
Rendi berhenti di depan pintu kamar Nadin, ia mencoba mengintip dari kaca kecil di pintu, tapi tetap saja tidak kelihatan. Membuat Rendi mendengus kesal.
"Apa aku harus menunggu besok pagi?" tanyanya pada diri sendiri.
"Tapi kalau besok pagi ...., Aaaah ...., nggak mungkin!" gumamnya lagi.
"Dia benar-benar sudah membuatku gila!" gumam Rendi lagi sambil berusaha menguasai perasaannya yang tak karuan karena rasa kesal bercampur penasaran.
Sudah sejak siang ia tidak bisa bertemu dengan Nadin membuat moodnya menjadi buruk.
Rendi pun akhirnya memutuskan untuk membuka pintu itu perlahan agar tidak menimbulkan suara, ia berjalan mengendap-endap. Dia atas tempat tidur itu ia bisa melihat Nadin yang berada di bawah selimut dengan memunggungi tempatnya sekarang.
"Apa dia sudah tidur ya?" Gumamnya. ia memperhatikan nafas gadis itu, terlihat tidak teratur menandakan kalau ia hanya pura-pura tidur.
Dia belum tidur, apa aku harus membangunkannya....
Rendi pun akhirnya memutuskan untuk memegang pundak Nadin. Nadin yang tak menayadari kedatangan Rendi, begitu terkejut.
"Aaahhhhh!" Teriak Nadin sambil mengarahkan beberapa pukulan ke arah Rendi secara bertubi-tubi, tanpa melihat siapa yang datang karena ia terus memejamkan matanya, ia sebenarnya begitu ketakutan sendirian, ia menyesal karena sudah meminta ayahnya untuk meninggalkannya.
"Hentikan ...., Hentikan ...., Ini aku!" Teriak Rendi sambil menarik tangan Nadin.
Mendengar suara yang begitu ia kenal, Nadin pun segera menghentikan pukulannya.
"Pak Rendi!" Gumam Nadin sambil menutup mulutnya tak percaya. Rendi pun segera menyalakan lampu kamar Nadin.
"iya ...., Kau pikir apa? Seenaknya mukul-mukul orang!" Ucap Rendi dengan nada juteknya.
"Ya maaf ....! Aku kan nggak sengaja , lagian pak Rendi sih datang nggak bilang-bilang, aku kan terkejut!" ucap Nadin sambil mengerucutkan bibirnya, sedangkan tangannya masih dalam lingkungan tangan Rendi.
Nadin pun menatap tangannya yang masih berada dalam kungkungan tangan Rendi.
"Pak ...., bisa lepasin tanganku!" ucap Nadin, membuat Rendi tersadar, ia pun segera melepasnya. Rendi pun segera duduk di kursi kecil yang berada di samping tempat tidur Nadin.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rendi setelah ia duduk di samping Nadin. Ia tetap menampakkan wajah dinginnya, walau dalam hati mungkin ia sangat gugup, tapi si balok es itu memang benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya.
Manisnya pak Rendi, bikin gemes deh ....
"Apa pak Rendi khawatir padaku?" Tanya Nadin dengan senyum yang melengkung di pipinya yang masih tampak ruam-ruam merah.
"Jangan tersenyum seperti itu, lihat wajahmu begitu jelek!" Ucap Rendi. Ia tetap duduk tegap seperti berada di sebuah forum resmi. Tak ada senyum, seharusnya itu kata yang ia gunakan untuk menggoda seorang gadis, tapi cara menggodanya benar-benar unik.
"Benarkah .....!?" Nadin begitu panik, ia segera mencari-cari cermin di atas nakas, tapi tak juga menemukan, kemudian Rendi menyodorkan ponselnya.
"Nih ....!" Rendi menyalakan kamera sehingga Nadin bisa melihat wajahnya di kamera.
Melihat Nadin begitu panik, membuat Rendi melengkungkan senyumnya. Wajah Nadin begitu menggemaskan saat sedang panik seperti itu.
Dia benar-benar manis saat panik ....., apa sih yang kau pikirkan, dia bisa Ge eR jika tahu aku memujinya ....
"Aaaah ....., Pak Rendi aku malu!" Ucap Nadin saat melihat wajahnya penuh ruam dan sedikit bengkak, Nadin pun meletakkan ponselnya di sembarang tempat dan segera menutup wajahnya dengan selimut.
"kenapa di tutup?" Tanya Rendi.
"Sudah ku bilang aku malu, sebaiknya pak Rendi pulang saja, ini sudah malam, temui aku lagi saat keadaanku sudah lebih baik."
