
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”
Setelah membaca doa, Rendi pun segera mendekati Nadin, ia memakaikan cincin yang menjadi mas kawin, dan segera mendaratkan ciuman di kening Nadin dan membacakan sebuah doa.
Dr. Frans sedari tadi sibuk mengabadikan moment demi moment, Ara segera memberika pelukan bahagian pada adiknya itu.
"Selamat ya dek, ternyata tidak butuh proses terlalu lama untuk sampai di jenjang ini, semoga kalian bahagia, kakak akan selalu mendukungmu!" bisik Ara kemudian melepaskan pelukannya.
"Makasih kak!" ucap Nadin hanya dengan gerakan bibir tanpa bersuara.
Kini mereka pun sah menjadi suami istri. Nadin benar-benar tak percaya, pria dingin itu kini sudah benar-benar menjadi suaminya.
Setelah acara pernikahan dadakan itu, Agra segera menghampiri sahabat sekaligus tangan kanannya itu.
"Aku ingin bicara padamu!" Ucap Agra tegas.
Agra pun keluar dari kamar di ikuti oleh Rendi. Rendi hanya bisa pasrah dengan kemarahan sahabatnya itu, bukan dia yang di inginkan untuk jadi pendamping adik iparnya tapi orang lain.
Mereka menuju ke arah lorong yang memisahkan dua bangsal yang berbeda.
Agra terdiam memandang langit pagi yang terkena terpaan sinar mentari yang sudah mulai tinggi.
"Maafkan aku!" Ucap Rendi menyesal.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak pernah membayangkan jika kau akan sangat berhubungan dekat denganku, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan hingga kau menikahi Nadin." Ucap Agra begitu tidak percaya.
"Maafkan aku!" Hanya itu yang mampu di katakan oleh Rendi. Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di perutnya, membuat tubuhnya sedikit bergeser ke belakang, tampak wajahnya menahan sakit tapi dia tidak membalasnya.
"Ini atas sikap kurang ajar mu!" Ucap Agra sambil mendaratkan pukulannya lagi.
"Dan ini atas ketidak jujuran mu!" Satu kali lagi pukulan mendarat di perut Rendi.
"Dan ini untuk ketidak tahuanku!"
Saat hendak mendaratkan pukulan terakhirnya, tangannya di tahan dari belakang.
"Paman?" Agra pun segera menjauhkan tangannya dari salman.
"Maafkan dia tuan muda, saya tahu Rendi sangat salah dalam hal ini, tapi percayalah padanya. Dia akan menjaga Nadin seperti dia menjagamu!"
Agra menatap sahabatnya itu, dia terlihat terus menunduk, Agra pun segera mendekat pada sahabatnya itu, sebuah pelukan ia daratkan ke tubuh Rendi, membuat Rendi menoleh pada ayahnya tak percaya.
"Gra ada apa?" tanya Rendi heran, baru saja ia babak belur oleh pukulannya dan sekarang orang itu memeluknya.
"Kau ini bodoh atau apa sih?" ucap Agra sambil menoyor kepala Rendi, membuat Rendi berdecak.
"Aku marah padamu, tapi rasa marah ini tetap tidak bisa menutupi rasa senang ku, aku percaya padamu. Walaupun aku berencana menjodohkan Nadin dengan bang Divta, tapi dengan aku rasa tidak akan ada bedanya."
"Terimakasih!" Ucap Rendi penuh haru.
Salman yang melihat hal itu, segera meninggalkan dua sahabat itu. Dia membiarkan mereka menyelesaikan masalah putranya tanpa campur tangannya lagi. Sudah cukup baginya.
"Hei ...., Apa yang sudah aku lewatkan!" Ucap dr. Frans yang tiba-tiba datang dan membuat Agra dan Rendi melepaskan pelukannya.
"Apa kau tahu semua ini?" Tanya Agra pada dr. Frans.
"Apa sih yang tidak aku tahu! Kau saja yang tidak menyadarinya jika si balok es itu sempat jadi orang gila!" Ucap dr. Frans, membuat Agra menatap Rendi penuh tanya. Sedangkan yang di tanya hanya bisa mengangkat bahunya.
**Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
follow juga Ig aku ya
Tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘**