
Setelah kejadian itu, Nadin sudah kembali bisa tersenyum dengan Rendi. Rendi kembali mengantar jemput Nadin saat berangkat dan pulang dari kantor walaupun harus kucing-kucingan dengan Divta.
"Kenapa sih kamu selalu menghindari ku?" tanya Divta yang sudah masuk ke dalam ruangan Nadin, membuat teman-teman Nadin begitu heran, kemarin Rendi dan sekarang Divta yang mencarinya.
"Pak pelankan suaramu!" ucap Nadin sedikit berbisik memastikan teman-teman satu ruangannya tidak curiga.
"Baiklah ....., kalau begitu ikut aku!" ucap Divta sambil menarik tangan Nadin keluar dari ruangannya. Mereka menuju ke lorong sepi.
"Sudah lepaskan pak!" ucap Nadin sambil berusaha menarik tangannya.
"Baiklah ...., sekarang katakan padaku apa alasanmu menghindari ku?" tanya Divta.
"Ya ..., karena aku nggak suka dekat-dekat dengan pak Divta!" jawab Nadin tanpa menutupi perasaannya.
"Cehhh ....., kau ini, jujur sekali!"
"Aku memang orang yang jujur pak!" ucap Nadin dengan polosnya, membuat siapapun yang melihatnya menjadi gemas padanya.
Divta segera mendekatkan dirinya pada Nadin , ingin sekali mencubit pipinya. Membuat Nadin memundurkan kepalanya perlahan.
"Pak apa yang mau pak Divta lakukan?" tanya Nadin dengan gugup.
"Aku cuma ingin ini!" ucap Divta sambil mencubit kedua pipi Nadin dengan gemas.
"Augh ....., pak sakit!" keluh Nadin sambil memegangi kedua pipinya.
"Nadin ...!"
Suara seseorang membuat mereka segera menoleh ke sumber suara.
"Kak Davina!"
"Davina!"
Ucap Nadin dan Divta berasamaan,
"Apa yang kalian lakukan berdua? Kalian pacaran ya?" tanya Davina dengan senyum bahagia nya.
Nadin pun segera mengibaskan tangannya ke arah Davina. "Nggak kak ..., tadi pak Divta hanya kebetulan bertemu denganku!"
"Oh ..., Davina, kenapa kesini?" tanya Divta.
"Sebenarnya aku nggak punya teman buat makan siang, jadi rencananya mau ngajak Nadin buat makan siang bareng!" ucap Davina dengan senyum manisnya.
"Aku?" tanya Nadin tak percaya.
Apa aku tidak salah dengar, sejak kapan kak Davina peduli denganku, baru sekarang selama aku magang kak Davina mengajak makan siang
"Iya lah ....., pak Divta juga boleh ikut!" ucap Davina lagi.
"Baiklah kita makan siang bersama ...!" ucap Divta dengan senang. "Bagaimana kalau kita makan siang di restauran baru yang tak jauh dari kantor ini, aku yang traktir!"
"Benarkah ...., ah pak Divta baik banget sih!" ucap Davina dengan senyumnya.
Sedangkan Nadin malah terlihat bingung , seharusnya hari ini ia janji makan siang dengan Rendi di tempat itu juga.
"Ayo ....!" ucap Divta saat sudah mulai berjalan dan melihat Nadin tak beranjak dari tempatnya.
"Bisakah aku nggak ikut?" tanya Nadin.
"Kenapa?" tanya Divta.
"Aku ada janji dengan ...!"
"Lupakan janjimu ...., sekarang ikutlah denganku!" ucap Divta lalu menarik tangan Nadin.
Tak berapa lama mereka pun sampai di restauran yang di maksud. Divta memesan beberapa makanan untuk mereka.
Nadin sedari tadi tidak fokus pada makanannya, ia hanya bisa menatap ponselnya.
***
Rendi yang sudah selesai dengan pekerjaannya segera memanggil Vina sekertaris nya.
"Ada apa pak?" tanya Vina yang sudah masuk ke ruangannya.
"Tolong ke ruangan Nadin, katakan padanya suruh menungguku di restauran depan!"
"Baik pak!"
Vina pun berlalu meninggalkan ruangan atasannya dan menuju ke ruangan Nadin. Tapi saat sampai di sana ia tidak menemukan Nadin. Vina pun segera kembali ke ruangan Rendi.
"Kau sudah kembali?" tanya Rendi yang sudah bersiap-siap.
"Maaf pak nona Nadin tidak berada di ruangannya, kata teman-temannya. Nona Nadin keluar dengan pak Divta."
"Divta?" tanya Rendi dengan tangan yang mengepal.
Ah gawat bakal ada perang dunia nih ....
"Istirahatlah makan siang!"
