
Kini di ruang tamu itu tinggal meraka berdua, Agra dan Rendi. Agra duduk di salah satu sofa dengan sangat nyaman, ia melipat kakinya di atas kakinya yang lain sambil memperhatikan wajah kusut dari sahabatnya.
"Kenapa wajahmu menyedihkan sekali?" tanya Agra sambil memainkan jarinya telunjuknya di yang ia putar-putar di atas meja, suasananya sangat hening karena sedari tadi pria dingin itu tetap diam dengan posisinya. Wajahnya begitu menyedihkan.
"Hemmmm!" jawab Rendi begitu saja, ia masih enggan bercerita.
Agra tergelak, ia hanya menggelengkan kepalanya, tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh sahabatnya.
"Susah ya jadi ayah? ternyata ada juga yang nggak bisa kamu lakukan dengan sangat mudah!" ejek Agra pada sahabatnya itu, sebelumnya ia mengenal pria itu dengan segala kelebihannya, ia tidak pernah memiliki celah dalam menyelesaikan segala masalah.
"Gra ....., gimana caranya merawat istri hamil?" tanya Rendi setelah sekian lama terdiam. Agra segera menoleh ke arahnya memastikan jika benar-benar pria itu mengatakan hal itu.
Agra tersenyum, ia mengerti sekarang apa yang di rasakan sahabatnya itu. itu hal yang sama yang pernah ia rasakan saat Ara hamil dulu, memang sangat sulit saat itu.
"Kenapa bertanya seperti itu? Bukankah dulu kau yang menjaga istriku, kau sampai menyembunyikan kehamilan istriku!" ucap Agra dengan sedikit berdecak, ia jadi teringat saat itu betapa kesalnya ia pada sahabatnya itu saat berita besar itu malah disembunyikan darinya.
"Aku tidak ikut campur, itu hanya bagian dari tugasku, kalau saja aku tahu jika mengetahui kehamilan istri adalah keharusan, aku tidak mungkin melakukan hal itu!" ucap Rendi dengan suara tegasnya tapi menyimpan sejuta penyesalan.
"Dan ternyata tuhan membalas kesalahanmu dengan ketidak tahuan mu tentang kehamilan putra pertamamu, jadi sekarang kita impas!" ucap Agra dengan senyum tipisnya.
"Hehhh ......, Aku sungguh menyesal!" ucap Rendi lagi.
"Bukankah kamu yang jaga Davina selama hamil? seharusnya sudah tahu dong!" tanya Agra lagi, sebenarnya ia masih penasaran dengan bagaimana dan kenapa bisa Rendi yang jagain Davina.
"Bukan aku, itu Ajun!" jawab Rendi singkat padahal Agra berharap jawaban lebih dari pria itu, tapi pupus lah harapannya, Rendi memang sangat irit bicara.
"Hehhhh ......, nyesel deh aku tanya sama kamu, nggak bakalan nemu jawabannya!"
"Aku tahu arah pembicaraanmu!" ucap Rendi singkat, ia kembali menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing, bukan jawaban yang ia dapatkan dari pertanyaannya tapi malah balik di beri pertanyaan.
"Jadi Nadin protes atas kelakuanmu?" tanya Agra lagi setelah sekian lama kembali terdiam. Kali ini ia benar-benar iba melihat sahabatnya itu.
"Iya ...., menurut Nadin aku terlalu protektif, ia terus mengeluh karena aku tidak pergi ke kantor!"
"Memang kadang kita harus membebaskan istri kita sih, apa yang menurut kita benar belum tentu untuk istri kita!" ucap Agra dengan pasti, "Tapi suliiiit!" lanjutnya sedikit bergumam.
"Hehhhh ......!" lagi-lagi Rendi menghembuskan nafas beratnya. "Bagaimana aku bisa konsentrasi bekerja jika berada jauh dari mereka, apalagi Elan ....., dia sangat menggemaskan!" ucap Rendi tetap tanpa ekspresi itu.
