MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Dasar Bocah



   Sungguh sulit bagi Rendi.


hari-harinya, perjuangannya untuk melupakan Ara. Bagaimana tidak setiap hari


mereka bertemu. Melihat Agra dan Ara bersama, membuat hatinya sakit.


Hari itu Agra,


Rendi dan dokter Frans sedang menghabiskan hari libur di sebuah kafe. Mereka


sudah lama sekali tidak bersama bertiga semenjak Agra menikah. Mereka memesan


ruang VVIP. Jadi privasi mereka tetap terjaga.


Agra datang


terlambat. Tapi ia datang sendiri. Apa ada masalah dengan Agra dan Ara? Itu


yang ada di pikiran Rendi. karena berdasarkan laporan anak buahnya mereka


keluar rumah bersama. Ya Rendi tak pernah melepaskan pengawasan atas bosnya


itu.


Rendi tak mau


berteka-teki. Ia pun segera menanyakan keberadaan Ara.


“Lalu dimana


Ara?” tanya Rendi. walaupun dia khawatir, ia tidak menunjukkannya. Ia tak mau


semakin membuat Agra marah. Ia tahu jika sebenarnya Agra tahu jika dirinya


menyukai Ara sejak lama. Tapi Agra pura-pura tidak tahu.


“Bukan urusan


lo ...” jawab Agra ketus. Rendi tak pantang menyerah. Ia terus berusaha


mengorek informasi.


“Akan bahaya


jika Ara pergi sendiri.”


“Dia istri gue,


jadi jangan terlalu mengurusi urusanku.”


“tapi apapun


yang berhubungan denganmu, akan menjadi urusanku.”


“benarkah


seperti itu?” Agra tampak meragukan ucapan Rendi. “Bukan karena terlalu


mencemaskan istriku kan?”


Setelah Rendi


tak membuahkan hasil. Untuk Frans mengerti kode dari Rendi. ia pun ikut


menanyakan. Mungkin jika dia yang bertanya Agra akan memberi tahunya. Dan benar


saja, apa yang di pikirkan Rendi.


“Memang lo


tinggal di mana kakak ipar?” tanya Frans.


“aku


mengatarnya bertemu dengan adiknya.” Jawab Agra santai.


Tapi Rendi


malah tampak khawatir.


“Di rumah ...?”


“Ia bertemu


dengan adiknya di kampus.”


“Apa?"


Rendi


benar-benar terkejut. Bagaimana bisa Agra meninggalkan istrinya di kampus.


Rendi khawatir. Di sana ada si pria brengsek itu, tapi ia tidak mungkin


menunjukkan kekhawatirannya di depan Agra. Rendi pun mengirim pesan pada anak


buahnya untuk mengawasi Ara di kampus.


Agra yang


mulanya tenang, tiba-tiba menjadi terlihat panik. Ia pun meninggalkan Rendi dan


Frans.


“kenapa dia


ceroboh sekali ...?” Gumam Rendi. ingin rasanya segera pergi tapi Frans


menahannya.


“Jangan di


pikirkan, dia akan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.” Frans menepuk


punggung Rendi berusaha memberi penjelasan supaya sahabatnya itu tidak terlalu


ikut campur. Frans tahu jika sahabatnya itu mencintai istri Agra.


“memang kemana?


Apa yang akan dia lakukan?” ucap Rendi dengan tatapan kosong.


“dia pasti


menemui kakak ipar, kayaknya Agra sudah mulai jatuh cinta.” Ucapan Frans


seketika mempengaruhi pikiran Rendi. entah kenapa hatinya terasa sangat sakit.


“Syukurlah


....”


“Lo harus


merubah haluan ..., jika sudah rela, maka relakan ..., jangan membuat dirimu


terluka semakin dalam.”


“Aku tahu ...”


“Tapi wajahmu


itu tidak bisa menyembunyikan jika kau memang ...” belum selesai Frans


berbicara, Rendi dudah berdiri dari duduknya.


“Sudah


hentikan, aku pergi ...” Rendi pun meninggalkan Frans. Ia keluar dari kafe dan


menghubungi anak buahnya. Mobil sudah siap di depan kafe.


“kita ke kampus


nona Ara.” Ucap Rendi saat sudah masuk ke dalam mobil.


“Baik tuan ...”


***


Nadin sengaja


hari ini menunggu kakaknya. Kakaknya setelah tinggal di rumah besar itu menjadi


sulit sekali di hubungi. Bahkan untuk bertemu saja tidak bisa.


Nadin menunggu


kakaknya di taman kampus. Kakanya sudah memberi kabar bahwa sudah berangkat.


Mungkin sebentar lagi ia akan sampai. Tak berapa lama ia menunggu. Ia sudah


melihat kakaknya. Ia melambaikan tangan memberi tanda pada kakanya.


“kakak ..., aku


merindukanmu ...” ucap Nadin saat kakaknya sudah berada di hadapannya. Nadin


pun segera memeluknya.


duduk di kursi taman. Saling bertukar kabar. Meluapkan rasa rindu. Ara


menanyakan kabar ayahnya. Ya ayahnya telah mendiamkan Ara.


