
Nadin seharian ini berada di rumah, Aisyah begitu senang mengetahui Nadin dan baby El kembali. Bahkan seharian ini Aisyah membawa
baby El kemanapun ia pergi, baby El seperti menjadi primadona di lingkungan
tempat tinggal Nadin, pesona baby El berhasil membuat siapapun yang melihatnya
akan tertarik untuk sekedar mengajaknya berbicara atau mencubit pipinya, senyum
bayi itu begitu menggemaskan persis seperti namanya, Elan , anak yang menyenangkan, penuh cinta.
“Tadi dari mana saja sama unty Ais, sayang?” Tanya Nadin saat baby El sudah pulang bersama Aisyah.
“Baby El benar-benar berhasil menyihir semua warga di sini kak!”
“Kok bisa?”
“Iya …, di mana pun baby El, selalu di kerubutin
orang. Masih kecil aja sudah kayak gitu gimana nanti besarnya kan? Dia benar-benar
akan menjadi idola semua gadis!”
“Iya kah …, ehhhh …, pasti nanti bundanya bakal
kalah nih, pokoknya nanti jika ada cewek yang dekati El, aku akan mengatakan
jika baby El hanya milik bunda!” Nadin terus menciumi putranya itu, baby El
memang begitu menggemaskan. Siapapun yang melihatnya pasti selalu ingin
berlama-lama bersamanya.
Nadin melanjutkan pekerjaannya melipat pakaiannya dan memasukkan satu persatu ke dalam lemari.
“Bagaimana kuliah mu Ais?” Tanya Nadin sambil terus
melanjutkan pekerjaannya.
“Baik kak, bahkan sangat baik!” jawab Aisyah dengan wajah berbinar-binar.
“Ada laki-laki yang sedang kau sukai di kampusmu?” tanya Nadin menyelidik.
“Kakak tahu, sebenarnya bukan seperti itu kak, aku hanya mengaguminya saja …, dia tidak akan melihatku, anak seorang pak kyai!”
“Benarkah? Ada anak pak kyai di kampusmu?”
“Iya …! Oh iya kak aku pulang dulu ya, sudah sore. Ibu pasti mencari ku!” Aisyah berusaha menghindar dari pertanyaan Nadin, ia cukup malu untuk menceritakan semuanya.
“Iya baiklah …, salam buat bu Santi ya, maaf belum bisa menemuinya!”
Aisyah tersenyum, ia sudah hampir beranjak dari duduknya saat ia mengingat sesuatu yang belum sempat ia katakana pada Nadin.
“Kak!”
“Iya?” Nadin mendongakkan kepalanya, menghentikan pekerjaannya dan menatap Aisyah, ia melihat keraguan di wajah gadis itu.
“Ada apa?” Tanya Nadin lagi.
“Sebenarnya aku tahu siapa yang mengintai rumah kakak selama ini!”
Mendengar ucapan Aisyah, Nadin hanya menghela nafas.
“Aku tahu!”
Aisyah terlihat terkejut ,mendengarkan ucapan Nadin, ia memastikan apa yangs edang ia dengar.
“Kakak tahu?”
“Iya!”
“lalu?’ gadis itu terlihat begitu penasaran dengan Nadin.
“Aku juga belum tahu, aku tidak tahu apa yang ia mau sekarang dengan menemui kami!”
“Ya sudah aku pulang dulu ya kak!"
Nadin pun mengangguk.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!”
Nadin menghela nafasnya lagi, ia mengantar Aisyah hingga ke depan rumah. Ia menunggu hingga gadis itu menghilang di ujung jalan,
saat hendak berbalik masuk ke dalam rumah, langkahnya kembali terhenti, sebuah
mobil berhenti di depan rumahnya, tapi ia tahu itu bukan mobil Alex.
Matanya terpaku begitupun dengan tubuhnya saat melihat siapa yang turun dari mobil itu,
seorang pria yang pernah begitu ia nanti kadatangannya, seorang pria yang
pernah begitu ia cintai, seorang pria yang pernah begitu ia benci, dan seorang
pria yang ingin sekali ia lepaskan identitasnya dari hidupnya tapi tidak akan
pernah bisa karena identitas pria itu kini juga melekat pada putranya.
Langkah pria itu juga seperti tertahan, begitu berat bahkan untuk mengangkat kakinya, matanya terlihat berair. Saat itu mereka
merasa bumi seperti sedang berhenti berputar sejenak, kenangan-kenangan masa
lalu saling bermunculan dan mengembalikan beberapa lembar fase dalam kehidupan
mereka. Mulut saling terkunci bahkan untuk mengatakan satu kata sederhana saja
tak mampu.
“Tokki!”
Sebuah panggilan yang begitu di rindukan, sebuah panggilan
yang tak akan pernah sama di berikan orang lain. Terdengar ada getaran dalam
suaranya, pria dingin itu benar-benar datang.
