
Siang ini setelah mendapat kabar dari Davina, Rendi memutuskan untuk kembali ke rumah
Davina, ia ingin tahu apa keputusan yang akan di ambil oleh Davina. Mau
bagaimana pun dia yang bertanggung jawab atas kepergian Divta, dan sialnya
Davina tidak mau Divta kembali.
Di saat yang sama Nadin berencana untuk mengunjungi suaminya, ia ingin makan siang
dengan suaminya, dengan semangat Nadin menata kotak makan siangnya. Ia memesan
taksi online dan menuju ke kantor suaminya.
Tepat saat ia sampai di kantor suaminya, mobil suaminya berlalu lima menit yang lalu,
Nadin menuju ke ruangan suaminya, menanyakan pada sekretarisnya.
“Siang mbak, saya Nadin istrinya pak Rendi!”
“Bu Nadin …, maaf saya tidak mengenali!” ucap sekertaris baru Rendi merasa bersalah
karena tidak mengenali istri dari atasannya itu.
“Tidak pa pa, apa suamiku ada?”
“Maaf bu, tapi pak Rendi baru saja keluar bersama ajudannya!”
“Apa pak Rendi bilang akan kembali setelah makan siang!”
“Tidak tahu bu, pak Rendi tidak mengatakannya, apa perlu saya tanyakan?”
“Tidak perlu …, biar aku menunggunya di ruangan pak Rendi saja, tidak pa pa kan?”
“Silahkan bu, mari saya antar!”
Nadin tersenyum, sekertaris baru itu akhirnya mengantar Nadin hingga ke ruangan
Rendi.
“Terimakasih ya!”
“Sama-sama bu! Kalau begitu saya permisi, kalau butuh sesuatu silahkan memanggil saya bu!”
Nadin mengangguk, sekertaris baru Rendi itu keluar, sekarang tinggal Nadin di dalam
ruangan itu. Nadin duduk di sofa panjang di ruangan itu, begitu nyaman. Nadin
meletakkan kotak makannya di meja, hawa panas di luar sungguh kontras dengan
hawa dingin di ruangan Rendi, membuat nadin begitu mengantuk, ia pun merebahkan
tubuhnya di sofa itu hingga tertidur.
🌺🌺🌺🌺
“Silahkan, pak!” Ajun membukakan pintu mobil untuk Rendi, mereka segera menyusuri lorong yang sama, yang pernah mereka susuri beberapa hari yang lalu, dan masih sama.
Masih penuh dengan lubang hanya bedanya sekarang tidak ada genangan air karena
tidak hujan, mereka tidak perlu meloncat beberapa kali demi menghindari
genangan air.
Mereka pun akhirnya sampai kembali di rumah yang sama, tetangga yang sama. Tetangga
kepo yang selalu mau tahu urusan orang.
“Eh …, mas yang kemarin ya …, mas ini suaminya mbak Davina ya …? Beruntung sekali mbak
Davina dapat suami seganteng ini …, cantikan juga putriku …, mas adiknya itu
nggak pa pa lah buat putriku, putriku namanya Siska, masih lajang, dia kuliah
loh …!” tetangga itu malah mempromosikan putrinya.
Tapi sepertinya ucapan panjang tetangga kepo itu tidak berpengaruh pada pria dingin
itu, sebelum atasannya merasa tidak nyaman, Ajun segera mengetuk pintu. Untung
tidak membutuhkan waktu lama Davina sudah membukakan pintu untuk mereka.
Mereka pun sudah duduk kembali di dalam rumah yang sama, rumah yang usam dan sempit.
Davina sudah kembali dengan membawakan minuman untuk Rendi dan Ajun.
“Apa sudah kau putuskan?” Tanya Rendi to the point.
“Sudah …, aku ikut sama kamu. Tapi …!”
“Apa?”
“Berjanjilah jika kau tidak akan mengatakan apapun tentang kehamilan ini pada siapapun,
termasuk Nadin, aku janji tidak akan menggangu hubunganmu dengan Nadin!”
“Baiklah …, tapi hanya sampai anak itu lahir, setelah itu_!”
“Setelah itu kalian boleh merawatnya!”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak bisa merawatnya!”
“Iya, Apa alasannya?”
