MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Rasanya tak lagi sama



 "Segala sesuatu memiliki kesudahan, yang sudah berakhir biarlah berlalu dan yakinlah semua akan baik-baik saja "


****


    Setelah menormalkan kembali detak


jantungnya, Nadin pun kembali masuk ke dalam kafe. Ternyata sedari tadi mbak


Rini memperhatikannya.


“Cie ...., mbak Nadin ...., pacaran ya sama pak Rendi?” tanya mbak


Rini saat nadin sudah masuk ke dalam kafe.


“Mbak ...., mbak ngliatin ya?”


“Iya ..., tapi nggak semua kok ..., sayangnya nggak ada adegan


ciumannya.”


“Mbak Rini bisa aja, tapi jangan bilang kakak ya ...!”


“Jadi beneran mbak Nadin pacaran sama pak Rendi?”


“Enggak mbak ..., maunya gitu ..., tapi belum.” Ucap Nadin


dengan wajah yang sedikit kecewa.


“Saya do’akan deh mbak, semoga jadi.”


“Amiiiin ..., ya udah mbak, aku temui kak Ara dulu ya ...”


“Ya udah sana ...”


Nadin pun segera menuju ke ruang kerja Ara, ia mendekati pintu dan


mengetuknya.


Tok tok tok


“masuklah ....” terdengar sahutan dari dalam, Nadin pun segera


masuk. Ia melihat kakak perempuannya itu terlihat baru saja menyeka air


matanya.


“kakak tidak pa pa?” Nadin mendekati Ara, ada rasa was-was di sana.


Ia tak tahu apa yang terjadi dengan kakaknya.


“duduklah ...” Ara menepuk sofa di sampingnya duduk. Nadin dengan


segera mendekati kakaknya.


“kakak sedang banyak pikiran saja”


“jika kakak mau, kakak bisa cerita padaku ...”


“maaf dek, tapi suatu saat jika aku sudah siap aku pasti memberi


tahumu ...”


“baiklah kaka jika begitu, istirahatlah ..., biar aku yang mengurus


toko” Nadin beranjak dari duduknya, sebelum tangannya menarik handle pintu.


Langkahnya terhenti saat Ara kembali bicara.


“makasih ya ...” Nadin pun kembali menoleh pada kakaknya dan


mengangguk.


“sama-sama kak ...”


Nadin pun keluar dari ruangan kakaknya, ia memilih menyibukkan diri


dengan membantu mbak Rini membuat kue, ia tidak bisa berfikir jernih. Banyak


sekali kemungkinan yang terjadi. Ia berusaha mengambil hati Rendi, tapi tadi


sikap kakaknya setelah bertemu dengan Rendi, apakah ada sesuatu? Ah itu tidak


mungkin.


Ingin rasanya ia menangis, tapi tidak bisa, yang bisa ia lakukan


hanya melampiaskan dengan adonan kue yang sudah entah berapa kali ia banting


dan ia remas. Mbak Rini yang sedari tadi memperhatikannya hanya bisa


bertanya-tanya. Dan tak bisa menanyakan langsung pada Nadin ataupun Ara. Itu


bukan urusannya, ia hanya bekerja.


Hingga malam hari, Nadin bersiap-siap untuk pulang saat Agra


pulang, ia pulang larut karena ia harus ke luar kota untuk menemui kliennya.


“Nad ...., sudah mau pulang?” Agra menghampiri Nadin yang sedang


memberihkan meja yang baru saja di tinggalkan oleh pelanggan.


“Ya kak ...” Nadin segera menoleh ke sumber suara.


“Aku tak melihat Ara, kemana kakakmu?” tanya Agra sambil terus


mengedarkan pandangannya.


“iya kak, dari tadi nggak keluar-keluar”


“kenapa emangnya?”


“tadi abis keluar sama si balok es, pulang-pulang langsung murung” ucap Nadin dengan wajah yang di tekuk, entah kenapa jika mengingat hal itu, hatinya sakit.