"Baik pak!"
Setelah Vina meninggalkannya, Rendi segera mencari-cari ponselnya. Dengan cepat ia mengirimkan pesan pada Nadin.
//Katakan dimana kau sekarang?//
Ia segera mengamati pesan yang di kirimnya, sudah berubah warna biru, itu tandanya pesannya sudah di baca.
Tak perlu satu menit, pesannya di balas.
//aku ada di restauran yang pak Rendi katakan tadi, jangan marah ya 😊😊 (senyumku untukmu seorang)//
"Jadi dia memilih makan siang dengan Divta!" gumam Rendi dengan tangan yang sudah mengepal, ia segera menyakukan ponselnya dan menyambar jasnya. Dengan langkah cepat menyusuri lorong dan menuju ke pintu lift.
Di tempat Nadin, Nadin masih saja fokus dengan ponselnya, tampak beberapa kali Rendi mengirim pesan padanya, dan Nadin pun segera membalasnya.
"Apa yang kau lakukan? makananmu masih banyak tuh ...!" tanya Divta sambil menunjuk makanan Nadin.
"Biarlah pak, dia kayaknya sedang sibuk!" ucap Davina malas.
"Aku makan kok!" ucap Nadin sambil melahap makanannya. Tapi di ujung suapannya yang kesekian kali, tiba-tiba tanyanya segera di tarik oleh seseorang hingga membuat makanan Nadin berantakan.
Semua yang berada di sana terkejut dengan apa yang terjadi, begitu pun dengan Nadin.
Nadin melihat siapa yang melakukannya.
"Pak Rendi, apa yang pak Rendi lakukan?" tanya Nadin sambil memegangi tangannya yang sedikit sakit karena Rendi menariknya dengan keras.
"Rend ...., kamu apa apaan sih ?" tanya Divta yang tak kalah terkejut.
Rendi menatap tajam pada Nadin, ia tampak begitu marah bercampur khawatir.
"Lihat makananmu!" perintah Rendi pada Nadin.
"Ada apa dengan makananku?" tanya Nadin bingung, tapi saat ia melihat sisa di piringnya, ada beberapa potong cumi, ia tidak sadar jika ia sedang memakan cumi, ia kira sedari tadi sedang memakan jamur.
"Cumi!" ucap Nadin terkejut. Davina dan Divta pun hanya bisa saling pandang tak mengerti.
"Ada apa dengan cumi?" tanya Davina dan Divta.
"Aku alergi seafood." ucap Nadin lirih.
Nadin hanya bisa diam di tempatnya, ia bingung harus melakukan apa, sebentar lagi alerginya pasti akan bereaksi.
Dan benar saja, dalam hitungan menit, ia merasakan susah bernafas karena tenggorokannya membengkak.
Rendi yang menyadari segera mengangkat tubuh Nadin, ia berlari membawa tubuh Nadin keluar dari restauran, kini ia tidak peduli lagi semua orang memperhatikannya, banyak sekali karyawan finityGroup yang sedang makan siang.
"Bertahanlah ...!" ucap Rendi saat Nadin sudah mulai kehilangan kesadarannya.
"Pak ...., aku nggak bisa nafas!" ucap Nadin terbata-bata.
Rendi pun segera membawa Nadin ke rumah sakit, bukan klinik perusahaan lagi.
Sepanjang jalan Rendi hanya terus memegangi tangan Nadin, dan sibuk marah-marah dengan sopir.
"Lebih cepat lagi!" teriak Rendi.
"Baik pak!"
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit, Rendi sudah menghubungi dr. Frans, sehingga kini dr. Frans sudah menyambut mereka di depan rumah sakit dengan para dokter ahli.
"Apa yang terjadi?" tanya Dr. Frans saat Nadin sudah di larikan ke UGD.
"Alerginya kambuh!" ucap Rendi panik.
"Tunggulah di luar, biar kami menanganinya!" ucap dr. Frans.
"Aku harus menemaninya!" teriak Rendi, wajah Rendi begitu berantakan saat ini, ia tidak peduli, ia hanya terus membayangkan hal terburuk yang akan terjadi pada Nadin. Ia tahu jika alergi Nadin adalah alergi yang parah.
"Dokter ...., tekanan darahnya menurun!" ucap suster dari dalam, membuat Rendi semakin panik, ia berusaha masuk tapi terus di tahan oleh dr. Frans.
"Jangan mempersulitku, tenanglah. Biarkanku melakukan pekerjaanku. Lo percaya kan!" ucap Dr. Frans dan Rendi pun menyerah, ia mengangguk dan membiarkan dr. Frans masuk.
Rendi hanya bisa menunggu di depan ruangan dengan wajah frustasinya. ia tidak tahu harus berbuat apa.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘**