MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Si junior penggangu



Pagi ini saat semua sedang sibuk dengan kegiatannya di kantor, dua sejoli itu sedang bingung harus melakukan apa.


Rendi yang tak terbiasa bermalas-malasan, ia pun sudah bersiap-siap dengan pakaian olah raganya.


"Mau ke mana mas?" tanya Nadin yang masih asik berselonjor ria.


"Tak melihat apa yang aku pakek?" ucap Rendi sambil memakai sepatu olah raganya.


Aku tahu, itu mau olah raga ....., tapi nggak ada inisiatif gitu buat nawari aku untuk ikut ....


"Nggak usah ikut!" ucap Rendi ketika sudah selesai dengan sepatunya.


Kenapa dia tahu sih apa yang aku pikirkan, jangan Sampek dia tahu pas aku lagi berpikir mesum ....


"Kenapa? Aku kan kesepian di sini!"


"Sebentar lagi bibi datang! Aku pergi!" ucap Rendi sambil meninggalkan kamar itu, ia berlari keluar apartemen, berkeliling di taman yang tak jauh dari apartemen, tempat yang suka sekali Nadin kunjungi di akhir pekan hanya untuk mencuri perhatian pria es itu.


Sedangkan Nadin hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan bantal-bantal itu.


"Nggak peka sekali sih dia ....., aku harus punya stok sabar yang lebih banyak lagi."


Setelah melampiaskan kekesalannya, ia pun segera keluar dari kamar, matahari saja belum mengeluarkan sinarnya tapi dia bingung harus berbuat apa, ia mencari-cari sesuatu di dapur, kali ini bukan makanan, tapi sebuah buku resep makanan, mau mengandalkan gadget nya juga lagi di sita.


Lama, Nadin mencari tapi tak juga menemukannya.


"Agh ...., aku lapar ....!" ucap Nadin sambil mengelus perutnya.


"Kenapa bibi juga belum kesini? Katanya tadi sebentar lagi bibi ke sini, apa kak Agra juga menyita bibi!"


Nadin menghempaskan tubuhnya kasar, lapar lelah, bercampur sudah. Telpon rumah berdering, Nadin sebenarnya malas sekali untuk mengangkatnya, tapi benda itu satu-satunya yang bisa di gunakan untuk berkomunikasi.


"Hallo ....!" ucap Nadin saat gagang telpon itu sudah mendarat tepat di telinganya.


"Hallo non ....!"


"Bibi ...., kenapa tidak datang ke sini? Apa ada masalah bi?"


"Nggak non, maaf tapi kata tuan Agra bibi di minta cuti untuk tiga hari ke depan, maaf kemarin lupa memberitahunya!"


Hehhhh ....., iya kan sudah ku duga, kak Agra keterlaluan, kalau kak Ara mau di taruh di gubuk reot tanpa apa pun masih bisa hidup, nah aku ....., masak aja nggak bisa ....


"Non ...., apa non masih di situ?" tanya bibi karena tak mendapat jawaban dari nonanya itu.


"Ahh iya bi, nggak pa pa!"


"Ya sudah non kalau gitu saya tutup ya telponnya!"


"Iya bi!"


Nadin hanya bisa meletakkan gagang telponnya lemas, perutnya sudah meronta ingin di isi tapi tak ada makanan.


Ceklek


Pintu terbuka, pria dingin itu sudah kembali dengan tubuh yang penuh keringat. Nadin yang sudah lemas, tiba-tiba kembali bertenaga saat melihat pria dingin itu di depannya, pesonanya benar-benar luar biasa, tanpa terasa lulut nya terbuka.


"Tutup mulutnya, nanti kemasukan lalat!" ucap Rendi sambil menahan dagu Nadin.


Aghh keringatnya aja baunya harum gini, emang ya kalau orang ganteng beda ....


Nadin tak mengindahkan uncapan suaminya itu, ia hanya bisa fokus melihat keringat yang masih bertebaran di wajah dan lengan suaminya, benar-benar maskulin.


Rendi tersenyum jahil, what? Rendi bisa melakukannya, senyum tipis yang terkesan samar, ia menarik pinggang Nadin hingga tak menyisakan jarak di antara mereka.


Nadin terkejut "Ahg ......, Mas ....!", reflek yang bagus. Nadin mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


Rendi kembali menatap Nadin, buka keseluruhan, tapi lagi-lagi matanya tertuju pada bibir itu, bibir yang selalu membuatnya tak bisa menghindar, bibir itu seperti punya magnet yang bisa menariknya untuk terus mendekat.


