
Akhirnya Rendi dengan cepat memakai bajunya, ia tidak mau
sampai Nadin menemui Divta sendiri. Setelah selesai mereka pun segera turun.
Ayah Salman masih bersama Divta, tapi saat melihat Rendi dan Nadin turun, ayah
salman pun berpamitan ke dalam.
“Itu Nadin dan Rendi sudah turun, kalian mengobrolah dengan
santai, saya ke dalam dulu …!” ucap paman salman sambil menunjuk ke arah Nadin
dan Rendi setelah itu berlalu meninggalkan mereka.
“Iya paman, terimakasih!” Divta pun menyahuti.
Mereka mendekati Divta, Rendi terdiam. Sebenarnya ia ingin
mengucapkan terima kasih, tapi mengingat tujuan pria itu datang ke rumahnya untuk
bertemu dengan istrinya membuatnya cemburu.
“Duduklah ….!” Perintah Rendi, ia masih mengedepankan sikap
tenangnya dari pada dibutakan oleh rasa cemburu.
“Tidak perlu Rend, aku ke sini hanya untuk …!” ucapan Divta
segera di potong oleh Rendi.
“Untuk menemui istriku, setidaknya kau butuh ijin dariku
jika ingin bicara dengan istriku!” ucap Rendi dengan tenangnya, ia juga
melingkarkan tangannya di pinggang istrinya seakan menegaskan bahwa wanita di
sampingnya itu adalah istrinya dan tidak akan pernah ia lepaskan untuk orang
lain walaupun ia akan sangat berhutang budi padanya.
“Mas …!” Nadin menghentikan ucapan suaminya. “kenapa
bicaramu pedas sekali …!” Nadin menatap suaminya tak percaya.
“bukankah aku bicara yang sebenarnya …!” ucap Rendi sambil
mengelus pipi Nadin, memasang wajah yang begitu manis. Ternyata rasa cemburu bisa membuat orang berubah.
Kenapa dia begitu manis sekali ….., aneh sekali …..
Nadin menatap Divta, pria itu terlihat masih tenang. Sangat
tenang, tak biasanya, biasanya ia adalah pria yang meluap-luap.
“Iya kau benar, Rend!” jawab Divta dengan santainya.
Mereka pun kembali duduk, Divta duduk berhadapan dengan
Rendi dan Nadin, ia duduk di sofa yang lebih pendek dari pada yang di duduki
oleh Rendi dan Nadin, sofa itu terlihat sederhana, tapi tampak elegan. Maksudnya tidak semewah di rumah Agra tentunya.
“Terimakasih karena kamu mau pergi ke sana, seharusnya aku
yang bertanggung jawab atas kekacauan ini!” ucap Rendi.
“Tidak pa pa, mungkin ini sudah jalannya! Sebenarnya kedatanganku
ke sini juga untuk berpamitan!”
“Berpamitan? Kenapa?” Nadin begitu bingung, sebenarnya apa
yang sedang dua pria ini bicarakan.
“Aku akan tinggal di luar negri untuk beberapa tahun ke
depan!” jawab Divta, tapi sepertinya jawaban Divta masih cukup membingungkan
untuk Nadin.
“Tapi untuk apa?”
“Ada sesuatu yang ingin aku bereskan!”
Saat Nadin hendak menanyakan hal detailnya, Rendi segera
mencegahnya dengan menggenggam tangan Nadin dengan erat tapi tatapan pria itu masih sama, ke arah Divta, hingga membuat Nadin
mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.
“kalau sekarang kau ijinkan, biarkan aku bicara sebentar
pada istrimu!” ucap Divta pada Rendi, sebenarnya Rendi tidak rela tapi melihat
pengorbanan Divta untuknya rasanya tidak adil jika menolak permintaan Divta.
Tak apalah berkorban sedikit demi pengorbanan yang lebih besar .....
“Baiklah …, aku akan tinggal ke dalam, tidak lebih dari lima
belas menit!” ucap Rendi memberikan waktu,
Rendi pun menarik tubuh Nadin agar berhadapan dengannya, ia mengecup kening Nadin
sebelum berdiri dari duduknya, membuat Divta harus mengalihkan pandangannya,
salah jika ia menganggap perasaannya sudah hilang.
Beberapa pertemuan yang tak
sengaja antara dirinya dengan Nadin telah membuat sebuah kenangan membekas di
dalam hatinya, bukan Cuma cinta monyet
seperti yang di rasakan pada Ara, tapi perasaan itu tumbuh saat ia sudah dewasa
dan matang.
Cukup lama Rendi mengecup kening Nadin, setelah itu ia pun
berdiri dari duduknya dan Rendi meninggalkan mereka berdua.
Kini tinggal Divta dan Nadin di ruangan itu, cukup lama
hingga Nadin tak sabar untuk memulai pembicaraan, ia cukup tidak nyaman karena
Divta terus saja menatapnya.
“Ada apa pak Divta?” Tanya Nadin, ia tidak suka dalam
“Aku ingin jujur padamu!”
“Apa?”
“Aku pernah mencintaimu dan akan tetap mengagumimu …!”
“Aku tahu …!”
“Aku serius girl ….!” keluh Divta.
“Aku juga serius, pak …, bukankah bapak juga pernah
mengatakannya …!” ucap Nadin dengan gaya ngeyelnya. Membuat Divta hanya bisa
menghela nafas, sulit juga bicara dengan wanita sepolos Nadin.
“Apa kau benar-benar tidak akan mencegahku jika aku pergi …?”
Tanya Divta penuh harap.
“Pergilah …, semoga nanti kau menemukan cintamu …!” ucap
Nadin dengan polosnya dan tanpa beban.
“Setelah ini aku akan benar-benar yakin untuk pergi …!”
Sepertinya Nadin menyadari kesalahan dalam ucapannya, Nadin
pun mendekat pada Divta. Ia memegang tangan Divta.
“Mr D ku …, Aku selalu berdoa, setelah ini kau akan mendapatkan
keluarga yang akan sangat menyayangiku, mungkin sayang dan cintanya pada bapak
akan lebih besar dari cintaku pada mas Rendi …!” Divta menatap tangan Nadin, ia
tersenyum. Rasanya kepergiannya kali ini tidak akan pernah sia-sia. Divta
menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya.
“Terimakasih …, aku akan pergi, salam untuk Rendi …, jaga
dirimu baik-baik …!” Divta melepas pelukannya dan berlalu begitu saja
meninggalkan Nadin. Ia sekarang bisa lebih lega untuk pergi, ia membawa cinta
dan harapan dari Nadin itu sudah cukup baginya.
Rendi ternyata memperhatikan mereka dari balik dinding, ia
menghampiri Nadin yang masih terpaku di tempatnya.
“memang perlu berpelukan!” ucapan Rendi seketika menyadarkan
nadin.
“Mas Rendi sejak kapan di situ?”
“Sejak kau memegang tangannya dan di peluk olehnya!”
“Itu kan cuma ucapan selamat tinggal, bukan pelukan yang
macam-macam. Kak Agra kemarin juga memelukku!”
“Kenapa kau suka sekali mendebatku!” keluh Rendi. Ia pun
mendekati Nadin membuat nadin memundurkan langkahnya.
“Kenapa mundur?” Tanya Rendi.
“Tidak …, aku hanya memberi celah saja …!”
“Celah …? Celah untuk apa?” Tanya Rendi lagi, kini tangannya
sudah berhasil menarik tangan Nadin membuat Nadin terpekik.
“Celah supaya mas Rendi tidak dekat-dekat denganku!”
“kenapa? Bukankah aku suamimu …, tapi kenapa kau keberatan
saat aku dekat denganmu?”
Rendi menarik tubuh Nadin kedalam pelukannya,. Kini tak ada
celah di antara mereka. Rendi mengecup bibir nadin begitu ganas dan penuh
nafsu. Nadin hendak melawan tapi Rendi tak memberinya kesempatan. Tapi mata
nadin melotot saat melihat ada ayah salman tak jauh dari mereka sedang tersenyum.
Bruuukkkkk
Nadin mendorong tubuh Rendi dengan keras hingga tubuh Rendi
membentur sofa. Rendi menajamkan matanya.
“Maafkan aku, tapi ada ayah …!” ucap Nadin sambil menunjuk
pada ayah mertuanya itu, rendi pun segera bangun dan menoleh ke arah ayahnya.
Ayah Salman hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu begitu saja tanpa
berkomentar.
“Sejak kapan ayah di situ?!” Rendi terlihat panik, selama
ini ia tidak pernah terlihat kekanakan di depan ayahnya. Rendi yang dingin dan
tegas itu kini telah bucin.
“Mungkin sejak mas Rendi menghampiriku!”
“kenapa tidak bilang!” rendi kesal, ia pun berlalu menuju ke
dalam kamarnya, sedangkan Nadin hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Dia yang mulai …, kenapa kesalnya sama aku …!”
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