
Rendi sudah berhasil meretas keamanan di Villa itu tanpa di
ketahui oleh Alex, ia juga meminta seseorang mengawasi Alex dan mencegah Alex
datang ke Villa satu hari ini.
Rendi dan anak buahnya sudah mulai mendekati pintu gerbang
Villa, banyak anak buah Alex yang sedang berjaga di sana, Rendi mendekati pintu
itu.
“permisi mas …!” teriak Rendi, ia menggunakan gaya bahasa medoknya.
Salah satu anak buah Alex mendekati Rendi dan anak buahnya.
“Kalian siapa?” tanya anak buah Alex dengan arogannya.
“Maaf mas …, saya Endra dan ini adik saya, kami menggantikan
pak Darman merapikan taman, hari ini pak Darman sedang pergi ke desa tetangga.”
Anak buah Alex itu memperhatikan penampilan Rendi dan anak
buahnya dari atas hingga ke bawah, tak ada yang mencurigakan. Mereka benar-benar meyakinkan, kaos yang lusuh, celana selutut, handuk yang menggantung di kepala dan tas yang terbuat dari karung yang menggantung di punggung.
“Apa yang kalian bawa?” Tanya anak buah Alex saat melihat
kantong yang di bawa anak buah Rendi.
“Ini peralatan potong rumput, tuan, ada gunting rumput, ada
sekrup kecil dan lain lainnya, tuan!” anak buah Rendi dengan cekatan menjawab,
sepertinya ia sudah banyak belajar dari Rendi. Ia juga mengeluarkan benda-benda
yang di sebutkan, kecuali benda yang akan sangat ia butuhkan dalam misinya.
Akhirnya anak buah alex mengijinkan Rendi dan anak buahnya
untuk masuk, Rendi sudah menempatkan salah satu anak buahnya di dalam Villa itu
sebelumnya sebagai salah satu koki.
Melihat kedatangan Rendi, koki itu segera menghampiri Rendi
dengan membawakan dua gelas air putih untuk mereka yang sudah mulai bekerja.
“Selamat siang pak!” sapa koki itu dengan nada rendah, lebih
mirip berbisik. Ia ikut berjongkok dengan Rendi.
“Siang, tunjukkan akses yang aman untuk menemui Nadin!”
“Sebenarnya hampir seluruh ruangan ada penjagaan, tapi jalan
yang paling aman menuju ke kamar ibu Nadin adalah dapur, karena dari dapur ada
lorong yang menghubungkan langsung ke kamar bu Nadin dan tidak ada penjaga!”
“Baik, beritahu saya waktu yang tepat!”
“baik pak, saya permisi dulu …!” rendi mengangguk, koki itu
pun meninggalkan Rendi.
🌺🌺🌺🌺🌺
Nadin enggan untuk keluar dari kamarnya, walaupun hari ini
matahari bersinar cerah. Ia memilih melamun di dekat jendela sambil mengamati
pak kebun yang sedang merapikan taman dan memotongi rumput. Ada yang menariknya untuk terus menatap ke bawah.
“Aneh sekali …., kenapa mereka dua orang yang tidak saling
bicara ….! Emang enak berdiam seperti itu saat dekat dengan saudara atau
tetangga atau teman!”
Nadin tak hentinya mengomentari tukang kebun itu.
"Kayaknya ganteng, sayang penampilannya nggak ke urus, coba di poles sedikit, pasti keren ....!"
"Ah ...., aku jadi merindukan rumah, ayah , ibu, nenek, sahabatku Dini dan ....!" Nadin menghela nafas. "Balok es!"
Tok tok tok
Pintu kamarnya di ketuk membuat Nadin mengalihkan
tatapannya, ia menoleh ke arah pintu.
“Masuklah …!”
Merry muncul dari balik pintu, ia berjalan menuju ke arah
Nadin. Nadin kembali melihat kearah luar jendela, sepertinya mengamati dua
orang yang saling diam sangat menyenangkan.
“Apa yang sedang nona lihat?” Merry tertarik untuk melihat apa
yang di lihat oleh Nadin.
“Lihatlah, Merry …., tukang kebun itu dekat tapi mereka
tidak saling bicara.”
“Apa yang istimewa dari itu, nona?”
“Itu mengingatkan ku pada seseorang, kami sering sekali
dekat, tapi kami tidak saling bicara, tapi hati kami sudah mengatakan
semuanya.”
