MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 12 (Kasih sayang ayah)



Setelah saling bertukar kabar mereka pun melanjutkan dengan makan siang. Divta juga masih di rumah ayah Roy.


"Kalian bisa berangkat bersamaan ke rumah nyonya Ratih!" ucap Ayah Roy memberi saran setelah tahu jika mereka akan menghadiri acara makan malam.


"Kami akan berangkat sendiri!" Rendi segera menanggapi ucapan ayah mertuanya itu, jelas dia sangat keberatan berada dalam satu mobil dengan Divta.


"Memang siapa juga yang mau barengan sama kamu, sama Nadin sih iya!" jawab Divta dengan entengnya, ia juga sangat jengkel dengan pria dingin itu.


"Lebih baik mencari istri dari pada mengagumi istri orang lain!"


"Iiissssttt ......, dasar posesif!" Divta sudah begitu paham dengan pria dingin di depannya itu. Ia akan berusaha keras membuat yang sudah menjadi miliknya tetap menjadi miliknya.


"Kalian ini ....., sudah sama-sama dewasa tapi kelakuannya kayak anak-anak saja!" gumam Ayah Roy menanggapi kelakuan dua pria dewasa yang selalu saja berdebat setiap kali bertemu, tapi perdebatan mereka tidak pernah sampai membuat mereka benar-benar bertengkar.


"Iya ih ....., mas Rendi sama pak Divta ini ya! kayak anak kecil saja!"


Mendapat keluhan dari ayah Roy dan Nadin membuat mereka seketika diam dan melanjutkan makannya tapi masih dengan tatapan penuh persaingan.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, ayah Roy punya cara untuk menyatukan mereka berdua, mereka benar-benar seperti tikus dan kucing.


"Ikut ayah!"


Tanpa menjawab sepatah kata pun dua pria dewasa itu mengikuti ayah Roy. Ayah Roy mengajak meeka ke dalam tokonya.


"Ujang ...., kalian bisa istirahat lebih cepat hari ini!"


"Tapi kenapa pak?"


"Dua putraku ini akan menggantikan kalian hari ini, jadi kalian boleh istirahat sampai sore, kembali lagi besok pagi!"


"Baiklah pak, terimakasih!"


Mang ujang dan temannya benar-benar meninggalkan toko lebih awal hari ini.


"Semua sudah pulang, jadi hari ini ayah punya tugas untuk kalian!"


"Kami?"


"Kami?"


Tanya mereka berdua bersamaan, sebenarnya tidak pa pa jika ayah Roy meminta bantuan pada mereka tapi jika harus bekerja sama rasanya sangat sulit.


"Ya ..... , jika di perusahaan saja kalian bisa bekerja sama untuk memajukan finityGroup, berarti sama, disini juga kalian bisa bekerja sama untuk memajukan toko ayah ini, lakukan sekarang juga! Hari ini ada beberapa pengiriman barang, jadi ayah yang akan menulis daftarnya dan kalian yang harus mengantarkan barang-barang itu, menaikan ke mobil bak dan menurunkan saat sampai di tempat tujuan, bisakan?"


Rendi dan Divta hanya saling menatap, ayah Roy sudah bersiap untuk melist daftar barang dan tujuan barang.


"Sekarang ganti pakaian kalian agar sedikit manusiawi!"


"Hah?"


"Hah?"


"Ya ...., kaos ini lebih pantas untuk kalian!" Ayah Roy menyerahkan dua buah kaos yang bertuliskan toko Roy Gelimang, nama toko ayah Toy besar dengan detail barang-barang yang di jual di toko.


Mereka menaikan beberapa sak semen, paku, besi dan beberapa cat. Mau tak mau mereka harus bekerja sama, Rendi yang di atas untuk menerima barang itu sedangkan Divta yang di bawah untuk membawanya ke atas.


Setelah selesai mereka segera berangkat, dengan Rendi yang mengendarai mobilnya dan Divta sibuk mencari alamat seperti yang ada di kertas itu.


"Apa kau tahu tempat ini? Kenapa alamatnya seperti ini? Lebih mudah mencari letak monas atau bundaran HI!" tanya Divta yang memang tidak begitu memahami tata letak alamat rumah di indonesia.


"Anak SD juga tahu tempat itu, belajar jadi orang indonesia sesungguhnya!" jawab Rendi dengan entengnya.


"Isttttt ....., kau pikir otak jeniusmu bisa dengan mudah menemukan alamat yang begitu aneh ini!"


Mereka sebenarnya sama-sama kesulitan untuk menemukan alamat yang terlihat begitu sama antara satu dengan yang lainnya, memang rumah di gang-gang sempit lebih rumit dari pada perumahan elit.


Akhirnya mereka sampai juga di alamat pertama, ternyata barangnya sudah sangat di tunggu.


"Kenapa kalian bisa lama sekali, apa kalian karyawan baru pak Roy?"


"Maafkan kami pak!"


Mereka hanya bisa meminta maaf karena keterlambatan mereka, untuk mencari satu alamat mereka harus berputar-putar di tempat yang sama beberapa kali.


Dan hal itu berlanjut untuk hingga alamat yang terakhir, mereka membutuhkan waktu tiga jam untuk tiga tujuan saja padahal jika di lakukan oleh Ujang hanya butuh waktu satu jam saja hingga kembali ke toko.


"Kenapa kalian terlambat lama sekali?" tanya ayah Roy yang sudah menunggu mereka di depan toko dengan toko yang sudah tertutup.


"Maaf ayah, tapi_!" ucap Divta bingung untuk menjelaskan pada ayah Roy.


"Itulah kenapa ayah menyuruh kalian, pekerjaan akan menjadi sangat lama jika kalian terus saja berdebat dan tidak mau mengalah satu sama lain, berhenti bersikap kekanak-kanakan karena itu akan merugikan kalian sendiri!"


"Maafkan kami ayah!" Rendi sudah menundukkan kepalanya meminta maaf, ia menyadari kesalahannya tapi bukan berarti bisa bekerja sama banyak hal dengan pria yang pernah menyukai istrinya itu.


"Ya sudah, sudah sore kalian bersiap-siap lah. Lain waktu kita bisa melakukan hal ini lagi!"


"Ayah!"


"Ayah!"


Jawab mereka berdua dengan wajah frustasi. Mereka benar-benar hampir menyerah karena harus di marahi banyak orang gara-gara keterlambatan mereka. Mencari alamat tanpa bantuan pasukannya sungguh begitu sulit.


"Ayah hanya bercanda!" ayah Roy merangkul mereka berdua dan mengajak mereka masuk. Rasanya begitu senang, ia seperti memiliki anak laki-laki sendiri. Walaupun ia tidak di takdirkan memiliki anak laki-laki tapi kehadiran mereka menjadi penawar kerinduannya pada anak laki-laki.


Beginikah rasanya memiliki anak laki-laki ......, ayah doakan yang terbaik untuk kalian ....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