
Di tempat lain. Davina mengajak Rendi ke sebuah kafe.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan!" ucap Rendi saat mereka sudah berada di salah satu meja.
"Jangan terburu-buru kak ....!" ucap Davina dengan sangat manis, tapi Rendi tidak terlalu suka dengan orang yang berpura-pura manis. Ya Rendi adalah orang yang kritis, mana mungkin ia tidak tahu jika wajah Davina penuh dengan kepura-puraan.
"Aku tidak punya banyak waktu." ucap Rendi sambil terus menatap layar ponselnya, entah siapa yang di hubungi sedari tadi, ia terus saja mengirim dan menerima sebuah pesan.
"Nona Nadin memintaku mengantarnya ke sebuah rumah di daerah xxxx"
Rendi tampak serius membaca pesan itu.
"Kirimkan lokasinya, foto setiap sepuluh menit sekali ....!"
Rendi membalas pesan dari seseorang, setelah selesai dengan urusannya Rendi pun meletakkan ponselnya di atas meja.
"Sekarang saya dengarkan, bicaralah ...!" ucap Rendi.
"Kita minum dulu lah kak ....!"
"Jika tidak ada yang di bicarakan, saya harus pergi!" ucap Rendi pelan tapi begitu menusuk.
"Baiklah .....!" Davina menghela nafasnya sebelum memulai bicara.
"Kak ...., aku tahu kak Rendi pasti tahu apa yang ingin aku bicarakan, sejak pertama kali kita bertemu, sebenarnya saya sudah jatuh cinta, bahkan sebelum kita bertemu."
Davina menghentikan ucapannya, melihat bagaimana tanggapan pria dingin di depannya.
"Lanjutkan ....!" perintah Rendi dengan tangan yang di lipat di depan dada.
"Saat ayah Roy menceritakan bagaimana perjuangan kak Rendi dalam membantu keluarga kak Ara, aku sudah sangat mengagumimu, rasa itu semakin bertambah besar saat bertemu denganmu kak ...!" ucap Davina.
"Sekarang apa muamu?" tanya Rendi masih dengan sikap dinginnya.
"Bisakah kak Rendi menjadi pacarku, atau jadikan aku calon istrimu?!"
Wajah Rendi begitu tidak terpengaruh dengan ucapan Davina, tapi saat ponselnya kembali berdering, ia segera mengambil benda pipih itu dari atas meja.
"Ternyata nona Nadin sedang menuju ke rumah pak Jerry, rekan bisnis tuan Agra."
Membaca pesan itu seketika bisa merubah alir wajah Rendi, wajah yang sedari tadi tenang kini terlihat gusar.
Rendi pun segera mencari nomor Nadin, dan melakukan panggilan pada gadis itu.
Kenapa dia tidak mengangkat telponku ....
"Kak ...., bagaimana?" tanya Davina yang sedari tadi sudah di buat kesal dengan ulah Rendi, tapi dia tetap berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Aku tidak bisa, dan mulai sekarang segera lah pangkas perasaan mu itu agar tidak semakin mengakar!" ucap Rendi dengan pasti.
"Tapi kak, aku nggak bisa ...., aku sangat mencintai kak Rendi, aku mohon terimalah cintaku kak ...!" kini Davina sudah mulai mengeluarkan air matanya.
"Aku tidak bisa!" ucap Rendi tegas, tapi kini wajahnya tampak tidak tenang ia menghubungi orang lain, orang yang sudah ia perintah untuk menjaga Nadin saat tak bisa menghubungi Nadin, karena kini ponsel gadis itu malah tidak aktif.
"Hallo ....!"
"Hallo pak ...!"
"Dimana gadis itu?" tanya Rendi dengan sedikit berteriak, tangannya mengepal.
"Maafkan saya pak, saya pantas di hukum atas kelalaian saya ...!"
"Nona Nadin hampir saja tertabrak mobil!"
Mendengar hal itu seketika membuat Rendi memerah padam, Rendi meremas ponselnya. Ia segera beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Davina. Tapi tangannya segera di tahan oleh Davina.
"Kak mau kemana? Ada apa?" tanya Davina.
