
Bulan berlalu begitu cepat, Nadin tak lagi memikirkan ucapan Rendi, ia memilih masa bodoh dengan pria dingin itu.
kini Ara sudah bersiap-siap untuk melahirkan bayi kembar. Keluarga sudah sudah berkumpul menyambut kelahiran baby twins, begitu juga dengan Nadin.
Seorang gadis bersama ayahnya sedang berlari menuju ke ruang
persalinan, tapi sayang langkahnya harus terhenti oleh seseorang. ia mengnetikan langkah Nadin dan ayahnya yang hendak masuk ruang persalinan.
“Ada apa kau ke sini?’ tanya pria itu. Nadin dan ayahnya langsung
berhenti, Nadin menatap pria itu dengan tatapan kesal. Bagaimana di saat
seperti ini dia malah muncul dan menghambat langkahnya.
“Ya udah sayang ..., aku duluan ya ...!” ucap Roy meninggalkan
Nadin bersama pria itu. Ia sudah tak sabar melihat keadaan putri sulungnya.
“Iya ....” ucap Nadin, mengijinkan ayahnya untuk masuk lebih dulu.
Nadin kembali menatap pria itu dengan sangat kesal, menurutnya pria
itu begitu menyebalkan.
“Apa yang kau mau sebenarnya, kau menghambat langkahku, kau tahu
tidak..., di sana...., di dalam sana kakakku sedang bertaruh nyawa ...!” ucap Nadin sambil menunjuk ruang persalinan
itu.
“kakak???” tanya pria itu. Pria itu adalah Divta.
“Ya ..., di dalam kakakku, kak Ara, kau siapa berani menahanku?
Sungguh menyebalkan.”
“lalu yang masuk tadi?”
tanya Divta bingung. Ia mencerna ucapan gadis di depannya.
“Dia ayahku ...!” teriak Nadin sebal. Lalu dengan gerak cepat dia
menginjak kaki Divta.
“Aughhh ..., aughh ...” Divta berteriak dengan mengangkat kakinya
yang sakit terkena sepatu Nadin.
“Rasain ....!” ucap Nadin sambil berlalu meninggalkan Divta yang
masih kesakitan.
“Sialan ...” keluh Divta sambil memegangi kakinya yang sakit.
"Jadi aku salah faham ...., dia adik perempuan Ara ....?"
"Sakit juga kakiku ...." walau tampak kesakitan tapi senyum tipis sempat terbesit di wajahnya.
***
Nadin segera menyusul ayahnya, ia melihat di sana sudah ada Rendi
dan Salman. Nadin langsung tersenyum, entah saat melihat Rendi, rasa kesal
Nadin seketika menghilang.
Tapi kemudian ia mengingat perkataan terakhir Rendi padanya, membuatnya sakit. Nadin mengubah ekspresinya, senyumnya seketika menyusut entah kemana.
Divta menyusul masuk setelah rasa sakit di kakinya menghilang. Ia menghampiri Rendi dan
berdiri di sampingnya.
setelah di lihat-lihat dia manis juga ...., wajahnya hampir mirip dengan Ara ...., kenapa aku baru menyadarinya?
Divta menatap Nadin dengan tajam, tapi kemudian senyum tipir mengembang di bibirnya, dan Nadin
membalasnya dengan tatapan yang tak kalah tajam. Nadin mengobarkan api permusuhan.
kenapa dia juga di sini ...., siapa sebenarnya pria menyebalkan ini?
Rendi yang menyadari ada yang
aneh dengan Divta dan Nadin hanya bisa memperhatikan mereka.
apa yang di lakukan pengacau itu? kenapa dia melihat bang Divta seperti itu?
Rendi dan Divta hanya saling diam, entah apa yang mereka pikirkan.
Wanita yang sedang berjuang di dalam sana?, ataukah wanita yang sekarang ada di
hadapan mereka?, wanita yang sedang mencemaskan kakaknya.
Nadin terus memeluk
ayahnya, seakan meminta kekuatan pada ayahnya. Wajah yang selalu di hiasi
dengan senyuman itu, entah lari ke mana senyuman di bibirnya.
Oekkk oeek oeek
Setelah suara tangisan bayi terdengar barulah mereka merasa lega.
Nadin tersenyum kembali memeluk ayahnya. Ratih dan Salman sedari tadi tak
berpindah dari tempatnya kini ikut tersenyum lega.
Oeek oeekkk oeekkk oekkk ooekkk
Tangisan bayi yang
bersahutan menandakan bayi twins itu telah lahir.
