MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 3 (Pertahanan Rendi)



Rendi benar-benar seperti mati kutu, setelah bertemu dengan Agra pun tak mampu menyelesaikan masalahnya.


Agra malah menyarankannya untuk bertanya pada dokter Frans.


"Kenapa sih mas wajahnya kusut banget?" tanya Nadin yang tiba-tiba saja muncul di depannya.


"Hemmm!" Rendi bukannya jawab ia malah diam dengan ekspresi dinginnya.


Nadin mengerutkan keningnya heran. Bukannya menjawab pria itu malah menatapnya dengan tatapan dingin.


"Mas kebiasaan ihhh ....! Aku beneran tanya!" keluh Nadin, ia memilih duduk di depan suaminya dengan menyangga dagunya di atas meja.


Ruang makan itu terlihat begitu sepi, tak ada yang mengeluarkan suara kecuali dentingan dari jam dinding.


"Sudah malam mas ...., ayo tidur!" ajak Nadin, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam tapi Rendi tak juga menghampirinya ke kamar membuat Nadin mendatanginya.


"Tidurlah dulu!"


"Kenapa? Mas Rendi nggak cinta lagi ya sama Nadin, makanya mas Rendi menghindari Nadin terus!" tanya Nadin dengan wajah sedihnya, membuat Rendi bereaksi.


"Bukan seperti sayang ....!"


"Lalu?" air mata Nadin sudah mengepul di pelupuk mata sebentar lagi pasti akan jatuh.


Bagaimana aku bisa berdekatan denganmu jika setiap saat berdekatan denganmu tubuhku selalu saja bereaksi ....


Rendi mengusap rambutnya kasar, ia bingung harus melakukan apa saat ini, ia juga tidak bisa menolak permintaan istrinya.


"Baiklah ...., ayo kita tidur!"


Rendi pun meninggalkan tempat duduknya, ia menghampiri Nadin dan memegang kedua pundaknya.


"Tapi beneran mas Rendi nggak benci kan sama Nadin gara-gara tubuh Nadin gendut!"


Air mata Nadin benar-benar tumpah saat ini, membuat Rendi semakin bersalah saja.


"Nggak ada seperti itu!" Rendi mencoba membantah pemikiran jelek Nadin.


"Tapi kan mas Rendi nggak tau pas aku hamil besar, aku jelek banget kalau hamil besar, kakiku, perutku, lenganku, semuanya besar!"


"Mau segede gajah, aku juga tetap nggak ngeluh!"


"Jadi mas Rendi ngatain Nadin segede gajah, jahat banget ....!" Nadin marah, ia menepis tangan Rendi yang masih berada di bahunya dan berlalu meninggalkan Rendi begitu saja.


Rendi hanya bisa mengelus dada, ia harus ekstra sabar menghadapi perubahan emosi Nadin saat hamil.


Sebelumnya ia tidak tahu jika wanita hamil itu akan sering berubah-ubah emosinya, kadang lembut, kadang suka marah-marah, kadang pengen di manja dan kadang juga tidak mau dekat-dekat.


Aku salah lagi nih .....


Rendi hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil melihat kepergian Nadin.


"Hehhhh .....!"


Drama segera di mulai, ia harus berusaha keras untuk membujuk istri kecilnya itu. Rendi menyiapkan mentalnya untuk membujuk istrinya agar tidak marah lagi dan mood-nya kembali membaik.


Rendi segera menyusul istrinya, Nadin sudah menutup semua tubuhnya dengan selimut, seperti ya ia sedang menangis karena tubuhnya terlihat bergetar.


"Sayang ....!" ucap Rendi sambil mengusap punggungnya, Rendi sudah duduk di belakang Nadin.


Tak ada sahutan dari Nadin, "Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh .....!"


Cukup lama, Nadin tak juga mengatakan apapun kecuali suara isakan.


"Sayang jangan seperti itu, kasihan anak kita, dia pasti ikut sedih kalau kamu sedih!"


Rendi hampir saja menyerah, tapi perlahan selimut itu mulai di buka oleh Nadin.


"Mas ..., Nadin sakit!" ucap Nadin sambil masih terisak.


Rendi terkejut, ia kembali menyentuh tubuh Nadin, memastikan jika istrinya itu baik-baik saja.


"Maaaasssss .....!" teriak Nadin agar Rendi menghentikannya.