"Ini bukan urusanmu, saya harap urusan kita sudah selesai." ucap Rendi sambil melepaskan tangan Davian dari lengannya. Rrndi segera beranjak meninggalkan tempat itu, tapi baru saja melangkah kira-kira lima langkah, langkahnya terhenti.
"Ini pasti gara-gara Nadin kan ..., kenapa harus selalu Nadin? Bisa tidak kak Rendi memandangku seperti kakak memandang Nadin ....!" teriak Davina dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya.
"Maaf aku tidak bisa!" ucap Rendi tanpa berbalik menatap Davina. Ia pun kembali berjalan meninggalkan kafe.
"Kita ke alamat xxxx!" ucap Rendi pada pria dengan tanda pengenal sama dengan pria yang mengikuti Nadin.
"Baik pak!"
Rendi sudah duduk di kursi penumpang, saat mobil telah melaju, ponselnya kembali berbunyi, sebuah pesan muncul. Pesan itu berasal dari anak buahnya.
Anak buahnya mengirimi sebuah foto, Nadin sedang dalam pelukan Jerry, membuat hati Rendi semakin mendidih.
"Sihhhhttttt ....!" umpat Rendi sambil menendang kursi mobil, membuat anak buahnya terlihat tegang karena ketakutan melihat atasannya emosi. Karena setahu anak buahnya, Rrndi adalah sosok yang sangat tenang, tapi begitu menakutkan jika sudah marah.
"Percepat mobilnya ...!" perintah Rendi. Ia kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan sedikit di hentakkan, mencoba mengurangi rasa sesak di dalam dadanya.
Tangannya tak henti-hentinya mengepal, seperti sudah sangat bersiap untuk ia tinjukan.
Mobil pun sampai di depan sebuah rumah, mobil yang mengantar Nadin pun juga ada di sana. Rendi tak menunggu di bukakan pintu mobil seperti biasanya, Ia tampak begitu kalut, dengn langkah lebarnya ia berjalan masuk ke rumah itu.
Langkahnya terhenti sebentar saat melihat Nadin masih dalam pelukan pria itu, entah kenapa kali ini ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Darahnya seakan mendidih, tangannya sudah mengepal sempurna hingha menampakkan bubu pada ruas jarinya.
Rrndi berjalan mendekat, dengan gerak cepat ia menarik tangan Jerry hingga terlepas dari tubuh Nadin. Ia segera melayangkan pukulan ke wajah Jerry, karena Jerry tak siap dengan serangan yang di lakukan Rendi, tubuh Jerry pun tersungkur di lantai.
Nadin begitu terkejut, ia hanya bisa teriak, saat Rendi hendak melayangkan pukulannya kembali.
"Berhenti ....!" teriak Nadin membuat Rendi mengurungkan niatnya untuk memukul Jerry lagi.
Rendi pun segera mendekati Nadin, ia segera memeluk Nadin. Nadin begitu terkejut, tapi rasa sakitnya saat melihat Rendi lebih memilih pergi bersama Davina membuatnya marah, hingga membuat insident ini terjadi.
"Apa kau tidak pa pa?" tanya Rendi lirih. Jerry yang berusaha bangun, melihay Rendi memeluk Nadin. Senyum samar mengembang di bibirnya, walaupun sudut bibirnya mengeluarkan darah, itu tidak menjadi masalah.
Tapi Nadin segera mendorong tubuh Rendi hingga membuat jarak di antara mereka. Rendi begitu terkejut mendapat penolakan dari Nadin.
"Kenapa?" tanya Rendi dengan perasaan yang terluka akibat penolakan Nadin.
"Pergilah, aku mau di sini ...!" ucap Nadin sambil memalingkan wajahnya. Rendi kembali terkejut, ia bagai tersambar petir di tengah hari. Rendi mundur dan berdiri, ia menatap Nadin tak percaya.
"Aku nggak mau sama pak Rendi, pergilah ...., aku akan pulang dengan kak Jerry!" ucap Nadin tanpa menatap Rendi, ia terus berpaling dari Rendi. Ia berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
****BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya yang banyak
Kasih Vote juga ya yang banyak juga
Happy Reading 😘😘😘😘😘**