
Pagi ini Rendi sudah bersiap-siap dengan baju
batiknya. Agra sudah menunggunya di bawah besama nadin dan baby El. Rendi tidak
lupa membawa tes peck yang sudah di gunakan oleh Nadin. ,memasukkannya di dalam saku kemeja batiknya.
Ia benar-benar sudah tidak sabar, bukan cuma
penasaran dengan calon istri sabahat tengilnya tapi juga dengan hasil tes Nadin.
“Ayo gra berangkat!” ucap Rendi sambil menuruni tangga dengan sedikit berlari.
“Baiklah …!” Agra bangun dan menyerahkan baby El yang sedari tadi nempel padanya kepada nadin.
“Sayang aku berangkat dulu ya!” pamit Rendi sambil mengecup kening Nadin. Agra juga berpamitan pada adik iparnya itu. Mereka
segera keluar rumah, ia kembali di kejutkan dengan apa yang di lakukan
sahabatnya.
“Gra …, apa-apaan ini!” Rendi begitu terkejut saat melihat ada sebuah angkot yang terparkir di depan rumahnya.
“Itu nanti bisa kamu tanyakan sama Frans saja!”
“Anak itu, ada-ada aja!”
“Dia sengaja menyewa angkot ini untuk kita, jadi nikmati sajalah. Dan lagi, sebaiknya sepatumu itu kau ganti saja sama sandal,
kayaknya lebih cocok!”
“Astaga …!”
Walaupun terus menggerutu, Rendi pun tak mampu menolak, ia harus menyetir angkot itu sendiri bersama Agra. Kali ini ia hanya
membawa angkot itu bersama mereka, tanpa pengawal atau pun sopir.
“Sebenarnya wanita seperti apa sih yang di nikahi sama dia? misterius sekali ....!”
“Nanti juga tahu sendiri …!”
Mereka cukup kesulitan mencari mencari rumah yang di tunjuk oleh dr. Frans. Mereka harus masuk masuk ke gang hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah masjid kecil yang berada di pinggiran kota.
“Ini bener tempatnya?”
“Kayaknya iya!”
Rendi dan Agra pun segera memarkirkan angkotnya. Mereka turn bersamaan, di depan masjid itu dr. Frans sudah menyambut
kedatangan mereka.
“Lo beneran nikah atau mau drama sih?” Tanya Agra pada dr. Frans.
“Ya nikah lah …, tapi ini ceritanya panjang, tapi
ingat jangan ngomongin harta di sini ok …! Heh balok es …, ngerti kan yang gue
maksud?”
“Iya!” jawab Rendi singkat.
“Ayo masuk, kalian sudah di tunggu. Bersikap
sewajarnya …!” dr. Frans lagi-lagi memperingatkan sahabat-sahabat sultannya
itu.
“Iya ngerti …!”
Mereka pun masuk ke dalam masjid, di sana sudah ada pak penghulu dan orang tua calon istri dr. Frans dan calon istrinya juga.
Beberapa saksi juga,mereka menyambut kedatangan Rendi dan Agra dengan sangat
ramah.
Akhirnya ijab qabul pun terlaksana dengan sangat lancar. Rendi, Agra dan dr. Frans menyalami beberapa tamu. Mereka menuju ke
rumah istri dr. Frans di sana keluarga istri dr. Frans menyambutnya dengan
sangat hangat.
“Frans …, gue mau ngomong sama lo, pribadi!”
“Ada apa?”
Rendi pun menarik tangan dr. Frans menjauh, mereka menuju ke teras rumah sederhana itu.
“Ada apa sih?”
“Tes peck?”
“Iya …, gue nggak tahu apa artinya ini!”
“Astaga …, kebangetan banget sih lo …, kalau garis dua gini berarti hamil, emang ini milik siapa?”
“Nadin!”
“Jadi Nadin hamil lagi?” Rendi mengangguk begitu senang.
“ Gila top cer juga lo …, baru aja kumpul satu bulan langsung bisa buntingin istri …!”
Rendi tak sabar untuk segera pulang, ia ngin segera memeluk istrinya dan menghujaninya dengan ciuman. Setelah selesai acara, Rendi
dan Agra segera berpamitan.
“Kamu kenapa sih buru-buru sekali?” Tanya Agra. Heran melihat pria dingin itu begitu tak sabaran.
“Nadin hamil!”
“Apa?”
“Iya …, Nadin hamil lagi!”
“Gercep banget …, aku aja nggak kena-kena!”
Agra menurunkan Rendi di depan rumahnya, ia tidak bisa mampir karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Rendi segera
masuk ke dalam rumah dan mencari-cari Nadin.
Ia tersenyum saat melihat Nadin sedang asik bermain bersama Elan. Ia segera memeluk tubuh nadin dari belakang.
“Sayang …!”
“Mas …, sudah pulang, bagaimana acaranya?”
Bukannya menjawab pertanyaan Nadin, Rendi malah memeluk istrinya itu dengan sangat erat.
“terimakasih ya sayang!” tingkah Rendi membuat Nadin bingung, sebenarnya apa yang di pikirkan oleh suaminya itu.
“Mas Rendi ini kenapa sih?”
“Yang pertama, aku senang karena acaranya berjalan lancar dan yang utama adalah aku sangat-sangat bahagia karena anugerah yang
luar biasa ini!” Rendi mengelus perut Nadin yang masih darat itu, Nadin
tersenyum melihat kebahagiaan suaminya.
“Ayah akan menjaga kalian dengan sangat baik ….!”
“Benarkah seperti itu?!”
“Ya …, jika kau berkeras hati untuk melepaskan diri dariku lagi, maka aku akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa mengikatmu.
Lihat ikatan cinta kita sekarang bukan hanya satu tapi dua, dan nanti akan ada
tiga, empat, lima dan ….!”
“Husttt ….!” Nadin segera menempelkan jari telunjuknya di depan bibir suaminya. “Apa aku harus hamil dan melahirkan sebanyak itu?”
“Bila perlu …, iya …!” ucap Rendi sambil tersenyum.
Bahagia itu sederhana, mencintaimu juga sederhana,
jadi biarkan semua berjalan seperti air. Sesekali boleh berhenti karena batu
tapi yang harus kita ingat air itu akan kembali berjalan dan menuju ke muara.
End
Epilog
Ada awal pasti ada akhir, begitupun dengan sebuah cerita, ada suka ada duka, semua terangkum indah dalam sebuah cerita.
Sebuah cinta butuh perjuangan untuk mendapatkannya tapi untuk mempertahankannya butuh lebih banyak lagi kekuatan. Karena yang berat itu mempertahankannya.
Dalam rumah tangga, tidak ada yang paling benar atau yang paling salah. Jujur dan percaya adalah kunci utamanya.
Terimakasih author persembahkan untuk para pembaca setia MBOI,
Setelah ini jangan di unfavorit dulu ya karena setelah ini bakal ada pengumuman ceritanya dokter Frans, di tunggu di awal April ya
Salam cinta dan sayang dari author
Follow Ig author ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