“ya udah aku temui Ara dulu ya ..., kamu hati-hati pulangnya” Agra


pun langsung berlari ke arah ruang yang ada di lantai dua yang sudah di jadikan


tempat tinggal mereka, di atas tampak seperti apartemen kecil dengan tiga


ruangan ada dapur, ruang tamu dan kamar tidur.


Sedangkan Nadin memilih meninggalkan kafe, ia mengambil motornya


dan mengenakan helmnya. Ia mengendarai motornya memecah keheningan malam.


Pikirannya benar-benar tidak fokus, ia masih memikirkan kemungkinan


yang terjadi.


“Apa mungkin pak Rendi mengajak kak Ara buat ninggalin kak Agra?”


“Aaah ..., itu nggak mungkin ...!”


“Fokus ...fokus ....”


Dengan pikiran kalutnya Nadin mengendarai motornya.


"Setiap detik sangatlah berharga karena waktu mengetahui banyak hal, termasuk rahasia hati."


***


Hari ini seperti biasa, Nadin datang ke kampus lebih awal karena ada jamnya dosen Nathan.


"Selamat pagi, pak!" sapa Nadin pada Nathan.


"Pagi Nadinda, bagus sekarang kau sudah jadi anak rajin ya." ucap Nathan sambil sibuk memilah-milah kertas di hadapannya.


"Apa yang harus aku bantu, pak?" tanya Nadin.


"Ini kamu foto copy lalu bagikan pada teman-temanmu, hari ini kita adakan pos tes."


"Pos tes pak?"


Astaga aku tidak belajar semalam.....


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Nathan.


"Tidak pak, Saya permisi dulu pak."


"Baiklah ...., cepat sebelum jam masuk kelas di mulai."


"Baik pak."


Nadin pun segera meninggalkan ruang dosen dan menuju ke tempat fotocopy.


"Hay ...., Nad." sapa seseorang saat Nadin sudah sampai di tempat fotocopy.


"Kak Dio...."


Astaga kenapa dia ada di sini .....?


"Kata teman-teman mu, kamu jadi asistennya pak Nathan ya?"


"Kita sudah lama tak jalan bareng, kamu ada waktu nggak?" tanya Dio.


"Maaf kak, akhir-akhir ini aku sibuk."


Akhirnya fotocopy sudah selesai, Nadin mengambil lembaran-lembaran itu.


"Aku bantu ya ...." belum sempat Nadin menjawabnya, Dio sudah lebih dulu mengambilnya, dan membawa kertas-kertas itu di tangannya.


"Seharusnya, kak Dio tidak usah melakukan itu."


"Kenapa? Aku senang membantumu, aku harap kau akan ada waktu untuk jalan denganku akhir pekan ini."


"Maaf, aku nggak bisa janji."


Mereka terus bicara tanpa sadar mereka sudah sampai di depan kelas Nadin.


"Sudah sampai." ucap Dio.


"Terimakasih atas bantuannya kak."


"Sama-sama, aku sangat berharap, akhir pekan kau ada waktu." ucap Dio sambil menyerahkan tumpukan kertas itu ke tangan Nadin, Nadin pun hanya membalas dengan senyuman. Entah kenapa hatinya kini tak sehangat dulu.


Spesial Visual Dio



"Kamu mungkin tidak bisa menyiram bunga yang sudah layu dan berharap ia akan mekar kembali, tapi kamu bisa menanam bunga yang baru dengan harapan yang lebih baik dari sebelumnya."


***"


Setelah pulang dari kampus, Nadin segera


menuju ke kafe milik kakaknya. Sesampai di kafe Nadin segera menaruh tasnya dan


memakai clemeknya.


Nadin dengan cekatan melayani pelanggan. Ia seperti tak punya rasa


lelah, senyum pun selalu mengembang setiap kali ada pelanggan yang datang,


entah itu hanya sekedar beli kue atau akan menikmati kue sambil duduk santai di


dalam kafe.