“Nanti kamu juga tahu sendiri!”
Ajun membantu Davina membereskan barang-barang bawaan yang akan di bawa oleh Davina,
tidak banyak karena memang Davina tidak memiliki barang-barang yang cukup
banyak hanya ada beberapa pakaian dan surat-surat sepertinya surat dari dokter.
Nadin terbangun dari tidurnya, ia mulai menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya di
ruangan itu, tidak seterang tadi, sepertinya sudah sore, karena dari jendela
terlihat cahaya senja merah di sana.
kerja itu, tapi kursi itu masih kosong.
Tok tok tok
Nadin segera bangun dan merapikan penampilannya yang berantakan karena sepertinya dia
begitu lama tertidur.
“Masuk!”
Ceklek
Sekertaris baru itu muncul dari balik pintu dan menghampiri Nadin.
“Maaf bu, sudah sore!”
“Iya …, apa pak Rendi tidak kembali ke sini?”
“Tidak bu!”
“Apa pak Rendi tidak menghubungimu kemana gitu?”
“Maaf bu, pak Rendi tidak menghubungi saya!”
Nadin menghela nafas, ia menatap kotak makannya yang sama sekali tidak tersentuh,
tadi ia begitu lapar tapi sekarang rasa lapar itu hilang berubah menjadi
khawatir.
“Sekarang sudah jam berapa?”
“Sudah setengah lima bu!’
“Setengah lima?’ Nadin terkejut, sekertaris itu mengangguk.
“Maafkan aku, pasti kamu menungguku, maaf ya. Sekarang kamu boleh pulang!”
Akhirnya Nadin memutuskan untuk kembali ke rumah, ia berharap suaminya sudah kembali ke
rumah, pasti suaminya akan sangat khawatir jika pulang dan istrinya tidak di
rumah, apalagi ia meninggalkan ponselnya di rumah.
“Pak bisa lebih cepat nggak!”
“Maaf mbak, tapi jalanan macet sekali!”
Nadin hanya bisa berharap semoga saat ia datang, ia sudah bisa menemukan suaminya di
rumah.
Akhirnya Rendi memboyong Davina ke apartemennya, Davina di tempatkan di apartemen lantai
2, supaya memudahkan jika sewaktu-waktu Davina melahirkan.
“Masuklah …!” perintah Rendi sambil membukakan pintu untuk Davina. Sedangkan Ajun
membawakan tas besar milik Davina. Mereka masuk ke dalam apartemen yang sama
seperti tempat tinggal Rendi dan Nadin.
“Ini kamarmu, beristirahatlah …!”
“Terimakasih!”
“Iya, aku pulang, kalau butuh sesuatu hubungi aku dan jangan keluar dari sini!”
“Baik aku janji!”
“jangan lupa besok bersiap-siaplah, kita konsultasi ke dokter kandungan!” Rendi kembali
memperingatkan Davina sebelum pergi.
Rendi pun segera meninggalkan Davina. Rendi menuju ke apartemennya sendiri,
mengetuk pintu seperti biasa.
“Mas …, kok sampek malam sih? Aku tadi ke kantor mas Rendi, tapi kata sekertaris mas
Rendi, mas Rendi sama Ajun sudah keluar dari siang!” cerocos Nadin sambil
menyambut suaminya.
“Ke kantor?” Rendi terkejut, ia tidak menyangka jika istrinya ternyata datang ke
kantornya.
“Iya!”
“Maaf ya …, tadi ada pekerjaan di luar! Kenapa tidak menghubungiku?”
“Aku lupa bawa hp ku!”
“Kamu kebiasaan! Ya sudah aku mandi dulu ya …!”
Rendi segera menghindari Nadin, ia mengunci dirinya di kamar mandi, menenangkan dadanya yang bergetar, ia takut jika Nadin
sampai tahu kalau dia sedang berbohong.
Rendi selesai dengan mandinya, ia kembali ke meja makan. Ia melihat di meja makan ada
kota makan, terlihat Nadin sedang sibuk di dapur. Rendi memeriksa dua kotak
makan itu, masih utuh. Ada kertas di atasnya.
“My husband, ini makanan rasa cinta untuk yang paling ku cinta. Tokki mu.”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