“Suami nona Nadin?” Nadin mengangguk dengan pertanyaan
Merry.
“Aku suka dengan kisah cinta nona, semoga kalian bisa
selamanya bersatu!”
“Terimakasih Merry!”
kebun itu mendongak ke atas, tapi wajahnya sulit di lihat oleh Nadin, ia
menutupi wajahnya dengan handuk yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya.
“nona …!”
“Hemmm?”
“Malam ini waktunya!”
Mendengar ucapan Merry, Nadin segera menatap Merry, ia ingin
memastikan lagi apa yang di maksud Merry dengan waktunya.
“Sudah waktunya Nona keluar dari sini, aku akan membantu
nona keluar dari tempat ini nanti malam! Karena menurut informasi yang saya
dapat, tuan Alex tidak akan datang hari ini.”
“Maksudnya, Alex si
manusia arogan itu sudah melancarkan rencana keduanya?” Merry menganggukkan
kepalanya membenarkan pertanyaan Nadin.
“Apa rencana Alex yang ke dua?” Tanya Nadin penasaran.
“Membuat Rendi menyesali semua kesalahannya di masa lalu,
dan menjadikan dia merasa bersalah …!” Nadin mengerutkan keningnya tak
mengerti, kesalahan masa lalu apa yang di maksud. Yang ia trahu Rendi adalah
pria perfect.
“Kesalahan masa lalu, kesalahan apa?” Tanya Nadin.
“Membuat tuan Alex kehilangan tunangannya.”
“Tunangan? Maksudnya, mas Rendi merebut tunangan Alex? Itu
tidak mungkin!” Nadin berusaha membela suaminya, tidak mungkin Rendi melakukan
hal itu. Sejauh ia mengenal Rendi, ia tidak akan melakukan hal itu, ia teringat bagaimana dulu suaminya itu mengagumi kakaknya, tapi ia lebih memilih mundur dari pada jadi orang ke tiga.
“Lebih tepatnya bukan merebut, tapi membuat tunangan tuan
Alex berpaling darinya dan pergi selamanya meninggalkan tuan Alex!”
“Pergi? Pergi kemana?”
“Meninggal, ia mengakhiri hidupnya!” Nadin melebarkan matanya, ia
benar-benar baru mendengar kisah ini. “Rendi menolak cinta tunangan tuan Alex,
hinggal membuatnya mengakhiri hidupnya.”
Nadin benar-benar tak mengerti dengan semua kisah ini, ia
mengira selama ini ia sudah sangat mengenal suaminya, ternyata ia salah.
Misteri Rendi akan tetap menjadi misteri, Nadin mengusap air matanya yang tanpa
terasa sudah menetes.
“Lalu apa yang terjadi dengan Alex?”
“sudah ku bilang sebelumnya pada anda, jika tuan Alex adalah
orang baik. Jika saja anda bukan istri dari seseorang, aku pasti akan mendukung
perbuatan tuan Alex untuk menjadikan nona sebagai istrinya. Dia pria yang
kesepian, hidupnya begitu gelap, tak ada cinta dalam hidupnya, ia bahkan sempat
menutup diri dari dunia.”
Hati Nadin teriris, ia tidak tahu jika suaminya pernah
melakukan kesalaqhan sebesar ini sebelumnya, sebenarnya dirinya tak beda jauh
dari tunangan Alex, ia juga mengejar cinta Rendi.mungkin saja jika tunangan
Alex tidak selemah itu dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, mungkin wanita
itu yang sekaraqng bersanding dengan suaminya. Ia hanya beruntung saat ini,
karena kegigihannya ia bisa memiliki Rendi seutuhnya.
Sikap dingin Rendi kini membuahkan masalah yang begitu besar
untuk orang lain. Nadin menatap ke bawah lagi, matanya mencari-cari tukang
kebun itu, tapi salah satunya taka da di sana.
“Dia kemana?” gumam Nadin lirih. Nadin mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru taman tapi tak juga menemukan sosok yang ia
cari, tubuhnya begitu sama, persis seperti orang yang ia rindukan, cara
berjalannya dan gayanya.
Ngiiikkkkkk
Tiba-tiba pintu kamar Nadin terbuka,sosok yang ia cari di
bawah sudah berdiri di depan pintu kamarnya, membuat Nadin terkejut.
“Hei …, siapa kau? Beraninya kau masuk ke dalam sini?” Nadin
bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri pria itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