Rendi benar-benar terdiam saat mendengar Nadin berteriak, ia menjauhkan tangan nya dari tubuh Nadin.


"Hati Nadin mas yang sakit!" ucap Nadin lagi setelah Rendi terdiam.


"Mas Rendi nggak menginginkan tubuh Nadin lagi, iya kan? Mas Rendi bahkan selalu menghindar hanya untuk tidur dengan Nadin, mas Rendi malah memilih tidur di sofa atau ruang kerja mas Rendi!" keluh Nadin dengan air mata yang kembali mengalir membanjiri pipinya.


Melihat hal itu, Rendi segera menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya. Rendi tidak tahu jika tingkahnya begitu menyakiti istrinya.


Nadin menangis di dalam pelukan Rendi, "Bukan seperti itu sayang ...., aku hanya ingin kalian selalu baik-baik saja!" ucap Rendi lirih tapi masih bisa di dengar oleh Nadin.


Nadin pun segera mendongakkan kepalanya, mencoba menjangkau wajah Rendi, Rendi pun segera menunduk menatap Nadin.


"Beneran mas?" tanya Nadin ingin memastikannya.


"Iya ...., aku takut jika nanti terjadi sesuatu sama anak kita jika aku melakukan itu!"


Mendengarkan ucapan Rendi, Nadin pun jadi terharu. Ternyata suaminya begitu menjaganya. Nadin mengeluarkan tangannya dari dekapan Rendi dan menakutkannya ke kedua pipi Rendi.


"Mas mendekatlah!" ucap Nadin sambil meminta Rendi mendekatkan wajahnya, Rendi pun mendekatkan wajahnya ke wajah Nadin.


Cup


Nadin mengecup bibir Rendi cukup lama, ia ingin melihat bagaimana reaksi suaminya itu.


Nadin kembali menjauhkan bibirnya dan menatap suaminya itu.


Cup


Untuk kedua kalinya ia mengecup bibir suaminya, Rendi sama sekali tidak membalas ciumannya. Tapi ia merasakan ada yang menonjol di bagian bawah sana, karena tubuh mereka tidak terhalang apapun kecuali baju yang mereka kenakan.


Nadin tersenyum membuat Rendi mengerutkan keningnya, "Kenapa tersenyum seperti itu?"


"Sekarang aku percaya dengan omongan mas Rendi karena junior mas Rendi masih saja tegak saat Nadin cium bibir mas Rendi!"


"Sittthhhh .....!" keluh Rendi, benar saja sekarang tubuhnya sudah panas dingin karena ulah istrinya. Ingin sekali memakan istrinya saat ini juga tanpa ampun, tapi ia berusaha keras untuk mengendalikannya.


Wajah Rendi sudah panas dingin, bibirnya sudah tidak bisa di tahan lagi ingin kembali ******* dan mengulum bibir tipis milik Nadin.


Dengan cepat ia mendekatkan bibirnya pada bibir Nadin dan **********, menggigitnya mengulumnya. Sudah sangat lama ia tidak melakukan kegilaan itu, ia ingin sekali menghabiskan bibir itu.


Hingga tampa sadar tubuhnya kini sudah menimpa tubuh Nadin, Nadin pun menikmati apa yang di berikan oleh Rendi, ia juga merindukan sentuhan pria dingin itu.


Tangan Rendi sudah menyusup di selah-selah baju Nadin, mencoba mengabsen setiap inci dari tubuh Nadin.


Tapi kegilaan itu segera berakhir saat hampir saja mencapai intinya, saat tangan Rendi menyentuh perut Nadin yang sedikit menonjol.


Rendi segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Nadin, Nadin yang sudah tidak mengenakan sehelai benangpun segera menutup tubuhnya dengan selimut.


"Kenapa mas?" tanya Nadin. Rendi segera memakai kembali celana pendeknya.


Ia bangun dari tempat tidur dan melompat-lompat di sana, ia seperti sedang mencoba meredam sesuatu.


"Mas ....., kenapa?" tanya Nadin heran.


"Maafkan aku sayang ...., aku tidak mau menyakiti kalian, maafkan aku!" ucap Rendi sambil mengecup kening Nadin, Nadin pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya.


Kasihan suamiku .....


**Bersambung


Tetap dukung MBOI ya, dan tunggu bonschap-bonschap selanjutnya


keseruan-keseruan Rendi dan Nadin ya


Happy Reading 🥰😘❤️**