"Aku jelek pak!" Ucap Nadin tanpa mau keluar dari selimutnya.
"Baiklah aku akan pergi, tapi hati-hati ...., Banyak hantu berkeliaran di malam hari, biasanya mereka akan mendatangi kamar-kamar yang penghuninya hanya satu orang!" Ucap Rendi sambil tersenyum samar tapi tetap dengan nada dinginnya.
Ah ....., Hantu? Bagaimana ini, aku takut hantu
Nadin membayangkan akan begitu menakutkan jika berada di rumah sakit seorang diri, dengan gerak cepat ia pun segera membuka selimutnya dan berhambur memeluk Rendi.
"Pak ....., Jangan pergi ya ...., Temani aku, aku takut!" Ucap Nadin dalam pelukan Rendi.
Membuat Rendi melengkungkan senyumnya tipis, tanpa sadar hatinya merasa senang saat Nadin begitu membutuhkannya.
"Baiklah, tidurlah lagi. Aku akan menemanimu!" Ucap Rendi. Nadin pun segera menjauhkan tubuhnya dari Rendi. Ia kembali duduk di atas tempat tidur.
"Aku seneng pak Rendi khawatir denganku, aku tidak masalah mau terluka seperti apapun asal ada pak Rendi bersamaku!" Ucap Nadin sambil memandang Rendi, membuat Rendi terpaku oleh tatapan sendu Nadin.
"Dasar bocah, Siapa yang akan membiarkanmu terluka,vjangan harap kau akan celaka lagi!" Ucap Rendi sambil mengusap kepala Nadin, ada perasaan hangat yang mengalir di hati Nadin, pria es itu tampak begitu perhatian padanya.
"Iya kan pak Rendi khawatir padaku!" ucap Nadin dengan senyum menggoda.
"Si- siapa yang khawatir, jika sampai terluka, kau akan sangat merepotkan!" ucap Rendi yang terlihat gelagapan, ia tidak ingin Nadin sampai tahu jika ia memperhatikannya.
"Iya kan ....., jangan bohong!" ucap Nadin dengan terus tersenyum.
"Sudah jangan tersenyum terus seperti itu, tidurlah aku akan menjagamu!" Ucap Rendi yang terlihat salah tingkah karena ulah Nadin.
Bagaimana aku bisa tidur jika di sampingku ada pak Rendi.....
Dia benar-benar ya ...., aku tidak bisa berlama-lama seperti ini ....
Rendi berusaha menyembunyikan wajah paniknya.
"Kenapa malah menatapku seperti itu ada yang lucu?" Tanya Rendi.
"Nggak ...., Baiklah aku akan tidur, tapi boleh sambil memegang tangan pak Rendi?"
"Ceehhh!" Walaupun mengeluh tapi Rendi tetap mengulurkan tangannya untuk di pegang Nadin. Nadin pun begitu senang, ia merebahkan tubuhnya dengan tangan yang tetap tertaut dengan tangan Rendi. Rendi membetulkan selimut Nadin, Rendi tetap setia di samping Nadin hingga gadis itu terlelap.
Lama Rendi menatap wajah itu, wajah yang begitu ingin ia lihat setiap hari, sehari saja tanpa melihat wajahnya, akan membuat harinya begitu buruk. Tapi entah kenapa hatinya masih selalu bertanya, apa ini yang dinamakan cinta? Usianya tak muda lagi, sudah kepala tiga, tapi dia malah jatuh cinta pada gadis dengan usia jauh di bawahnya. Otaknya tidak membenarkan ini, tapi hatinya tidak bisa mengelak.
Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan benar-benar menikah dengannya? Tapi dia masih kecil, apa ayahnya akan mengijinkannya?
Tanpa terasa malam semakin larut, tapi Rendi enggan untuk memejamkan matanya, ia benar-benar tidak ingin melepaskan wajah itu dari pandangannya. Jika gadis itu bangun, ia tidak akan punya kesempatan untuk memandangnya selama ini. Tapi ternyata rasa kantuknya menang, ia tertidur di samping Nadin dengan tangan yang masih saling tertaut.
"Mungkin aku akan tidur di sini, dan pagi-pagi sekali aku akan pergi, supaya tidak ada yang melihatku di sini!" Gumam Rendi, Ia pun naik ke atas tempat tidur Nadin, ia tidur di samping Nadin. Rasa kantuknya sudah benar-benar tak tertahan lagi, dalam hitungan menit ia sudah masuk ke dalam alam mimpi.
**BEESAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 😘😘😘😘😘**