
Jika memang memendam rasa kepadamu begitu sulit dan menyakitkan, tapi mengapa hatiku enggan menyerah hingga detik ini.
*****
Perih memang jika kita mencintai orang secara diam-diam. Kita tidak bisa memilikinya, namun kita masih saja memperhatikannya dari kejauhan. Dan yang paling sakit dari itu semua adalah ketika seseorang itu sebenarnya tahu tentang perasaan kita, namun dia malah pura-pura gak tahu atau malah tidak peduli akan hal tersebut.
Davina hanya bisa terus menatap Nadin dengan kesal, ia membolak balikkan makanannya tanpa berkeinginan untuk memakannya. Ia iri melihat Nafin yang di perhatikan oleh tiga pria sekaligus.
Rendi ....., bagaimana dengan Rendi ...., ia bagai balok es, bukannya meleleh tapi ia malah mengeraskan hatinya. Tangannya mencekeram garpu yang ada di tangannya, ia tidak suka melihat Nadin di perhatikan orang lain, tapi ia juga tidak tahu cara mengatakannya.
Sedangkan Divta, entah kenapa ia suka sekali menggoda Nadin, menggodanya menjadi kesenangan tersendiri.
Dokter Frans ...., dia hanya bisa tersenyum puas melihat wajah teman kulkasnya itu seperti batu, kerasss.
Setelah acara makan siang itu, Divta terpaksa memisahkan diri, sedangkan Rendi dan dr. Frans harus mengantar mereka pulang. Rencana Nadin untuk singgah di kafe Ara menjadi di batalkan.
"Terimakasih sudah mengatar kami .....!" ucap Nadin, ia menundukkan kepalanya.
Rendi seperti biasa, tak ada tanggapan, sedangkan dr. Frans tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Aku muak melihatmu bersikap manis seperti itu ....
Tampak Davina tersenyum dengan di paksakan, ia tersenyum pada dr. Frans dan Rendi.
Mereka menunggu hingga mobil Rendi meninggalkan halaman. Setelah mobil melaju dan tak terlihat lagi, Nadin dan Davina berbalik hendak masuk ke dalam rumah, tapi lagi-lagi langkahnya harus terhenti, karena ada sesuatu yang janggal di depan rumah.
"Hahhhh, ....., aaaa ......" teriak Nadin, ia syok melihat apa yang ada di depannya, bembuat Davina harus menutup kedua daun telinganya.
"Apasih Nad?" tanya Davina kesal.
Heboh sekali dia .....
"Lihat kak .....!" ucap Nadin sambil menunjuk sebuah motor di depan rumah. "Gila ....., ini benar-benar gila kak ....., si balok es itu mengganti motorku dengan yang baru, tapi lihat semuanya terlihat sama ....., cuma tampak lebih bagus ...., stikernya juga sama ...., cerry .....!"
Nafin pun terus mengitari motor itu, ia tak melihat ada yang beda hanya lebih baru dan mengkilat tentunya karena Rendi sudah menggantinya dengan yang baru, tapi tidak mengubah ciri khas motor itu.
Lebay banget ya dia ...., dasar cewek alay ....
"Bagus dong ..., motor kamu jadi baru ....!" ucap Davina.
"Ayah ......"
Nadin pun segera masuk ke dalam rumah, ia mencari-cari ayahnya. Saat masuk ke dapur, ia melihat ada Dewi yang sedang memasak.
"Ada apa sayang ...?" tanya Dewi saat mendengar teriakan Nadin. Di sana juga ada nenek Nani yang sedang duduk sambil mengupas bumbu dapur, sebangsa bawang merah dan bawang putih.
"Ibu ....., di mana ayah?" tanya Nadin yang tak menemukan ayahnya. Sedangkan Davina langsung masuk ke dalam kamar, ia sudah cukup muak melihat sikap kekanakan Nadin.
"Sayang ....., salam dulu kalau masuk rumah!" Dewi mengingatkan pada Nadin.
"Oh iya ...., maaf lupa ..." ucap Nadin dengan cengiran khasnya. "Assalamualaikum ibu ...., nenek ...."
"Walaikum sayang ....., ayah sedang keluar kota, katanya ada pengiriman barang ke sana, jadi pulangnya mungkin agak malaman, ada apa nak?" tanya Dewi dengan masih sibuk memotongi sayuran.
"Tadi pak Rendi ngirim motor baru bu, aku takut ayah marah."
"Enggak sayang ....., tadi ayah sudah telpon ibu, katanya ada yang ngirim motor. Makanya ibu nggak kaget ....!" Dewi berusahan menjelaskan.
"Aah ...., untunglah ...." ucapa Nadin lega sambil mengelus dadanya, ia pum segera duduk di samping nenek Nani.