Setelah


beberapa saat Nadin dan Ara bersama. Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan


kedatangan seseorang. Seseorang yang pernah Nadin suka, Nadin kagum.


“Ara ...”


sapanya. Dia adalah Dio. Mantan pacar kakak Nadin.


“kak Dio ...”


Nadin terkejut begitu juga Ara. Bagaimana Dio bisa tahu mereka di sana? Rasanya


Nadin ingin segera mengajak kakaknya pergi dari situ. Tapi bagaimana?


“Bisa kita


bicara?” tanya Dio pada Ara.


“Bicaralah


...!” jawab Ara dingin.


“Berdua saja


...” pinta Dio. Saat Dio mengatakan itu. Ingin rasanya Nadin menangis. Tapi apa


pantas cowok sepertinya di tangisi.


“Kakak ...,


biar aku pergi.” Tapi tangan Nadin di tahan oleh kakaknya. Ara memberi isyarat


pada Nadin untuk tidak meninggalkannya.


“Tapi kak ...”


Nadin tak mungkin terus di situ. Itu akan membuat hatinya semakin terluka. Tapi


kakaknya lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Seakan memohon pada Nadin untuk


tidak meninggalkannya.


Ternyata


kedatangan Dio untuk meminta maaf pada Ara. Ia menyesali apa yang telah ia


perbuat. Dio meminta Ara untuk memaafkannya dan memintanya kembali.


“Aku sudah


memaafkanmu, tapi untuk kesempatan kedua. Maaf ..., aku tidak bisa ...”


“kenapa?” tanya


Dio yang merasa kecewa.


“Karena Ara


sudah menikah denganku ...” tiba-tiba Agra datang dan menjawab pertanyaan Dio.


Nadin, Ara dan Dio sama-sama menoleh ke arah Agra. Ya semuanya terkejut.


Terjadi adu


mulut di sana. Antara Dio dan Agra. Sedang Ara dan Nadin hanya menjadi


pendengarnya. Ara sudah menunduk takut. Tapi lama kelamaan adu mulut itu


berubah menjadi adu jotos. Nadin dan Ara panik.


Ara dan Nadin


mencoba melerai mereka. Ara mencoba memegang Agra sedangkan Nadin memegang Dio.


Tapi tenaga mereka tak cukup kuat untuk menahan tuubuh kekar kedua pria itu.


Tiba-tiba mata


Nadin hanya tertuju pada satu orang yang menghampiri mereka. Dia Rendi, pria


itu datang tepat waktu. Pria itu datang dengan pengawalnya. Dengan sangat mudah


mereka melerai Dio dan Agra.


“Hentikan pak


...” Rendi memegang tubuh Agra. Nadin begitu kagum dengan pria itu.


“Apa yang kau


lakukan. Biarkan aku menghajarnya.”


“Lihat


sekeliling anda pak, apa anda mau seluruh negri ini tahu ..., wajah anda akan


berada di laman depan majalah bisnis besok pagi” ucapan Rendi menyadarkan Agra.


Agra pun segera menghempaskan tangan Rendi , dan beralih menarik tangan Ara.


Meninggalkan tempat itu.


“Dengarkan


baik-baik ..., ini peringatan terakhirku. Jangan dekati nona Ara lagi, jika


sampai itu terjadi. Jangan salahkan, jika terjadi sesuatu pada anda.” Rendi


menajamkan matanya. Memberi peringatan.


Kemudian


tatapannya beralih pada Nadin yang berdiri tak jauh dari Dio. Rendi menatap


Nadin tak kalah tajamnya dari tatapannya pada Dio. Membuat bulu kuduk Nadin


berdiri.


“Lepaskan dia


...” Rendi menyuruh ajudannya untuk melepaskan Dio.


Rendi pun


meninggalkan Nadin dan Dio. Saat Rendi tak terlihat lagi. Nadin pun segera


menghampiri Dio.


“Kak Dio ...,


pasti sakit sekali ya ...” ucap Nadin sambil mengusap bibir Dio yang


mengeluarkan darah.


***


Saat Rendi


hampir mencapai mobilnya. Entah kenapa dia jadi terpikirkan oleh gadis kecil


itu. Langkahnya terhenti. Ragu untuk melanjutkannya.


“Kalian tunggu di


sini. Ada yang harus aku urus.” Rendi meninggalkan kedua pengawalnya di mobil.


Ia kembali masuk ke halaman kampus. Ketempat dimana ia meninggalkan Nadin dan


Dio. Saat langkahnya sudah mencapai bibir taman. Langkahnya terhenti.


Rendi melihat


Nadin dan Dio sedang duduk di kursi taman tak jauh dari tempat tadi. Terlihat


Nadin sedang mengobati luka Dio.


“Ciiihhhttt


..., apa yang aku pikirkan. Dasar bocah ...” Rendi pun memilih meninggalkan


tempat itu. Ia kembali ke mobilnya dan meninggalkan kampus tanpa peduli lagi


pada Nadin.


***


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA KASIH UPAH DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA


KASIH VOTE JUGA