MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Sate kambing



Rendi selesai dengan mandinya, ia kembali ke meja makan. Ia melihat di meja makan ada


kota makan, terlihat Nadin edang sibuk di dapur. Rendi memeriksa dua kotak


makan itu, masih utuh. Ada kertas di atasnya.


“My husband, ini makanan rasa cinta untuk yang paling ku cinta. Tokki mu.”


Rendi tertegun, menatap istrinya dengan nyalang, ia menjatuhkan tubuhnya di kursi.


Penyesalan karena telah membuat istrinya menunggu, membuat istrinya melewatkan


makan siangnya karena telah menunggu dirinya.


Rendi kembali bangkit, ia mendekati istrinya, Nadin yang merasa suaminya berada di


dekatnya dan memperhatikannya, ia mendongakkan kepalanya, dan benar saja Rendi sudah berada di hadapannya, menatapnya dengan penuh penyesalan.


“Maafkan aku!” rendi memeluk Nadin dengan erat.


“Mas …, kenapa?” Tanya Nadin yang tak mengerti.


“Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu, seandainya saja aku tahu!”


“Tidak pa pa mas, aku tadi hanya tiduran di kantor kamu!”


Rendi melepaskan pelukannya, mengecup kening istrinya, seandainya saja bisa di ulang,


ia benar-benar tidak ingin sampai istrinya menunggu begitu lama.


“Kau belum makan?” Tanya Rendi dan Nadin pun mengangguk.


“Kalau begitu duduklah, biar aku yang memasak untukmu!” rendi meminta Nadin untuk


duduk, kini Rendi mengambil alih pekerjaan Nadin, ia memasak makan malam untuk


mereka berdua.


Mereka makan malam berdua, sungguh hal yang paling Rendi tunggu adalah di saat seperti ini,


bisa makan berdua dengan istrinya dan menghabiskan waktu hanya berdua saja,


seandainya saja ia tidak perlu bekerja, ia akan memilih seharian hanya bersama


istrinya.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Nadin segera membereskan meja makan di bantu Rendi. Mereka kembali ke kamar. Rendi memilih membaca buku sambil menunggu


Nadin kembali dari kamar mandi.


Tak berapa lama Nadin keluar dari kamar mandi, ia mengeringkan wajahnya yang basah dengan handuk kecil, meletakkan handuk itu di gantungan lalu menyusul Rendi ke atas tempat tidur.


“Serius banget, baca apasih mas?” Nadin menyelusup di bawah buku, menyandarkan


kepalanya di atas dada bidang Rendi.



“Baca buku tentang kehamilan!”


“kehamilan?”


Astaga kenapa aku bisa sampai keceplosan, bagaimana jika Nadin curiga …?


“Ya …, supaya nanti kalau kamu hamil aku bisa jadi suami yang siaga!” Rendi pun segera


mencari alasan supaya Nadin tidak curiga.


“Ihhh …, manis banget sih suami aku!”


Rendi mengecup kening Nadin.


Maafkan aku karena sudah membohongimu …, aku janji nanti kalau sudah waktunya aku akan menceritakan semuanya padamu …


Kring kring kring


Tiba-tiba ponsel Rendi berdering, membuat Rendi segera menyambar ponselnya yang ada di atas nakas karena ia bisa melihat nama siapa yang sedang melakukan panggilan.


“Aku angkat telpon dulu ya!” Nadin mengangguk, Rendi segera meletakkan bukunya dan turun dari tempat tidur, ia berjalan menuju ke balkon dan menerima telpon dari


Davina. Tak berapa lama Rendi kembali lagi ke kamar.


“Tokki …, maaf ya, aku tinggal dulu sebentar ke bawah nggak pa pa ya, ada sedikit


urusan di bawah!”


“Urusan apa Mas?’


“Bukan urusan serius, kamu tidur dulu ya …!” Rendi mengecup kening Nadin dan


meninggalkan istrinya itu, ia segera berlari kearah pintu lift, ia menuju ke


lantai ke 2 ke tempat Davina.


“Ada apa?’ Tanya Rendi dengan nada dinginnya.


“Aku ingin makan sate kambing, tapi kalau kau tidak bisa, tidak pa pa, aku akan


menahannya, mungkin sebentar lagi juga sudah tidak ingin!”


