MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Aku butuh psikiter



Nadin segera menyenderkan tubuhnya di dinding, kakinya serasa lemas. Ia tidak menyangka kakak sambungnya akan menyukai pria yang sama.


"Aku juga ingin mendapatkan kasih sayang orang-orang yang menyukaimu, menyayangimu ...., aku tidak mau jadi yang terabaikan ...., sudah cukup penderitaan yang aku alami selama ini ....!"


"Baiklah jika itu maunya kakak ...., Nadin akan ikuti tantangan kakak ...., mungkin aku bisa membagi kasih sayang ayah, atau siapapun tapi untuk pak Rendi, maaf ...., aku tidak bisa membiarkan kak Davina mengambilnya dariku ....!"


"Terserah kamu ....., aku tidak butuh persetujuan darimu untuk mendekati kak Rendi."


Nadin memejamkan matanya, mencoba mencerna semuanya, ia tak menyangka jika pemikiran kakaknya bisa sepicik itu. Hanya untuk mendapatkan perhatian seseorang, dia tega mengorbankan orang lain.


"Ok ...., baiklah ..., mungkin sekarang kakak masih emosi ....., aku akan tidur dengan nenek ...., mungkin besok kita bicara dengan kepala dingin ...., selamat malam ....!"


Nadin pun mengenakan jas Rendi di bahunya dan segera keluar dari dalam kamar, air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah juga, ia segera menumpahkan air matanya setelah berada di depan kamar, ia tak mau terlihat lemah di hadapan orang lain, apalagi orang itu seperti Davina.


"Nak .....!"


Suara seseorang mengejutkannya, ia segera membalik wajahnya, membelakangi orang itu dan segera menghapus air matanya.


"Iya ibu ....?!" ucap Nadin sambil menampakkan senyumnya yang sangat terlihat jika senyum itu di paksakan.


"Kamu menangis ....? Kenapa?" tanya Dewi sambil mendekati Nadin.


"Enggak ibu ...., Nadin nggak nangis, ini tadi cuma kemasukan debu saja ....!" ucap Nadin berkilah.


"Sini ikut ibu .....!"


Dewi menarik tangan Nadin, ia membawa Nadin ke meja makan. Dewi meminta Nadin untuk duduk di salah satu kursi. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyodorkannya kepada Nadin.


"Minumlah sayang ....!"


"Terimakasih ibu ....!" ucap Nadin setelah meneguk air putih di dalam gelas itu.


"Sekarang ceritakan pada ibu apa yang sudah terjadi."


"Tidak ada apa-apa ibu ......, Nadin baik-baik saja ....!" ucap Nadin berusaha meyakinkan ibu sambungnya.


"Aku tahu, ibu bukan ibu kandungmu ...., kita baru bertemu beberapa minggu ...., tapi ijinkan ibu untuk bisa dekat denganmu dan menyayangimu seperti ibu menyayangi kakakmu ...."


Tapi ibu .,..., jika ini berhubungan dengan kak Davina ..., apa ibu akan tetap membelaku ...., apa ibu bisa menyayangiku .,....


"Kenapa malah diam sayang .....?"


"Nadin beneran nggak ada masalah bu, untuk saat ini Nadin masih bisa menyelesaikan sendiri dengan cara Nadin, jadi ibu tenang saja .....!"


"Ya sudah kalau itu mau kamu ...., ibu cuma bisa ngedoain semoga anak-anak ibu semuanya baik-baik saja ....., ibu ke kamar dulu ya .....!"


"Iya bu ....., selamat malam, selamat istirahat .....!"


Dewi pun meninggalkan Nadin, Nadin tersenyum mengatar kepergian ibu sambungnya.


Ibu sangat baik ....., Nadin nggak mungkin tega menyakiti hati ibu dengan mengatakan jika putri ibu sudah berbuat curang pada Nadin bu ....


Nadin menelungkupkan wajahnya di meja makan.


"Hahhhh. ..,, apa yang harus aku lakukan selanjutnya ....., pokoknya aku nggak boleh lemah ...., Nadin adalah anak yang kuat dan ceria ....."


Nadun menyemangati dirinya sendiri.


" Aaaah ....., bau pak Rendi begitu membekas di jas ini ...., aku serasa di peluk pak Rendi ...., aaaah. ..., senangnya ....., aku di peluk, di gendong dan tadi dia ......, dia mencium di sini .....!" ucap Nadin sambil memegangi bibirnya, membayangkannya lagi, membuat wajah Nadin kembali merah merona.


