MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Pesta? (Davina)



🌷🌷🌷


Hari semakin sore, seharusnya sangat bagus menatap matahari terbenam, tapi Nadin masih setia di dalam kamar menunggu suaminya kembali.


Sungguh kakak ipar pasti menyiksa suamiku ......


Nadin terus saja menggerutu, ia bolak balik ke depan hanya untuk menunggu kedatangan suaminya. Mau keluar pun tidak bisa, Rendi sudah meminta anak buahnya untuk berjaga di depan dan tidak membiarkan Nadin keluar, kalaupun bisa keluar ia hanya diijinkan ke tempat kakaknya.


"Ini sebenarnya honeymoon, apa kerja sih ...., Masak aku di tinggal sepanjang hari kayak gini!" Keluh Nadin,


"Ihhh ...., Padahal aku pingin banget lihat matahari terbenam, pasti bagus banget!"


Semua pelayan hanya bisa di buat bingung oleh ulah Nadin, Nadin pun juga sama, ia tidak bisa bahasa Korea,


Nadin kembali lagi ke kamarnya, ia lebih memilih berdiri di depan jendela yang sangat lebar itu, ia menikmati pemandangan dari sana, lebih bagus dari pada dilihat dari lantai bawah, dari kamar mereka, view nya lebih dapet.


Srekkkk


Nadin begitu terkejut saat tiba-tiba tubuhnya di peluk dari belakang, tapi keterkejutannya hilang saat hidungnya mencium bau yang sangat familiar, ia adalah aroma parfum maskulin suaminya.


Rendi mengendus tengkuk Nadin, membuat Nadin merasa geli, kesadarannya meremang, ia benar-benar menikmati sentuhan suaminya itu.


"Aku merindukanmu!" Bisik Rendi di telinga Nadin, nafas yang keluar dari bibir Rendi membuat Nadin semakin terlena di buatnya.


"Mas ....!" Nadin hanya bisa mendesah, tangan Rendi semakin erat di perut Nadin, ia terus menciumi leher jenjang Nadin.


"Apa kau ingin melihat matahari terbenam?" Bisik Rendi lagi, Nadin pun mengangguk. Rendi pun membalik tubuh Nadin, hingga mereka saling bertatapan, Rendi mengusap pipi Nadin dengan sangat lembut.


"Tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu!" Ucap Rendi, sebelum meninggalkan Nadin ia meninggalkan kecupan di bibir Nadin, membuat Nadin terpaku di buatnya.


Ahhh ...., Apa aku sedang bermimpi ...., Kenapa dia jadi sehangat dan seromantis itu ....?


Nadin menepuk-nepuk kedua pipinya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu benar-benar suami dinginnya, sejak kapan es itu meleleh seperti itu.


Kenapa sekarang aku yang meleleh ...., Aku benar-benar lumer di buatnya ...., Jantungku ...., Jantungku benar-benar mau meledak ....


Nadin memegangi dadanya, jantungnya berdegup lebih kencang dari pada biasanya, ia sampai tidak bisa menguasai diri, saat bersama Rendi, ia merasa seperti di atas awan saja.


"Ayo ....!" Rendi sudah keluar dari ruang nganti, ia mengganti pakaiannya menjadi lebih santai,


"apa kau bisa jalan?"


Nadin mengangguk. "Tapi pelan ya mas!"


"Mau aku gendong?" Tanya Rendi lagi, Nadin pun menggeleng cepat dengan tersenyum senyum yang paling manis.


"Aku jalan sendiri aja mas!"


"Baiklah ...., Ayo ...!"


Rendi menggandeng tangan Nadin, mereka berjalan pelan menyusuri pantai, pemandangan panti begitu indah di sore hari, Nadin sesekali memainkan air di sana, sedangkan Rendi sibuk mengabadikan dengan kamera yang di bawanya.


"Mas ...., Kita fotonya barengan!" Nadin pun menatap sekeliling, kemudia ia melihat ada muda mudi yang sedang lewat di dekat mereka,


"Mbak..., Mas ...., Minta tolong fotoin dong!" Ucap Nadin


Tapi sepertinya pasnagan itu tidak mengerti maksud ucapan Nadin,


"Tidak mengerti ya!" Nadin mencoba berfikir,


"Begini saja!" Nadin sambil menyerahkan camera yang berada di tangannya. dan Nadin menunjuk pada dirinya dan Rendi, pemuda Korea itu pun sekarang mengerti maksud Nadin.


Nadin segera menghampiri Rendi lagi. Pemuda itu pun mengambil gambar mereka berdua dengan berbagai pose.


"Makasih ya mas!" ucap Nadin dan pemuda kembali tak mengerti. Nadin kembali menghampiri Rendi.


"Mas, terimakasih bahasa koreanya apa?"


Rendi bukannya menjawab pertanyaan Nadin, ia pun menghampiri pemuda itu. "gamsahabnida ...!" ucap Rendi sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.


"byeolmalsseumeulyo!" ucap pemuda itu sambil menyerahkan kameranya.


Nadin mengambil kembali kameranya, setelah pemuda itu meninggalkan mereka, ia menunjukkan hasil jepretan itu pada Rendi.


"Bagus kan mas?" Tanya Nadin.


"Biasa aja!"


"Jangan gitu lah mas, ekspresinya dingin amat ....!"


"Yang lebih bagus adalah ini!" Ucap Rendi sambil menunjuk wajah nadin, "aku lebih suka menatap yang ini!" Ucapan Rendi benar-benar berhasil membuat jantung nadin seperti mau meledak saja.