“selamat siang ...” sapa seorang pria yang mengenakan jaket yang di


dalamnya memakai kemeja putih, pria yang sangat tampan, tinggi. Nadin yang di


sapa hanya bisa menatap kagum.


“Selamat siang ...” Pria itu mengulangnya, membuat Nadin kembali


dalam mode sadar.


“siang, ada yang bisa kami bantu?” tanya Nadin yang segera


menormalkan matanya, ya matanya memang tak pernah salah jika melihat yang


tampan-tampan.


“Nadin ya ...?” tanya pria itu, tentu membuat Nadin kaget.


Dia mengenalku? Pria tampan ini mengenalku.....


“ya ..., kalau boleh tahu tuan ini siapa ya?” tanya Nadin sambil


terus memperhatikan pria tampan di depannya, ia merasa tidak kenal dengan pria


di hadapannya.


“kamu lupa ya sama aku?”


“maafkan saya ...” Nadin merasa sangat bersalah karena lupa denga


orang di depannya. Tentu saja dia sangat tampan.


“nggak pa pa aku maklum kok ..., kenalkan saya jerry ...”


“Jerry .....” Nadin masih berusaha mengingat.


 “kak Jerry ....” akhirnya ia


bisa mengingatnya kembali pria di depannya itu


“Ya ....”


“kak jerry embul ..., maksudku kak embul ...” Nadin menghampiri


jerry histeris sambil memeluknya.


“Adik kecilku sekarang sudah sangat besar ya ...”


“kakak sekarang juga sangat keren sekarang ...., tampan sekali ...,


dan tubuh ini sungguh atletis ....” Nadin mengelilingi Jerry yang sedang


berdiri sambil menyakukan kedua tangannya di saku celananya


“sudah puas ...” ucap Jerry dengan senyum yang tipis di bibirnya


“aku benar-benar tak percaya ...”  Nadin terus saja mengagumi pria di depannya, hingga ia menutup mulutnya


dengan kedua tangannya.


“sudah jangan terlalu mengagumiku, nanti kamu bisa jatuh cinta


padaku ...”


“ah kakak ini ....” nadin memukul punggung jerry dengan gemas,


hingga senyum tak pernah pudar dari bibirnya


“apa kakak iparmu ada?”


“kakak kenal dengan kakak iparku ...? cih ... pasti kakak sangat


patah hati..., aku tahu itu ...” Nadin menunjukkan rasa simpatinya, ia tahu


jika sejak kecil Jerry sangat mencintai kakaknya tapi tak pernah berani


menyatakannya


“kau jangan banyak bicara ...,  lama –lama kau jadih lebih pintar dari aku ...”


“aku memang lebih pintar darimu ..., setidaknya aku lebih gentle


dari kakak soal perasaan”


“sok bijak kau ..., anak kecil nggak boleh bicara aneh-aneh ....”


“aku sudah besar kak ....” keluh Nadin, ia paling tidak suka di


sebut anak kecil. Sekarang bertambah satu lagi yang memanggilnya anak kecil.


Rendi dan sekarang Jerry.


“Lain waktu kita jalan-jalan ya, tapi untuk saat ini aku ada perlu


dengan kakak iparmu, jadi si kecil, aku akan meluangkan waktu untuk mengajakmu


jalan-jalan.”


“Aku bukan si kecil ya, aku sudah jadi wanita dewasa sekarang,


lihat aku ...” ucap Nadin sambil menunjukkan tubuhnya bak seorang wanita


dewasa.


“Ya deh percaya, sudah sana panggilkan kakak iparmu ...”


‘baiklah ...” Nadin pun segera meninggalkan Jerry yang masih


berdiri di tempatnya


***


"**Jika hatimu banyak merasakan sakit, maka belajarlah dari rasa sakit itu untuk tidak memberikan rasa sakit pada orang lain."


****


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya


Terimakasih


HAPPY Reading 😘😘😘😘😘**