
Setelah mengantarkan dr. Frans, Rendi tak langsung pulang ke apartemennya. Ia mendapat panggilan dari Agra, seperti ada sesuatu yang harus di kerjakan.
Ia memacu mobilnya menuju ke rumah besar milik Agra. Setelah sampai ia langsung menuju ke ruang kerja Agra.
"Malam pak ....!" sapa Rendi, ia pun segera masuk ke dalam ruangan.
"Masuk Rend .....!" perintah Agra. Rendi pun segera masuk dan duduk di hadapan Agra.
"Ada apa pak?"
"Lo janganlah terlalu formal jika cuma berdua ....!" protes Agra. "Gue mau semua pekerjaan buat besok lo handle sendiri, makanya gue suruh lo ke sini buat periksa semua dokumen ini ....!"
"Emang besok lo ada acara apa Gra?" tanya Rendi.
"Gue ada urusan pribadi, Mertua gue mau datang ke sini besok sama keluarga barunya, gue belum cerita semuanya sama Ara, gue ingin besok menjadi kejutan buat Ara."
Berarti anak itu besok juga akan datang ke sini ....
"Baguslah ....!"
"Gue juga akan minta bang Divta buat datang ke sini ....!"
Bang Divta ...., jadi mereka akan bertemu ...., kenapa memikirkannya saja membuatku sakit ...., ini memuakkan ....., apa yang terjadi denganku?
"Lo nggak pa pa kan Rend?"
"Ehhh ..., nggak pa pa ...., mana yang harus gue kerjakan sekarang?"
"Ini .....!" Agra pun menyerahkan setumpuk berkas pada Rendi. Mereka pun memulai mengerjakannya. Tapi entah kenapa hatinya kini merasa tidak tenang, membayangkan Nadin akan bertemu dengan Divta. Ada rasa tidak rela, berulangkali ia mencoba mengalihkan pikirannya, tapi selalu gagal.
Setelah malam semakin larut, tumpukan berkas itu telah terselesaikan semua. Rendi bersiap-siap untuk pulang.
"Gue pulang dulu!"
"Lo nggak nginep saja di sini, besok berangkat dari sini ...!"
"Nggak usah, gue pulang saja ...., selamat malam ....!"
Rendi pun berlalu meninggalkan rumah Agra, pikirannya sedang tidak tenang, ia pun memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia menuju ke klub malam. Entah kenapa saat ini ia ingin sekali pergi ke sana.
"Siapkan ruang VVIP untuk saya!" perintah Rendi pada salah satu pelayan klub.
"Baik tuan ....!"
Rendi pun segra di tuntun ke sebuah ruangan, ia memilih menyendiri, ia memesan beberapa botol minuman.
"Apa anda butuh seseorang untuk menemani anda malam ini?" tanya pelayan itu.
"Tidak ...., biarkan aku sendiri ....!"
"Baik tuan, saya permisi ..., jika anda butuh sesuatu silahkan panggil kami ...!"
Rendi tak menjawab ucapan pelayan, ia hanya menganggukan kepalanya.
Rendi meneguk minumannya, gelas demi gelas, botol demi botol, ia berharap bisa melupakan semuanya. Tapi semakin ia mencoba melupakan justru bayangan Nadin semakin nyata.
"Kenapa kau membuatku gila ...., kenapa ..., siapa kau ...., aku benci dengan tingkahmu ...., aku sungguh membencimu ....!"
Rancau Rendi yang sudah mulai kehilangan kesadarannya karena terlalu banyak menghabiskan minuman.
"Kau pikir aku kalah ....., aku tak akan pernah kalah ...., kau dengar itu ...., jangan tersenyum seperti itu padaku ...., aku benci dengan senyummu itu ....!"
Melihat Rendi yang sudah mulai kehilangan kesadarannya, membuat pelayan klub malam segera mencari kontak yang bisa di hubungi, ia melihat konyak yang paling banyak ia hubungi, di sana tertera nama dokter Frans. Pelayan pun menghubunginya.
Setelah satu jam dr. Frans baru dalang, ia hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Dr. Frans berkacak pinggang dan berdiri di hadapan Rendi yang sudah merancau.
"Rend ...., Rend ...., baru kali ini gue lihat lo kayak gini ....., emang sekacau itu ya hanya untuk mengakui kalau lo jatuh cinta?"
"Lo ...., lo itu sama kayak dokter-dokter itu ...., mereka bilang gue nggak pa pa ...., tapi sekarang lo liat gue ...., gue sakit ...., lo liat ....!" ucap Rendi sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya.
Mau tak mau membuat dr. Frans segera memapah tubuh Rendi untuk keluar dari dalam klub malam.
"Berat juga tubuh lo ...., harusnya yang bertanggung jawab bukan gue tapi Nadin ...., cuma ria yang bisa buat si kulkas ini kayak gini. ....!" ucap dr. Frans saat sampai di dalam mobil.
