
Satu bulan kemudian
“Mas …, kita akan bersiap-siap ke Surabaya. Jangan pulang terlambat!” Nadin memperingatkan suaminya itu. Rendi begitu sibuk akhir-akhir ini karena sedang membuka cabang perusahaan baru.
“Iya sayang …, Ajun sudah memesankan tiketnya untuk kita!” ucap Rendi sambil mengecup kening istrinya itu.
“Biarkan aku berangkat dulu, apa jagoan kecil kita masih tidur?” tanya Rendi karena tidak mendengarkan celotehan putranya itu.
“El sudah jalan-jalan sama kakeknya!” ucap Nadin sambil merapikan tempat tidur.
“Ayah ke sini?” tanya Rendi lagi.
“Iya …, tadi pagi-pagi sekali. Ayah takut nanti tidak bisa bertemu dengan El lagi sebelum berangkat ke Surabaya, ayah juga
menitipkan kado pernikahan untuk Aisyah!”
Rendi tidak pernah menyangka secepat ini Alex menikah apalagi dengan Aisyah, rasanya masih tidak percaya.
“Apa kau yakin Alex pria yang tepat untuk aisyah?”
Tanya Rendi yang masih ragu, ia benar-benar tidak menyangka pria arogan itu
akan memilih gadis berhijab itu sebagai pendampingnya.
“Aku juga tidak yakin …, tapi biarlah …, mungkin
memang sudah jodoh, mau apa lagi. Tapi nanti akan aku tanyakan!”
“Ya udah sayang, aku sudah sangat terlambat aku harus berangkat, tapi beri aku satu saja kecupan!”
“Tadi sudah!” keluh Nadin.
“Itu tadi, ini sekarang. Ayo cepat!” ucap Rendi
sambil mendekatkan bibirnya pada Nadin, walaupun sambil mendengus Nadin tetap
menempelkan bibirnya pada bibir Rendi.
Rendi tidak membiarkan hal itu terlewat
begitu saja, dengan cepat ia menahan tengkuk Nadin hingga Nadin tidak bisa
melepaskan ciumannya.
Rendi segera mel*mat bibir Nadin dengan rakusnya, sedikit gigitan kecil hingga membuat Nadin mendengus kesal.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat Nadin segera mendorong tubuh Rendi. Wajah Nadin memerah menahan malu, ia segara membelakangi pintu.
“Mobilnya sudah siap pak!” Ajun datang. “Maaf pak, saya akan keluar!”
Ia datang di waktu yang kurang tepat.
“Kita berangkat!”
Sore ini mereka bersiap-siap untuk berangkat ke Surabaya, mereka mendapat undangan pernikahan dari Alex dan Aisyah.
Rendi sebenarnya keberatan untuk mengajak Elan, tapi mengingat Elan masih butuh ASI
ekslusif jadi tidak mungkin meninggalkan Elan di Jakarta.
Mereka hanya mengundang Rendi dan Nadin saja tanpa keluarga besar. Dini juga sudah di sana lebih dulu, setelah melakukan
perjalanan menggunakan pesawat selama satu jam akhirnya mereka sampai juga di
Surabaya.
Mereka tidak langsung ke rumah Aisyah, mereka singgah dulu di hotel karena rumah yang pernah Rendi beli sudah di sewakan.
Acara akad nikah berlangsung besok pagi jadi masih ada waktu untuk istirahat.
“Elan pasti lelah, tidurlah dulu bersama Elan aku akan ke bawah dulu, ada temanku yang ingin bertemu!” ucap Rendi sambil mengecup
kening Nadin seperti biasa.
Setelah Rendi meninggalkan kamar mereka, Nadin segera menidurkan Elan di tempat tidur, ia juga merasakan tubuhnya sangat lelah,
ia ikut tidur di samping Elan.
Rendi menghampiri seseorang yang sudah duduk di lobi hotel.
"Maaf membuat anda menunggu lama!"
"Tidak pa pa pak Rendi, silahkan duduk!"
"Bagaimana? Apa ada yang mencurigakan?"
"Berdasarkan penyelidikan kami, tidak ada yang mencurigakan, ini memang acara pernikahan. pak Kevin Alexander benar-benar akan melangsungkan pernikahan!"
"Baik pak Rendi, kalau begitu kami permisi!"
"Silahkan!"
setelah percakapannya selesai, ia segera kembali ke kamarnya. Ia benar-benar tidak mau meninggalkan anak dan istrinya terlalu lama.
Setelah sampai di kamar ia begitu lega saat melihat anak dan istrinya sedang tidur pulas di atas tempat tidur.
"Aku akan selalu memastikan jika kalian baik-baik saja, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil kalian lagi dariku ...., siapapun ....!"
Pagi ini Nadin sudah bersiap-siap tak lupa ia juga menyiapkan Elan. Jagoan kecil itu sekarang sudah lincah merangkak. Elan akan
menjadi bintangnya kali ini.
“Jagoan kecil ayah sudah siap ya …!” Rendi
mengangkat tubuh mungil Elan, Rendi juga sudah rapi dengan jas nya.
“Bunda Mu lama sekali dandannya sayang …!” keluh Rendi saat melihat Nadin masih sibuk di
depan cermin.
“Aku tidak lama mas …, tapi kalau aku nanti tampil jelek di depan umum kan yang malu kamu juga mas!”
“Istriku selalu cantik kapan pun sayang …! Walaupun tanpa dandan!” puji Rendi sambil menarik pinggang Nadin hingga mereka saling berpelukan.
“Terimakasih!” Nadin hanya bisa tersenyum senang setiap kali suaminya itu memujinya. Pria dingin itu berubah menjadi sangat
hangat saat bersama keluarganya.
"Elan juga setuju nih!" Elan yang berada di tengah-tengah mereka tertawa senang.
Di sebuah ballroom yang sangat luas itu, ruang pesta itu di hias sedemikian indah, bunga-bunga menghiasi seluruh ruangan. Rendi dan Nadin berjalan memasuki gedung, Rendi menggendong Elan.
Semua mata tertuju pada
mereka. Sebagian besar dari mereka pasti juga mengenal Rendi. Tamu yang hadir
di pernikahan itu sebagian besar adalah para pengusaha, Rendi adalah salah satu
pengusaha yang namanya patut di perhitungkan.
Mereka ternyata datang terlambat, akad nikahnya sudah selesai sekarang tinggal resepsinya. Nadin mengajak Rendi menghampiri
penggantinya.
“Kak Nadin!”
“Aisyah!”
Dua wanita itu saling berpelukan. Mereka saling melepaskan rindu.
“Kak, kakak berhijab?” Aisyah senang melihat
penampilan baru Nadin.
“Iya …, tapi aku masih belum bisa sepertimu ….,
doakan agar bisa istiqomah dengan hijab ini!”
“Iya kak, pasti. Ais suka dengan penampilan baru kakak!”
Nadin menatap Alex yang berdiri di samping Aisyah. pria arogan itu tersenyum pada Nadin.
“Hai Lex …, selamat ya atas pernikahan kalian!”
“Sama-sama …, bagaimana kabarmu dan baby El?”
“Kami baik, mas Rendi sudah menjelaskan semuanya padaku dan semuanya hanya salah paham!”
“Syukurlah kalau begitu!”
Pernikahan Alex dan Aisyah begitu megah, tamu yang di undang adalah orang-orang besar. Aisyah begitu cantik dengan gaun
penggantinya begitu serasih saat bersanding dengan Kevin Alexander.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