***
“Aku benar-benar takjub kak, mereka begitu menggemaskan.” Ucap
Nadin saat menatap kedua keponakannya itu.
"Sanaya mirip denganmu dek..." ucap Ara.
"Benarkah kak? aku sungguh senang, ternyata pas aku bayi wajahku imut sekali ...."
"Asal cerewetnya, nggak usah ngikut tantenya aja ..." ucap Agra menyahuti.
"Ah .... kakak ini ..., aku udah terlanjur senang loh ini ...."
Ara sudah di pindahkan ke ruang
*****
Setelah dua kali dua puluh empat jam akhirnya Ara dan baby twins
sudah di perbolehksb pulang. Nadin sudah bersiap untuk menjemput mereka, Nadin
datang ke rumah sakit bersama pak Mun, supir pribadi Ara atas perintah ibu
mertua kakaknya. Nadin memasuki ruang yang sedari tadi tertutup itu.
“kakak ..., apa kalian sudah siap? Kakak tahu, pak Mun mu itu
sungguh membosankan. Dia tidak bisa di ajak bicara, yang keluar dari mulutnya
Cuma, hemm, iya , tidak. Entahlah ..., apa memang itu kosa kata yang dia punya”
gerutu Nadin.
Nadin pun langsung menghampiri kedua keponakannya, dan dia memilih
baby boy untuk di gendong karena baby girl sedang tertidur pulas.
Nadin menimang-nimang keponakannya itu, dan sesekali mendaratkan
ciuman di pipi gempal Sagara. Nadin dan Ara sedang asik berbincang saat
tiba-tiba pintu kembali terbuka.
“Maaf aku terlambat ...!” ucap seseorang yang muncul dari balik
pintu, dia adalah Divta. Melihat siapa yang muncul seketika membuat Nadin
terdiam, ia masih cukup kesal dengan ulah Divta kemarin.
“Bang Divta ke sini?” tanya Agra.
Jadi dia abangnya kak Agra, sayang sekali, kak Agra baik punya
saudara menyebalkan sekali ....
“Iya ..., aku akan mengantar kalian pulang.” Ucap Divta sambil
mendekati Nadin.”Aku juga merindukannya.”
‘Hahhh ....” nadin sangat terkejut dengan ucapan Divta, tak Cuma
nadin. Agra dan Ara pun demikian.
Apa maksud ucapannya .....
“maksudku ..., baby boy ...” ucap Divta mengklarifikasi ucapannya,
tapi berbeda dengan tatapannya, Divta mengerlingkan matanya saat menatap Nadin
sambil tangannya mengelus pipi cuby baby boy.
“Dan ..., baby girl.” Ucap Divta selanjutnya saat beralih pada baby
girl.
Nadin begitu kesal dengan ulah Divta. Tapi pipinya memerah menahan
malu.
***
Mereka berada dalam mobil yang sama. Agra dan Ara, Divta dan
Nadein. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ia tanyakan. Bagaimana seorang Agra
memiliki kakak seperti Divta, pria itu benar-benar berbeda menurutnya dari
Agra, kakak iparnya.
Sesampai di rumah besar, perlakuan yang tak pernah Nadin sangka
adalah ketika Divta membantunya turun dari mobil.
“Mari aku bantu ...” Divta mengulurkan tangannya, membatu Nadin
yang kesusahan berdiri karena sedang memangku keponakannya. Nadin pun tak mampu
menolak uluran tangan Divta. Tangan Divta yang sebelah kiri meraih punggung
Nadin sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menarik tangan Nadin hingga
Nadin bisa bangun dari duduknya.
“Terimakasih ...” ucap Nadin setelah berhasil turun dari dalam
mobil. Senyum merekah dari bibir Nadin.
“Sama-sama...” ucap Divta sambil tersenyum membalas ucapan Nadin.
“Mari aku bantu lagi ...” ucap Divta menawarkan diri lagi saat
melihat Nadin hendak mengambil tasnya yang masih tertinggal di dalam mobil.
Rendi yang berada di depan pintu menatap mereka dingin, entah
kenapa dia begitu tidak suka melihat pemandangan itu. Hatinya tak terima, entah
apa yang salah, dia pun tidak tahu. Yang ia tahu, Nadin itu sang pengganggu.
Mengganggu hari-harinya, mengganggu tidurnya.
Nadin berjalan beriringan dengan Divta, ia melewati begitu saja
orang yang bberdiri di sana. Rendi tampak mengepalkan tangannya. Ia tidak suka
Nadin mengabaikannya. Tidak suka? Perasaan macam apa ini?
***
**BERSAMBUNG
jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy reading 😘😘😘😘😘😘**