"Serius cuma itu masalahnya?" tanya Agra lagi. Kali ini Agra memilih mendekat pada sahabatnya, seingatnya dulu ia punya masalah kompleks saat Ara hamil. Pasti bukan cuma itu yang sedang ia pikirkan.
"Ada!" ucap Rendi singkat tapi sedikit ragu, entah kenapa ini menurutnya sangat rahasia, tapi jika tidak ditanyaan ia bisa mati penasaran.
"Apa?" tanya Agra lagi, kali ini ia semakin mendekat pada sahabatnya, ia sampai.mencondongkan wajahnya hingga menyisakan jarak sepuluh centi saja. Rendi yang terkejut segera memundurkan kepalanya.
"Kamu apa apaan sih Gra ....., geli gue!" keluh Rendi dan mendorong dada Agra agar mundur kembali.
"Mau aku cerita nggak?!" ancam Rendi membuat Agra berdecak dan kembali ke posisinya, ia kembali duduk di sofa depan Rendi, kali ini ia menggeser sofa kecilnya hingga sedikit lebih dekat pada Rendi.
"Ayo ...., sekarang katakan!" desak Agra.
Walaupun masih terlihat ragu, akhirnya Rendi mengatakannya juga. "Apa boleh melakukan itu selama hamil?" tanya Rendi dengan cepat tanpa berani menatap Agra.
Ha ha ha .....
Tawa Agra pecah membuat Rendi berdecak kesal, ia sudah tahu konsekuensinya pasti seperti itu, Rendi kembali dengan wajah murungnya.
"Ok ....., Ok ....., sorry gue khilaf!" ucap Agra menyesal karena telah menertawakan sahabatnya itu. "Seingat ku dulu kayaknya boleh sih ... !" ucap Agra ragu.
"Kenapa tidak yakin?" Rendi sedikit kecewa dengan jawaban dari Agra. Ia butuh kepastian, masalahnya ia sudah puasa cukup lama sudah hampir dua bulan semenjak tahu kalau Nadin hamil.
"Habis sudah sangat lama, sekarang Sanaya dan Sagara sudah usia enam tahun, mana aku ingat!" ucap Agra membela diri.
"Hehhhhh .....!" lagi-lagi Rendi menghembuskan nafas kasarnya, ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa, rasanya percuma ia bicara pada sahabatnya itu, tidak bisa membantu.
"Bagaimana kalau tanya langsung sama pakarnya aja!?" ucap Agra lagi memberi saran.
"Maksudnya?" Rendi gagal mencerna ucapan Agra, tapi semangatnya kembali bangkit.
"Tanya aja sama Frans, dia pasti tahu pastinya plus penjelasannya!"
"Entahlah ...., anak itu semenjak nikah kayak ngilang-ngilang terus, susah di temukan!" Rendi bukannya tidak mencari dokter Frans, ia beberapa kali ke rumah dokter Frans tapi tetap di rumah mertuanya. Rendi tidak mungkin datang ke sana karena sepertinya ayah mertua mengenali wajahnya. Setiap kali datang ke rumah sakit, dokter Frans juga tidak bisa di temukan.
Di tengah keheningan para pria dewasa itu, tiba-tiba muncul di antara mereka malaikat kecil fotocopy dari Agra muncul dengan segala tingkahnya.
"Pap ....., uncle ....., why? kenapa kalian saling diam?" tanya Agra sambil bergantian memperhatikan wajah dua pria dewasa itu.
"Gara ....., dimana Nay?" tanya Agra balik saat melihat putranya muncul di antara mereka.
"Inilah yang Gara tidak suka dengan orang dewasa!" celoteh Sagara sambil melipat tangannya di depan dada, menatap papinya dengan tatapan sengitnya.
"Apa salah papi?!"
"Hehhhh .... , Orang dewasa selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi. Kalau kayak gitu kapan selesainya!"
Melihat tingkah Sagara yang mirip dengan Agra kecil membuat Rendi tersenyum tipis, ia jadi teringat bagaimana dulu mereka melewati masa kecil bersama dengan segala kejahilan Agra dan Rendi yang selalu menutupinya.
❤️❤️❤️❤️
Happy Reading 🥰🥰🥰