"Entah kenapa seharian ini lo terus saja nyusahin gue ...., jangan sampek Nadin liat lo kayak gini ...., bisa ilfeel dia liat lo kayak gini ....!"
*****
Hari ini di rumah Nadin, Nadin tak mau mempermaslahkan lagi hal kemarun pada Davina, tapi bukan berarti dia bisa memaafkan kesalahan Davina begitu saja.
"Ayah ....!"
Nadin mendekati ayahnya yang berada di teras rumah. Roy pun hanya melihat Nadin sekilas lalu sibuk dengan urusannya kembali, ia masih marah pada putrinya itu.
"Ayah masih marah sama Nadin ....? Maafkan Nadin ayah ...., Nadin nggak maksud kurang ajar sama ayah, tapi apa adil buat Nadin jika ayah tidak mendengarkan penjelasan Nadin dulu ...!"
Tapi lagi-lagi Roy tetap tak mau membuka mulutnya.
"Iya baiklah ..., Nadin salah ...., tapi jangan diamin Nadin kayak gini dong yah ..., Nadin kan perginya sama pak Rendi, trus Nadin Ninggalin kak Davina kan juga nggak sendiri, pak Rendi sudah menitipkan kak Davina dengan dr. Frans ....!"
"Ayah cuma nggak suka kamu nggak jujur sama ayah ...!" ucap Roy.
"Nadin janji ...., Nadin nggak bakalang mengulanginya lagi ...., janji ...!" ucap Nadin sambil mengangkat dua jarinya dengan senyum khasnya yang siapapun melihatnya pasti hatinya luluh. Roy pun menganggukakn kepalanya membuat Nadin begitu senang, ia pun segera berhambur memeluk ayahnya.
"Nadin sayang ayah. .....!"
"Ayah juga sayang sama Nadin ...." ucap Roy sambil membalas pelukan Nadin. "Oh iya nak, besok sore kita di undang datang ke rumah kakak kamu....!"
"Kak Ara ....?" tanya Nadin memastikan.
"Iya sayang .....! Kamu kasih tahu kak Davina sama nenek ya ....!"
"Iya ayah ....!"
Nadin pun segera masuk kembali ke dalam rumah, ia mencari neneknya yang kebetulan semuanya sedang berkumpul di ruang keluarga, mereka sedang menikmati acara televisi favorit.
"Perhatian semuanya .....!" ucap Nadin membuat semua yang ada di sana memperhatikan ke arah Nadin, tak terkecuali Davina.
Apa apa lagi anak ini, mau bikin drama apa lagi?
"Kak Agra dan Kak Ara mengundang kita semua datang ke rumah mereka besok sore ....!"
"Benarkah ....?" tanya Dewi yang terlihat begitu senang.
"Iya ibu. ...., ayah sendiri yang bilang ....!"
Baguslah ...., aku juga benasaran seperti apa sih putri ayah yang satunya ....!
"Ibu seneng ...,, akhirnya ibu bisa ketemu sama Ara ...., gimana bu ...., ibu senang nggak?" tanya Dewi pada nenek Nani.
"Tentu ibu senang ...., ibu senang keluarga kita utuh dan bahagia ....!"
***
Malam ini Nadin mengumpulkan keberaniannya untuk kembali ke kamarnya.
"Ok Nadin lo pasti bisa ...., lo bukan anak lemah ...., apa yang menjadi hak lo akan tetap menjadi hak lo ....!" ucap Nadin menyemangati dirinya sendiri sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Nadin pun segera membuka pintu kamar dan masuk, ia melihat Davina sedang asik bermain ponselnya. Nadin pun segera menuju ke tempat tidur.
"Nadin ...., kenapa kamu tidur di sini? bukankah sudah aku bilang aku nggak bisa tidur kalau berbagi ....!" ucap Davina kaget saat melihat Nadin berada di sampingnya dan sedang membenahi selimutnya.
"Itu urusan kak Davina dong ...., Nadin yang lebih dulu di sini ...., jadi kalau kak davina nggak biasa berbagi tempat tidur, bukankah sebaiknya kakak ya yang menggelar kasur lipat itu dan tidur di bawah ....!"
Mendengar ucapan Nadin, Davina begitu kesal. Ia menajamkan matanya hinggal benar-benar bulat sempurna.
Beraninya dia berkata seperti itu padaku .....,
"Kenapa? Kakak nggak suka? Itu urusan kakak, aku rasa itu memang sudah menjadi penyakit kak Davina deh ...., membenci orang yang bahagia ....!" ucap Nadin sambil menajamkan pada kalimat terakhirnya dan meninggalkan Davina dalam kemarangannya, ia membenahi posisi tidurnya, dan tidur membelakangi Davina yang menahan kesal.Nadin tersenyum sebelum memejamkan matanya.
Mudah-mudahan kata-kata ku bisa kakak jadikan pelajar ...., aku baik tapi aku tidak lemah ....
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘**