
Kini tinggal mereka berdua, tak ada suara hanya mungkin deru
nafas dan detak jantung mereka yang saling bersahutan, bahkan kata-kata pun
tak sanggup mewakili perasaan mereka.
Rendi mendekat pada Nadin, mengusap wajah Nadin, tangannya bergetar, wajah itu
yang selalu ia rindukan bahkan walau itu hanya satu jam, satu menit, ataupun
satu detik, rasanya tak ingin terpisah lagi dengan pemilik wajah itu.
“Kenapa bisa begini?, kenapa kau tak hati-hati? Bukankah
sudah ku bilang ...., untuk jangan kemanapun sebelum aku kembali, kenapa kau keras
kepala sekali?” rentetan kata protes itu yang keluar dari bibir pria dingin
itu, sungguh ia bukan pria romantis yang
akan dengan mudah mengumbar kata-kata cinta.
“Kenapa malah memarahiku?” Nadin tercengang, seharusnya ia
sudah tahu jika jadinya tak akan seromantis pemikirannya, ia menikahi balok es
bukan seorang pujangga yang pandai merangkai kata cinta, rindu dan
saudara-saudaranya.
Bukannya menjawab protes Nadin. Rendi segera menarik tubuh
Nadin ke dalam pelukannya.
“Biarkan seperti ini lebih lama lagi!” ucap Rendi dengan
mata yang terpejam, sudut mata itu ada titik bening yang hendak menetes, ia benar-benar merindukan pelukan ternyaman ini. Nadin pun
begitu, ia mengeratkan pelukannya pada suaminya itu.
Setelah puas berpelukan, Rendi sedikit menjauhkan wajah
Nadin, menakup dagunya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tak
lepas melingkar di pinggang Nadin.
Ia menunduk agar bisa menjangkau wajah Nadin, menatapnya
begitu dalam, lima, empat, tiga, dua, satu.
Bibirnya menempel sempurna di bibir
Nadin. Sebuah ciuman yang tidak menuntut. Ciuman yang penuh dengan kerinduan,
begitu lama dan lembut, hangat menjalar ke seluruh tubuh, menyalurkan setiap
kerinduan untuk saling bertaut.
Ciuman itu semakin lama semakin memanas, kehangatan itu
berubah menjadi gairah, semakin menuntut untuk di puaskan, tangan Rendi pun
turut ambil bagian.
Rendi menggiring tubuh Nadin ke sofa yang berada di sudut
ruangan itu, ia menjatuhkan tubuh Nadin, sedangkan Nadin hanya bisa pasrah
dengan perlakuan Rendi. Mereka menumpahkan kerinduan di balik temaram ruangan
gelap tanpa penerang, hanya ada seberkas cahaya yang menerobos masuk melalui
celah-celah jendela yang terbuat dari kayu.
Rendi kembali merapikan baju Nadin setelah selesai
menumpahkan hasratnya, rindunya pada Nadin membuatnya tak bisa menahan diri.
“Maafkan aku, karena tak bisa menahan diri!” ucap Rendi
sambil mengecup kening Nadin, Nadin hanya bisa tersenyum. “Kita pergi dari
sini!”
Rendi hendak mengangkat tubuh Nadin, tapi Nadin menahan
tangan itu. “Jangan!”
Rendi mengerutkan keningnya tak mengerti. “Jangan?”
“Aku sudah berjanji pada Merry!”
“Merry siapa?”
“Wanita tadi, ia akan membantuku keluar dari rumah itu
setelah Alex melancarkan rencana ke duanya!”
“Dan kau setuju!” rendi berdiri tak percaya dengan apa yang di katakan Nadin, ada kesempatan bagus tapi Nadin malah akan melewatkannya, ia mendesah kesal,
mengepalkan tangannya dan meninjukan ke udara.
“Maafkan aku …, dia sudah banyak membantuku, aku harus membalasnya. Dan untuk hari
ini dia juga yang membantuku!”
“Apa rencana ke duanya?”
“Aku belum tahu mas, tapi ada hubungannya dengan
perusahaan. Merry sudah berjanji padaku
ia akan membantuku untuk melarikan diri sebelum Alex melanjutkan ke rencana ke
tiganya!”
“lalu rencana ke tiga alex, apa kau juga tidak tahu?”
“aku tahu!” Nadin menunduk, ia ragu untuk mengatakannya.
“apa?" lama Nadin membungkam, membuat Rendi tak sabar untuk mengulang pertanyaan nya yang ke dua kalinya. "Katakan!"
“Menjadikan aku istrinya, dan melihatmu hancur!” ucap Nadin tanpa berani menatap suaminya itu.
“Brengsek kau Alex, aku bersumpah aku pasti akan membunuhmu
…!” umpat Rendi, kali ini ia benar-benar marah.
Brrakkkk
Rendi meninju apapun yang ada di sana, hingga membuat anak buah Alex curiga, mereka hendak masuk karena mendengar keributan, samar-samar Nadin dan Rendi
mendengar dari luar suara rebut-ribut pengawal hendak masuk.
“Kenapa kau di luar, Merry?”
“Nona sedang ingin istirahat di dalam.”
“apa kau tidak mendengar ada keributan di dalam?”
semalam ia kurang tidur karena tuan Alex datang mengunjunginya..”
Nadin seketika di buat panik, ia berdiri dan mendorong tubuh Rendi agar pergi dari tempat itu. “Mas …., pergilah dari sini
…!”
“Aku tidak akan pergi tanpa kamu.” Rendi bersikeras.
“Ayolah mas …, jangan keras kepala …, aku mohon pergilah ....!”
“Bagaimana kau bisa pergi tanpa kamu!”
“Aku mohon, aku janji, tidak lama lagi …, mungkin tiga atau
empat hari lagi kau boleh membawaku, aku janji!”
Nadin mendorong tubuh Rendi menuju ke pintu belakang, tepat
saat bersamaan anak buah Alex itu masuk, untung saja Rendi sudah benar-benar
keluar.
Brakk
Pintu terbuka.
“Nona …, nona tidak pa pa? sepertinya tadi kami mendengar
keributan!” Tanya anak buah Alex itu sambil mengedarkan pandanganya ke segala penjuru
ruangan itu. Sedangkan Nadin masih berdiri di balik pintu.
“Keributan …!” Nadin bingung harus menjawab apa.
“Oh …, iya , itu anu …., apa …, ada tikus
yang masuk, aku memukulnya dengan kayu ini tapi sayang tikusnya berhasil
kabur!” ucap Nadin sambil mengambil balok kayu yang berada di samping
pintu.
Merry ikut mencari sesuatu yang tadinya ada bersama nadin, ia bisa
bernafas lega karena tidak terjadi kesalahan.
“Tapi nona tidak pa pa?”
“Tidak apa apa, kalian bisa lihat sendiri aku baik-baik
saja, ya sudah sepertinya sudah sangat sore, sebaiknya kita kembali saja ke
Villa!” ucap Nadin, ia pun segera meninggalkan ruangan itu dan langsung di
ikuti oleh anak buah Alex.
“Baik nona!”
Mereka pun kembali ke Villa, Rendi yang tak rela melepaskan
Nadin ia hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada anak buahnya dan
barang-barang yang ada di rumah sederhana itu. Untung saja anak buahnya dengan
sigap menutup seluruh jendela dan pintu jadi suara keributan tidak begitu
terdengar keluar.
Sesampai di Villa, Nadin langsung di sambut oleh Alex, entah
kenapa Alex menjadi semakin rajin saja mengunjungi Villa, kini bukan tiga atau
empat hari sekali berkunjung, tapi menjadi setiap hari.
“Dari mana saja?” tanyanya saat melihat Nadin hendak masuk ke
dalam Villa, sedangkan ia sudah duduk di kursi dengan sambil membaca majalah
bisnis di tangannya, ia melipat dan meletakkan majalah itu ke atas meja saat
Nadin tak juga menjawab pertanyaannya.
Nadin hanya menghentikan langkahnya, tak berniat untuk
menjawab, ia hanya menatap pria arogan itu, Alex yang merasa diabaikan, ia pun
berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Nadin.
Alex menarik tangan Nadin dengan sangat kasar, hingga membuat tubuh Nadin
terhuyung dan melekat di tubuh Alex, Nadin berusaha melepaskan tangannya dari
genggamannya Alex, tapi rasanya percuma karena Alex terlalu kuat.
“Jangan membuatku marah dengan terus mengabaikan ku!” bentak
Alex, bukannya takut tapi Nadin malah semakin menajamkan matanya menantang
kearoganan Alex.
“Berhenti terobsesi pada sesuatu yang bukan menjadi milikmu!”
ucap Nadin dengan penuh penegasan.
“Kenapa? Apa kau takut?” Tanya Alex sambil tersenyum,
sarkas.
“Aku tidak takut, apa lagi hanya pada orang sepertimu. Kau
yang seharusnya takut padaku, bukan aku!”
“Kau benar-benar ingin menguji kesabaran ku!”
“Iya …, lakukan apapun yang kau mau …, tapi jangan harap
bisa menyakitiku atau keluargaku!”
“Kurang ajar, aku terima tantangan mu!”
“Lepaskan aku sekarang …! Ayo lepas!” minta Nadin lagi, dan
Alex pun melepaskan tangan Nadin, membiarkan Nadin masuk. Ia benar-benar tak
menyangka jika wanita sekecil dan selemah Nadin mempunyai keberanian sebesar
itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