"Hai nek ....." sapa Nadin.
"Bagaimana tadi, ada yang menjahatimu ....?" tanya nenek Nani.
"Nggak ada nek ...., siapa yang berani ngejahati Nadin? Nenek nggak tahu ya, cucu nenek ini pemberani."
"Baguslah ......, nenek jadi seneng ...."
"Oohh ...., iya sayang. Dimana kak Davina?" tanya Dewi.
Nadin pun menoleh ke segala arah, ia tak menemukan Davina di sana.
"Kamu itu gimana sih ...., di tanya kok malah balik tanya ...." Dewi tersenyum menanggapi kepolosan Nadin.
"Tadi sih sama Nadin, bu ...., mungkin langsung ke kamar ...." ucapa Nadin.
"Ya sudah ....., kamu yang sabar ya sama kakak kamu itu ..., walaupun dia kadang bertindak semaunya sendiri, tapi dia baik ...."
"Iya ibu ......, ih ... kenapa aku di sini, mata aku jadi pedas ya ...., kayak pengen nangis ...." ucap Nadin sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.
"Kamu duduknya dekat nenek sih ...., lihat tuh nenek lagi ngupas bawang." ucap Dewi sambil menunjukkan baki yang ada di depan nenek Nani.
"Aah nenek ...., ya sudah aku mandi dulu, mataku pedas, pengen nangis ...." ucap Nadin sambil berdiri meninggalkan nenek dan ibunya.
"Iya ...., jangan lupa cuci muka ....!!!!" teriak Dewi. "Dasar anak itu ....., semoga Davina bisa seperti Nadin ya bu ..."
"Iya ...., semoga ....!"
***
Malam itu, Nadin kembali duduk di depan meja, ia tampak menghadap layar lipatnya. Tugas kuliahnya semakin hari semakin banyak. Sedangkan Davina sedang asyil memaingkan ponselnya di atas tempat tidur.
"Kakak nggak belajar?" tanya Nadin pada Davina.
"Nggak ah ...., malas ..., aku nebeng aja ya tugasnya, ntar kopikan ke flaskdisk aku ya biar aku edit namanya."
"Iya kak ...., tapi kakak nggak nyesal?"
"Ya nggak lah ...., kata teman sekelas kita, kamu termasuk mahasiswa berprestasi jadi, pasti pekerjaanmu akan bagus."
Kak Davina ...., kenapa berbeda sekali dengan kak Ara ...
Nadin pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Kamar itu kembali hening.
"Din ...."
"Iya ....?" tanya Nadin tanpa menoleh le sumber suara.
"Boleh pinjem HP kamu nggak?" tanya Davina.
"Itu kak di atas nakas, nggak pernah aku kasih pola kok...."
"Makasih ...."
Davina segera mengambil HP milik Nadin yang berada di atas nakas tak jauh dari tempatnya. Tampak ia sedang mengotak-atik HP Nadin, ia membuka galeri milik Nadin. Ia melihat foto-foto di sana.
"Ini kak Ara ya?" tanya Davina saat melihat foto yang sama seperti yang ia lihat ei barang-barang peninggalan Dafian, ayahnya.
Nadin pun akhirnya menoleh, memperhatikan foto yang di tunjuk oleh Davina.
"Iya kak ...., itu kak Ara dan suaminya, namanya kak Agra. Dia atasannya pak Rendi. Kak Ara sudah punya baby twins ...., ah ... jadi kangen sama mereka ...."
Davina menganggukengerti dengan penjelasan yang di berikan Nadin. Davina lanjut melakukan pencariannya. Ia melihat foto-foto Rendi di sana, Foto seorang cowok bersama Nadin seperti di sebuah acara.
"Kalau ini foto siapa?" tanya Davina sambil menunjukkan foto itu.
"Oh ...., itu kak Jerry, dia teman masak kecil kami, aku dan kak Ara. Kami sudah lama tak bertemu ...., dulu dia gendut sekali, hingga kami memanggilnya embul. Tapi sekarang dia sangat tampan ...., itu aku ambil pas menghadiri acara peresmian pembukaan kafe kak Ara dan kak Agra."
Lagi-lagi Nadin menjelaskan panjang lebar, Davina kini setidaknya sedikit demi sedikit tahu orang-orang yang dekat dengan Nadin. Setiap menemukan foto seseorang Davina akan menanyakannya dan Nadin akan menjelaskannya.
*****
Saat kamu hanya bisa memendam perasaan kepada seseorang, saat itu juga, kamu harus siap melihat dia bersama yang lain.
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya
Kasih Vote juga ya yang banyak ....
Happy Reading 😘😘😘😘😘