
Hari-hari Rendi semakin di buat sulit saja dengan kelakuannya sendiri, si balok es itu merasa selalu kurang dalam menjadi ayah sekaligus suami. Ia menjadi sangat protektif pada Nadin.
"Mas Rendi ngapain jam segini masih di rumah? Nggak kerja?" tanya Nadin yang kebingungan saat keluar dari kamar mandi melihat suaminya masih di rumah, masih di dalam kamar dengan baju rumahnya, bukan penampilan kecenya dengan kemeja dan jas.
Rendi bukannya menjawab pertanyaan Nadin, ia malah berlari menghampiri istrinya dan memapahnya hingga ke tempat tidurnya kembali, kehamilan keduanya kali ini Nadin benar-benar mengalami Kebanyakan ibu hamil mengalami morning sickness pada trimester pertama kehamilan.
"Diam dan duduk di sini! Jangan melakukan apapun!" ucap Rendi sambil meluruskan kaki Nadin agar tidak turun lagi.
"Mas Rendi ...., tapi Elan kasihan, belum ada yang ngurus!"
Tapi wajah dingin suaminya seketika membuat Nadin terdiam. Mau bagaimana lagi kalau suaminya sudah mengeluarkan wajah itu, tandanya ucapannya tidak bisa di ganggu gugat lagi.
"Biar bibi yang akan membantu semua keperluan kamu, sekarang katakan! Kamu butuh apa? Susu , buah dan Vitamin sudah siap jadi segera di makan!" ucap Rendi sambil menunjuk ke arah meja yang sudah penuh dengan benda-benda yang baru saja di sebutkan olehnya.
"Massss ......, aku masih mual, jangan suruh minum itu!" ucap Nadin sambil enggan menatap benda-benda di atas meja itu, melihatnya saja sudah berhasil membuat perutnya kembali penuh dan ingin segera di keluarkan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Rendi khawatir, ia kembali duduk di samping Nadin dan mengusap pipi Nadin dengan lembut, kini wajah dinginnya sudah berubah menjadi begitu lembut.
"Mas Rendi kerja aja ya! tadi katanya Aisyah akan ke sini sama Dini!"
"Nggak ...., biar saja mereka ke sini! Jangan menyuruhku meninggalkanmu!"
"Ya udah kalau nggak mau, gimana kalau sekarang mas Rendi ke kamar Elan saja dan memastikan kalau dia sudah terurus dengan baik!"
"Elan saja dah bersama Ajun!" ucap Rendi tanpa beralih dari menatap Nadin.
"Maasss...., apalagi ini Elan sama Ajun, Ajun kan belum punya pengalaman mengurus anak kecil apalagi kini Elan lagi heboh-hebohnya belajar berjalan!"
Rendi menghembuskan nafasnya, ia berada di antara dua dilema, di satu sisi ia tidak mau meninggalkan istrinya sedetikpun tapi di sisi lain ada putranya yang juga sedang membutuhkannya.
Ternyata keputusannya untuk membawa semua pekerjaannya adalah keputusan yang benar tapi juga belum cukup untuk mengatur semuanya. Ternyata lebih mudah mengurus urusan orang lain dari pada keluarganya sendiri, entah kenapa ia begitu kerepotan kali ini, ia ingin semuanya menjadi sangat perfect , tapi malah terkesan semuanya kurang.
"Baiklah sayang ....., berjanjilah jangan turun diri sini, aku akan meminta bibi untuk menemanimu selama aku menemani Elan!"
Astaghfirullah ....., begini banget punya suami yang super perfect ....
Nadin hanya mengangguk, ia tidak mau membantah lagi jika ingin terbebas dari belenggu suaminya.
Rendi segera menuju ke kamar Elan, ia merasa begitu lega ketika melihat Elan sedang asik dengan bermain bersama Ajun. Ajun yang menyadari kedatangan Rendi, ia segera berdiri dan menunduk menyapa Rendi.
"Selamat pagi pak!" sapa Ajun, ia mundur beberapa langkah saat Rendi berjalan mendekat.
Rendi berjongkok di depan putranya, menatap putranya dengan seksama. Elan benar-benar tidak merepotkan, ia begitu penurut dan tidak banyak tingkah, senyumnya mengembang sempurna saat melihat ayahnya berada di depannya.
