini?" Tanya Agra ketus, ia yakin jika pria dingin itu pasti akan membicarakan tentang pekerjaan.


"Aku hanya ingin bicara pribadi!" Mendengar pernyataan Rendi membuat Agra tercengang. Hal pribadi, bukankah hal yang luar biasa jika Rendi sampai membicarakan hal pribadi padanya.


Agra melihat istri dan kedua anaknya sedang asik bermain pasir di pantai. Ia mendekati istrinya dan sepertinya mengatakan sesuatu. Setelah selesai dengan urusannya dengan istrinya, Agra kembali menghampiri Rendi.


"Sekarang katakan!" Perintah Agra saat mereka sudah duduk di bangku itu, Rendi menatap laut yang luas itu, ia benar-benar ragu untuk mengatakannya. Ia bingun harus mulai dari mana. Haruskah ia mengatakan kalau ia habis melakukan itu dan Nadin berdarah.


"Kenapa sekarang malah diam?" Agra benar-benar tak sabar mendengar hal pribadi apa yang akan dia bicarakan.


"A-a-aku ...!"


"Sejak kapan kau jadi gagap seperti itu?"


"Ada darah ...!"


"Di mana?" Tanya Agra yang ikut panik, ia menoleh pada istri dan kedua anaknya, mereka masih asik berlarian di sana di temani para penjaga.


"Maksudku, ada darah di tempat tidur kami!" Rendi hanya bisa menunduk, ia cukup malu untuk menatap wajah Agra.


"Darah? Sejak kapan? Kenapa?" Agra tak mengerti dengan apa yang di katakan sahabatnya itu.


"Hehhh ....!" Rendi menghela nafasnya dalam, mau tak mau ia harus mengatakan dengan terus terang pada Agra Agara tidak terjadi kesalah pahaman.


"Maksudku, kami melakukan itu, dan ada darah di sana!"


"Itu apa? Kau benar-benar membuatku bingung saja!"


"Melakukan hubungan itu!" Rendi tampak prustasi, ia tidak tahu harus mengatakan bagaimana lagi, jika kali ini Agra masih belum paham, habislah dia.


Ha ha ha


Bukannya menjawab Agra malah tertawa terpingkal-pingkal hingga ia memegangi perutnya sakit merasa lucu. Orang seumuran Rendi tak mengetahui tentang begituan. Rendi hanya mendengus kesal, setelah kembali fokus dan berheti tertawa, ia kembali menatap Rendi.


"Rend ...., Rend ...., Kali ini aku jadi bersyukur, aku lebih beruntung di besarkan di panti asuhan dari pada di rumah besar ha ha ha ....!" Agra kembali mengakhiri ucapannya dengan tertawa.


"Maksudnya?" Tanya Rendi heran, bukankah dulu Agra sangat membencinya karena dia menggantikan posisinya di rumah besar.


"Setidaknya aku tahu tentang hal-hal remeh seperti itu!"


"Lalu solusinya?"


"Aku pastikan, setelah menikah kalian baru melakukan hal itu satu kali ini kan?" Tanya Agra dan Rendi pun mengangguk.


"Itu namanya, darah perawan ...., Jadi beruntunglah kau, karena kau yang membuka segelnya bukan orang lain. Itu menandakan kalau Nadin benar-benar menjaga dirinya." Mendengar penjelasan Agra, kini Rendi bisa tersenyum, entah kenapa saat Agra mengatakan itu, ia menjadi sangat senang karena itu artinya, istrinya tidak ada yang menyentuh selain dia.


Bersambung


Semoga bab ini sedikit mengurangi kekecewaan kalian terhadapku, dan untuk selanjutnya, doakan aku bisa berdiri di atas kaki sendiri, tanpa mencoba berpijak pada yang lainnya dan membuatku fokusπŸ™


Happy Reading 😘😘😘😘