MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 59 (pengakuan Juna)



Setelah berbicara dengan orang tuan Dini, Ajun sedikit lega. Ia kembali ke posisinya.


Orang tua Dini gantian mengunjungi Juna saat ini.


Ajun terus saja mengingat kejadian semalam, bagaimana seorang Juna mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan dirinya.


Sepertinya Juna juga ingin mengatakan sesuatu sebelum tim penyelamat akhirnya datang.


"Kenapa dia menyelamatkan aku, seharusnya dia senang kalau aku tidak ada, dia tidak akan punya saingan ...!" gumam Ajun.


Ceklek


Suara pintu yang terbuka membuat Ajun beralih menatap pintu, ternyata Dini berjalan menghampirinya.


"Kenapa diam?" tanya Dini sambil berjalan mendekati Ajun.


"Langkahmu itu sudah seperti kuda, jadi tidak perlu banyak bicara untuk menambah kegaduhan!" ucap Ajun.


"Issstttt ...., dasar kardus, lebih baik aku ada suaranya, kamu bayangan aja nggak keliatan!" ucap Dini kesal.


"Ada apa?" tanya Ajun saat Dini sudah berada di depannya, Dini terlihat menghela nafas dalam. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi sulit.


"Papa sama mama memintaku untuk ke villa sebentar, kamu nggak pa pa ya aku tinggal sebentar?"


"Kenapa denganmu, kau ini ya ...., kakiku sakit, tanganku juga sakit kalau aku butuh sesuatu, siapa yang akan membantuku?" keluh Ajun sambil menunjukkan kaki dan tangannya yang di perban. Sebenarnya itu cuma sebuah alasan saja supaya Dini tidak meninggalkannya.


"Hehhhh ....., jangan manja! Lagian aku ke villanya juga nggak nyampek sehari!"


Dasar nggak peka ....., batin Ajun kesal. Dia tidak sadar saja kalau dirinya sebenarnya juga tidak peka.


"Tapi jangan khawatir, aku punya teman buat kamu!" ucap Dini dengan begitu senang, "Kalian akan tinggal dalam satu kamar!"


"Tidak ...., aku tidak suka berbagi kamar!" tolak Ajun.


"Tapi aku suka ....!" ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dengan kursi rodanya. Dia adalah Juna, Juna di ikuti beberapa perawat dengan membawa ranjang tambahan untuk Juna.


Ajun hanya bisa terdiam tanpa berkomentar lagi, melihat wajah Ajun yang bingung itu, Dini malah merasa Ajun sangat imut.


Ihhhhh pengen cubit dehhhh ......


Juna pun naik ke atas ranjangnya di bantu oleh beberapa perawat, tempat tidur mereka hanya berjarak satu meter saja.


"Baiklah ...., sekarang aku tinggal ya, kalian baik-baik dan ingat jangan bertengkar apalagi berkelahi, kalau sampai berkelahi maka catatan untuk tinggal di sini akan lebih lama lagi!" ucap Dini, ia pun pergi bersama para perawat.


Ajun yang masih belum terima berusaha memanggil Dini.


"Kuncir ....., Kuda ....., kembali ....., hei kalian kembali .....!"


Tapi terlambat pintu sudah di tutup.


Kenapa mereka meninggalkanku dengan pria ini ......, batin Ajun sambil melirik pada Juna dengan begitu kesal.


Ahhhh ternyata dia benar-benar menggemaskan ....., batin Juna sambil tersenyum menatap adik laki-lakinya itu.


Kenapa dia menatapku seperti itu, memang ada yang lucu ....., menyebalkan ....., batin Ajun, ia segera merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi Juna, ia juga menutup tubuhnya dengan selimut.


Hahhhh ....., apa dia tetap menatapku ...., jangan-jangan dia menyukai bokongku ...., batin Ajun. Ia pun segera berbalik dan benar Juna masih menatapnya. Kini Juna mengangkat kedua alisnya mengajukan pertanyaan pada Ajun.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ajun.


"Aku hanya sedang menunggu kamu mengajukan pertanyaan padaku!"


"Siapa juga yang mau mengajukan pertanyaan padamu!"


"Benarkah?"


"Hemmmm!" jawab Ajun mantap.


"Aku kari kamu akan bertanya, baiklah kalau begitu, aku akan istirahat!" ucap Juna dan hendak merebahkan tubuhnya tapi terlihat kesusahan karena punggungnya terluka.


"Terimakasih!" ucap Ajun dengan nada rendahnya. Sebenarnya bukan cuma itu yang ingin di dengar oleh Juna.


"Cuma itu?" tanya Juna.


"Kenapa menyelamatkan nyawaku! Atau lebih tepatnya kenapa mengorbankan dirimu sendiri demi aku?"


"Karena aku abang mu, karena aku mas mu!" ucap Juna dengan santainya.


"He he he ....., becandanya nggak lucu!"


"Memang nggak becanda! Memang kamu pernah bertanya atau tidak pada paman kedai kopi tentang asal usul mu?"


"Kau mengenalnya?"


"Ayah kita yang mengenalnya, dia adalah anggota letjen Wira yang berhasil selamat dan membawamu pergi!"


"Apa buktinya?" tanya Ajun dan Juna pun mengambil sebuah foto dari dompetnya.


"Lihat ini, kau punya potongannya kan?"


Ajun pun mengambil foto dari tangan Juna dengan sedikit kesusahan karena ia belum bisa turun dari tempat tidur, kakinya masih di gip.


Foto yang di tunjukkan kepada paman pemilik kedai kopi beberapa waktu lalu oleh Juna hanya potongannya saja, dan sebagiannya lagi yang membawa Ajun. Ajun pun mengambil foto yang ia simpan di dalam dompetnya, setelah ia menyatukannya, ternyata benar, itu adalah foto yang sama, satu lembar yang sengaja di sobek menjadi dua.


"Jadi kau benar saudaraku? Kakak ku?" tanya Ajun yang masih tidak percaya.


"Gimana? Kamu cute kan waktu kecil?" tanya Juna, "Aji Sadewa!"


"Jangan memanggilku seperti itu!" keluh Ajun yang tidak terlalu menyukai nama itu. "Tapi aku cukup tertekan mempunyai saudara seperti mu!" ucapnya lagi.


Juna pun segera turun dari tempat tidur dan memeluk Ajun, Ajun pun melakukan hal yang sama. Untuk pertama kalinya Ajun terlihat mengeluarkan air matanya.


"Jangan terlalu keras memukul punggungku, punggung ku masih sakit!" ucap Juna yang masih dalam pelukan Ajun, Ajun pun segera melepaskan pelukannya.


"Maaf .....!"


"Jangan menangis seperti itu, kau akan membuatku malu kalau ada anak buah ku yang melihat!"


Hal itu membuat mereka tertawa bersama, ini adalah pertemuan setelah sekian lama dan ternyata indah, sangat indah.


Ajun tiba-tiba diam, ia menatap Juna, "Pak Tama siapa?" tanyanya kemudian.


"Pak Tama ...., bapak angkat ku, dia temannya ayah waktu masih muda! putrinya sudah meninggal sejak kecil!"


"Kamu sengaja memalsukan data kan?" tanya Ajun menyelidik pada Juna.


"Issstttt kenapa menatapku seperti itu? Kau ini seolah-olah aku melakukan kesalahan besar saja!"


Juna pun kembali ke tempat tidurnya dan duduk di sana. Ajun masih dengan tatapan yang sama.


"Jika kau terus menatapku seperti itu, lama-lama aku bisa takut!" gumam Juna.


"Kau mengawasi ku ya selama ini?" tanya Ajun lagi dengan tatapan tajamnya.


"Ok ok ...., aku nyerah, iya ..., aku sudah mengawasi mu sejak lama!"


"Kau lebih menakutkan dari aku ....!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