"Sayang ....., maafkan ayah ya! Ayah tidak terlalu memperhatikanmu, perhatian ayah terfokus pada bunda mu saja, maaf ya!"
Elan berceloteh ringan dan segera berdiri walaupun masih tampak tidak seimbang , dengan perlahan mengangkat kaki sebelahnya hendak meraih tubuh ayahnya dengan cepat Rendi meraih tangan mungil itu, jari-jari lentiknya melingkar sempurna di jari kuat ayahnya, dengan telaten Rendi membantu Elan berjalan.
🌷🌷🌷🌷
Sepanjang hari ini Rendi tidak mengijinkan Nadin melakukan apapun, bahkan Nadin tidak di ijinkan turun dari tempat tidurnya. ia hanya boleh turun ketika ke kamar mandi. Semua pelayan di siapkan begitu rupa untuk menjaga Nadin saat Rendi sedang bekerja.
Sore ini ada yang istimewa, mereka kedatangan tamu istimewa. Agra dan Ara datang untuk memberi selamat pada mereka ats kehamilan kedua Nadin. mereka mengajak serta Sagara dan Sanaya juga.
Sagara dana Sanaya segera menuju ke kamar Elan sedangkan Ara segera menemui adik perempuannya.
"Aku tidak pa pa bi!" tolak Nadin. Tapi perintah Nadin sepertinya tidak berpengaruh, hanya perintah Rendi saja yang berlaku di situ.
"Sudah dek di situ saja, kakak yang ke situ!" ucap Ara, Ara pun mendekat ke arah adiknya, ia segera memeluk adik perempuannya itu.
"Kalian bisa pergi sekarang, biar Nadin aku yang jagain!" ucap Ara, ternyata ucapannya juga menjadi sebuah perintah. Mereka pun segera meninggalkan kamar Nadin membuat Nadin keheranan.
"Wah kak ...., gila aja mereka nurut sama kakak, memang ya pengaruh big bos melekat juga di kakak aku!"
"Makanya ....., belajar sama kakak kamu ini!"
"Ye kakak ini .....!"
"Bagaimana dek keadaanmu?" tanya Ara sambil memperhatikan adiknya.
"Aku baik kak, tapi sepertinya mas Rendi deh kak yang bakal nggak baik-baik saja!"
"Kenapa Rendi emangnya?"
"Dia heboh banget kak, selama tahu kalau aku hamil, ia sama sekali nggak berangkat ke kantor, trus aku nggak bolehin ini, nggak bolehin itu. Sampai-sampai dia nyuruh pelayan buat standby buat jagain aku, bukan cuma satu tapi lima pelayan!" ucap Nadin sambil menunjukkan kelima jarinya.
Hahaha .....
Mendengar kan pernyataan adiknya, Ara malah tertawa begitu kerasnya.
"Ih kakak ....., malak ketawa ya .....!" ucap Nadin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf maaf kakak kelepasan ....., Agra malah lebih parah dek!"
"Kenapa dengan kak Agra?"
"Masak setelah tahu kalau kamu hamil, dia juga minta aku cepet hamil, setiap hari ia ngitungin tanggal mulu, kakak hanya di bolehin makan makanan sehat yang bikin wanita cepet hamil. Dan parahnya lagi, dia minta jatah setiap hari yang alasannya biar cepet hamil!"
Hahaha .....
Kali ini gantian Nadin yang tertawa keras.
"Boleh aku tahu sesuatu kak!" ucap Nadin dengan berbisik di telinga Ara.
"Apa????" tanya Ara penasaran.
"Semenjak tahu aku hamil, mas Rendi sama sekali tidak berani minta jatah tahu .....!" bisik Nadin supaya tidak ada yang mendengarkannya yang lainnya.
Hahaha .....
Ara segera menjauh dari Nadin dan kembali tertawa, mereka menertawakan kepolosan suami-suami mereka. Di luar bisa jadi mereka yang berkuasa dan paling jenius juga di segani, tapi di rumah mereka benar-benar tidak punya pengalaman.
ginih nih kalau duo sultan lagi kumpul
Dikit dulu ya bonschap-nya di sambung lagi besok, besok dan besoknya lagi insyaallah
Happy Reading 😘❤️❤️❤️