“baiklah, tunggu sebentar!”


Walaupun kesal ia tetap mencarikan untuk Davina, Rendi menyusuri jalanan yang sudah sepi


itu demi mencari penjual sate kambing yang masih buka karena sekarang sudah


sangat malam, mungkin sudah banyak penjual yang sudah tutup, setelah cukup lama


akhirnya Rendi berhasil juga menemukannya. Sate kambing yang berada di pinggiran


kota.


“pak …, beli empat bungkus ya!”


“baik mas!”


arangnya padam, untukng tidak benar-benar padan jadi tidak terlalu lama untuk


membuatnya menyala kembali.


Abang penjual sate pun meletakkan beberapa tusuk sate di atas panggangan, mengipasnya


dengan kipas yang terbuat dari bamboo yang di anyam, sesekali membaliknya agar


bisa matang sempurna kemudian mengolesnya dnegan bumbu, cukup lama akhirnya


sate itu matang.


Abang penjual sate menyerahkan empat bungkus sate pada Rendi, rendi pun menyerahkan


selembar uang setarus ribuan.


“Kembaliannya abang ambil saja!”


‘terimakasih mas!”


Rendi pun kembali masuk ke dalam mobil, ia memacu mobilnya dengan cepat karena


jalanan sangat lenggang. Hanya butuh waktu setengah jam akhirnya ia bisa sampai


kembali ke apartemen, badanya yang sangat lelah tak terasa lagi. Jarum jam


sudah menunjuk ke angka satu, sudah lebi8h dari tengah malam.


Rendi menyerahkan dua bungkus sate untuk Davina, ia menunggu davina hingga


menghabisakan makannya, memang berbeda, jika perempuan sedang hamil makannya


bisa dua kali lipat dari wanita yang tidak sedang hamil.


“Minumlah!” Rendi menyerahkan segelas susu untuk Davina, davina pun dengancepat


menghabiskan susu hangat itu.


“Maaf ya aku menyusahkanmu, aku memang selalu lapar kalau malam hari seperti ini, anak


ini sepertinya sangat suka makan!” ucap Davina dengan tersenyum senang.


“Baiklah kalau sudah, aku pulang dulu!”


“Iya …, sekali lagi terimakasih ya!”


Rendi keluar dari apartemen Davina, ia mengambil dua bungkus sate yang tersisa, ia


membawanya pulang, ia tidak mau nadin sampai menanyakan sesuatu yang membuatnya


akan terus berbohong.


Rendi dengan perlahan meletakkan sate itu ke atas meja, ia mencari istrinya di kamar


dan benar saja istri kecilnya itu mertingkuk di atas tempat tidur, dengan


perlahan Rendi merangkak ke atas tempat tidur, mengecup kening Nadin, membuat


wanita itu membuka matanya kembali.


“Mas …!”


“Belum tidur?”


“mas Rendi dari mana saja, kenapa lama sekali?”


“Maaf ya, tadi aku pengen banget sate, jadi aku beli sate, mau makan sate?”


“mana?”


“Di meja makan!”


“Aku mau!”


Akhirnya mereka pun kembali ke meja makan, Rendi menyalakan lampu yang tadi sudah sempat


di matikan, mengambil dua buah piring untuk mereka berdua dan meletakkan sate


itu di atas piring.


Menghirup aroma sate yang menyengat dengan bumbu kacangnya membuat perut nadin seperti di


putar-putar, seperti di remas-remas minta di muntahkan, rasanya yang sudah ada


di dalam demo minta keluar karena ada benda asing yang mencoba masuk.


“Mas jauhkan dariku!” teriak Nadin.


“Apa?”


Dengan cepat Nadin berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


“Hoek …, hoek …hoek …!’


“Tokki …, kamun kenapa?” Tanya Rendi khawatir sambil mengusap punggung Nadin.


“Nggak pa pa mas, aku nggak suka bau sate itu, aku mau tidur saja!”


Nadin pun melupakan keinginannya untuk memakan sate itu, ia memilih untuk kembali


tidur, sedang Rendi hanya bisa terpaku di tempatnya, terpaksa ia harus


menghabiskan semua sate itu dan membuang semua yang berbau sate.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249