
Rumah besar itu tampak ramai. Terlihat
ibu-ibu dan bapak-bapak pengajian yang
sebagian besar tetangga Agra dan Ara di rumah kontrakan mengisi kursi tamu.
Kini si kembar sudah usia satu minggu. Di sana sedang di adakan acara akikah.
Acara berlangsung khitmat. Roy tak dapak
hadir karena ia harus menjemput saudara kembarnya, setelah Agra mencarakan keberadaannya.
Roy terbang ke Kalimantan di temani Salman. Ia berencana mengajak saudara
kembarnya untuk kembali ke Jakarta.
Diiringi sholawat, Agra yang mengendong
Sanaya dan Ara yang yang menggendong Sagara mengelilingi satu persatu keluarga
untuk memotong sedikit demi sedikit rambut putra putrinya. Agra sebagai ayah
dari kedua putra putrinya pun segera mengumumkan namanya.
Usai mengesahkan nama SAGARA dan SANAYA
, pak yai yang bertugas memberikan tausiyah , segera memberikan tausyah
singkatnya. Kemudian di lanjut dengan acara ramah tamah, di mana semua undangan
bisa mencicipi semua hidangan yang di sediakan.
Banyak para awakj media juga yang hadir,
rekan bisnis dan semua kenalan Agra di undang, teman-teman Agra di pasar, di
kafe, semua karyawan kafe. Dan masih banyak lagi. Rumah besar itu seakan penuh
dengan para tamu.
“duduklah sayang ...., biar mereka
bersamaku ...” ucap Agra sambil mengambil Sagara yang ada di gendongan Ara.
Agra dan Ara duduk di sofa panjang.
“kakak .....” teriak Nadin yang baru datang.
Nadin datang dengan tatapan merasa
bersalah.
“dek ....” sahut Ara.
“kak ..., maaf ya , aku datang
terlambat, tadi motorku mogok.”
“kakak kira kamu nggak datang, dek. Kata
ibu, ayah ke Samarinda.” Ujar Ara.
“iya ...,untuk mencari paman ....” jelas
Nadin, ia menatap Gara dan Naya yang ada di gendongan Agra. “uuuh lucu banget
keponakanku ini ..., bibi gendong Nay dulu ya ...”
Nadin pun mengambil Naya dari gendongan
Agra.
“lucu kan pak ...?” tanya Nadin pada
pria yang berdiri di samping Agra. Tentu hal itu menarik perhatian Agra dan
Ara.
“sejak kapan kamu di sini, Rend?” tanya
Agra.
“baru saja.” Ia memberikan dua kadonya
pada Ara. “dariku dan ...” mata Rendi mengedip mengarah ke Nadin.
“uhuk uhuk uhk ...” suara batuk Dokter
Frans yang baru saja menghampiri kedua sahabatnya. Ia lekas menyantap pudingnya
tapi gagal gara-gara ucapan Rendi.
“kalian datang bersama?” tanya dokter
Frans yang kepo.
“aku juga mau tanya itu tadi.” sahut
Agra
Tapi Rendi tetaplah Rendi. ia hanya acuh
sambil meletakkan kadonya, tanpa mempedulikan ucapan kedua sahabatnya.
“tadi nggak sengaja ketemu di jalan kak,
motorku mogok, kebetulan pak Rendi lewat. Aku nebeng sama pak Rendi.” Nadin
dengan cerewetnya memberikan penjelasan.
“jadi seperti itu ..., tidak karena hal lain
kan?” Ara menatap adiknya penuh curiga.
“memangnya aku ada tampang bohongnya apa
kak ...” ucap Nadin kesal karena di ledek oleh kakaknya.
“adik kakak ipar lucu ya ...,
menggemaskan ...” ucap dokter Frans sambil menepuk punggung Rendi.
Sedangkan Rendi yang di ledek hanya diam
tak mau tahu. Ia memilih duduk di salah satu kursi. Tanpa mempedulikan pipi
Nadin yang sudah menyerupai tomat.
***
Keluarga mereka berkumpul hingga malam.
Divta pun ikut berkumpul di sana. Hubungan mereka sekarang sudah menjadi baik.
Bahkan Ratih meminta Divta untuk tinggal bersama, tapi Divta menolaknya. Ia
belum sepenuhnya bisa menerima jikadia harus bertemu seseorang yang telah
mencuri hatinya sejak kecil bahagia bersama orang lain. Ia harus belajar
perlahan.
Nadin pun tak sungkan lagi. Ia membantu
apapun di sana yang bisa di bantu. Para pelayan pun sudah melarangnya. Tapi
tetap saja mereka kalah dengan cerewetnya Nadin. Menurut mereka Ara adalah yang
paling cerewet di rumah besar ini, tapi ternyata masih ada yang melebihinya.
Nadin si cerewet.
Tanpa Nadin sadari, sepasang mata dingin
milik seseorang selalu mengikuti langkahnya. Ia seperti teringat sesuatau.
Kecerewetannya sama. Ya gadis yang sama waktu itu.