Nadin pun melihat jarum jam yang ternyata sudah menunjuk ke angkan satu.


"Astaga .,.., ini sudah sangat larut .....!"


Nadin pun segera beranjak dari duduknya, ia mengendap-endap ke kamar nenek Nani. Ia membuka pintu secara perlahan, ia melihat nenek Nani sudah tertidur di ranjangnya.


"Nenek ...... nenek Nani ....., nenek sudah tidur ya ....!?" panggil Nadin dengan suara pelan sambil mendekati nenek Nani yang sedang tidur, ia segera naik ke atas tempat tidur di samping nenek Nani.


Nadin pun segera merebahkan tubuhnya tanpa mengganti pakaiannya atau membersikan dulu wajahnya. Jas milik Rendi tetap setia di pelukannya. Dalam waktu sekejap saja, Nadin sudah masuk ke alam mimpi.


Nenek Nani ternyata belum tidur, ia hanya pura-pura tidur, setelah merasakan nafas teratur dari cucunya, nenek Nani duduk dan memperhatikan wajah cantik cucunya.


Tangannya mengelus pipi Nadin. Kemudian ia menutup tubuh Nadin dengan selimut.


"Kamu anak baik cu ...., semoga kamu selalu bahagia .....!"


****


Rendi setelah meninggalkan rumah Nadin, bibirnya tak hentinya tersenyum.


"Gila ...., apa yang sudah aku lakukan."


Rendi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, belum sampai tengah malam, Rendi sudah sampai di parkiran apartemennya. Dengan langkah cepat ia melangkahkan kakinya, senyumnya yang jarang terlihat kini tetap tersemat di bibirnya.


"Malam pak Rendi .....!" sapa security apartemen, sedikit mengejutkan Rendi. Rendi pun segera menormalkan mimik wajahnya seperti biasa.


"hgermmmm ...., malam ....!" jawab Rendi dengan wajah dingin dan tegasnya lagi. membuat security heran.


Rendi pun berlalu meninggalkan security. Sedangkan security masih terpaku di tempatnya.


"Kenapa ya pak Rendi? Nggak biasanya beliau tersenyum, apa nggak salah lihat ya tadi aku ...., pak Rendi sepertinya benar-benar tersenyum ....." gumam security dengan wajah bingungnya.


Setelah masuk ke dalam apartemennya, Rendi segera mandi dan menggati baju formalnya dengan kaos dan celana pendek. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya telentang, ia menatap langit-langit kamar.


Pikirannya berkelana pada Nadin, berbagai peristiwa tak terduga yang baru saja terjadi melintas di benaknya. Rendi berusaha merangka peristiwa demi peristiwa, bagaimana gadis itu dengan beraninya menyampaikan perasaannya hingga mengganggunya di setiap saat.


Terakhir yang begitu terngiang di pikirannya adalah adegan ciuman yang telah dia lakukan, Rendi memegangi bibirnya, bibirnya telah menempel pada bibir manis dan hangat milik Nadin, bibir dinginya seakan menghangat saat bersentuhan dengan bibir gadis itu.


Tanpa terasa bibirnya kembali tersenyum saat mengingat kejadian itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi denganku? Apa aku sudah gila ....? Aku harus konsultasi pada psikiater. Frans ...., ya aku harus menghubungi dia ...."


Rendi pun segera mencari benda pipih itu, yang ternyata berada di sebelahnya. Ia segera melakukan panggilan. setelah melakukan panggilan beberapa kali barulah tersambung.


"Gila lo ya ...., malam-malam gini masih ngganggu gue ...., gue ngatuk .....!" cerocos dr. Frans dari seberang sana, terdengar dari suaranya ia baru bangun tidur, terbangun karena panggilan dari Rendi.


"Gue butuh psikolog ....., lo ada rekomendasi nggak?"


"Emang lo kenapa?"


"Gue ngrasa akhir-akhir ini, gue bukan gue lagi ...."


"Maksudnya?"


"Gue nglakuin hal-hal di luar kehendak gue ...."


"Wahhh serius kayaknya nih masalah lo ....., ya udah besok lo datang ke temapt praktek gue ...., gue bakal ngantar lo ke psikiater kenalan gue ...., sekarang gue mau tidur ngantuk ....!"


Ucap dr. Frans, sambil memantikan sambungan telponnya, ia tidak tahu jika di seberang sana Rendi sedang memakinya karena mematikan telponnya sembarangan.


*****


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**