Rendi mendekatkan bibirnya, tak bisa menahan lagi, ia sudah bukan dirinya yang dingin lagi saat seperti itu.


Rendi sudah mendaratkan bibirnya di bibir Nadin, sekarang bukan hanya sekedar menempel saja, Rendi memberi lumayan kecil di sana, menyesap, *******, menggigit, Nadin hanya bisa menikmatinya. Dua manusia yang tak berpengalaman itu mencoba hal baru, kaku. Tapi nalurinya menuntun mereka. Tangan Rendi semakin kuat menahan tubuh Nadin, sepertinya wanita itu sudah kehilangan sebagian kesadarannya karena sensasi yang luar biasa di pagi hari.


Tapi saat ia merasakan ada sesuatu yang keras di bawah sana, segera memecah khayalan Nadin, dengan cepat Nadin mendorong dada Rendi hingga ciuman itu terhenti.


Rendi mendengus, keningnya berkerut penuh tanya.


"Mas ...., ada yang keras-keras di bawah sana!?" ucap Nadin sambil tangannya menunjuk ke sebuah titik di tubuh bawah Rendi.


"Ehs .....!" Rendi segera melepaskan tangannya yang merengkuh pinggang Nadin.


Dia benar-benar ya ...., menghancurkan semuanya ....


"Aku mandi dulu!" ucap Rendi dan langsung berlalu meninggalkan Nadin, ia segera menuju ke kamar mandi. Dengan cepat Rendi masuk ke kamar mandi, menatap kesal pada si junior yang sudah seperti senapan siap tempur.


"Kenapa si junior ini cepat sekali sih bereaksi nya, apa yang harus aku lakukan sekarang?" keluh Rendi saat sampai di kamar mandi.


"Aku harus segera mengguyurnya agar tidur lagi!"


Rendi segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar si junior kembali tidur. Setelah selesai dengan mandinya dan Menganti baju dengan baju santai, ia kembali mencari Nadin.


Nadin masih terduduk lemas di sofa, Rendi segera menghampirinya.


"Kenapa seperti itu?"


"Aku lapar!" ucap Nadin.


Ya Rendi melupakan sesuatu, ia mencium Nadin di ruang tamu. Apa bibi melihatnya? Bisa malu aku.


"Kenapa wajah mas Rendi malah kayak gitu?" tanya Nadin yang melihat wajah panik Rendi, sejak kapan pria es itu punya wajah panik?


"Memang aku kenapa? Bibi bukannya sudah masak?"


"Kak Agra menyita bibi juga!"


Ahhhh syukurlah ....


Akhirnya Rendi bernafas lega, apa yang dia takutkan tak terjadi.


Kenapa dia malah seperti memasang wajah bahagia sih bibi di sita ....


"Kita sarapan di luar saja! Bersiaplah!"


"Baiklah!" ucap Nadin, ia hampir saja berdiri, tapi Rendi segera menahannya kembali.


"Nggak usah begitu saja!" ucap Rendi lagi.


Nadin mengerutkan keningnya. "Pakaianku nggak layak di pakek keluar rumah, biar aku ganti dulu!"


"Jangan protes, ayo ....!"


"Tapi aku lebih mirip seperti pembantu mu!" keluh Nadin saat Rendi sudah menggandeng tangannya keluar dari apartemen. Mereka menuju ke restauran yang berada di lantai dua apartemen itu.


"Pagi pak Rendi!" sapa seseorang yang sepertinya salah satu pegawai di apartemen itu.


"Pagi!" jawab Rendi dingin masih dengan menggandenga tangan Nadin.


"Maaf pak, tapi sejak kemarin nona ini tinggal bersama anda, apa dia ...?" pria berjas itu tampak ragu untuk menanyakannya, jelas saja melihat tatapan pria dingin itu saja sudah membuatnya takut apa lagi ini sampai bertanya sesuatu yang sifatnya pribadi. Salah bicara sedikit bisa di lempar Sampek Monas.


"Dia istriku, maaf karena suratnya belum saya serahkan, nanti siang akan ada yang ke kantor anda membawa surat-surat nya.


"Baik pak, maaf sudah mengganggu waktu anda, kalau begitu saya permisi!" ucap pria berjas itu menunduk hormat, Rendi hanya mengangguk. Dengan cepat pria itu menghindar, bukan karena tidak suka tapi dia lebih suka menghindari masalah.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 😘😘😘😘😘**