
π·π·π·π·
Hoek Hoek Hoek
Rendi memegangi tengkuknya yang terasa berat, semua isi perutnya sudah terkuras habis semenjak pagi. Matanya sampai berair karena terlalu banyak muntah.
Membuat Nadin heboh. Untung saja baju untuknya sudah datang, membuatnya bisa leluasa pergi ke ruangan manapun, ia menemui paman Salman.
"Paman!" teriak Nadin.
"Pagi nak!" Sahut paman Salman sangat ramah, sepertinya pria paruh baya itu baru saja berolah raga.
"Paman ...., Mas Rendi muntah-muntah!" Ucap Nadin dengan panik.
"Muntah, muntah kenapa?" Salman segera menghampiri menantunya.
"Nggak tahu, tapi sedari aku bangung, mas Rendi sudah muntah-muntah!" ucap Nadin yang begitu panik.
"Biar ayah lihat!"
Mereka pun segera ke kamar Rendi, Rendi sedang duduk dan memegangi tengkuknya yang terasa berat karena sejak mandi tengah malam, sepertinya ia masuk angin.
"Ayah!" sapa Rendi yang baru saja keluar dari kamar mandi, sedang duduk sambil memegangi pelipisnya yang terasa pening karena banyak muntah.
"Kamu kenapa?"
"Hanya kurang enak badan saja, yah!"
" Jangan-jangan istri kamu hamil, trus kamu yang ngalami ngidam, soalnya ayah dulu juga seperti itu saat ibumu hamil kamu!" Ucap paman Salman antusias.
Ayah ini apa-apaan sih ...., Aku masuk angin gara-gara gagal belah duren, ayah malah bicara soal hamil ....
Wajah Nadin sudah memerah karena malu, ia benar-benar tak percaya jika paman tercintanya alias ayah mertuanya itu menganggapnya hamil, padahal putranya saja belum punya keberanian untuk menyentuhnya.
"Ayah, Rendi hanya masuk angin. Sebentar lagi juga sembuh karena Nadin sudah memberiku teh hangat!" Ucap Rendi mengklarifikasi ucapan ayahnya karena tidak mau terjadi salah faham.
"Ayah padahal sudah berharap lebih!" terlintas kecewa di wajah Salman. Ia benar-benar menginginkan seorang cucu untuk bisa meramaikan masa tuanya.
"Maafkan kami yah!" Rendi merasa menyesal, ia tidak bisa mengabaikan keinginan ayahnya untuk dapat segera menimang cucu tapi ia juga tidak bisa mengabaikan permintaan ayah mertuanya.
"Ya sudah istirahatlah, biar ayah yang bilang pada tuan muda jika kamu belum bisa masuk hari ini!" Ucap Salman yang sudah beranjak dari duduknya hendak meninggalkan kamar itu.
"Jangan yah, Rendi akan masuk kerja hari ini!" ucap Rendi dengan kepalanya.
"Baiklah ...., Terserah kamu ....!" Salman menyerah, karena mustahil baginya untuk bisa mengubah keputusan putranya yang keras kepala itu.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Setelah merasa lebih baik, Rendi pun bersiap-siap untuk berangkat kerja, Nadin yang sebenarnya sudah selesai dengan magangnya tapi ia belum menyelesaikan atministrasi ya, banyak berkas-berkas yang harus ia bereskan selama ia tinggal libur.
Nadin pun ikut berangkat bersama Rendi, setelah ponselnya di kembalikan, Nadin di dalam mobil hanya sibuk dengan ponselnya sehingga hal itu membuat Rendi membuat Rendy begitu kesal akhirnya Rendy menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba.
"Kenapa mas?" Tanya Nadin terkejut.
"Aku akan menyita ponselmu lagi!"
"Kenapa?"
"Kalau tidak mau di sita, simpan ponselmu dalam tas!"
Apa-apaan dia ...., Aku kan cuma ingin melihat chat an tiga hari ini, banyak banget chat yang harus aku bales-balesi, tapi dia dengan santainya bilang, sita ....
Nadin hanya bisa memberengut kesal, ia dengan berat hati menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Mereka pun akhirnya sampai juga di parkiran kantor. Rendi menghentikan mobilnya.
"Turun!" perintah Rendi.
"Iya ....., aku turun duluan!" ucap Nadin sambil berusaha melepas seatbelt nya. Saat Nadin hendak membuka pintu, Rendi segera menghentikannya dengan menarik tangan Nadin.
"Kau melupakan sesuatu!"
"Apa?" bukan menjawab Rendi malah menunjuk pipinya membuat Nadin bekerja keras untuk berfikir.
"Apa?" Nadin masih belum faham dengan maksud Rendi.
"Sini!". ucap Rendi sambil menunjuk dengan telunjuknya. Nadin pun kembali mendekat.
"Apa kau tidak ingin meninggalkan sesuatu?" tanya Rendi lagi, "Baiklah ..., sinikan pipimu!"
Nadin pun segera mendekatkan pipinya
cup
Rendi memberikan kecupan di pipi Nadin. Wajah Nadin langsung bersemu merah, pipinya terasa menghangat karena ulah suaminya itu.
"Ingat ...., supaya nanti kau tidak lupa kalau kau istriku!" ucap Rendi setelah menjauhkan wajahnya. "Sudah sana keluar!"
"Baiklah ....!" walaupun kesal tapi Nadin juga senang, walaupun dengan sikap dinginnya setidaknya ia tahu jika Rendi sudah menganggapnya istri. Nadin sudah keluar dengan wajah yang masih tersenyum senang, benar-benar pagi yang indah.
Dan seperti biasa jika sudah di tempat umum seperti ini Rendi akan selalu bersikap seperti orang yang tak saling kenal, wajah dinginnya kembali muncul.
Rendi segera menuju ke ruangan Agra, mengecek apa bos besarnya itu sudah sampai apa belum dan mengatur jadwal untuknya.
"Pagi pak Rendi!" sapa sekertaris Agra.
"Pagi ...., apa pak Agra sudah datang?"
"Sudah, sejak setengah jam yang lalu pak!"
Rendi pun segera masuk, tidak mau membuat bosnya menunggu terlalu lama.
"Selamat pagi pak Agra!"
"Kurang ya cutinya, jam segini baru nongol, kamu ini benar-benar ingin membuat aku mati berdiri!" bukannya menjawab sapaan dari Rendi , Agra malah marah-marah pada Rendi karena Rendi datang terlambat.
"Maafkan saya pak!"
"Sekarang apa jadwalku?"
"Hari ini tidak ada meeting penting pak, hanya ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani dan laporan dari beberapa revisi hari ini!"
"Baguslah ....! Sekarang siapkan semuanya. Kita jalan!"
"Baik pak!"
Mereka pun mulai dengan aktifitasnya, menuju ke ruang rapat dan mengecek laporan akhir tahun.
πΊπΊπΊ
Sedangkan Nadin bergegas menuju ke ruangannya, ia ingin mengambil beberapa berkas yang masih tertinggal di sana dan berpamitan kepada rekan-rekan satu timnya.
Tapi belum sampai langkahnya mencapai ruangan yang sudah di huninya selama tiga bulan ini, tangannya sudah lebih dulu di tarik dengan kasar oleh seseorang.
"Kak Davina!" Pekik Nadin setelah tahu siapa yang menarik tangannya.
BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading πππππ