MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Beruntung sekali dia



Setelah menunggu satu jam, akhirnya Rendi keluar dari lift bersama


seseorang yang sangat di kenalnya.


“pak Dokter ...” ucap Nadin.


“hai Nadin ..., hai Davina ....” sapa dr. Frans.


“hai dok ....” jawab Davina dan Nadin bersamaan.


“kita makan siang bareng ya ...” ucap dr. Frans.


“Mau banget ...,aku sudah sangat lapar ..., kenapa tidak ada yang


menawariku dari tadi?” ucap Nadin sumringah sambil menatap Rendi sinis.


“Ya udah ayo ...” ajak dr. Frans. Dr. Frans pun segera menggandeng


tangan Nadin, ia berjalan mendahului Rendi dan Davina.


“Tenang saja adek kecil ..., ikuti saja trik bang Frans ...” ucap


dr. Frans sambil mengerlingkan matanya pada Nadin.


“Maksud dokter ...?” tanya Nadin yang tak paham dengan ucapan dr.


Frans.


“Kita buat permainan, buat si kulkas itu kelimpungan ...” bisik dr.


Frans, sehingga jika di lihat dari belakang tampak seperti dr. Frans sedang


mencium pipi Nadin.


“Ok ..., aku setuju.” Ucap Nadin dengan senyum menyeringai, ia


mengangkat kedua jempolnya.


Mereka pun berjalan menuju ke parkiran. Nadin dan dr. Frans sekarang berjalan mendahului Rendi dan Davina.


Sesampai di tempat parkir, Dr. Frans segera menoleh pada Rendi, Rendi yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Nadin memelankan langkahnya, ia mencoba mencari jawaban atas apa yang terjadi.


"Bro ....., pakek mobil lo aja ya ....?" tanya dr. Frans.


"Terserah ...." jawab Rendi dingin.


"Baiklah ....., mana mobil lo ....?"


Tanpa menjawab pertanyaan dr. Frans, Rendi segera berjalan menuju mobilnya, membuat dr. Frans geleng-geleng kepala.


Mu tak mau Nadin dan Dr. Frans mengikutinya. Sedangkan Davina, jangan di tanya ...., dia terus lengket pada Rendi.


Rendi masuk lebih dulu ke dalam mobil, Davina menatap dr. Frans.


"Dr. maaf ..., aku belum terbiasa naik mobil, aku belum terbiasa duduk di belakang saat naik mobil." ucap Davina pada dr. Frans.


"Iya Davina ...., aku akan tahu di kedokteran pun ada penjelasannya. Mabuk perjalanan terjadi akibat ketidakmampuan otak menerima dengan baik campuran sinyal dari beberapa anggota tubuh. Dalam suatu perjalanan, mata dapat melihat ke arah yang berbeda dengan yang dirasakan otot dan sendi. Ditambah lagi, telinga bagian dalam yang berisi cairan untuk mengatur keseimbangan tubuh, akan merasakan adanya goncangan ketika kendaraan sedang melaju. Ketiga sinyal ini akan dikirim ke otak, namun otak tidak mampu memproses dengan baik sinyal-sinyal yang berbeda tersebut. Hal ini membuat kerja otak menjadi kacau dan timbul keluhan mabuk perjalanan.


Jadi aku sarankan Davina bisa tidur atau sekedar berbincang ringan saja, tapi sayangnya yang di sebelahmu itu bukan orang yang mudah bicara."


Dr. Frans berbicara panjang lebar menahan Davina agar tidak bisa masuk ke dalam mobil, kemudian ia mengedipkan matanya pada Nadin, meminta Nadin agar segera masuk ke dalam mobil.


Nadin pun dengan cepat masuk dan duduk di sebelah Rendi.


"Jadi Davina, berdasarkan penjelasanku tadi, tak ada pengaruhnya posisi duduk di mana, yang penting ...., yang Davina butuhkan adalah teman ngobrol seperti aku ini ...., yang banyak bicara ...."


Dr. Frans pun menggandenga tangan Davina.


"Bisa kita masuk sekarang ....?!"


Davina pun akhirnya pasrah, ia menuruti permontaan dr. Frans, ia lupa jika sedang berhadapan dengan dokter.


***


Nadin yang sudah duduk di samping Rendi tersenyum bahagia.


"Jangan senyum terus .....!" ucap Rendi dingin, ia langsung menghidupkan mesin mobilnya setelah tahu jika penghuni belakang sudah masuk.


Ternyata ucapan Rendi tak begitu berpengaruh pada Nadin, Nadin tetaplah Nadin yang ceria. Tapi hati Rendi juga menghangat.


Penghuni belakang, ternyata dr. Frans membuktikan ucapannya, sepanjang perjalanan ia tak hentinya bicara, terus mengajak Davina bicara. Jika Davina diam maka ia terus bertanya yang mengharuskan Davina untuk menjawabnya.