Nadin segera merapikan
barang-baramngnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ia pun
berpalitan kepada kakak dan keluarganya. Ia harus pulang karena tak mau terlalu
“kenapa buru-buru dek, masih sore lho
...”
“di rumah nggak ada orang kak, kan ayah
belum pulang, jadi aku harus jaga rumah. Ayah bisa marah jika rumahnya dibiarin
kosong, apalagi mang ujang juga harus ronda malam ,malam ini.” Jelas Nadin pada
Ara.
“biar di anter sama pak Mun ya? Katanya
motor kamu mogok.”
“nggak usah kak, ini masih sore ..., aku
mau sekalian jalan-jalan, jadi kakak nggak usah khawatir. Jadi aku naik ojek
online aja.”
“tapi –“ Ara tampak khawatir. Tapi
segera Agra membisikkan sesuatu yang membuat Ara tersenyum.
“kenapa kakak jadi senyum sendiri?”
tanya Nadin penasaran.
‘nggak, ya udah sana pulang.”
“kakak ngusir nih ceritanya.”
‘katanya tadi mau pulang, ya udah sana
pulang.”
“ya deh ..., Assalamualaikum kakak ...”
“waalaikum salam..., janganm lupa kabari
kakak kalau sampai rumah ...”
“siap ...”
Nadin pun segera beranjak pergi setelah
mendapat jawaban dari orang-orang. Ia menyusuri jalan berpaving perumahan elit
itu. Rumah besar itu berada di gang paling belakang. Jadi Nadin harus berjalan
cukup jauh.
Nadin mencari-cari ponselnya di dalam
tas kainnya. Ia hendak memesan ojek lewat sebuah aplikasi. Tiba-tiba saja,
sebuah mobil berhenti di sampingnya. Kaca pintu depan sebelah kiri terbuka,
Nadin bisa melihat siapa yang berada di dalam sana.
“Naiklah....!, aku akan mengantarmu,”
perintah Rendi. ya ucapannya terdengar seperti sebuah perintah. bukan sebuah tawaran.
“Sa-saya naik ojek.” Nadin menolak dengan
menunjukkan layar ponselnya.
“Naiklah,” paksa Rendi.
Nadin berfikir sejenak, tapi Rendi tak
sabar. Ia membukakan pintu mobil dari dalam, memaksa Nadin agar tak membuang
waktu.
“dia
ini ya ..., memangnya aku siapanya dia ..., dasar balok es ...” batin nadin sambil masuk ke dalam mobil.
“ini perintah Agra.” Ucap Rendi tanpa
menatap ke arah Nadin.
Ah .... sudah ku duga, mana bisa balok es berinisiatif sendiri, seharusnya aku sudah menduganya dari tadi ....
“Maksudnya?” Nadin gagal mencerna ucapan
Rendi. Nadin berfikir harus meluruskan semuanya.
“jangan Ge eR.”
"jadi ini nggak iklas?, ya udah kalau
nggak iklas aku turun saja. Aku tinggal jalan kaki sebentar trus ketmu angkot deh ....” Nadin hampir saja meninggalkan mobil Rendi. tapi
sebuah tangan menahan lengannya agar tidak keluar dari mobil.
Jangan tatap dia ....., jangan tatap dia ...., kamu harus bisa Nadin ...., kamu bisa ...
Sebisa mungkin Nafin menghindari menatap Rendi, hanya dengan melihat wajah dinginnya saja, hatinya akan beku. Bagai kerbau di cokol hidungnya.
“diam, dan jangan kemana-mana.”
Dan benar saja, Nadin tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah Rendi. Semua pendiriannya selalu kalah di depan pria itu.
Nadin pun kembali mengurungkan niatnya.
Ia menutup pintu mobilnya. Rendi pun mulai melajukan mobilnya.
Mereka saling diam. Nadin terlanjur
kesal dengan pria di sampingnya itu.tak ada percakapan di sana. Sekitar dua
puluh menit menikmati perjalanan dengan saling diam.
Akhirnya mobil terhenti di sebuah rumah yang sudah sering Rendi
amati.
“Anak buahku yang akan mengantarkan
motormu besok.” Ujar Rendi sebelum Nadin keluar dari mobil.
Ahhh ...., ia aku hampir melupakan motor itu ....
“nggak perlu, biar aku ambil sendiri."
Jawab Nadin ketus.
"anggap saja ini sebagai ganti rugi atas
kecelakaan beberapa waktu lalu ...”
“kecelakaan?’ tanya Nadin yang masih
merasa bingung.
Apa dia mengingatnya, ya dia mengingatnya ....
“sudah lupakan, sana turun ...” usir
Rendi.
‘dasar balok es ...’ umpat Nadin sambil
keluar dari mobil. Ia sengaja menutup pintu mobil dengan keras. Membuat Rendi
sedikit terkejut.
“dasar bocah ..., menyusahkan saja ...”
Rendi pun tak mau berlama-lama, ia segera menyalakan mesin mobilnya dan dalam
hitungan menit mobil itu sudah melesat meninggalkan halaman rumah Nadin.
***