MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Ada apa dengan kakimu



 Aku akan menjadi alasan kenapa kamu tersenyum, menemanimu ketika tak ada yang mau bersamamu, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kau jatuhkan karena aku ada untuk menjadi bagian dari sejarah hidupmu.


*****


   Hari ini Nadin kedatangan tamu di


kafe, ya tamu itu yang biasanya ingin menemui Agra, kini datang untuk menemui


Nadin.


“Aku mau pinjam adik ipar kamu bolehkan?” tanya pria berjas itu.


“Nadin?”


“Iya ..., emang siapa lagi?”


“Buat apa?”


“Aku pengen mengajaknya jalan-jalan, sekalian mengenang masa kecil.


Lagian kalau aku pinjam istri kamu jelas tidak boleh kan.”


“Jangan harap ...”


“Makanya aku pinjam adik ipar kamu aja.”


“Baiklah ..., tapi awas kalau macam-macam!” ancam Agra.


“Nggak bakalan ...”


Akhirnya Agra mengijinkan Nadin untuk pergi bersama Jerry, ya pria


tadi adalah Jerry.


“Kita akan kemana kak?” tanya Nadin saat akan memasuki mobil Jerry.


“Terserah kamu, kamu mau kemana aja, kakak ngikut.”


“Aaah yang benar ...!”


“Benar ...”


“Baiklah ..., pertama kita akan ke taman hiburan, bagaimana? Kita


naik semua permainan di sana.”


“Siapa takut, ayo masuk ...!”


Mereka pun memasuki mobil. Mereka menuju ke taman hiburan.


Setibanya di taman hiburan, Jerry hanya mengekori gadis yang sedari tadi tak


pernah melepaskan senyumnya, gadis itu kadang berjalan dengan cepat kadang


sambil berlari, melompat ke sana kemari, seperti tak punya rasa capek. Gadis


itu menikmati setiap wahana permainan dan pertunjukan secara bergantian. Ia


juga mencoba berbagai makanan di sana.


Menjelang petang taman hiburan itu semakin di padati oleh


pengunjung hingga membuat Jerry lebih ketat mengawasi pergrakan Nadin, sungguh


gadis itu seperti kelinci kecil yang tak bisa diam, membuat Jerry terus


menggandeng tangan Nadin.


“Kak ..., kenapa menggandengku terus?” keluh Nadin karena tidak


bisa bergerak bebas lagi.


“Diam saja, menurut ..., nanti kau bisa hilang ...” belum selesai


Jerry bicara, tangan Nadin terlepas dari genggamannya, karena segerombolan


pemuda yang menerobos mereka secara brutal, hingga mereka harus terpisah


beberapa jarak.


“Nadin ..., Nad ..., Nadin ...” Jerry terus memanggil Nadin, tapi


percuma karena taman hiburan itu terlalu ramai, suaranya tak mampu di dengar


oleh Nadin. Suara musik mengalun menyamarkan suaranya.


Nadin pun sama hal nya, ia juga mencari-cari keberadaan Jerry. Ia


terus berjalan memecah kerumunan, tapi begitu kesulitan dengan tubuh kecilnya.


Nadin terjatuh saat tanpa sengaja seseorang menabrak tubuhnya di


tengah kerumunan, nadin terjatuh di tanah.


Bruggg


“Aaugh ....” Nadin mengaduh.


“Maaf mbak, saya nggak sengaja ...” Tapi orang itu tak ada niat


membantu Nadin berdiri, ia meninggalkan Nadin begitu saja.


“Hei ..., kau ....., augh ...” Nadin hampir saja mengejar orang


itu, tapi saat mencoba berdiri, ia merasakan kakinya sakit, kakinya sepertinya


terkilir.


“Aaughh ..., sakiiiit ...” keluh Nadin sambil memegangi pergelangan


kakinya yang terkilir.


“Mau aku bantu ...?”


Tiba-tiba suara seseorang mengalihkan perhatian Nadin, Nadin


mendongakkan kepalanya, mencoba menjangkau wajah pria yang sedang berdiri di


atasnya.


“Kau siapa?” tanya Nadin.


“Mau aku bantu atau tidak?” tanya pria itu.


Jika mau bantu seharusnya langsung bantu aja, nggak usah banyak


tanya ..., Batin Nadin.


Seakan tahu apa yang di pikirkan oleh Nadin, pria itu pun langsung


meraih tangan nadin,


“Auhg ...augh ..., sakit ...!” keluh Nadin saat mencoba bangun


karena tangannya di tarik.


Dia tidak tahu apa? Ini sakit, jangankan berdiri..., bergerak saja


sakit ...., Batin Nadin.


“Kau bisa bangun tidak?” tanya pria itu.


“Sakit tahu ...!” ucap Nadin. Dan tanpa aba-aba, pria itu pun


segera mengangkat tubuh Nadin, membuat Nadin berteriak kesal.


“Hei ..., kau jangan kurang ajar ya, kita tidak saling kenal, jadi


aku perintahkan ..., turunkan aku sekarang ...!”


Tapi pria itu tetap saja tak menggubris ucapan Nadin, ia membopong


tubuh nadin dan mendudukkannya di salah satu kursi besi.


“Kau benar-benar ya ...., kau membuatku marah ...” ucap Nadin saat


tubuhnya sudah terduduk di kursi besi.


Pria itu pun segera berjongkok di hadapan Nadin, ia meraih kaki


Nadin dan melepaskan sepatu yang di kenakan oleh Nadin.


“Hei ..., apa yang kau lakukan?” teriak Nadin. Tapi tetap saja


teriakannya tak berpengaruh pada pria itu. Pria itu seperti sedang melakukan


terapi pada kaki Nadin yang sedangterkilir. Nadin harus menahan sakit untuk


beberapa saat, tapi setelah itu kakinya sedikit lebih baik,


“Bagaimana sekarang?” tanya pria itu.


“Apanya yang bagaimana?” tanya Nadin.


“Bagaimana kakimu?’ tanya pria itu sambil berdiri dari posisinya


dan duduk di samping Nadin.


“Ini lebih baik. Hei ..., jangan dekat-dekat ...!” Nadin memberi


peringatan. Ia mengangkat tangannya. Menahan supaya pria itu tidak mendekat.


“Kenapa setiap kali bertemu denganmu, selalu kakimu ini yang


terluka ..., lain kali jaga kakimu baik-baik ...”


Mendengar ucapan pria itu, seketika Nadin memperhatikan dengan


seksama wajah pria di sampingnya itu. Ya wajah itu tak asing, ia pernah


melihatnya.


“Kau ....” ucap Nadin sambil mengangkat telunjuknya. “ Bukankah kau


pria itu? Pria yang di temui pak Rendi.”


“Jadi kau masih mengingatku, baguslah ....” ucap pria itu, ya dia


adalah Divta.


“Siapa namamu?” tanya Nadin.


“Bukankah itu proses yang salah? Seharusnya pria yang menanyakan


nama terlebih dulu saat berkenalan.”


Tapi belum sempat Nadin menanggapi ucapan Divta, sebuah panggilan


mengalihkan perhatian mereka.


“Nadin ....”


“Kak jerry ....”


Ya setelah pencarian panjangnya, akhirnya Jerry bisa menemukannya


juga. Gadis kecilnya itu sedang duduk santai bersama seorang pria.


“Aku mencarimu ke seluruh taman hiburan ini dan kau malah duduk


santai di sini, bersama ...., siapa dia?.”


“Jangan perdulikan dia kak, ayo kita pulang.” Ucap Nadin sambil


berdiri dari duduknya.


Nadin pun berjalan sedikit tertatih.


“Kakimu kenapa?” tanya Jerry.


“Kakiku terkilir kak, ayo papah aku ...”


“Baiklah ..., ayo pulang ...” Jerry pun memapah Nadin memecah


keramaian taman hiburan, meninggalkan Divta yang masih duduk tak percaya.


“Dasar cewek aneh ..., bisa-bisanya dia pergi begitu saja, tampa


mengucapkan terimakasih .... NADIN.”


Senyum tipis terpancar dari bibir Divta. Ia merasa penasaran dengan


gadis yang menurutinya aneh itu.


**Spesial Visual Jerry


Karena Jerry di cerita Nadin dan Rendi ini akan sering muncul.


jadi aku kasih spesial visualnya ya**!!!!



****


**Wanita yang benar-benar mencintaimu mungkin akan marah karena berbagai alasan, tetapi dia tidak akan pernah meninggalkanmu karena satu bahkan ribuan alasan."


****


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


KASIH Vote juga ya


Terimakasih


Happy reading 😘😘😘😘😘**