Nadin segera berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah, ia merasa hatinya belum terlalu siap untuk berhadapan dengan pria itu.
Tapi langkah pria itu terlalu lebar, hanya dalam hitungan detik tubuh Nadin
sudah masuk ke dalam pelukannya, pelukan yang sebenarnya begitu ia rindukan,
begitu nyaman dan menemangkan.
“Aku merindukanmu!” ucap Rendi dengan suara
Cukup lama, nadin terpaku. Ia tidak membelas pelukan itu tapi juga tidak
menolaknya, otaknya ingin sekali menolak tapi tubuhnya berkata lain.
Saat ia mengingat bagaimana pria itu telah
menghianatinya, begitu sakit. Nadin kembali tersadar, dengan cepat Nadin
mendorong tubuh kekar itu hingga kini tubuh Nadin terlepas dari pelukannya.
Nadin tak ingin mengatakan apapun, yang ingin ia lakukan saat ini adalah kembali menghindar, ia tidak mau jika tubuhnya kembali
menghianati hatinya, rasa sakit yang telah membuatnya kuat selama itu seketika
hancur di depan pria itu.
“Nadin!” Rendi mencegah Nadin masuk ke dalam rumah dengan berlari mendekat dan menahan tangan Nadin.
“Lepasin mas!” Nadin berusaha untuk melepaskan tangannya dari Rendi.
“Kita harus bicara!” ucap Rendi dengan wajah
tegasnya.
“Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semua sudah selesai! Jadi aku mohon, pergilah dari sini …”
Nadin berusaha dengan keras untuk melepaskan tangannya dari genggaman Rendi.
“Ada …, ada yang harus kita bicarakan!”
“Setelah waktu itu, tidak ada lagi yang perlu kita
bicarakan, jadi lepaskan aku!”
“Aku tidak akan melepaskanmu!”
“Sesuatu yang sudah lepas tidak akan pernah kembali dalam genggamanmu, jadi jangan pernah berharap untuk bisa kembali lagi! Lepas!”
Nadin menatap Rendi tajam kemudian menghempaskan tangan yang telah
menggengamnya dnegan kesar, membuat genggaman itu terlepas. Dengan cepat Nadin
masuk ke dalam rumah dan menutup pintu itu dengan keras meninggalkan Rendi di
luar.
Air matanya tak mampu terbendung lagi, tadinya sebelum bertemu ia merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi semuanya, tapi saat
melihat pria dingin itu, seketika kekuatannya hilang menguap entah kemana.
Nadin menangis di balik pintu, ia tidak perduli dengan Rendi yang terus
memanggil namanya dan mengetuk pintunya.
“Tokki …!”
“Aku mohon, Tokki. Buka pintunya, kita harus
bicara!”
“Buka pintunya …!”
Rendi terus berbicara,memohon agar Nadin bersedia berbicara dengannya, ia tetap berada di depan pintu, berharap Nadin akan
berubah pikiran dan mempukakan pintu untuknya.
“Aku mohon, biarkan aku bertemu dengan anakku!”
“Biar aku jelaskan semuanya! Aku akan memberitahumu alasannya, aku mohon buka pintunya!”
Nadin masih terus menangis di balik pintu itu, Rendi merasa langkahnya tinggal sebatas selembar kertas. Tapi melihat reaksi Nadin
membuat keyakinannya menguap, jarak yang terlihat dekat itu begitu jauh
ternyata.
Rendi menunggu di depan rumah Nadin sepanjang malam,
tapi hal itu ticdak berhasil membuat hati yang sudah terlajur keras kembali
lunak dan memaafkannya.
Setelah semalaman berada di depan rumah Nadin, pagi
ini Rendi kembali ke hotel, ia membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi ke
tempat kerjanya. Tapi sebelum itu ia akan mampir terlebih dulu ke rumah Nadin.
Ia ingin melihat istri dan anaknya sebelum ebrangkat kerja.
“Pagi pak Rendi!” sapa Ajun saat Rendi sudah bersiap hendak berangkat.
“Iya Ajun, ada yang penting?”
“Saya sudah berhasil membeli rumah yang berada di depan rumah bu Nadin, pak!”
“benarkah?”
“Iya pak, tapi ada sedikit masalah!”
“Apa?”
“Pemilik rumah itu meminta harga yang begitu tinggi untuk rumah itu!”
“Setujui saja, aku tidak mau tahu. Nanti sepulang kerja, aku sudah bisa menempati rumah itu, bagaimanapun caranya!”
“Baik pak!”
Ajun membukakan pintu untuk Rendi, kali ini Ajun tidak ikut bersama Rendi karena ia mendapat tugas lain yang lebih penting.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
maaf ya masih slow up date beberapa hari ini, mohon di maklumi
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