Setelah perjalanan lima belas menit akhirnya mereka sampai juga di sebuah restaurant.


"Waaah ....., di sini sejuk sekali pak ...." Nadin begitu mengagumi restauran itu, iya di sana sejuk karena banyak pepohonan di sekitarnya.


"Jangan norak ....!" ucap Rendi, ia berjalan begitu saja tanpaenghiraukan Nadin. Sedangkan dr. Frans sedang sibuk menahan Davina agar tidak dekat-dekat dengan Rendi. Ia memberi kesempatan pada Nadin agar bisa dekat dengan Rendi.


Mereka menuju ke salah satu bangku yang terdiri dari empat kursi.


Setelah itu, pelayan segera menghampiri mereka dan membawakan buku menu.


Menu makanan yang disediakan di sini didominasi oleh menu olahan seafood, seperti Cumi Goreng, Ikan Malas Steam, Gurame Saus Belacan, Tom Yam, Kerapu Steam, dan lain sebagainya.


"Pak ....., ini seafood semua ...., aku alergi seafood." bisik Nadin pada Rendi.


" Mbakayam goreng dan i fu Mie nya satu, lainya, segala jenis saefood." ucap Rendi pada pelayan tanpa memperhatikan ucapan Nadin.


Ya untung saja di restoran itu juga menyediakan menu lainnya selain seafood, di sana juga ada Ayam Goreng, Ayam Pandan, Nasi Goreng, Nasi Goreng Nanas, I Fu Mie, dan sebagainya.


gayanya nggak mau liat, tapi aku suka ini pak Rendi .....


Nadin senang, walaupun tanpa kata, tapi Rendi mengerti. Setiadaknya ia sudah memperhatikannya walau dalam diam.


Tak butuh waktu lama semua pesanan datang, Nadin tak berani memakan seafood, ia alergi pada makanan itu.


Davina hanya tures menatap kesal, ia tidak suka dengan kelakuan Dr. Frans padanya.


****


Divta yang baru menyelesaikan meetingnya, matanya terpaku pada sebuah meja. Di sana ada wajah-wajah yang ia kenal.



"Pak Divta ...., kami permisi dulu, senang berbisnis dengan anda." ucap seseorang yang berada di depannya.


"Iya pak ...., semoga pertemuan kita ini akan segera berlanjut, selamat siang ....!" ucap Divta sambil menyalami orang itu.


"Selamat siang ...."


Orang itu pun segera meninggalkan Divta. Divta kembali menatap meja itu, meja yang berjarak dua meter itu.


Ia pun tersenyum saat matanya menatap seorang gadis yang beberapa kali membuatnya salah paham. Divta berjalan mendekati meja itu.


"Waaah ....., ada yang sedang makan siang nih ...., boleh gabung kan?" tanya Divta.


Semua menoleh padanya, tampak Nadin begitu terkejut.


Kenapa dia ada di sini?


"Bang Divta ...., sedang apa bang Divta di sini?" tanya dr. Frans yang langsung menanggapi.


Divta pun langsung menarik sebuah kursi kosong yang ada di meja sebelah, ia duduk tepat di sebelah Nadin.


"Aku baru saja selesai meeting ....." ucap Divta, tapi matanya menatap Nadin.


"Hai ...., cantik." Sapa Divta pada Nadin, Nadin pun hanya bisa tersenyum canggung. Ia berbalik menatap Rendi, ternyata pria itu terlihat biasa saja, tidak ada perubahan ekspresi sama sekali, ekspresi yang ingin Nadin lihat dari Rendi.


"Baiklah ...., aku akan memesan makanan lagi." ucap Rendi.


"Tidak perlu ...., aku sudah makan." jawab Divta melarang. "Cantik ....., mau aku suapi ....?!"


"Nggak usah ...., aku bisa makan sendiri ....,nih ... lihat ..." ucap Nafin sambil menunjukkan dia melahap makanannya sendiri.


"Baiklah ...., senang sekali melihat cantik makan, manis ....." ucap Divta sambil menatap Nadin.



Beruntung sekali kau Nadin ...., semuanya menyanyangimu, semuanya mencintaimu ...., sedangkan aku ...., ini tidak adil ...., dr. Frans , Rendi dan pria itu semua sepertinya begitu menyayangimu ...., aku seperti tidak ada di sini .....


Davina hanya bisa terus menatap Nadin dengan kesal, ia membolak balikkan makanannya tanpa berkeinginan untuk memakannya. Ia iri melihat Nafin yang di perhatikan oleh tiga pria sekaligus.


Rendi ....., bagaimana dengan Rendi ...., ia bagai balok es, bukannya meleleh tapi ia malah mengeraskan hatinya. Tangannya mencekeram garpu yang ada di tangannya, ia tidak suka melihat Nadin di perhatikan orang lain, tapi ia juga tidak tahu cara mengatakannya.


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