Dia benar-benar berbeda .,..


Nadin memastikan kembali pria yang ada di depannya itu, ia menatap Rendi dengan tatapan penuh selidik.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Kenapa aku merasa saat ini di depanku bukan suami es ku ya!" bukannya menjawab Rendi malah mengacak-acak rambut Nadin gemas.


Mereka pun duduk sambil menikmati suasana pantai yang sudah semakin gelap, Nadin menyandarkan kepalanya di pundak Rendi, sedang tangan Rendi memeluk pinggan Nadin.


"Mas ...., Terimakasih ya!"


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya, walaupun mas nggak pernah mengatakannya, tapi aku yakin mas sudah mencintaiku!"


"Hemmm!"


"Mas tahu ...., Aku tidak pernah menyangka jika hubungan kita akan sejauh ini, sebelumnya bisa menatapmu saja sudah sangat istimewa bagiku, tapi sekarang kau sudah jadi yang halal buatku!"


"Hemmm!"


"Kok cuma gitu sih mas tanggapannya?"


"Memang aku harus mengatakan apa?"


"Ya apa gitu!"


"Cuma itu?"


"Lalu?"


"Bilang kalau mas sudah cinta sama Nadin!"


"Harus ya?"


"Hahhh ...., Susah ya ngomong sama robot!"


"Apa?"


"Nggak , bukan apa-apa!" Nadin tersenyum,


🌺🌺🌺


Di rumah ayah Roy, Divta sudah sampai dan menjemput Davina.


"Maaf ya pak, lama, soalnya harus pamit dulu!"


"Iya nggak pa pa!" Ayo masuk!"


Divta sudah membukakan pintu mobil untuk Davina, setelah Davina masuk, Divta pun segera berlari mengitari mobil dan masuk melalui pintu yang berbeda.


"Sudah siap?" Tanya Divta sebelum menyalakan mesin, Davina pun mengangguk. Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah ayah Roy.


Mereka membutuhkan waktu dua jam untuk sampai di daerah puncak, Davina dan Divta menikmati perjalanan dengan saling bertukar cerita.


"Kita benaran cuma berdua pak?"


"Nggak, nanti sama teman-teman ku, mereka juga bawa pasangannya!"


"Pasangan?"


"Iya, kenapa, kamu nggak suka jadi pasangan aku?"


"Bukan begitu! Bukankah seharusnya pak Divta bawa pacar pak Divta?"


"Kamu kan tahu sendiri, aku nggak punya pacar, mana mungkin aku ke puncak sendiri sedang teman-teman ku bawa pasangannya, kamu nggak keberatan kan jadi pasanganku?"


"Nggak kok pak!" Davina tersenyum, setidaknya ia sekarang bersama pria keren ini.


"Tapi jangan panggil pak ya, panggil saja Divta!"


"Div-ta ...!" Divta pun mengangguk.


"Begitu lebih enak!"


Akhirnya mereka pun sampai juga di sebuah villa, di sana mereka sudah di sambut oleh teman-teman Divta, dan benar saja mereka sudah saling berpasangan.


"Hay Div, datang juga Lo ...., Ini ya pasangan Lo, cantik juga!" Sapa seseorang pria sambil memeluk pasangannya.


"Iya ...., Kenalkan ini Davina!" Ucap Divta memperkenalkan Davina.


"Hay Davina ...!" Mereka bersama-sama.


"Oh iya kenalkan, itu Dito, Rangga, dan yang baju hitam itu Anjar! Mereka semua teman-teman ku!"


"Salam kenal!"


Setelah acara perkenalan itu, mereka pun menuju ke kamar masing-masing, Davina dan Divta di tunjukkan pada sebuah kamar.


"Ini kamar Aden!" Ucap penjaga villa pada Divta.


"Terimakasih ya mang!"


"Ya sudah kalau begitu saya permisi den!"


Divta pun mengangguk,


"Ayo masuk!"


"Kenapa cuma satu kamar?" Tanya Davina, ia enggan untuk ikut masuk.


"Oh iya ...., Maaf ya sebelumnya aku nggak cerita, di sini cuma ada empat kamar, jadi tahunya mereka kita ini pasangan, jadi kita tidurnya satu kamar!"


"Satu kamar?"


"Iya ...., Kamu nggak keberatan kan, aku janji nggak akan berbuat aneh-aneh kok...!"


"Tapi ....!"


"Ayo...., Masuklah ....!" Divta segera menarik tangan Davina untuk masuk ke dalam kamar.


Davina menatap sekeliling kamar itu, di sana hanya ada satu ranjang dengan ukuran sedang, tak ada sofa atau apa yang bisa untuk tidur lainnya,


"Taruh bajumu di lemari itu ya!" Ucap Divta sambil menunjuk sebuah lemari.


"Biar aku bantu!" Karena melihat Davina masih terpatung di tempatnya, Divta pun kembali menghampiri Davina dan mngambil koper Davina, dan meletakkan koper itu di samping lemari.


"Kamu mandi dulu gih ...., Aku keluar dulu ya ...., Siap-siap untuk pesta nanti malam!" Ucap Divta sambil mengelus pipi Davina.


"Pesta?"


"Iya cantik ...., Dandan secantik mungkin!" Davina pun mengangguk, Divta segera keluar dari dalam kamar meninggalkan Davina yang masih terlihat begitu bingung.


"Kenapa ada pesta?" Gumam Davina.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249